Share

BAB 20 B

Author: Nay Azzikra
last update publish date: 2026-10-01 14:42:48

Pak Dudung dan Bi Ipah masuk ke kamar. Aku semakin salah tingkah menghadapi mereka. Tatapan Bi Ipah sama aku, itu bukan tatapan biasa.

"Kalau berani memindahkan lukisan ini, maka siapapun orang yang memindahkannya akan mendapat musibah. Ini adalah lukisan sakral yang diwariskan secara turun temurun dan tidak boleh berpindah posisi." Pak Dudung berkata dengan tegas.

"Diam! Aku sudah bosan dengan tahayul yang kalian ceritakan. Aku mau merenovasi kamar ini. Ini rumahku, semuanya akan menjadi warisan milikku, jadi aku bebas melakukan apapun." Tasya bersikukuh.

"Jika memang Non Tasya adalah seorang pewaris, maka Non seharusnya taat pada peraturan ini." Bi Ipah ikut berkomentar.

"Tahayul itu dari kalian kan? Bukan dari Papa?"

"Karena kami kenal baik dengan pemilik rumah ini sebelumnya, dan sebelum dia pergi, dia hanya memberitahu kami tentang wasiat ini. Buktinya Pak Hendro menurut apa yang kami katakan, itu karena Pak Hendro tahu, aku dan istriku yang lebih paham tentang wasiat itu." Pak Dudung memandangku, tanpa kedip.

Dua tukang yang sudah ku bawa terlihat kebingungan. Aku berusaha menenangkan mereka dengan isyarat tangan.

"Tidak akan terjadi apa-apa. Kalaupun akan terjadi apa-apa, Nara yang akan menanggung semua itu. Bukan aku." Tasya terlihat egois di sini.

Otak mendidih, ingin rasanya menghardik mereka karena aku adalah orang yang paling berhak untuk mengatur semua yang ada di rumah ini.

"Non Tasya, ayo kita bicara di luar secara baik-baik," ajak Bi Ipah. "Jika mau mengubah dindingnya, gak papa, tapi biarkan lukisan dan lemari itu ada di sana. Ayo, Non, biarkan Pak Dudung yang mengurus tukang yang mau buat."

"Enggak. Ini ruanganku. Aku akan tetap ada di sini, menyaksikan apa yang sebenarnya disembunyikan di balik lukisan ini."

Aku mulai panik. Tasya sudah bersikukuh demikian, artinya dia sudah curiga ada rahasia tersembunyi.

Pak Dudung pergi dari ruangan. Nomor misterius itu mengirim pesan lagi.

_Bella, hati-hati dalam bertindak. Jangan sampai membuat kamu dalam masalah. Aku sudah bilang, kita ketemu hari ini. Kamu malah tidak membalas pesanku._

Aku sudah ada di rumah ini. Siapapun tidak bisa menghentikan. Belum tentu ada kesempatan lagi untuk kembali kesini.

Pak Adnan mengirim pesan.

_Jika kamu butuh bantuan, telpon aku segera._

"Ayo, Nara, lakukan sekarang!" perintah Tasya.

Berkali-kali aku menelan ludah. Bagaimana ini? Tanganku memegang erat tas yang di dalamnya sudah ku siapkan kunci ruang rahasia dari kotak Ibu.

"Mbak, aku jadi takut terjadi musibah yang tidak diinginkan."

"Kamu yang akan membuka. Kamu tidak punya siapapun di dunia ini kan? Jika kamu terkena apa-apa, tidak akan ada yang kehilangan kamu."

Dua tukangku mulai saling berbisik.

"Ayo, Pak, buka sekarang!" perintah Tasya pada dua tukang.

"Jangan dulu, Pak! Mbak Tasya tenang! Jangan terburu-buru."

"Kemarin kamu bilang minta cepat. Kenapa sekarang jadi berubah pikiran? Kamu takut? Kamu percaya sama kata-kata dua babu itu?"

"Mbak jangan! Jangan lakukan itu!" Bi Ipah memohon.

"Jangan pedulikan dia, Nara! Ayo, Pak dibuka sekarang! Aku jadi tambah penasaran. Kemarin-kemarin aku nurut apa kata mereka, tapi kali ini tidak akan."

Nizar. Iya satu-satunya cara agar Tasya tidak mengganggu rencanaku, Nizar harus bisa mengalihkan perhatian Tasya.

Tapi dengan alasan apa?

"Kepalaku pusing, Mbak, boleh aku ke kamar kecil?" tanyaku.

"Boleh, tapi habis itu, kamu dan dua tukang kamu harus segera bongkar."

"Pak, tunggu dulu ya. Aku mau ke toilet. Duduk di depan kamar saja," ucapku pada dua tukang.

Aku keluar kamar dan berjalan menuju toilet.

"Nara, kamu kok tahu toiletnya arah sana?" tanya Tasya yang ternyata mengikutiku.

Sial. Kenapa tadi tidak akting tanya.

"Feeling saja. Benar gak? Soalnya biasanya orang membuat toilet kan arah belakang rumah. Kiri apa kanan?" tanyaku sambil menoleh dan tersenyum.

"Kanan."

"Ok. Makasih. Aku bisa sendiri. Tenang, aku gak bakal mencuri kok. Nanti bisa periksa badanku kalau sudah sampai kamar."

Tasya mengangguk dengan wajah ragu, tapi akhirnya dia kembali ke kamarnya juga.

Di dalam toilet aku berpikir keras dengan alasan apa aku bilang sama Nizar.

Akhirnya kutekan memanggil pada kontak Nizar.

"Pak, aku sedang diminta Tasya merenovasi kamar. Tapi kayaknya dia mulai bertanya-tanya tentang Anda, aku takut kalau dia mendesakku. Bisa ajak dia ketemu, Pak? Atau keluar buat makan bareng? Biar aku terbebas dari interogasi dia. Aku takut terpojok."

"Renovasi kamar? Bukannya tidak boleh ya?"

"Ceritanya panjang. Udah, Pak, ajak dia ketemuan ya, Pak?"

"Baik. Berapa lama? Soalnya Aurell lagi manja gak mau ditinggal."

"Dua jam cukup."

"Ok."

Aku menarik napas lega. Tasya pasti mau bila diajak Nizar.

Aku keluar toilet dengan sedikit lega.

"Mbak Bella ...." Bi Ipah berdiri dengan jarak sekitar dua meter dari pintu kamar. "Mbak Bella jangan mengelak lagi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
bundaLin
aduuuh makin penasaran aq mbak. semoga nanti up lagi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 29 B

    Di kamar utama rumah keluarga Hendro Rahmawan, Tasya sedang duduk di depan meja rias sambil melepas anting-anting yang dikenakannya sejak sore.Sementara itu, Nizar berdiri tidak jauh dari ranjang. Pandangannya tertuju pada sebuah lukisan besar yang tergantung di dinding.Lukisan itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, selama hampir setahun tinggal di rumah tersebut, Nizar nyaris tidak pernah memperhatikannya.Selama ini, ia memang tidak terlalu peduli dengan apa pun yang ada di rumah Tasya. Baginya, pernikahan mereka hanyalah kesepakatan bisnis yang kebetulan dibungkus dengan hubungan suami istri.Ia menjalani semuanya tanpa keinginan untuk mengenal lebih jauh kehidupan keluarga istrinya.Akan tetapi, entah mengapa, malam itu lukisan tersebut menarik perhatiannya.Nizar melangkah mendekat.Lukisan berukuran besar itu menggambarkan pemandangan taman dengan pepohonan rindang dan sebuah bangunan tua di kejauhan. Bingkainya tampak kokoh, tetapi posisinya sedikit miring.Nizar mengulu

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 29 A

    "Sudah selesai urusannya?" tanya ibu Adnan sambil mengusap kepala Nara saat gadis itu mencium tangan. "Belum, Bu.""Makan dulu, ayo!" ajak ibu Adnan. Mereka bertiga makan dalam satu meja. Sesekali ibu Adnan menyuruh Nara menambah nasi, tetapi ditolak. Selesai makan, ibu Adnan langsung mengemasi piring. Sedangkan Nara dan Adnan masih duduk di kursi sambil memainkan ponsel. Satu pesan masuk dari Nizar membuat mata Nara membelalak."Kenapa?" tanya Adnan. Nara bergerming. "Kenapa?" ulang Adnan. Nara membacakan pesan Nizar. "Jangan dibalas!" tegas Adnan.Nara mengangkat wajah, menatap lelaki yang duduk di sampingnya. "Kenapa?"Adnan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Nara."Kalau kamu membalasnya sekarang, dia akan tahu kalau pesan itu berhasil membuatmu panik."Nara terdiam. Ia tidak bisa membantah perkataan Adnan begitu saja. Lelaki itu memang terlalu jeli memperhatikan situasi."Orang seperti Nizar tidak akan mengirim pesan tanpa alas

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 28 B

    Sementara itu, di rumah keluarga Hendro, Nizar berdiri di depan jendela kamar dengan ponsel menempel di telinga. Ia mendengus kasar karena Nara tak mau angkat telepon. Tatapannya tertuju pada halaman rumah, tetapi pikirannya berada jauh di rumah sakit. Adisty membutuhkan dia saat ini. Namun, ada masalah lain yang tidak bisa diabaikannya.Tasya.Sejak kejadian makan siang yang batal, Tasya sama sekali tidak berbicara kepadanya. Perempuan itu bahkan tidak menoleh ketika Nizar berkali-kali mencoba bertanya. Nizar mengembuskan napas panjang.Dia tahu Tasya sedang marah. Pertanyaan Tasya tentang hubungan mereka yang semakin renggang masih terngiang-ngiang di kepalanya.Selama ini, Nizar memang terlalu sibuk membagi perhatian antara bisnis, urusan keluarga, dan Adisty. Dia bahkan hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan perasaan Tasya sebagai istrinya. Bahkan terkadang lupa jika ia punya istri lain. Pernikahannya dengan Tasya merupakan bagian dari kesepakatan dua keluarga. Keluarga

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 28 A

    Nara keluar dari gedung rumah sakit dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tampak tenang, tetapi pikirannya masih tertinggal pada permintaan Adisty yang baru saja didengarnya.Memasukkan Aurellie ke panti asuhan.Permintaan itu terus terngiang di telinganya. Nara tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga Nizar hingga Adisty begitu takut anaknya berada di tangan lelaki itu. Namun, satu hal yang pasti, Nara tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam urusan yang bukan menjadi tanggung jawabnya.Nara sudah terlalu lama kehilangan haknya sendiri. Kali ini, dia harus mendahulukan kepentingan ibunya."Nara!"Suara Adnan membuat Nara mengangkat wajah. Lelaki itu berdiri di samping mobil dengan satu tangan memegang kunci kendaraan."Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggu hampir sepuluh menit.""Maaf, Pak. Tadi ada yang harus aku selesaikan."Adnan memperhatikan wajah Nara sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dari ekspresi perempuan itu, tetapi Adnan tidak bertanya lebih jauh."Sudah s

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 27

    Tasya menatap punggung ibunya yang semakin menjauh. Perkataan Dewi masih terngiang-ngiang di telinganya, terutama ketika perempuan itu menyuruhnya memeriksa ponsel Nizar.Semakin dipikirkan, semakin panas hatinya.Selama ini, Nizar memang bukan suami yang hangat. Lelaki itu menikahinya tanpa banyak janji manis, jarang mengajaknya pergi, bahkan beberapa kali menghilang selama berhari-hari dengan alasan pekerjaan. Tasya sudah berulang kali mengeluh kepada Hendro, tetapi ayahnya terlihat acuh dan menyuruh agar ia tidak banyak berprasangka, Sekarang, setelah sekian lama menahan diri, dia mulai merasa kesabarannya telah dipermainkan."Mas Nizar, kamu pikir aku ini siapa?" gumamnya.Dia segera bangkit dan menaiki tangga menuju kamar.Pintu kamar terbuka. Nizar tidak ada di sana.Tasya melirik kamar mandi yang pintunya terbuka, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ponsel suaminya tidak terlihat.Dia mengumpat pelan.Lelaki itu pasti berada di ruang kerja.Tanpa membuang waktu,

  • AKU KEMBALI UNTUK MEREBUT HARTAKU   BAB 26 B

    Dewi bukan perempuan yang mudah percaya begitu saja.Dia telah bertahun-tahun tinggal di rumah itu. Dia tahu bagaimana Dudung dan Ipah bekerja, bagaimana mereka berbicara, dan bagaimana keduanya biasanya bersikap ketika tidak ada yang perlu disembunyikan.Akan tetapi, beberapa hari terakhir, ada sesuatu yang berbeda.Keduanya seperti sedang menjaga rahasia.Dewi meninggalkan taman atas dan turun menuju ruang makan. Di sana, Ipah sedang menata beberapa piring, sementara Dudung baru saja masuk dari halaman belakang."Ipah."Perempuan paruh baya itu menoleh."Iya, Bu?""Nara sudah berapa kali ke rumah ini?"Tangan Ipah yang sedang memegang piring mendadak berhenti.Hanya sebentar.Namun, jeda kecil itu tidak luput dari pengamatan Dewi."Berapa kalinya saya tidak terlalu tahu, Bu. Saya lihat dia waktu sama Non Tasya.""Kenapa dia bisa begitu mudah meyakinkan Tasya untuk merenovasi beberapa bagian rumah inj?""Kalau itu saya tidak tahu, Bu, tanya saja sama Non Tasya. Saya sendiri kan tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status