Início / Romansa / AKAN KUTUNGGU / 123. Flight 4

Compartilhar

123. Flight 4

last update Data de publicação: 2026-10-17 13:30:08

Usai merampungkan proses administrasi penerbangan, Nindiya dan Khaisar mengantar orang tuanya hingga ke batas area boarding. Nindiya melambaikan tangan dengan mata berkaca-kaca saat ayah dan ibunya berputar melangkah masuk melewati pintu pemeriksaan.

Begitu bayangan orang tuanya hilang di balik kerumunan, Khaisar menatap Nindiya lekat-lekat. "Hari Jumat sore nanti kita ketemu di sini. Kita terbang habis Maghrib," kata Khaisar.

Nindiya mengangguk pelan, dadanya bergemuruh hebat. Tidak menyangka
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (31)
goodnovel comment avatar
Mira Lusia
semoga lancar gak ada halqngan sampek halal ya nin
goodnovel comment avatar
Icha Majhaf
ayooo readers jadi saksi aja, klo pagar Ayu ntar kecapean ha..ha..ha.
goodnovel comment avatar
virna putri
deg deg an..smg ga ada drama..otw halal
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • AKAN KUTUNGGU   123. Flight 4

    Usai merampungkan proses administrasi penerbangan, Nindiya dan Khaisar mengantar orang tuanya hingga ke batas area boarding. Nindiya melambaikan tangan dengan mata berkaca-kaca saat ayah dan ibunya berputar melangkah masuk melewati pintu pemeriksaan.Begitu bayangan orang tuanya hilang di balik kerumunan, Khaisar menatap Nindiya lekat-lekat. "Hari Jumat sore nanti kita ketemu di sini. Kita terbang habis Maghrib," kata Khaisar.Nindiya mengangguk pelan, dadanya bergemuruh hebat. Tidak menyangka semuanya berjalan secepat ini.Demi menghindari mata-mata atau sorot kecurigaan orang di sekitar bandara yang mengenal orang tuanya, mereka sepakat keluar secara terpisah. Khaisar melangkah santai dengan jarak beberapa meter di belakang Nindiya, memastikan wanita pujaannya itu berjalan aman hingga masuk ke dalam mobil yang disetir oleh Manto di area drop-off.Setelah Nindiya menutup pintu mobil dan kendaraannya melaju meninggalkan lobi, barulah Khaisar berbalik arah dengan langkah cepat menuju m

  • AKAN KUTUNGGU   122. Flight 3

    "Ya." Pak Tirto menjawab lirih sambil mengangguk. Ia berusaha tetap tegar dan sehat. Meski terkadang tubuhnya masih lemas. Namun ia berusaha terlihat kuat. Ia ingin menyaksikan Nindiya bangkit dan menemukan kebahagiaannya.Malam itu juga melalui video call, mereka berbincang dengan Nila dan suaminya. Mematangkan rencana mereka untuk acara pernikahan nanti. Dada Nindiya berdebar kencang. Secepat ini ternyata? Ia serasa masih tak percaya. Cincin itu sudah menjadi simbol kalau ia sudah berada dalam ikatan pertunangan dengan mantan kekasihnya. Sesekali ia membalas tatapan Khaisar yang begitu dalam terhadapnya. Namun melihat Khaisar tak membahas tentang buket bunga, Nindiya yakin kalau buket itu bukan darinya. Entah dari siapa?"Sudah malam, Nak Khai. Sebaiknya kita pulang sekarang." Bu Mira mengingatkan sambil memandang jam dinding di ruangan."Ya, Bu." Dan Khaisar segera menghubungi Manto. Langsung dijawab oleh laki-laki itu, kalau dirinya sudah siap menunggu di parkiran. Pak Tirto, B

  • AKAN KUTUNGGU   121. Flight 2

    "Mbak Nindiya, saya tunggu di luar, ya. Nanti setelah selesai saya yang akan mengantarkan pulang," ucap Manto dengan sopan sesaat sebelum mereka melangkah masuk."Iya, Mas. Makasih banyak, ya."Manto mengangguk, lalu beranjak pergi.Usai mengantar mereka duduk di kursi berbusa empuk, staf restoran memohon izin pamit dan menutup pintu rapat-rapat, berjaga tepat di luar ruangan.Bu Mira mengedarkan pandangan. Ruang yang elegan. "Khaisar membawa kita ke tempat yang istimewa begini, Nin."Nindiya mengangguk lembut. "Iya, Bu. Mas Khai sepertinya sengaja memilih tempat paling aman supaya kita bisa leluasa bicara. Biasanya tempat seperti ini di booking oleh para pengusaha atau bisnisman untuk membahas urusan pekerjaan.""Ya." Bu Mira mengangguk. Dia juga paham karena memang berpendidikan tinggi. Hanya saja setelah menikah, ia tak melanjutkan karirnya. Malah lebih mengelola toko baju.Tak berselang lama, pintu ruangan terbuka pelan. Sosok Khaisar melangkah masuk. Pria itu tampil begitu gagah

  • AKAN KUTUNGGU   120. Flight 1

    AKAN KUTUNGGU- 46 Flight "Mbak, ada kiriman buket bunga untuk Mbak Nindi," ujar seorang staf kantor seraya meletakkan sebuah buket bunga berukuran mungil di meja kerja Nindiya.Nindiya mengalihkan pandangan dari layar komputer. "Dari siapa, ya?""Kurang tahu, Mbak. Tadi cuma dititipkan kurir di depan. Ada kartunya di dalam," jawab staf itu tersenyum ramah, lalu berpamitan kembali ke kubikelnya.Nindiya meraih buket itu, mengamatinya lekat-lekat. Meski berukuran kecil, tampilannya memancarkan kesan eksklusif dan amat berkelas. Tiga tangkai Juliet Rose berwarna peach yang langka tersemat anggun. Dibungkus kertas matte krem lembut dengan simpul pita satin champagne. Di sela-sela tangkainya, terselip kartu kecil tanpa nama pengirim, hanya menyisakan dua kata singkat yang ditulis tangan.Just for you, Nindiya. May this be a wonderful day for you.Nindiya bergeming. Dari siapa ini? Ketiga lelaki yang ia kenali juga terbiasa bicara dengan selingan bahasa inggris. Khai, Indra, atau Billy?

  • AKAN KUTUNGGU   119. Trawas 3

    Kening Bu Mira berkerut. "Lalu? Kamu pergi ke mana tadi?"Beberapa saat Nindiya diam. Baru kemudian memandang ibunya. "Aku bertemu Khaisar."Bagaikan disengat listrik, raut wajah Bu Mira seketika berubah kaku. Binar hangat di matanya surut, berganti bayang kekecewaan. Bayangan peristiwa bertahun-tahun lalu, ketika Bu Juliana menemui Nindiya seketika menari-nari di ingatan wanita itu."Kenapa kamu harus menemui Khaisar lagi?" suara Bu Mira bergetar, memendam perih yang mendalam. "Apa kamu sudah lupa bagaimana mamanya membuang dan memandang rendah dirimu dulu? Apa kamu mau menyerahkan dirimu untuk dihina lagi?""Bukan begitu, Bu. Tolong dengarkan aku dulu. Ada satu hal besar yang ingin kuceritakan pada Ibu.""Hal besar apa?"Nindiya menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di dadanya. "Selama ini seluruh biaya pengobatan yang puluhan juta itu, biaya rumah sakit serta biaya pengobatanku pada dokter Joyce, semuanya ditanggung oleh Mas Khaisar, Bu. Bukan dari dana bantuan seperti yan

  • AKAN KUTUNGGU   118. Trawas 2

    Tak terasa sang surya kian meninggi di atas sana. Mereka terlalu larut dalam kehangatan kebersamaan hingga lupa melihat waktu. Saat menyadari jarum jam sudah bergeser menunjuk angka satu siang, Nindiya seketika panik. "Mas, sudah jam satu siang!" seru Nindiya. "Ayo pulang sekarang!"Khaisar tersenyum melihat ekspresi panik wanita di sampingnya. "Iya, kita pulang. Tapi kita makan siang dulu."Pria itu tidak merayu untuk bertahan di sana lebih lama lagi. Dia mengerti kecemasan Nindiya. Lagipula dirinya juga harus ke Malang untuk menjemput orang tuanya. Entah berapa panggilan masuk dari sang mama yang ia abaikan. Ia merasakan getaran ponsel di saku celananya.🖤LS🖤Sudah pasti, sang mama langsung mengomel panjang lebar begitu Khaisar sampai di villa. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul empat siang. Jauh melebihi jadwal kepulangan yang direncanakan. Padahal saat ditelepon tadi, Khaisar sudah mengabarkan kalau ia ada urusan mendadak dan akan sedikit terlambat. Sebenarnya Bu Juliana bi

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status