LOGINDr. Ardi Sebrian, seorang dokter umum yang dikenal dingin, disiplin, dan selalu mengutamakan pekerjaannya, tak pernah menyangka bahwa takdir akan mempertemukannya kembali dengan wanita yang selama ini ia cari. Suatu malam, seorang pasien berhijab dengan wajah pucat dilarikan ke IGD setelah mengalami kecelakaan. Saat Ardi memeriksa identitasnya, jantungnya seakan berhenti berdetak. Wanita itu adalah istrinya sendiri—istri yang menghilang tanpa kabar setelah kesalahpahaman besar memisahkan mereka bertahun-tahun lalu. Namun pertemuan itu tidak berjalan seperti yang ia bayangkan. Sang istri tak lagi mengingat kisah cinta mereka. Baginya, Ardi hanyalah dokter yang bertugas merawatnya. Di balik ruang perawatan, luka lama perlahan terbuka kembali. Penyesalan, air mata, dan rahasia masa lalu mulai terungkap satu per satu. Ardi bertekad memanfaatkan kesempatan kedua yang diberikan takdir untuk mengobati bukan hanya luka di tubuh istrinya, tetapi juga luka di hati mereka berdua. Mampukah Ardi membuat wanita yang pernah ia cintai jatuh cinta untuk kedua kalinya? Ataukah takdir kembali memisahkan mereka saat semua kebenaran akhirnya terungkap? Ketika seorang dokter menjadi penyembuh bagi pasiennya, mampukah ia juga menyembuhkan hati istrinya sendiri?
View MoreHujan turun tanpa jeda sejak sore. Rintik air menghantam kaca jendela Rumah Sakit Arayum Medika, meninggalkan garis-garis bening yang mengaburkan cahaya lampu kota. Di Instalasi Gawat Darurat, suara langkah kaki, bunyi monitor, dan panggilan perawat saling bersahutan.
Dr. Ardi Sebrian, dokter umum yang dikenal tenang dan disiplin, baru saja menyesap kopi yang sudah dingin ketika pintu IGD terbuka lebar. "Dok! Pasien kecelakaan!" teriak seorang perawat. Ardi segera berdiri. Jas putihnya bergerak cepat mengikuti langkah panjangnya menuju brankar yang baru masuk. Seorang perempuan berhijab krem terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, dengan luka ringan di pelipis dan pergelangan tangan yang masih berlumuran darah. "Tekanan darah?" "Seratus per enam puluh, Dok." "Nadi?" "Masih stabil." "Baik. Kita lakukan pemeriksaan lengkap." Ardi memasang stetoskop di telinganya. Ia memeriksa napas dan denyut jantung pasien dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. Namun ketika perawat menyerahkan dompet pasien beserta kartu identitasnya, tangan Ardi mendadak berhenti. Nama pada kartu itu membuat napasnya tercekat. Ayuma Yaenza Winata Nama yang selama bertahun-tahun hanya berani ia sebut dalam doa. Nama perempuan yang pernah mengisi seluruh hidupnya. Nama... istrinya. Ardi menatap wajah pasien lebih lama. Meski kini sedikit lebih berisi, pipinya tampak lembut dan bulat. Hijab yang dikenakannya menutupi rambut, tetapi garis wajah itu tak mungkin salah. "Dok?" panggil perawat pelan. Ardi tersadar. "Lanjutkan pemeriksaannya." Suaranya tetap terdengar tenang, meski dadanya bergemuruh. --- Empat tahun lalu... Ardi dan Ayuma menikah dalam sebuah akad sederhana. Tidak ada pesta mewah, hanya keluarga dekat yang menjadi saksi. Mereka memulai kehidupan dari nol. Rumah kontrakan kecil. Motor bekas. Mimpi yang sama. Ardi masih menjalani pendidikan profesi, sementara Ayuma bekerja sebagai guru mengaji anak-anak di lingkungan rumah mereka. Meski sederhana, mereka bahagia. Namun kebahagiaan itu perlahan retak oleh kesalahpahaman, tekanan ekonomi, dan campur tangan orang-orang yang tidak menyukai hubungan mereka. Hingga suatu hari, Ayuma pergi. Ia hanya meninggalkan sepucuk surat yang berisi permintaan maaf. Sejak saat itu, Ardi mencarinya ke mana-mana. Tanpa hasil. --- Kini... Takdir justru mempertemukan mereka di ruang gawat darurat. Ardi menatap monitor yang menunjukkan kondisi pasien mulai stabil. "Dok, hasil CT Scan tidak menunjukkan perdarahan otak." Ardi mengangguk pelan. "Rawat inap." "Baik, Dok." Saat perawat hendak membawa pasien ke ruang perawatan, jemari Ayuma bergerak pelan. Matanya terbuka sedikit. Pandangan mereka bertemu. "Di... di mana saya?" bisiknya lemah. "Anda berada di rumah sakit. Tenang saja, kondisi Anda sudah membaik," jawab Ardi berusaha terdengar profesional. Ayuma mengangguk pelan. Tatapannya memperhatikan wajah dokter yang berdiri di samping tempat tidur. "Maaf..." Ardi menahan napas. "Apakah kita pernah bertemu?" Pertanyaan itu seperti menghantam dadanya. Ia berharap Ayuma mengenalinya. Namun mata perempuan itu hanya memandangnya seperti orang asing. Ardi memaksakan senyum tipis. "Mungkin hanya wajah saya yang terasa familiar." Ayuma tersenyum kecil. "Mungkin..." Beberapa detik kemudian, matanya kembali terpejam karena obat penenang mulai bekerja. Ardi berdiri mematung. Ia menggenggam kartu identitas itu erat-erat. Bagaimana mungkin perempuan yang pernah menjadi istrinya tidak mengenalinya? Apa yang sebenarnya terjadi selama empat tahun terakhir? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Di luar ruang perawatan, hujan masih turun. Dan malam itu, Ardi sadar bahwa takdir belum selesai menuliskan kisah mereka.Pintu ruangan tua itu tertutup perlahan di belakang mereka.Ardi berdiri di tengah ruangan, masih memegang foto dirinya dan Ayuma.Foto itu jelas diambil secara diam-diam.Yang lebih mengganggu adalah tanggal yang tertulis kecil di bagian bawah foto.Tiga hari yang lalu.“Berarti seseorang masih mengawasi kita,” kata Dion.Ayuma menatap sekeliling.“Dari dalam rumah sakit?”Ardi mengangguk.“Kemungkinan besar.”Surya menunjuk meja di sudut ruangan.“Lihat itu.”Sebuah alat perekam tua berada di atas meja.Di sampingnya terdapat catatan.Untuk Ardi.Ardi menekan tombolnya.Suara Mahesa terdengar.“Jika suatu hari rekaman ini didengar oleh Ardi, berarti rencana kami gagal.”Ardi terdiam.Suara Mahesa berlanjut.“Ardi, ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Orang yang menghancurkan keluarga kita bukan hanya menginginkan harta. Dia ingin menguasai Rumah Sakit Arayum Medika.”Rekaman berhenti sesaat.Kemudian suara Nadia terdengar.“Karena rumah sakit ini menyimpan dokumen kepemilikan tanah
Pukul sembilan pagi.Rumah Sakit Arayum Medika terlihat seperti biasanya. Para dokter dan perawat sibuk menjalankan tugas. Pasien datang dan pergi. Suara langkah kaki memenuhi lorong.Namun bagi Ardi, pagi itu terasa berbeda.Ia tahu seseorang sedang menunggu mereka.Di dalam mobil, Ardi duduk di samping Ayuma. Alena berada di kursi belakang bersama Dion dan Surya.Rendra memilih datang melalui jalur berbeda.Sebelum turun dari mobil, Ardi menatap semua orang.“Tidak ada yang berjalan sendirian.”Dion mengangguk.“Kalau terjadi sesuatu?”“Kita tetap bersama.”Ayuma menggenggam dokumen warisan yang sudah dimasukkan ke dalam map.“Ini yang mereka inginkan.”Ardi mengangguk.“Tapi jangan serahkan sebelum kita tahu siapa yang berada di balik semua ini.”Mereka memasuki rumah sakit.Baru beberapa langkah, seorang perawat menghampiri Ardi.“Dokter Ardi.”“Ya?”“Ada seseorang menitipkan ini untuk Anda.”Ia menyerahkan sebuah kartu kecil.Ardi membukanya.Lantai 7. Ruang 712.Tidak ada nama.
Tok.Tok.Tok.Ketukan itu terdengar lagi.Ardi berdiri diam di tengah ruangan.Alena berada di belakangnya, wajahnya terlihat tegang.“Jangan buka,” bisiknya.Ardi menatap pintu.“Rendra, aku tahu kamu di sana.”Tidak ada jawaban.Dion bergerak mendekati jendela.Ia mengintip dari celah tirai.“Dia sendirian.”Surya segera berkata, “Jangan tertipu. Bisa saja orang lain berada di sekitar rumah.”Ardi mengangguk.Ia tidak membuka pintu.Beberapa detik kemudian suara Rendra terdengar.“Aku datang untuk membantu kalian.”Alena menggeleng.“Jangan percaya dia.”Rendra terdengar menghela napas.“Alena, kalau aku ingin menangkapmu, aku tidak akan datang sendirian.”Ardi akhirnya menjawab.“Kenapa kamu mencari Alena?”Hening.Kemudian Rendra berkata,“Karena aku tahu siapa yang sebenarnya mengejarnya.”Ardi saling pandang dengan Alena.“Siapa?”“Buka pintunya dan kita bicara.”Ardi tetap diam.Rendra kembali berkata,“Ardi, aku tidak punya banyak waktu.”Tiba-tiba terdengar suara kendaraan d
Ardi masih berdiri terpaku.Perempuan yang selama ini hanya ia kenal melalui foto dan rekaman kini berdiri tepat di hadapannya.Alena.Adik kandungnya.Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan.Namun satu hal yang keluar dari mulutnya hanya—“Alena…”Perempuan itu tersenyum tipis.“Iya, Kak.”Suara itu membuat dada Ardi terasa sesak oleh haru.Selama bertahun-tahun ia hidup tanpa mengetahui bahwa dirinya memiliki seorang adik.Kini, orang yang selama ini hilang dari kehidupannya berdiri beberapa langkah di depannya.Ardi ingin mendekat, tetapi Alena justru mundur.“Kita tidak punya banyak waktu.”“Tunggu.”Ardi menatapnya.“Aku ingin tahu semuanya.”“Aku akan menceritakannya.”Alena menatap pintu gudang.“Tapi bukan di sini.”Terdengar suara kendaraan berhenti di luar.Dion segera memeriksa jendela.“Ada dua mobil.”Surya langsung berkata,“Kita keluar lewat pintu belakang.”Mereka bergerak cepat.Alena berjalan bersama Ardi.Untuk beberapa saat, keduanya tidak berkata apa-ap












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews