LOGIN121Alodita mengulum senyuman ketika mendengar percakapan satu arah Aditya, dengan janin dalam perutnya. Alodita terkekeh kala Aditya menjanjikan berbagai barang yang akan dibelikan olehnya, jika bayi mereka lahir kelak. Alodita memandangi saat Aditya mengecup perutnya, lalu menempelkan telinga kanan. Alodita kembali tersenyum, ketika Aditya heboh saat merasakan pergerakan dari dalam perutnya. "Enggak sabar pengen ketemu mereka," cakap Aditya sembari menegakkan badan. "Aku malah nggak sabar buat belanja," sahut Alodita. "Belum boleh, ya?" "Hu um. Tunggu nyampe 7 bulan." Aditya memindai sekitar. "Kayaknya dinding harus dijebol." "Buat apa?" "Bikin pintu, buat nyambungin kamar sebelah ke sini." "Enggak usah. Di sini muat, kok. Cuma tambah kasur dan laci kabinet. Bisa taruh di situ." Alodita menunjuk sisi kiri. "Sofanya dipindah ke dekat pintu," lanjutnya. "Sempit, Bun. Kasurnya, kan, dua." "Satu aja, yang gede." "Nanti cuma kepake sebentar. Mending langsung 2." "Pertumbuhan
120Suara berisik dari luar rumah menyebabkan Aditya terbangun. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menggeliat hingga tulangnya berderak. Aditya memandangi langit-langit kamar sembari mengumpulkan nyawanya yang sempat berserakan. Pria berkaus hijau itu bangkit duduk dengan bertumpu pada kedua siku. Dia berdiam diri sesaat, kemudian beringsut ke tepi kasur dan menapakkan kaki ke lantai. Puluhan menit terlewati, Aditya telah berada di ruang makan. Dia menikmati lontong sayur sambil mendengarkan ocehan Alodita. Aditya manggut-manggut tanpa menyela. Dia baru urun suara, setelah Alodita berhenti berceloteh. "Habis berapa beli antaran buat lamaran?" tanya Aditya. "Sekitar 30 juta," jawab Alodita. "Banyaknya?" "Isinya komplet, Yah. Sama sepaket perhiasan lengkap." Alodita memandangi lelakinya yang tengah menyeruput kopi. "Ratifa, kan, yatim. Jadi aku pikir, kita mesti ngasih banyak untuk membuat dia dan keluarganya senang," lanjutnya. "Hmm, berarti buat akadnya aku mesti nambah l
119Aditya mengusap punggung adiknya yang tengah terisak-isak dalam pelukan. Pria berjaket biru itu membaca doa tanpa suara, lalu meniupkan napasnya ke puncak kepala Asmiratih,Aditya mengurai pelukan dan mengecup dahi adiknya. Aditya memaksakan senyuman, sebelum membujuk gadis berkulit putih itu untuk berhenti menangis. Aditya melepaskan Asmiratih dan bergeser ke kanan. Dia menyalami Ferlita, lalu mengusap lengan kanan gadis itu sambil memberikan banyak wejangan, yang dibalas Ferlita dengan anggukan. Pria berambut lebat tersebut berpindah untuk menyalami Chyou dan semua adiknya, serta tim CJC dan PBK wilayah China. Aditya menitipkan Asmiratih dan Ferlita pada Sha Jun Hui serta Tang Jason. Kemudian direktur utama TOPAZ dan BKD itu bergabung dengan kelompoknya, yang hendak bertolak kembali ke Indonesia. Tim pimpinan Herjuno itu memberi hormat pada semua pengantar. Lalu mereka berbalik dan jalan keluar ruang tunggu menuju pesawat Adhitama, sambil menjinjing tas masing-masing. Han Suz
118 Aditya terhenyak, sesaat setelah mendengarkan penjelasan psikiater, yang telah menangani adiknya pada 2 jam lalu. Aditya merutuki dirinya yang kurang peka dengan suasana hati Asmiratih, hingga gadis itu lepas kendali tempo hari.Aditya akhirnya sadar, jika beberapa minggu terakhir Asmiratih memang sering dipergoki tengah melamun. Aditya ingat cerita istrinya, yang juga kesulitan mengorek informasi dari Asmiratih.Belasan menit terlewati. Aditya telah berada di mobil MPV putih yang dikemudikan Zikria. Aditya menimbang-nimbang sesaat dalam hati, sebelum memutuskan untuk menerangkan semuanya pada Zikria. Pria berkumis tipis itu telah menjadi sahabat Asmiratih sejak lama. Terutama, karena mereka sering bekerjasama untuk mengawal Vanetta, jika tengah syuting. Selain itu, Zikria yang cukup menguasai wilayah China, sering berkunjung ke negara itu dan bisa membantu Aditya dalam mengawasi adiknya, selama setahun ke depan."Abang nggak tahu, kalau dia pacaran sama cowok itu?" tanya Zikria
117*Tim PBK dan CJC* To Mu : Siapa yang punya ide naruh ular di dekat dedaunan? Harzan : Girish, @Koko To Mu. Jianzhen : Idenya bagus.Syafid : Kriminal itu.Chyou : yang ditaruh pun jenis ular berbisa. Lakhsyan : Kacau emang Girish. Yuze : Ular apa? Shen : Ular daun, yang hijau kecil itu. Xiuhuan : Ada berapa ekor? Yichen : 30, dan semuanya baru netas.Tang Jason : Dia pintar. Yang ditaruh itu telur, bukan anak ular. Rebecca : Tapi, hebat, loh. Girish bisa tahu kalau ular itu sudah mau netas. Zhu Hadwin : Dia pakar ular. Gwenyth ; Yoih. Lulusan Universitas Sydney. Sha Jun Hui : Baru ingat aku. Girish sempat tugas di sana 3 tahun.Hana : Dia itu pengendali ular. Donnie : Siluman ular. Asmiratih : Pacarnya Nyai Centini. Liu Bin : Harusnya yang ditaruh itu ular derik. Seng Esther : Mana ada ular derik di sini. Chen Wayne : Ada, tapi mahal. Xi Madison : Aku merinding.Chang Guo : Sini, @Maddie. Kupeluk, supaya hangat. Sha Guan Lin : Chang Guo, modus! Chao Gabby : Mes
116"Huang Miller!" seru Aditya. Pria yang disebut itu melengos. "Kenapa kamu terus yang jadi lawanku?" tanyanya. "Mungkin Tuhan ingin aku menghajarmu lagi." "Jangan mimpi! Kemampuanku sudah jauh lebih tinggi daripada dulu." "Yeah, aku pun begitu." Huang Miller menatap tajam pria yang diketahuinya sebagai direktur operasional PBK. "Apa kamu masih jadi kacung 4 klan?" celanya. "Aku tidak pernah jadi kacung. Mereka adalah keluargaku." Huang Miller berdecih. "Aku heran. Kenapa kamu bisa bertahan kerja sama orang-orang sombong itu?" "Aku juga heran. Kenapa kamu masih akrab sama orang-orang tolol, yang cuma memamerkan otot, tapi otaknya kosong?" "Kami tidak tolol! Kamu, Setan!" "Jangan memaki diri sendiri, Babi!" Huang Miller memelototi lelaki yang tengah berdiri tegak sembari memasang tampang selembe. Huang Miller mengangkat pedang di tangan kanannya, lalu menyerang Aditya sembari berteriak. Huang Miller kaget, ketika Aditya maju menyongsongnya dan meninju berulang kali. Belum
21Aditya mendengarkan penuturan Benigno sembari manggut-manggut. Meskipun sudah bukan manajer operasional SHEHHBY, tetapi Aditya tetap bersedia membantu jika diminta para bos lamanya.Pria berkemeja hitam itu menyunggingkan senyuman, kala dicandai Hadrian dan Samudra Adhitama. Gelakak Aditya mengu
22Setelah mandi dan berganti pakaian, semua pria bergegas menuju masjid terdekat untuk melaksanakan salat Magrib berjemaah. Selanjutnya mereka kembali ke rumah Sultan untuk bersantap malam bersama. Aditya dipanggil Sultan untuk duduk di samping kanannya. Pria tua itu menanyakan berbagai hal tentan
20Seusai bersantap malam, kedelapan orang tersebut berpindah ke cottage yang ditempati ketiga perempuan. Aditya dan Alodita meneruskan membuat daftar tamu undangan untuk resepsi kedua. Sedangkan yang lainnya menonton film horor di laptop Said. Alodita melirik ponselnya yang tengah berdering. Dia
24Dua pasang mata memerhatikan sekitar, yang dipenuhi banyak orang dengan berbagai tampilan. Mereka mengabaikan godaan beberapa wanita penghibur, yang sejak awal datang sudah mencoba menawarkan diri, untuk menemani kedua lelaki berbadan tegap.Nuriel, dulu pernah bertugas di tim rahasia 7. Regu pe







