LOGIN12 September 1993.
"Havi, Havi! Sarapan sudah siap! Ayo bangun dan sarapan dulu!" suara seorang wanita paruh baya memanggil dari luar kamar. Havi merasa kepalanya masih sedikit pusing, tetapi dia tetap bangun dari tempat tidurnya. Dia terdiam sejenak, seperti sedang mencoba mengingat sesuatu yang penting. Havi menatap kosong ke arah depannya, lalu berkata, "Bukankah aku sudah mati?!" gumamnya. Havi mencoba mengingat semuanya, dan yang pertama kali terlintas adalah gambaran tentang tempat hampa dan dua sosok Malaikat. "Ah! Tempat hampa dan dua Malaikat itu!" serunya, matanya terbuka lebar. Beberapa saat kemudian, saat Havi masih dalam keterkejutannya, dia mencium aroma makanan yang sangat dikenalnya. Aroma itu langsung mengingatkannya pada masakan Ibunya saat dia masih muda. "Aku kenal aroma ini! Ini mirip seperti aroma masakan Ibuku!" kata Havi, lalu melanjutkan, "Sudah lebih dari 30 tahun yang lalu, tapi aku tidak akan pernah lupa!" Suara lain kembali terdengar saat itu juga. KRAK! KRAK! Havi kembali bergumam, "Suara ini ..., ini mirip seperti suara kayu yang dibelah Ayahku setiap pagi!" tegasnya. Lalu tiba-tiba, Havi seperti tersadar, "Ah, tunggu! Aroma masakan Ibuku dan suara Ayahku saat membelah kayu?! Apa aku benar-benar ...." Havi bergegas berdiri, lalu melihat ke sekeliling kamarnya. Kamar itu sempit dengan meja belajar kecil serta buku-buku pelajaran yang tersusun rapi di dalam kotak bekas mie instan. "Hei, bukankah ini kamar lamaku?!" ujar Havi lagi yang kembali terkejut. Havi bertambah terkejut saat telapak kakinya menjejak tanah, "Lantainya masih tanah?! Ini, ini ..., ini benar-benar rumahku!" gumamnya, suaranya bergetar. Havi meyakinkan dirinya sekali lagi, lalu menatap dirinya sendiri di cermin. Pantulan wajahnya membuatnya sangat terkejut. "Ah!" seru Havi terkejut, "Aku ..., kenapa aku jadi sangat tampan?!" ujarnya. "Dan kulit wajahku ..., lebih putih dan bersih!" Havi melanjutkan. Dia melihat ke tangan dan kakinya, lalu kembali berseru, "Aku ..., aku benar-benar kembali ke masa muda!" Havi kemudian menoleh ke arah kalender di sebelahnya, kalender yang dia buat sendiri dari kertas. Saat itu, keluarga Havi memang belum memiliki kalender. Dia menyalinnya sendiri dari kalender di sekolah untuk digunakan di rumahnya. Havi bahkan membuat satu lagi untuk digantung di ruang tamu, agar orang tuanya tidak kesulitan menentukan hari dan tanggal. Meskipun sinar matahari terasa redup, karena desa mereka belum memiliki listrik, Havi tetap bisa melihat angka-angka di kalender dengan cukup jelas berkat penglihatannya yang tajam. Salah satu kebiasaan Havi dahulu adalah selalu menandai hari dengan pulpen. Dia melihat tanda silang terakhir yang telah dibuat dan langsung terkejut. "Hari ini Minggu, 12 September 1993! Sekarang mungkin sekitar jam 6 pagi, dan ...," Havi merasa ada yang salah. Setelah menyadarinya, dia langsung berteriak, "APAAAA?!!! Astaga! Tahun 1993?! Itu berarti aku sekarang berusia 17 tahun dan masih duduk di kelas 3 SMA!" serunya. Ternyata semua ini benar dan nyata, Havi mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup dari Tuhan. Di dalam hatinya bercampur rasa bahagia, sedih, dan bangga atas anugerah luar biasa yang telah Tuhan berikan kepadanya. Seketika Havi berlutut dan bersujud di atas lantai tanah, "Wahai Tuhan Semesta Alam! Terima kasih sekali lagi atas anugerah ini!" ucapnya, sambil menangis dalam sujudnya. TOK! TOK! Pintu kamar Havi diketuk, dan suara yang begitu dia rindukan di kehidupan sebelumnya terdengar, "Havi, apa kamu sudah bangun? Sarapan sudah siap!" panggil Saras, ibu Havi. "A-Aku sudah bangun, Bu! Tunggu sebentar, aku sedang berganti pakaian!" jawab Havi dengan suara yang menahan tangis. "Baiklah, cepat keluar dan sarapan, ya?" sahut Saras lembut. "Ya, Bu!" balas Havi. Havi kemudian menghapus air matanya, bangkit dari sujudnya, dan berjalan keluar menuju tempat makan sederhana milik keluarganya. Di meja makan kecil berbentuk persegi panjang yang sederhana inilah Havi dulu selalu memulai harinya. Kini, dia benar-benar kembali dengan jiwa dan pengalaman yang berbeda. Beberapa saat kemudian, Havi mendengar suara langkah kaki dari dua orang yang akan memasuki ruangan. Suara dua langkah kaki dalam setiap langkah membuat jantung Havi berdetak semakin cepat. Saat kedua orang itu masuk ke ruangan, Havi langsung berlari ke arah mereka, memeluk dan mencium mereka, lalu berlutut di kaki mereka. Melihat kejadian itu, kedua orang tua Havi, Ridho dan Saras, saling berpandangan. Mereka bingung dengan sikap anak mereka hari ini. "Havi, ada apa denganmu, Nak?" tanya Ridho. "Ayah, Ibu! Aku sudah banyak berbuat salah selama ini! Maafkan aku!" jawab Havi, masih berlutut di kaki kedua orang tuanya. Sebagai orang tua, meskipun Ridho dan Saras merasa bingung dengan sikap Havi yang tidak biasa, mereka tetap mencoba bersikap bijak. Dengan lembut, mereka meminta Havi untuk bangkit dan duduk, lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya. Saat Havi berdiri, dan kedua orang tuanya melihatnya dengan lebih jelas, keduanya mulai merasa heran. Mereka mencoba mengingat kembali penampilan anak mereka yang biasa. Memang benar, Havi selalu bertubuh tinggi dan gagah, serta berkulit cukup cerah, tetapi tidak pernah setinggi ini, dan kulitnya pun tidak seputih sekarang. "Ayah, Ibu, ada apa?" tanya Havi dengan bingung. "Nak, ternyata kamu sudah tumbuh dewasa!" jawab Ridho, lalu menepuk pelan bahu kiri Havi. Dalam hatinya, dia merasa sangat bangga melihat putranya tumbuh dewasa. "Benar, Nak! Ibu juga terkejut, sama seperti ayahmu!" tambah Saras, "Melihatmu sekarang, Ibu jadi terharu! Rasanya seperti baru kemarin Ibu melahirkanmu dan menggendongmu, tapi sekarang ...." Ucapannya terhenti, air matanya jatuh, tak mampu menahan haru. "Ayah, Ibu! Mulai sekarang aku janji akan rajin belajar, dan aku juga ingin membantu Ayah dan Ibu mencari penghasilan tambahan agar ekonomi keluarga kita bisa lebih baik!" tekad Havi. "Nak, kamu tidak perlu memikirkan soal uang! Biar Ayah dan Ibu saja yang urus semuanya!" balas Ridho lembut. Havi, dengan tekad kuat, kembali berkata, "Tidak apa-apa, Ayah! Aku pasti bisa dapat uang sendiri! Oh, ya, ngomong-ngomong, aku sangat rindu sarapan bersama kalian! Kita sekeluarga sudah lebih dari 30 tahun tidak makan bersama-sama, kan?!" ujarnya. Havi melanjutkan lagi, "Aku juga sangat rindu masakan Ibu! Sejak kalian berdua meninggal ...." Havi kemudian berhenti, dia ingat sudah keceplosan. Ruang makan sederhana itu langsung terasa hening. Ridho dan Saras terlihat kaget setelah mendengar ucapan Havi. Mereka berdua terdiam, tetapi mulutnya ternganga. Havi, yang baru menyadari ucapannya tadi, merasa menyesal. Dalam hati, dia memarahi dirinya sendiri, "Kenapa mulutku tidak bisa diam?! Aku harus berhati-hati mulai sekarang! Ingatan dari kehidupanku sebelumnya harus dipisahkan! Kalau tidak, pasti akan membuat masalah besar!" Ridho kemudian mendekat dan menyentuh dahi Havi, "Havi, maksudmu apa tadi? Kamu bilang sudah lebih dari 30 tahun tidak makan bersama kami?" tanyanya, kemudian langsung menambahkan, "Kamu juga bilang kalau Ayah dan Ibu sudah meninggal?! Apa kamu sedang tidak sehat, Nak?! Ayo kita ke klinik sekarang!" ujarnya. Ridho sekali lagi mengecek suhu tubuh Havi, tetapi tidak merasakan tanda-tanda demam, "Aneh! Kamu terlihat sehat dan tidak demam!" ujarnya. Saras menimpali, "Lebih baik kita bawa Havi ke klinik saja, Pak! Ibu jadi khawatir!" kata Saras, ikut memeriksa dahi Havi. Havi menarik napas panjang, lalu bergumam dalam hati, "Ayah, Ibu, ayolah! Apa kalian benar-benar mengira aku sudah tidak waras?!" Havi berdehem, lalu memberi alasan, "Ehem! Ayah, Ibu! Aku ..., oh ya, benar! Maksudku itu Yono!" ujarnya. Dia melanjutkan, "Ehem! Jadi begini, Yono pernah bilang, salah satu pamannya sangat merindukan orang tuanya yang sudah meninggal sejak lama! Pamannya Yono sering bercerita kepada Yono, seperti sedang membayangkan bisa makan bersama orang tuanya lagi seperti saat masih muda!" jelas Havi, mencoba memberi penjelasan. "Oh, begitu ya?!" jawab Ridho dan Saras, percaya dengan perkataan Havi. "Akhirnya ...." gumam Havi, merasa lega.Beberapa puluh menit kemudian, Havi sampai juga di rumahnya. Di dalam rumah, kedua orang tua Havi, Ridho dan Saras sudah menunggu dari tadi. Mereka berdua tentu saja heran melihat Havi yang baru pulang setelah hari mulai gelap. Saras mendekati Havi dan berkata, "Havi, kenapa baru pulang sekarang?! Ibu kira kamu ikut Diana ke rumahnya!" ujarnya. Ridho ikut menambahkan sembari tersenyum, "Iya, Bapak juga sempat menduga kamu pergi bersama Diana, Nak!" ujarnya. Havi tersenyum sejenak, lalu menjawab, "Tidak kok, Ayah, Ibu! Aku baru saja dari rumah Kakek Har, yang rumahnya dekat dengan gerbang desa itu!" jelasnya.Saras mengerutkan dahinya, lalu membalas, "Kakek Har?! Setahu Ibu, orang yang tinggal di dekat gerbang desa itu namanya Mardi! Ibu juga tidak tahu seperti apa orangnya, hanya pernah mendengar dari cerita orang-orang desa!" katanya. Ridho mengangguk dan ikut membenarkan, dia setuju dengan perkataan istrinya bahwa nama orang yang tinggal sebuah rumah di dekat gerbang desa mem
Havi berjongkok sambil menatap Kincir Air versi mini di hadapannya yang baru saja berhenti berputar. Ekspresi yang terlihat di wajahnya begitu sangat serius, dan sesekali terlihat dia membuang nafasnya melalui mulutnya sembari menggelengkan kepalanya.Kakek Har memperhatikan ekspresi Havi, lalu bertanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan, Anak Muda?! Sepertinya kamu ada sedikit ketidakpuasan?!" ucapnya.Havi membuang nafasnya sekali lagi, lalu menjawab, "Saya sedang berpikir, apa Kincir Air benar-benar bisa dibuat sempurna di dekat Air Terjun Wira, Kek?! Keadaan sekitar Air Terjun Wira cukup terjal, dan saya khawatir, tidak mudah membangun Kincir Air itu di sana!" ujarnya.Kakek Har menatap Havi dengan senyuman, lalu berkata, "Itu pemikiran yang wajar, Nak! Air Terjun Wira memang deras dan tempatnya curam, tapi justru di situlah tenaga air paling besar bisa dimanfaatkan!" jelasnya. Havi menundukkan kepalanya sejenak, lalu menatap lagi Kincir Air versi mini di hadapannya yang kembali b
Kakek Har memperhatikan ekspresi wajah Havi yang penuh keterkejutan, dan dalam hatinya, Kakek itu merasa sangat puas."Bagaimana?!" tanya Kakek Har sembari terus melihat ekspresi wajah Havi.Havi yang masih terkejut dan ternganga tidak segera menjawab pertanyaan Kakek Har itu meski sebenarnya Havi mendengarnya, hingga Kakek Har harus bertanya sekali lagi kepada Havi."Hei, Anak Muda! Kau dengar Kakek tidak?!" tanya Kakek Har, dan kali ini suaranya lebih dikeraskan.Havi langsung sadar dari keterkejutannya, lalu dengan segera membalas pertanyaan Kakek Har, "Oh, maaf Kek, ini luar biasa!" jawabnya memuji.Kakek Har terkekeh sejenak, lalu menunjuk ke arah sudut ruangan yang di sana terdapat beberapa jenis kayu, lalu meminta Havi untuk tetap mengikutinya."Ayo, kita latihan dulu!" kata Kakek Har sembari berjalan ke arah sudut ruangan."Latihan?! Maksudnya, Kek?!" tanya Havi tidak mengerti.Kakek Har berhenti lalu berbalik, kemudian menaikkan sebelah alisnya dan menjawab, "Katanya kamu ing
Pertanyaan dari Havi akhirnya dijawab dengan sebuah pukulan ringan yang kembali mendarat di kepala Havi, dan tentu saja yang melakukannya adalah Kakek Har lagi."Anak muda! Kamu meremehkan Kakek, ya?! Kakek memang tidak tamat sekolah, tapi bukan berarti Kakek belum pernah melihat kincir air sama sekali!" ujar Kakek Har dengan marah. Havi terkejut dan mengedip-ngedipkan matanya, lalu menghela nafasnya sembari berkata, "Kakek, saya kan hanya bertanya! Kenapa harus dipukul lagi!" ujarnya dengan kesal. "Ya sudah, lanjutkan!" ujar Kakek Har mendengkus dengan kasar dan memerintahkan Havi untuk lanjut menjelaskan. Havi mengangguk, meski masih sedikit kesal, dia tetap melanjutkan, "Kakek tahu tidak untuk apa Kincir Air itu digunakan?!" tanyanya.Kakek Har terdiam sejenak sembari berpikir, dia mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti. Dia pun menjawab, "Kakek memang tidak tahu apa sebenarnya kegunaan Kincir Air itu! Apa mungkin itu semacam mainan atau hiasan?! Orang-orang zaman sekarang
Di sebuah villa besar dan mewah, di dunia asal Havi, di mana waktu paradoks ditampilkan ...."HAVI!!!" Seorang wanita berteriak dan spontan bangun dari tidurnya, suaranya jelas serta keras dan terdengar di keheningan malam hari.Dia adalah Nuriana Salim, yang kini duduk di atas kasur empuknya, sementara seluruh tubuhnya basah oleh keringat.Selama tiga malam berturut-turut, mimpinya selalu menampilkan sosok Havi, seorang lelaki yang dulu pernah menjambret tasnya."Kenapa aku masih terus memimpikan Havi?!" ucap Nuriana dengan suara pelan, jantungnya kini berdegup dan berdebar-debar.Dia segera menyalakan lampu kecil yang berada di samping ranjangnya, lalu melangkah menuju ke meja rias dengan perlahan. Berdiri di depan cermin, Nuriana menatap pantulan bayangan dirinya. Wajahnya tetap terlihat anggun dengan kecantikan yang tak berubah meskipun usianya sudah berada dalam kategori paruh baya.Nuriana bergumam dengan suara pelan, "Apakah Tuhan akhirnya mengabulkan doaku?!" tanyanya kepada
Kakek Har terkejut melihat reaksi Havi yang tiba-tiba, "Nak, apa kamu baik-baik saja?!" tanyanya sembari bergegas menghampiri.Havi pucat wajahnya, tubuhnya gemetar dan hampir tidak bisa berbicara sembari terus menatap Kakek Har yang ada di hadapannya.Kakek Har yang masih bingung segera menuju ke dapur dengan langkah tergesa-gesa meski cara jalannya terlihat dipaksakan karena usianya.Beberapa saat kemudian dia kembali membawa segelas air, lalu memberikannya kepada Havi yang gemetar sembari berkata, "Minum dulu, Nak! Wajahmu terlihat sangat pucat!" ucapnya dengan suara penuh kekhawatiran. Havi menerima gelas itu dan meminumnya hingga habis. Air putih itu ternyata bisa sedikit menenangkan dirinya."Nak, kamu tadi kenapa?!" tanya Kakek Har dengan lembut meski dalam hatinya masih tidak mengerti reaksi Havi itu. Dia juga menambahkan, "Kenapa begitu mendengar nama Kakek, kamu sangat terkejut?! Apa kamu mengenal Kakek sebelumnya atau kamu pernah mendengar sesuatu tentang Kakek dari sese
"Aku pulang dulu, ya?!" ucap ceria seorang siswi sembari bergegas keluar dari gerbang sekolah."Iya, hati-hati! Besok jangan lupa janjinya!" sahut temannya sambil melambaikan tangan kanannya."Iya, dadah ...." balas siswi itu, sebelum akhirnya berjalan menjauh dan menghilang di
Beberapa jam kemudian, guru selesai mengajar, bel istirahat berbunyi, dan semua siswa bergegas keluar kelas. Havi pun ikut keluar, dia ingin menghindar dari perhatian teman-teman sekelasnya yang masih saja membicarakan tentang perubahannya. Dia berencana hendak menemui sahabat terbaiknya, yaitu Yo
Setelah selesai menikmati kebersamaan keluarga, malam pun semakin larut. Havi, Ridho, dan Saras memutuskan untuk masuk ke dalam rumah setelah selesai makan buah-buahan segar dari Hutan Wanarengga. "Ayah, Ibu, ayo kita masuk! Sudah larut!" kata Havi. Ridho dan Saras mengangguk. Mereka bertiga mer
Selesai sudah Havi membuat tungku baru, meski lelah, tetapi setidaknya dia merasa puas.Havi mendekat ke arah sebuah batu besar di halaman belakang rumahnya, kemudian langsung duduk di atasnya.Tubuhnya yang lelah, bajunya yang basah oleh keringat, dan tangannya yang masih kotor karena tanah liat d







