Share

Chapter 5 -Whisper-

Penulis: Sei_30
last update Tanggal publikasi: 2026-07-01 16:56:26

Suara kasak-kusuk di sekitarnya perlahan menarik kesadaran Seraphina kembali ke permukaan.

Saat kelopak matanya dipaksa terbuka, tubuhnya terasa luar biasa lemah. Kepalanya berdenyut hebat seperti habis dibelah, sementara pandangannya buram dan berbayang. Di sekeliling ranjang, beberapa pendeta jubah putih sedang memeriksa kondisinya.

Begitu menyadari sepasang manik mata Seraphina terbuka, mereka sontak mundur teratur. Itu bukan penghormatan, melainkan refleks karena ketakutan.

Seraphina menyadari hal itu dengan getir.

"Yang Mulia Saintess sudah sadar," bisik seorang pelayan dengan suara gemetar.

"Cepat panggil Uskup Agung!" perintah pendeta yang tadi memeriksa, suaranya naik satu oktaf karena panik.

Di antara kerumunan pelayan dan pendeta yang memilih menjaga jarak, Seraphina menangkap sosok pendeta tua yang kemarin menolongnya. Semua orang diam membisu, tidak berani mendekat seolah dirinya adalah wabah. Hanya pendeta tua Darwin yang akhirnya memberanikan diri melangkah maju.

Ia mencoba berbisik lembut, tetapi ketegangan di guratan wajahnya tidak bisa disembunyikan.

"Bagaimana keadaan Anda, Yang Mulia Saintess?" tanyanya. Namun, gestur tubuhnya berkhianat, sepasang tangannya terus meremas untaian rosario perak hingga buku jarinya memutih.

Seraphina tidak menjawab. Tenggorokannya terlalu kering, dan kenyataan pahit mulai menghantam kesadarannya. Orang-orang ini tidak melihatnya sebagai pasien atau orang sakit. Mereka melihatnya sebagai ancaman yang siap meledak.

“Gejala awal corruption…”

Suara itu muncul begitu saja di kepalanya. Tidak berasal dari bibir siapa pun di ruangan tersebut.

Seraphina spontan menoleh tajam ke arah para pendeta. Gerakan mendadak itu membuat mereka tersentak ngeri. Dengan cepat, mereka memaksakan senyum ramah yang tampak janggal dan bertanya dengan nada yang dibuat selembut mungkin, "Ada yang bisa saya bantu, Yang Mulia Saintess?"

Seraphina menggeleng lemah, suaranya parau. "Aku kira... ada pendeta yang bicara sesuatu."

Mendengar pengakuan sang Saintess, suasana di dalam kamar mendadak anjlok hingga titik beku. Wajah beberapa orang di sana seketika pias dan menegang. Sebagian lagi saling lempar tatapan penuh isyarat rahasia. Seraphina bisa melihat gelombang kepanikan yang nyata di mata mereka.

Lalu, suara tak kasat mata itu kembali bergaung di dalam kepalanya. Lebih dingin dan mencengkram.

“Whisper…”

***

Suasana di dalam ruang rapat darurat hari itu terasa begitu pekat dan kacau.

Ruangan beratap tinggi itu dihadiri oleh para petinggi tertinggi gereja. Komandan Holy Knight, Pendeta Darwin—si pendeta tua—Uskup Agung, dan Kardinal. Masing-masing duduk didampingi oleh orang kepercayaan mereka. Mengitari meja panjang dari kayu ek berukir yang kokoh.

Di atas permukaan meja yang berwarna cokelat gelap, berserakan gulungan perkamen penting. Laporan tentang fenomena bunga hitam, laporan status Holy Relic, dan berkas ancaman monster Abyss. Dari sekian banyak informasi yang masuk, semuanya bermuara pada satu kesimpulan di luar nalar.

Perpecahan di dalam ruangan itu terekam jelas, membagi para petinggi menjadi tiga kubu yang saling berseberangan.

Kubu pertama datang dari pihak militer. Kael Adraven, sang Komandan Holy Knight, berdiri tegak mewakili suara para ksatrianya. "Saintess harus dimurnikan," ujarnya dingin.

"Tapi Holy Relic menerima beliau!" seru perwakilan kubu kedua dari pihak pendeta.

Sebagai saksi hidup yang melihat sendiri bagaimana bunga hitam mekar di atas altar suci pada malam itu, Pendeta Darwin tidak bisa membayangkan konsekuensi mengerikan apa yang akan terjadi jika sang Saintess dieksekusi.

Di ujung meja, kubu ketiga yang dipimpin oleh Kardinal akhirnya buka suara. "Kita tidak bisa begitu saja membunuh Saintess di hadapan rakyat."

Jari telunjuk sang Kardinal mengetuk permukaan meja kayu ek dengan tempo lambat yang mengintimidasi. Ia melanjutkan, "Jika rakyat sampai tahu kita mengeksekusi seorang Saintess yang baru saja bangkit dari kematian, fondasi kepercayaan mereka pada gereja bisa runtuh seketika."

"Maaf menyela, Yang Mulia Kardinal," potong Kael lugas, tidak gentar oleh tekanan politik tersebut. "Namun, berdasarkan laporan tertulis dari Pendeta Darwin, Saintess sempat mengeklaim mendengar suara para pendeta berbicara. Padahal, pada kenyataannya, tidak ada satu orang pun di kamar itu yang bersuara. Ini adalah indikasi kuat bahwa Saintess menunjukkan gejala awal corruption."

Pernyataan sang komandan seketika menyulut kegaduhan baru. Bisik-bisik tegang kembali memenuhi ruangan. Pria dengan sepasang mata emas yang meredup itu menyapu pandangan ke sekeliling meja sebelum menyambung kalimatnya. "Kita semua yang berada di ruangan ini tahu betul bagaimana tahapan seseorang yang terinfeksi corruption sebelum akhirnya mereka bermutasi menjadi monster Abyss."

"Tentu saja kami paham betul. Karena itulah kita tidak boleh mengambil tindakan yang gegabah, Komandan Adraven," timpal Uskup Agung dengan suara berat yang penuh wibawa, mencoba menengahi.

Pengetahuan mengenai tahapan corruption adalah ajaran dasar yang dikuasai oleh setiap pemuka agama di tempat ini. Infeksi kegelapan itu selalu bergerak dalam pola yang sama: Whisper, Stain, Fracture, Manifestation, dan Cataclysm.

“Korban mulai mendengar bisikan-bisikan gaib yang tidak nyata. Lalu munculnya bercak hitam atau pembusukan fisik pada tubuh. Sebelum retaknya kondisi mental, hilangnya kewarasan, dan kendali diri.” Kardinal menjeda kalimatnya, lalu melanjutkan kembali tahap corruption. 

“Energi kegelapan mulai memadat dan mengubah bentuk fisik… yang diakhiri dengan transformasi total menjadi monster Abyss yang membawa kehancuran.”

Keheningan yang mencekam sempat melanda ruangan setelah ingatan itu terlintas. Hingga akhirnya, orang kepercayaan Pendeta Darwin memecah kesunyian dengan suara bergetar.

"Dan sejarah mencatat... tidak pernah ada satu orang pun yang berhasil selamat atau berhenti di tahap Whisper."

***

Ketika suasana di ruang rapat para petinggi semakin memanas, kamar tempat Seraphina beristirahat justru terasa dingin membeku. Keheningan itu pecah saat seorang pelayan yang ditugaskan merawat sang Saintess masuk membawa nampan makan siang.

Dengan senyum ramah yang tampak sopan, ia membungkuk hormat. "Silakan dinikmati makan siangnya, Nona Saintess."

Namun, tepat pada detik berikutnya, sepasang telinga Seraphina menangkap gema suara lain yang terdengar begitu dekat.

“Demi The Seven Thrones… aku takut setengah mati.”

Seraphina spontan menoleh. Sepasang matanya menatap lekat pelayan muda yang kini tengah sibuk menata mangkuk dan gelas di atas meja kecil di samping ranjang. Atensi Seraphina tertuju sepenuhnya pada belahan bibir pelayan itu.

Bibir itu terkatup rapat. Tidak ada gerakan sedikit pun.

Merasakan keganjilan yang sama terulang kembali, Seraphina menolak untuk abai. Demi memastikan bahwa indra pendengarannya tidak sedang mempermainkannya kali ini, ia memutuskan untuk menguji si pelayan.

"Ke mana pelayan yang berjaga sebelumnya?" tanya Seraphina, berusaha menjaga suaranya tetap sedatar dan setenang mungkin.

Pelayan itu mendongak, langsung menyahut dengan lancar, "Kepala Pelayan selalu memutar jadwal kami setiap hari, Yang Mulia. Kebetulan, siang ini adalah giliran saya yang bertugas merawat Nona Saintess."

Seraphina hanya bergumam pelan sebagai respons. Ia meraih sendok perak di atas nampan, berpura-pura fokus pada makanan di hadapannya agar tidak memicu kecurigaan. Namun, diam-diam ekor matanya terus bergerak, mengawasi setiap gerak-gerik pelayan baru itu yang kini mundur dan berdiri di pojok kamar.

Wanita muda itu berdiri diam dalam posisi formal. Mulutnya tertutup rapat tanpa riak. Namun, suara asing itu kembali menggaung di dalam kepala Seraphina. Kali ini dengan nada yang jauh lebih getir dan memohon.

“Tuhan, tolong lindungi aku… Semoga besok aku tidak ditugaskan ke kamar ini lagi.”

Melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kenyataan visual dan suara yang ia dengar bertolak belakang, seluruh pasokan udara di paru-paru Seraphina seolah menguap. Tubuhnya membeku seketika.

Suara-suara itu bukan halusinasi gaib. Ia baru saja mendengar jeritan batin yang disembunyikan pelayan itu di balik senyum ramahnya.

***

Pikiran Seraphina mulai hancur berkeping-keping.

Rentetan suara batin yang jujur sekaligus kejam dari orang-orang di sekitarnya terus menghujani kepalanya tanpa ampun.

"Semoga Dewa selalu memberkati Anda, Yang Mulia," ujar seorang pendeta pria yang datang berkunjung dengan wajah teduh. Namun, jeritan batin yang menembus telinga Seraphina justru berbunyi, “Monster sialan.”

Kali ini seorang biarawati muda datang membawakan obat. "Semoga Anda lekas pulih, Nona Saintess." Tetapi, ketakutan yang menggaung di balik senyum itu berteriak, “Menjauhlah dariku! Jangan mendekat!”

Bahkan ketika seorang kesatria suci baru datang untuk berganti giliran jaga di depan kamarnya, ia membungkuk penuh hormat dan berkata, "Saya akan berjaga di luar, Yang Mulia." Namun, isi kepala pria itu membuat Seraphina bergidik ngeri. “Begitu jalang ini menunjukkan tanda-tanda berubah, aku akan langsung memenggal kepalanya.”

Suara-suara itu mulai tumpang tindih. Riuh, tidak teratur, dan tidak bisa dihentikan. Mereka berputar di dalam tempurung kepalanya seperti badai yang bising.

Seraphina refleks menutup kedua telinganya rapat-rapat, tetapi suara-suara itu tetap bergema lurus di dalam benaknya. Ia berlari ke kamar mandi, mengunci diri, namun dinding batu tidak mampu meredam jeritan batin manusia. Ia menyeret tubuhnya kembali ke ranjang, bersembunyi di bawah gulungan selimut tebal, tetapi bisikan-bisikan itu tetap menembus kegelapan.

Seraphina tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba dikutuk dengan kemampuan ini. Ini bukan suara misterius dari dimensi lain. Bukan pula raungan makhluk Abyss. Ini adalah suara manusia, orang-orang yang selama ini mengelilinginya dengan topeng kesetiaan.

Saat ia mulai mencapai titik nadir kelelahan mentalnya, sore itu sebuah percakapan dari luar pintu kamar tak sengaja tertangkap oleh indera pendengarannya yang kini terlampau sensitif. Dua orang biarawati tengah bergosip sambil melintas.

"Kau sudah dengar rumornya? Saintess diduga kuat mengalami gejala Whisper."

"Maksudmu... tahap pertama corruption?!"

“Benar. Urutannya selalu sama. Whisper, Stain, Fracture, Manifestation, dan Cataclysm. Semua orang di gereja tahu, sekali saja kau mendengar bisikan itu... tamat sudah. Kemanusiaanmu akan runtuh, dan kau hanya akan berakhir sebagai monster Abyss.” 

Langkah kaki mereka menjauh. Suara itu perlahan sayup sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya, menandakan kedua biarawati itu telah pergi.

Namun, dampaknya terlanjur fatal. Mental Seraphina runtuh total.

Ia bisa merasakan seluruh darah di tubuhnya seolah berdesir turun, menyisakan rasa dingin yang mematikan. Telapak tangannya mulai dibanjiri keringat dingin. Seluruh potongan teka-teki mengerikan ini mendadak menyatu di kepalanya.

"A-aku... mengalami Whisper?" ucapnya terbata-bata dengan bibir yang memucat.

Sekujur tubuhnya gemetar hebat saat ingatan tentang suara-suara aneh—yang ia kira halusinasi belaka—kembali berputar. Itu bukan sekadar suara. Itu adalah lonceng kematian miliknya.

Sepasang iris mata sewarna abu keperakan milik Seraphina bergetar hebat. Ia menatap kedua telapak tangannya yang gemetar dengan pandangan horor yang murni.

"Berarti selama ini... aku sedang mengalami corruption..."

Di tengah pusaran keputusasaan yang pekat itu, suara-suara batin manusia masih saja berbisik bising, saling bertumpang tindih menghujam isi kepalanya.

Seraphina meringkuk, memeluk lututnya erat-erat. Ia bergumam lirih, memohon tanpa henti dengan air mata yang mengalir hangat membasahi pipinya yang kian pias.

"Diam..."

"Tolong, diam..."

"Diam..."

"Diam!"

"Kubilang diam...!"

Mendadak, seluruh rentetan suara bising itu terputus.

Senyap seketika. Ruangan itu jatuh ke dalam sunyi yang total. Seolah-olah seluruh dunia baru saja menahan napas mereka.

Lalu, di tengah keheningan yang mencekam itu, sebuah suara yang sudah dikenal Seraphina sejak awal kembali muncul. Suara itu terdengar begitu tenang, lembut, sekaligus teramat dekat, bergaung tepat di poros kesadarannya.

“Sekarang kau mengerti, kan?”

Tubuh Seraphina membeku seketika. Napasnya tertahan di tenggorokan.

“Kau bisa mendengar isi hati mereka sekarang.”

.

.

.

Continue…

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 38 -The Hidden Witness-

    "Ya-Yang Mulia Saintess...?" Suster Agnes melangkah mundur dengan lutut gemetar.Genggamannya pada wadah lilin mengencang, membuat lelehan lilin panas menetes ke jemarinya. "Tidak... Tidak mungkin. Anda sudah... Anda tidak seharusnya berada di sini! Pergi! Tolong pergi!"Agnes mencoba membanting kembali pintu ek tersebut, namun satu tangan kekar Kael menahannya dengan mudah. Pintu itu tetap terbuka lebar, memaksa sang biarawati mundur semakin jauh ke dalam aula biara yang temaram."Suster Agnes, tolong. Aku datang untuk mencari kebenaran," pinta Seraphina, melangkah maju dengan nada memohon. "Aku perlu tahu apa yang sudah gereja sembunyikan. Apakah kau tahu sesuatu?""Saya tidak tahu apa-apa!" Agnes menggeleng histeris, menyudutkan punggungnya pada pilar batu yang dingin. Kedua tangannya terangkat menutupi telinga. "Saya sudah bersumpah untuk bungkam! Tolong, jangan bunuh saya... Gereja akan melenyapkan saya jika saya membocorkannya! Pergi!"Melihat penolakan itu, rasa frustrasi mulai

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 37 - The Hidden Monastery-

    Seraphina menahan napas saat bayangan dua penjaga berbaju zirah melintas hanya beberapa meter di depan mereka. Di balik pilar batu yang gelap, Kael merapatkan tubuh, menyembunyikan gadis itu sepenuhnya di balik punggung tegap dan jubah hitamnya.Suara dentang zirah para penjaga terdengar lambat, menyiksa akal sehat Seraphina yang kian tegang. Kompleks gereja ini layaknya labirin yang dipenuhi mata dan telinga. Satu langkah salah, mereka bisa ketahuan dan misi penyelinapan malam ini akan hancur berantakan.Kael melirik ke samping, menghitung detik dengan presisi seorang komandan. Begitu para penjaga berbelok di sudut koridor, Kael langsung menarik pergelangan tangan Seraphina."Sekarang," bisik Kael, sangat rendah hingga nyaris menyatu dengan angin malam.Mereka bergerak cepat menyusuri bayang-bayang dinding pembatas, lalu melompati jendela rendah di area belakang yang jarang dilewati. Langkah kaki mereka terus berpacu hingga akhirnya berhasil menembus sebuah gerbang besi kecil berkara

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 36 -The Lingering Shadows-

    Aroma daun teh yang diseduh memenuhi ruangan, namun ketenangan sore itu sama sekali tidak menenangkan bagi Seraphina. Ia menyesap tehnya perlahan, meletakkan cangkir porselen itu ke tatakannya dengan denting halus yang disengaja. Di hadapannya, seorang pelayan muda berdiri dengan kepala sedikit tertunduk."Apakah ada surat untukku hari ini?" tanya Seraphina, berusaha menjaga nadanya tetap datar dan kasual.Pelayan itu mengerjap, tampak berpikir sejenak sebelum tersenyum sopan. "Surat, Yang Mulia Saintess? Jika yang Anda maksud adalah undangan pesta minum teh dari para bangsawan, pelayan di depan belum menerima—""Bukan undangan pesta murahan seperti itu," potong Seraphina tajam.Seraphina diam-diam mengaktifkan kemampuannya. Fokusnya menembus topeng formalitas si pelayan, membaca riak pikiran yang tersembunyi di balik mata itu.’Surat apa? Mana berani aku menyentuh surat-surat pribadinya. Lagi pula, bukankah semua surat untuknya harus disaring lebih dulu?’Mendengar suara batin itu, a

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 35 -The Fragments of truth-

    “Aku mulai mendengar suara dari altar…” Seraphina mengulang kalimat itu. Suaranya berbisik lirih, hampir tertelan oleh kesunyian kamar. Jemarinya yang gemetar menyentuh goresan tinta kaku di atas kertas yang mulai menguning. Noda samar di sudut halaman—mungkin bekas tetesan keringat atau air mata yang mengering—seakan memancarkan keputusasaan yang nyata.Di kamar luas yang kini terasa mencekam, hanya ada keheningan dan pendar temaram dari sebatang lilin yang mulai meleleh. Seraphina duduk dengan punggung tegak dan kaku. Detak jantungnya berpacu liar saat ia kembali memeriksa buku harian rahasia yang selama ini ia sembunyikan.Dengan napas tertahan, Seraphina membalik halaman berikutnya. Tulisan tangan di lembar-lembar baru ini tidak lagi rapi. Goresannya berantakan, mencerminkan kepanikan dan ketakutan hebat yang mencekik Seraphina asli semasa hidupnya.«“Suara itu bilang… jangan percaya gereja.”»Mata Seraphina membelalak. Ia menelan ludah, merasakan sensasi dingin merambat di tengk

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 34 -The voice Returns-

    Ada satu kebohongan kecil yang disimpan rapat oleh Seraphina.Ia tidak pernah benar-benar membaik sejak mengalami sesak napas beberapa hari lalu.Ketika derap langkah kaki pelayan mulai menjauh dan akhirnya hilang sepenuhnya, kesunyian malam langsung menyergap. Malam itu, kegelapan di dalam kamar Seraphina terasa jauh lebih pekat dan menghimpit."Ugh—!"Seraphina sontak mencengkram dada kirinya. Penyakit itu kambuh lagi. Kali ini, rasanya jauh lebih menyiksa dari sebelumnya. Paru-parunya seolah diperas kering hingga kosong, dan dadanya dihantam rasa sakit yang luar biasa hebat."Haah!... haah!... haaakh!!"Tubuhnya ambruk, tersungkur di atas lantai yang sedingin es. Sialnya, ia sedang sendirian. Tidak ada obat di dekatnya, tidak ada pelayan di sisinya, dan tidak ada seorang pun yang bisa mendengar rintihan lirihnya.... Apa lagi ini? batin Seraphina frustasi. Ia mencengkram lantai marmer, menguatkan diri demi menahan rasa nyeri yang terus menghujam dadanya.Di tengah keputusasaan yang

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 33 -Still Hurting?-

    Satu hari berlalu setelah ritual doa khusus demi menyambut musim baru. Seraphina baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai pendengar di ruang pengakuan dosa, sebuah agenda rutin yang diadakan setiap satu bulan sekali. Berjam-jam mendengarkan pengakuan para pendoa membuat energinya cukup terkuras.Dalam perjalanan kembali menuju kamarnya di Menara Barat, Seraphina menyusuri lorong batu yang sepi dan dingin. Langkah kakinya mendadak terhenti di tengah jalan."Ugh—!"Rasa sesak yang luar biasa menghantam dadanya tanpa peringatan. Jantungnya seperti diremas kuat oleh tangan tak terlihat, memutus pasokan udara ke paru-parunya seketika. Seraphina sontak bertumpu pada dinding lorong, mencari pegangan demi menjaga keseimbangan.Untuk sepersekian detik, pandangannya mengabur. Di dalam benaknya, bayangan mengerikan tentang enam takhta megah dengan sosok hitam yang mendudukinya mendadak bangkit kembali. Memberikan rasa takut penuh intimidasi yang menyerang psikisnya dengan kejam. Lututnya melemas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status