ANMELDENSuara kasak-kusuk di sekitarnya perlahan menarik kesadaran Seraphina kembali ke permukaan.
Saat kelopak matanya dipaksa terbuka, tubuhnya terasa luar biasa lemah. Kepalanya berdenyut hebat seperti habis dibelah, sementara pandangannya buram dan berbayang. Di sekeliling ranjang, beberapa pendeta jubah putih sedang memeriksa kondisinya.
Begitu menyadari sepasang manik mata Seraphina terbuka, mereka sontak mundur teratur. Itu bukan penghormatan, melainkan refleks karena ketakutan.
Seraphina menyadari hal itu dengan getir.
"Yang Mulia Saintess sudah sadar," bisik seorang pelayan dengan suara gemetar.
"Cepat panggil Uskup Agung!" perintah pendeta yang tadi memeriksa, suaranya naik satu oktaf karena panik.
Di antara kerumunan pelayan dan pendeta yang memilih menjaga jarak, Seraphina menangkap sosok pendeta tua yang kemarin menolongnya. Semua orang diam membisu, tidak berani mendekat seolah dirinya adalah wabah. Hanya pendeta tua Darwin yang akhirnya memberanikan diri melangkah maju.
Ia mencoba berbisik lembut, tetapi ketegangan di guratan wajahnya tidak bisa disembunyikan.
"Bagaimana keadaan Anda, Yang Mulia Saintess?" tanyanya. Namun, gestur tubuhnya berkhianat, sepasang tangannya terus meremas untaian rosario perak hingga buku jarinya memutih.
Seraphina tidak menjawab. Tenggorokannya terlalu kering, dan kenyataan pahit mulai menghantam kesadarannya. Orang-orang ini tidak melihatnya sebagai pasien atau orang sakit. Mereka melihatnya sebagai ancaman yang siap meledak.
“Gejala awal corruption…”
Suara itu muncul begitu saja di kepalanya. Tidak berasal dari bibir siapa pun di ruangan tersebut.
Seraphina spontan menoleh tajam ke arah para pendeta. Gerakan mendadak itu membuat mereka tersentak ngeri. Dengan cepat, mereka memaksakan senyum ramah yang tampak janggal dan bertanya dengan nada yang dibuat selembut mungkin, "Ada yang bisa saya bantu, Yang Mulia Saintess?"
Seraphina menggeleng lemah, suaranya parau. "Aku kira... ada pendeta yang bicara sesuatu."
Mendengar pengakuan sang Saintess, suasana di dalam kamar mendadak anjlok hingga titik beku. Wajah beberapa orang di sana seketika pias dan menegang. Sebagian lagi saling lempar tatapan penuh isyarat rahasia. Seraphina bisa melihat gelombang kepanikan yang nyata di mata mereka.
Lalu, suara tak kasat mata itu kembali bergaung di dalam kepalanya. Lebih dingin dan mencengkram.
“Whisper…”
***
Suasana di dalam ruang rapat darurat hari itu terasa begitu pekat dan kacau.
Ruangan beratap tinggi itu dihadiri oleh para petinggi tertinggi gereja. Komandan Holy Knight, Pendeta Darwin—si pendeta tua—Uskup Agung, dan Kardinal. Masing-masing duduk didampingi oleh orang kepercayaan mereka. Mengitari meja panjang dari kayu ek berukir yang kokoh.
Di atas permukaan meja yang berwarna cokelat gelap, berserakan gulungan perkamen penting. Laporan tentang fenomena bunga hitam, laporan status Holy Relic, dan berkas ancaman monster Abyss. Dari sekian banyak informasi yang masuk, semuanya bermuara pada satu kesimpulan di luar nalar.
Perpecahan di dalam ruangan itu terekam jelas, membagi para petinggi menjadi tiga kubu yang saling berseberangan.
Kubu pertama datang dari pihak militer. Kael Adraven, sang Komandan Holy Knight, berdiri tegak mewakili suara para ksatrianya. "Saintess harus dimurnikan," ujarnya dingin.
"Tapi Holy Relic menerima beliau!" seru perwakilan kubu kedua dari pihak pendeta.
Sebagai saksi hidup yang melihat sendiri bagaimana bunga hitam mekar di atas altar suci pada malam itu, Pendeta Darwin tidak bisa membayangkan konsekuensi mengerikan apa yang akan terjadi jika sang Saintess dieksekusi.
Di ujung meja, kubu ketiga yang dipimpin oleh Kardinal akhirnya buka suara. "Kita tidak bisa begitu saja membunuh Saintess di hadapan rakyat."
Jari telunjuk sang Kardinal mengetuk permukaan meja kayu ek dengan tempo lambat yang mengintimidasi. Ia melanjutkan, "Jika rakyat sampai tahu kita mengeksekusi seorang Saintess yang baru saja bangkit dari kematian, fondasi kepercayaan mereka pada gereja bisa runtuh seketika."
"Maaf menyela, Yang Mulia Kardinal," potong Kael lugas, tidak gentar oleh tekanan politik tersebut. "Namun, berdasarkan laporan tertulis dari Pendeta Darwin, Saintess sempat mengeklaim mendengar suara para pendeta berbicara. Padahal, pada kenyataannya, tidak ada satu orang pun di kamar itu yang bersuara. Ini adalah indikasi kuat bahwa Saintess menunjukkan gejala awal corruption."
Pernyataan sang komandan seketika menyulut kegaduhan baru. Bisik-bisik tegang kembali memenuhi ruangan. Pria dengan sepasang mata emas yang meredup itu menyapu pandangan ke sekeliling meja sebelum menyambung kalimatnya. "Kita semua yang berada di ruangan ini tahu betul bagaimana tahapan seseorang yang terinfeksi corruption sebelum akhirnya mereka bermutasi menjadi monster Abyss."
"Tentu saja kami paham betul. Karena itulah kita tidak boleh mengambil tindakan yang gegabah, Komandan Adraven," timpal Uskup Agung dengan suara berat yang penuh wibawa, mencoba menengahi.
Pengetahuan mengenai tahapan corruption adalah ajaran dasar yang dikuasai oleh setiap pemuka agama di tempat ini. Infeksi kegelapan itu selalu bergerak dalam pola yang sama: Whisper, Stain, Fracture, Manifestation, dan Cataclysm.
“Korban mulai mendengar bisikan-bisikan gaib yang tidak nyata. Lalu munculnya bercak hitam atau pembusukan fisik pada tubuh. Sebelum retaknya kondisi mental, hilangnya kewarasan, dan kendali diri.” Kardinal menjeda kalimatnya, lalu melanjutkan kembali tahap corruption.
“Energi kegelapan mulai memadat dan mengubah bentuk fisik… yang diakhiri dengan transformasi total menjadi monster Abyss yang membawa kehancuran.”
Keheningan yang mencekam sempat melanda ruangan setelah ingatan itu terlintas. Hingga akhirnya, orang kepercayaan Pendeta Darwin memecah kesunyian dengan suara bergetar.
"Dan sejarah mencatat... tidak pernah ada satu orang pun yang berhasil selamat atau berhenti di tahap Whisper."
***
Ketika suasana di ruang rapat para petinggi semakin memanas, kamar tempat Seraphina beristirahat justru terasa dingin membeku. Keheningan itu pecah saat seorang pelayan yang ditugaskan merawat sang Saintess masuk membawa nampan makan siang.
Dengan senyum ramah yang tampak sopan, ia membungkuk hormat. "Silakan dinikmati makan siangnya, Nona Saintess."
Namun, tepat pada detik berikutnya, sepasang telinga Seraphina menangkap gema suara lain yang terdengar begitu dekat.
“Demi The Seven Thrones… aku takut setengah mati.”
Seraphina spontan menoleh. Sepasang matanya menatap lekat pelayan muda yang kini tengah sibuk menata mangkuk dan gelas di atas meja kecil di samping ranjang. Atensi Seraphina tertuju sepenuhnya pada belahan bibir pelayan itu.
Bibir itu terkatup rapat. Tidak ada gerakan sedikit pun.
Merasakan keganjilan yang sama terulang kembali, Seraphina menolak untuk abai. Demi memastikan bahwa indra pendengarannya tidak sedang mempermainkannya kali ini, ia memutuskan untuk menguji si pelayan.
"Ke mana pelayan yang berjaga sebelumnya?" tanya Seraphina, berusaha menjaga suaranya tetap sedatar dan setenang mungkin.
Pelayan itu mendongak, langsung menyahut dengan lancar, "Kepala Pelayan selalu memutar jadwal kami setiap hari, Yang Mulia. Kebetulan, siang ini adalah giliran saya yang bertugas merawat Nona Saintess."
Seraphina hanya bergumam pelan sebagai respons. Ia meraih sendok perak di atas nampan, berpura-pura fokus pada makanan di hadapannya agar tidak memicu kecurigaan. Namun, diam-diam ekor matanya terus bergerak, mengawasi setiap gerak-gerik pelayan baru itu yang kini mundur dan berdiri di pojok kamar.
Wanita muda itu berdiri diam dalam posisi formal. Mulutnya tertutup rapat tanpa riak. Namun, suara asing itu kembali menggaung di dalam kepala Seraphina. Kali ini dengan nada yang jauh lebih getir dan memohon.
“Tuhan, tolong lindungi aku… Semoga besok aku tidak ditugaskan ke kamar ini lagi.”
Melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana kenyataan visual dan suara yang ia dengar bertolak belakang, seluruh pasokan udara di paru-paru Seraphina seolah menguap. Tubuhnya membeku seketika.
Suara-suara itu bukan halusinasi gaib. Ia baru saja mendengar jeritan batin yang disembunyikan pelayan itu di balik senyum ramahnya.
***Pikiran Seraphina mulai hancur berkeping-keping.
Rentetan suara batin yang jujur sekaligus kejam dari orang-orang di sekitarnya terus menghujani kepalanya tanpa ampun.
"Semoga Dewa selalu memberkati Anda, Yang Mulia," ujar seorang pendeta pria yang datang berkunjung dengan wajah teduh. Namun, jeritan batin yang menembus telinga Seraphina justru berbunyi, “Monster sialan.”
Kali ini seorang biarawati muda datang membawakan obat. "Semoga Anda lekas pulih, Nona Saintess." Tetapi, ketakutan yang menggaung di balik senyum itu berteriak, “Menjauhlah dariku! Jangan mendekat!”
Bahkan ketika seorang kesatria suci baru datang untuk berganti giliran jaga di depan kamarnya, ia membungkuk penuh hormat dan berkata, "Saya akan berjaga di luar, Yang Mulia." Namun, isi kepala pria itu membuat Seraphina bergidik ngeri. “Begitu jalang ini menunjukkan tanda-tanda berubah, aku akan langsung memenggal kepalanya.”Suara-suara itu mulai tumpang tindih. Riuh, tidak teratur, dan tidak bisa dihentikan. Mereka berputar di dalam tempurung kepalanya seperti badai yang bising.
Seraphina refleks menutup kedua telinganya rapat-rapat, tetapi suara-suara itu tetap bergema lurus di dalam benaknya. Ia berlari ke kamar mandi, mengunci diri, namun dinding batu tidak mampu meredam jeritan batin manusia. Ia menyeret tubuhnya kembali ke ranjang, bersembunyi di bawah gulungan selimut tebal, tetapi bisikan-bisikan itu tetap menembus kegelapan.
Seraphina tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba dikutuk dengan kemampuan ini. Ini bukan suara misterius dari dimensi lain. Bukan pula raungan makhluk Abyss. Ini adalah suara manusia, orang-orang yang selama ini mengelilinginya dengan topeng kesetiaan.
Saat ia mulai mencapai titik nadir kelelahan mentalnya, sore itu sebuah percakapan dari luar pintu kamar tak sengaja tertangkap oleh indera pendengarannya yang kini terlampau sensitif. Dua orang biarawati tengah bergosip sambil melintas.
"Kau sudah dengar rumornya? Saintess diduga kuat mengalami gejala Whisper."
"Maksudmu... tahap pertama corruption?!"
“Benar. Urutannya selalu sama. Whisper, Stain, Fracture, Manifestation, dan Cataclysm. Semua orang di gereja tahu, sekali saja kau mendengar bisikan itu... tamat sudah. Kemanusiaanmu akan runtuh, dan kau hanya akan berakhir sebagai monster Abyss.”
Langkah kaki mereka menjauh. Suara itu perlahan sayup sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya, menandakan kedua biarawati itu telah pergi.
Namun, dampaknya terlanjur fatal. Mental Seraphina runtuh total.
Ia bisa merasakan seluruh darah di tubuhnya seolah berdesir turun, menyisakan rasa dingin yang mematikan. Telapak tangannya mulai dibanjiri keringat dingin. Seluruh potongan teka-teki mengerikan ini mendadak menyatu di kepalanya.
"A-aku... mengalami Whisper?" ucapnya terbata-bata dengan bibir yang memucat.
Sekujur tubuhnya gemetar hebat saat ingatan tentang suara-suara aneh—yang ia kira halusinasi belaka—kembali berputar. Itu bukan sekadar suara. Itu adalah lonceng kematian miliknya.
Sepasang iris mata sewarna abu keperakan milik Seraphina bergetar hebat. Ia menatap kedua telapak tangannya yang gemetar dengan pandangan horor yang murni.
"Berarti selama ini... aku sedang mengalami corruption..."
Di tengah pusaran keputusasaan yang pekat itu, suara-suara batin manusia masih saja berbisik bising, saling bertumpang tindih menghujam isi kepalanya.
Seraphina meringkuk, memeluk lututnya erat-erat. Ia bergumam lirih, memohon tanpa henti dengan air mata yang mengalir hangat membasahi pipinya yang kian pias.
"Diam..."
"Tolong, diam..."
"Diam..."
"Diam!"
"Kubilang diam...!"
Mendadak, seluruh rentetan suara bising itu terputus.
Senyap seketika. Ruangan itu jatuh ke dalam sunyi yang total. Seolah-olah seluruh dunia baru saja menahan napas mereka.
Lalu, di tengah keheningan yang mencekam itu, sebuah suara yang sudah dikenal Seraphina sejak awal kembali muncul. Suara itu terdengar begitu tenang, lembut, sekaligus teramat dekat, bergaung tepat di poros kesadarannya.
“Sekarang kau mengerti, kan?”
Tubuh Seraphina membeku seketika. Napasnya tertahan di tenggorokan.
“Kau bisa mendengar isi hati mereka sekarang.”
.
.
.
Continue…
Di keheningan malam yang tenang, ketika mayoritas penghuni kuil suci telah terlelap dalam mimpi, sebuah pergerakan rahasia terjadi secara diam-diam menuju penjara bawah tanah. Di dalam sel yang pengap, Cessar kecil masih tertidur pulas di atas alas jerami yang tipis. Tubuhnya melingkar rapat, berusaha menghalau rasa dingin yang menusuk dari lantai batu penjara. Ketenangan fana itu seketika pecah saat bunyi derit kasar dari jeruji besi yang dibuka paksa membangunkannya dengan sentakan kaget.Sekelompok penjaga kuil merangsek masuk. Tanpa membuang waktu, mereka bergerak cepat dan beringas, menyeret paksa tubuh Thomas yang sudah lemah keluar dari dalam sel. Cessar merangkak mundur ke sudut ruangan dengan tubuh gemetar ketakutan, sementara Thomas hanya diam tanpa perlawanan. Pria paruh baya itu sama sekali tidak memberontak, seakan-akan ia sudah lama memprediksi nasib malang yang akan menjemputnya malam ini.Setelah perdebatan panas yang terjadi di ruang kerjanya beberapa waktu lalu, Kard
Kriieet...Bunyi derit pintu kayu pada engselnya yang mulai berkarat memecah kesunyian, membuat suasana di dalam ruang arsip tua itu terasa semakin mencekam. Kael melangkah masuk sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi debu tipis. Barisan rak-rak kayu yang rapuh menjulang tinggi, menampung ribuan buku kuno dengan lembaran-lembaran yang telah menguning dimakan waktu. Pria itu datang ke tempat terlarang ini dengan satu tujuan pasti.Mencari informasi yang sengaja dikubur oleh gereja.Selama hampir dua jam, Komandan Holy Knight itu tenggelam dalam keheningan yang pekat. Permukaan meja kayu di tengah ruangan tampak sedikit miring, nyaris tak kuat menahan beban dari tumpukan dokumen dan arsip tebal yang menggunung di atasnya. Kael menarik napas dalam, lalu perlahan menutup halaman terakhir dari buku tebal yang baru saja selesai ia baca.Catatan sejarah mengenai para Saintess dari ratusan tahun lalu terasa sangat janggal di matanya. Ada sebuah pola yang tidak wajar
Ruang rapat agung kembali mencekam, dihadiri oleh Komandan Kael, Pendeta Senior Darwin, Kardinal, dan Uskup Agung. Peristiwa besar yang terjadi dua jam lalu berhasil mengguncang dua saksi hidup dari generasi yang berbeda itu. Sebagai Komandan Holy Knight, Kael Adraven segera melaporkan kejadian aneh tersebut dan mengajukan rapat darurat demi keamanan ordo."Stain milik anak itu berkurang," Kael mengulang kembali laporannya dengan suara berat dan tegas.Seketika, ruangan besar itu diselimuti keheningan yang mencekik. Kardinal dan Uskup Agung saling lempar pandang. Tatapan mereka sama sekali tidak menyiratkan ketidakpercayaan terhadap laporan Kael, melainkan kilat kepanikan dan adanya kepentingan mendesak yang harus segera ditindaklanjuti."Ini masalah yang sangat serius. Terima kasih sudah melaporkannya dengan cepat, Komandan Adraven, Pendeta Darwin," Uskup Agung berucap tenang, walau senyum tipis di bibirnya terasa sangat dipaksakan.Kardinal menghela napas berat, guratan kecemasan te
Suasana di dalam katedral hari ini sama sekali tidak lebih baik dari hari-hari sebelumnya.Ketika para petinggi gereja mengira bahwa membiarkan Seraphina kembali tampil ke publik sebagai Saintess adalah langkah taktis yang tepat untuk meredam situasi, kenyataan justru menampar mereka dengan keras. Insiden kemunculan bocah terkutuk kemarin—serta aksi pembangkangan tak terduga dari Seraphina—malah menjadi sumbu yang memicu perpecahan jauh lebih besar.BRAK!Suara hantaman keras pada meja kayu ek bergaung nyaring dari dalam ruang kerja Kardinal siang itu. Beberapa pendeta dan biarawati yang kebetulan sedang melintas di koridor luar sontak tersentak pelan, buru-buru mempercepat langkah mereka dengan wajah tegang."Mengapa kau tidak langsung mengeksekusi makhluk menjijikkan itu?!" Wajah sang Kardinal merah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Matanya melotot tajam ke arah pria di depannya. "Apa kau sudah lupa pada sumpahmu, Komandan? Tugas utamamu sebagai bagian dari Executor adalah mem
Dua hari telah berlalu sejak keputusan rahasia para petinggi gereja dijatuhkan.Sejak fajar menyingsing, kamar Seraphina sudah disibukkan oleh derap langkah para pelayan. Di bawah pias mentari pagi yang perlahan naik menembus jendela kaca patri, Seraphina dipaksa bersiap untuk menghadiri misa agung yang diselenggarakan pagi ini.Tubuhnya yang masih ringkih kembali dibalut oleh kemegahan gaun Saintess. Sebuah jubah mantel perpaduan warna putih sulaman perak membungkus bahunya, dengan aksen beludru berwarna biru navy gelap yang memberikan kesan anggun sekaligus dingin.Beberapa pelayan muda bergerak gesit mendandaninya. Meski gurat ketakutan tercetak jelas setiap kali kulit mereka tidak sengaja bersentuhan dengan Seraphina, mereka tetap profesional menyematkan veil tipis transparan di kepala sang Saintess, memasangkan sarung tangan renda putih, dan menata berbagai aksesori suci.Namun, ada yang janggal pada ornamen-ornamen yang mereka pasangkan hari ini. Sebuah bros salib suci kecil dis
Suara kasak-kusuk di sekitarnya perlahan menarik kesadaran Seraphina kembali ke permukaan.Saat kelopak matanya dipaksa terbuka, tubuhnya terasa luar biasa lemah. Kepalanya berdenyut hebat seperti habis dibelah, sementara pandangannya buram dan berbayang. Di sekeliling ranjang, beberapa pendeta jubah putih sedang memeriksa kondisinya.Begitu menyadari sepasang manik mata Seraphina terbuka, mereka sontak mundur teratur. Itu bukan penghormatan, melainkan refleks karena ketakutan.Seraphina menyadari hal itu dengan getir."Yang Mulia Saintess sudah sadar," bisik seorang pelayan dengan suara gemetar."Cepat panggil Uskup Agung!" perintah pendeta yang tadi memeriksa, suaranya naik satu oktaf karena panik.Di antara kerumunan pelayan dan pendeta yang memilih menjaga jarak, Seraphina menangkap sosok pendeta tua yang kemarin menolongnya. Semua orang diam membisu, tidak berani mendekat seolah dirinya adalah wabah. Hanya pendeta tua Darwin yang akhirnya memberanikan diri melangkah maju.Ia menc







