ANMELDENSeraphina akhirnya bisa bernapas lega setelah tekanan yang dibawa Kael sepenuhnya menghilang dari ruangan. Walau demikian, kedua tangannya masih gemetar tipis. Detak jantungnya yang memburu liar di balik rongga dada membuatnya sempat kesulitan menarik napas.
Meski begitu, ada seulas rasa kagum yang menyusup di sudut hatinya. Ia berhasil bertahan. Ia baru saja lolos dari jerat interogasi sang ksatria paling berbahaya di kerajaan tanpa merusak topengnya. Tanpa sadar, sudut bibir Seraphina ketarik, membentuk sebuah senyuman tipis penuh kemenangan.
Setelah emosinya mulai tenang, Seraphina melangkah menuju jendela besar di sisi kamar, berniat mencari udara segar demi mendinginkan kepalanya. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti. Seluruh tubuhnya membeku seketika saat matanya menangkap siluet ganjil di balik kaca.
Seekor monster Abyss berukuran kecil tengah bertengger di luar jendela kamarnya.
Makhluk itu tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menyerang. Ia tidak mencakar kaca, tidak pula mengeluarkan geraman mengancam yang biasa memicu histeria massal. Monster kecil itu hanya terduduk diam di atas langkan batu, memiringkan kepalanya sembari melemparkan tatapan lurus ke arah Seraphina.
Menyaksikan pemandangan yang tidak biasa ini, sebuah realitas baru mulai merayap di benak Seraphina. Sejak ia bangkit dari kematian, makhluk-makhluk Abyss ini... tidak pernah benar-benar menyakitinya. Alih-alih bertingkah sebagai monster pemangsa, makhluk di depannya ini justru terasa seperti seorang pelayan yang setia menunggu perintah dari tuannya.
Keheningan itu pecah saat monster kecil itu tiba-tiba tersentak, lalu melompat kabur ke kegelapan bawah menara. Pergerakan mendadak itu sempat mengejutkan Seraphina, namun sedetik kemudian membawa rasa lega.
Mengira bahaya telah lewat, Seraphina melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda menuju balkon. Ia membuka pintu kaca, membiarkan angin malam menerpa wajahnya, lalu menghirup udara segar sedalam-dalamnya. Saat pandangannya menyapu halaman bawah katedral, sepasang iris abu-abu keperakannya tidak sengaja menangkap siluet punggung tegap Kael Adraven yang sedang berjalan menjauh di bawah pendar obor katedral. Pria itu tampaknya baru saja turun dari menara.
Seraphina terpaku, menatap sosok tinggi berbalut zirah perak itu hingga perlahan menghilang di balik tikungan koridor batu. Ia terlalu fokus pada punggung Kael, sampai-sampai tidak menyadari satu hal.
Di bawah kegelapan sudut balkon, monster Abyss kecil yang baru saja melarikan diri ternyata telah kembali. Makhluk itu merayap naik dalam senyap, lalu kembali duduk diam di atas pembatas batu, melanjutkan tugasnya untuk mengamati dan menjaga sang Saintess dari balik bayang-bayang.
***
“Selamat malam, Nona Saintess. Semoga tidur Anda damai di bawah perlindungan The Seven of Thrones yang agung,” seorang pelayan muda berdiri di ambang pintu, memberikan hormat takzim sebelum akhirnya mengundur diri dan menutup pintu rapat-rapat.
Seraphina yang kini telah mengenakan gaun tidur putih tipis, duduk diam di tepi ranjang. Ia tidak membalas ucapan si pelayan. Matanya hanya menatap kosong ke arah luar jendela, tempat taburan bintang berkilau jauh lebih indah dan jelas daripada di dunia asalnya.
“The Seven of Thrones… Dewa yang melindungi dunia ini,” Seraphina bergumam pada diri sendiri. Ia meremas pinggiran gaun tidurnya. “Jika mereka benar-benar dewa yang mahakuasa… bisakah mereka memulangkanku ke rumah jika aku berdoa dengan taat dan tulus?”
Untaian kalimat itu menguap begitu saja di dalam keheningan kamar. Seraphina tidak pernah mengharapkan siapa pun menimpali keluh kesahnya. Namun, suara asing itu muncul lagi.
Kali ini, suaranya terdengar jauh lebih stabil dan jernih, bukan lagi sekadar bisikan horor yang samar seperti hari-hari lalu. Suara itu bergetar rendah, seolah merayap langsung dari balik bayang-bayang di sudut ranjangnya.
“Mereka menyebut dirinya cahaya… hanya karena mereka takut pada kegelapan yang asli.”
Seraphina sontak berdiri dari ranjang. Bulu kuduknya meremang hebat. Ia mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan yang remang-remang, mencoba mencari sumber suara tersebut, meski logika kecil di kepalanya tahu pasti bahwa hanya dirinya sendirilah yang bisa mendengar gaung ganjil itu.
“The Seven of Thrones bukanlah Dewa. Mereka bukanlah penyelamat.”
Intensitas suara misterius itu kian menguat, bergaung langsung di dalam tempurung kepalanya. Seraphina mulai dilanda kepanikan yang hebat. Pertahanan emosinya goyah seketika. Bisikan-bisikan itu terdengar seperti hasutan sesat… namun entah mengapa terasa begitu meyakinkan. Kebenaran palsu ini membuatnya frustasi, takut, sekaligus mempertanyakan realitas sejati dari dunia tempatnya terdampar.
“Mereka bukan dewa…”
“Mereka bukan penyelamat…”
“Mereka hanya takut pada kegelapan sejati.”
Rentetan kalimat itu menghantam kesadaran Seraphina, memicu rasa sakit yang luar biasa hebat di kepalanya. Rintihan pelan lolos dari bibirnya yang memucat. Ia mencengkram kepalanya kuat-kuat dengan kedua tangan. Rasanya ia ingin sekali menarik rambutnya sendiri demi mengusir rasa sakit yang seolah meremas otaknya itu.
Lalu, tanpa ia sadari. Sesuatu yang asing mulai mengalir keluar dari balik urat nadinya.
Fenomena itu tidak memicu ledakan besar yang hancur lebur. Pergerakannya jauh lebih halus, senyap, dan mencekam. Entah dari mana datangnya, kelopak-kelopak bunga hitam Abyss mulai tumbuh merayap dari sela-sela altar suci kecil di sudut kamarnya. Tanaman-tanaman suci yang semula mekar di sana mendadak layu dan membusuk seketika, digantikan oleh jalinan kelopak gelap yang mekar dalam keheningan malam. Seakan-akan, seluruh kesucian tempat itu baru saja dinodai oleh sentuhan kegelapan.
“AARRGH!”
Jeritan memilukan itu memecah keheningan malam, menggema hebat hingga terdengar sampai ke luar kamar. Koridor Menara Barat yang semula sepi dan gelap sontak berubah gaduh, perlahan diterangi oleh pendar cahaya kecil dari lilin-lilin yang ditenteng oleh beberapa pelayan yang berlarian panik.
Dengan tangan gemetar, mereka segera mendorong paksa pintu kamar sang Saintess lalu merangsek masuk.
"Nona Saintess—?!"
Kalimat mereka terputus di udara. Di sudut ruangan, bunga-bunga hitam Abyss telah mekar dengan sempurnanya di atas altar. Aroma bunga busuk yang manis mulai memenuhi ruangan.
Raut wajah para pelayan seketika berubah pucat pasi, kehilangan seluruh warna darah mereka. Sebuah pemandangan mustahil tersaji tepat di depan mata. Bunga Abyss yang terkutuk tidak seharusnya bisa tumbuh, apalagi mekar di dalam lingkungan tempat suci. Kepanikan massal mulai menjalar. Satu di antara pelayan itu segera tersadar dari syoknya dan berbalik arah, berlari kencang untuk memanggil pendeta.
Sementara itu, pelayan yang tersisa sama sekali tidak berani beranjak dari tempat mereka berdiri. Tubuh mereka membeku di ambang pintu, dikuasai ketakutan yang hebat. Mereka hanya bisa menonton dengan mata terbelalak, membiarkan Seraphina terus mengerang kesakitan di atas lantai marmer yang sedingin es tanpa ada satu pun yang berani mengulurkan tangan untuk menolong.
Tidak butuh waktu lama sampai para pendeta katedral berdatangan dengan jubah putih mereka yang berkibar. Namun, para pemuka agama itu pun menunjukkan respons yang serupa, terkejut, tak percaya, dan didera kepanikan yang luar biasa.
Tetapi, di atas semua kengerian malam itu, ada satu kenyataan lain yang jauh lebih menyeramkan. Di dinding kamar, Holy Relic yang sakral justru tetap diam membisu. Benda suci itu sama sekali tidak memancarkan cahaya penolakan ataupun menunjukkan reaksi negatif terhadap keberadaan kegelapan di altar.
Sebuah kenyataan pahit yang tidak ingin diterima oleh siapa pun di ruangan itu. Abyss tersebut tidak ditolak, ia diterima oleh kesucian itu sendiri. Fenomena ganjil ini jauh lebih mengerikan dan terkutuk daripada sekadar pencemaran corruption biasa.
“Cepat panggil Uskup Agung! Cepat!!”
Seruan perintah dari salah satu pendeta bersahut-sahutan, beradu bising dengan jeritan pilu Seraphina yang masih didera kesakitan luar biasa. Para pendeta di ambang pintu saling pandang dalam kebingungan. Mereka benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dalam kondisi seperti ini. Kasus yang tersaji di depan mata terlalu asing dan menyimpang dari semua ajaran suci yang pernah mereka pelajari.
Namun, di tengah kepanikan itu, setidaknya ada satu pendeta tua yang memberanikan diri menerobos masuk. Ia melompati batas aman, bergegas menghampiri perempuan malang yang masih meringkuk kesakitan di atas lantai marmer sembari mencengkram kepalanya sendiri.
“Nona Saintess, bertahanlah!” seru pendeta itu, mencoba meraih bahu Seraphina.
Di tengah siksaan yang mendera fisiknya, batin Seraphina menjerit frustasi. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja ia lakukan. Ia bahkan tidak mengerti dosa apa yang membuatnya harus mengalami semua ini. Ia bukanlah seorang Saintess agung, bukan pula Saintess palsu, ia hanyalah sebuah jiwa malang dari dunia seberang yang tersesat dan terseret paksa ke dalam kengerian dunia asing ini.
Di sela-sela kesadarannya yang mulai mengabur dan meredup, keheningan mendadak merayap di dalam kepalanya. Suara misterius itu muncul kembali.
Kali ini terdengar begitu pelan, dingin, namun terasa dekat.
“Takhta itu… mulai menjawabmu.”
.
.
.
Continue…
"Ya-Yang Mulia Saintess...?" Suster Agnes melangkah mundur dengan lutut gemetar.Genggamannya pada wadah lilin mengencang, membuat lelehan lilin panas menetes ke jemarinya. "Tidak... Tidak mungkin. Anda sudah... Anda tidak seharusnya berada di sini! Pergi! Tolong pergi!"Agnes mencoba membanting kembali pintu ek tersebut, namun satu tangan kekar Kael menahannya dengan mudah. Pintu itu tetap terbuka lebar, memaksa sang biarawati mundur semakin jauh ke dalam aula biara yang temaram."Suster Agnes, tolong. Aku datang untuk mencari kebenaran," pinta Seraphina, melangkah maju dengan nada memohon. "Aku perlu tahu apa yang sudah gereja sembunyikan. Apakah kau tahu sesuatu?""Saya tidak tahu apa-apa!" Agnes menggeleng histeris, menyudutkan punggungnya pada pilar batu yang dingin. Kedua tangannya terangkat menutupi telinga. "Saya sudah bersumpah untuk bungkam! Tolong, jangan bunuh saya... Gereja akan melenyapkan saya jika saya membocorkannya! Pergi!"Melihat penolakan itu, rasa frustrasi mulai
Seraphina menahan napas saat bayangan dua penjaga berbaju zirah melintas hanya beberapa meter di depan mereka. Di balik pilar batu yang gelap, Kael merapatkan tubuh, menyembunyikan gadis itu sepenuhnya di balik punggung tegap dan jubah hitamnya.Suara dentang zirah para penjaga terdengar lambat, menyiksa akal sehat Seraphina yang kian tegang. Kompleks gereja ini layaknya labirin yang dipenuhi mata dan telinga. Satu langkah salah, mereka bisa ketahuan dan misi penyelinapan malam ini akan hancur berantakan.Kael melirik ke samping, menghitung detik dengan presisi seorang komandan. Begitu para penjaga berbelok di sudut koridor, Kael langsung menarik pergelangan tangan Seraphina."Sekarang," bisik Kael, sangat rendah hingga nyaris menyatu dengan angin malam.Mereka bergerak cepat menyusuri bayang-bayang dinding pembatas, lalu melompati jendela rendah di area belakang yang jarang dilewati. Langkah kaki mereka terus berpacu hingga akhirnya berhasil menembus sebuah gerbang besi kecil berkara
Aroma daun teh yang diseduh memenuhi ruangan, namun ketenangan sore itu sama sekali tidak menenangkan bagi Seraphina. Ia menyesap tehnya perlahan, meletakkan cangkir porselen itu ke tatakannya dengan denting halus yang disengaja. Di hadapannya, seorang pelayan muda berdiri dengan kepala sedikit tertunduk."Apakah ada surat untukku hari ini?" tanya Seraphina, berusaha menjaga nadanya tetap datar dan kasual.Pelayan itu mengerjap, tampak berpikir sejenak sebelum tersenyum sopan. "Surat, Yang Mulia Saintess? Jika yang Anda maksud adalah undangan pesta minum teh dari para bangsawan, pelayan di depan belum menerima—""Bukan undangan pesta murahan seperti itu," potong Seraphina tajam.Seraphina diam-diam mengaktifkan kemampuannya. Fokusnya menembus topeng formalitas si pelayan, membaca riak pikiran yang tersembunyi di balik mata itu.’Surat apa? Mana berani aku menyentuh surat-surat pribadinya. Lagi pula, bukankah semua surat untuknya harus disaring lebih dulu?’Mendengar suara batin itu, a
“Aku mulai mendengar suara dari altar…” Seraphina mengulang kalimat itu. Suaranya berbisik lirih, hampir tertelan oleh kesunyian kamar. Jemarinya yang gemetar menyentuh goresan tinta kaku di atas kertas yang mulai menguning. Noda samar di sudut halaman—mungkin bekas tetesan keringat atau air mata yang mengering—seakan memancarkan keputusasaan yang nyata.Di kamar luas yang kini terasa mencekam, hanya ada keheningan dan pendar temaram dari sebatang lilin yang mulai meleleh. Seraphina duduk dengan punggung tegak dan kaku. Detak jantungnya berpacu liar saat ia kembali memeriksa buku harian rahasia yang selama ini ia sembunyikan.Dengan napas tertahan, Seraphina membalik halaman berikutnya. Tulisan tangan di lembar-lembar baru ini tidak lagi rapi. Goresannya berantakan, mencerminkan kepanikan dan ketakutan hebat yang mencekik Seraphina asli semasa hidupnya.«“Suara itu bilang… jangan percaya gereja.”»Mata Seraphina membelalak. Ia menelan ludah, merasakan sensasi dingin merambat di tengk
Ada satu kebohongan kecil yang disimpan rapat oleh Seraphina.Ia tidak pernah benar-benar membaik sejak mengalami sesak napas beberapa hari lalu.Ketika derap langkah kaki pelayan mulai menjauh dan akhirnya hilang sepenuhnya, kesunyian malam langsung menyergap. Malam itu, kegelapan di dalam kamar Seraphina terasa jauh lebih pekat dan menghimpit."Ugh—!"Seraphina sontak mencengkram dada kirinya. Penyakit itu kambuh lagi. Kali ini, rasanya jauh lebih menyiksa dari sebelumnya. Paru-parunya seolah diperas kering hingga kosong, dan dadanya dihantam rasa sakit yang luar biasa hebat."Haah!... haah!... haaakh!!"Tubuhnya ambruk, tersungkur di atas lantai yang sedingin es. Sialnya, ia sedang sendirian. Tidak ada obat di dekatnya, tidak ada pelayan di sisinya, dan tidak ada seorang pun yang bisa mendengar rintihan lirihnya.... Apa lagi ini? batin Seraphina frustasi. Ia mencengkram lantai marmer, menguatkan diri demi menahan rasa nyeri yang terus menghujam dadanya.Di tengah keputusasaan yang
Satu hari berlalu setelah ritual doa khusus demi menyambut musim baru. Seraphina baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai pendengar di ruang pengakuan dosa, sebuah agenda rutin yang diadakan setiap satu bulan sekali. Berjam-jam mendengarkan pengakuan para pendoa membuat energinya cukup terkuras.Dalam perjalanan kembali menuju kamarnya di Menara Barat, Seraphina menyusuri lorong batu yang sepi dan dingin. Langkah kakinya mendadak terhenti di tengah jalan."Ugh—!"Rasa sesak yang luar biasa menghantam dadanya tanpa peringatan. Jantungnya seperti diremas kuat oleh tangan tak terlihat, memutus pasokan udara ke paru-parunya seketika. Seraphina sontak bertumpu pada dinding lorong, mencari pegangan demi menjaga keseimbangan.Untuk sepersekian detik, pandangannya mengabur. Di dalam benaknya, bayangan mengerikan tentang enam takhta megah dengan sosok hitam yang mendudukinya mendadak bangkit kembali. Memberikan rasa takut penuh intimidasi yang menyerang psikisnya dengan kejam. Lututnya melemas







