LOGINSejak kehilangan orang tuanya, Havi merasa sangat kesepian, tetapi perlahan kesepian itu mulai tergantikan oleh rasa diterima meski dalam kondisi rapuh.
Dengan sedikit keraguan dan hampir tanpa berpikir panjang, Havi menerima ajakan pertemanan dari Rofik dan Teguh. Saat itu, karena masih diliputi duka dan rasa kehilangan, Havi memilih untuk percaya pada kebaikan dua orang yang selama ini sering dicap sebagai biang onar dan pemuda yang tidak memiliki masa depan. Havi mulai menganggap mereka sebagai sahabat, bahkan mulai membuka diri dan mulai mempercayakan hal-hal pribadi kepada mereka. Namun, Havi tidak menyadari bahwa saat dia mulai percaya kepada mereka berdua, Rofik dan Teguh saling bertukar senyum penuh arti. Senyuman itu mengandung maksud tersembunyi, seakan mereka memiliki rencana yang tidak baik. Mereka berdua tidak benar-benar ingin menjadi teman Havi. Dalam pikiran mereka, Havi hanyalah orang baru yang bisa dimanfaatkan. Dia hanyalah alat tambahan untuk mendukung rencana dan perbuatan buruk mereka. * Havi, masih dalam wujud rohnya, masih melayang di tempat hampa itu. Tiba-tiba, dia merasakan ada sesuatu yang berubah di sekitarnya. Havi segera bangkit dari posisi bersimpuh dan berdiri tegak. Jiwanya terasa gelisah dan matanya melihat ke segala arah, mencari tahu apa yang sedang terjadi. Dari kejauhan, muncul sebuah titik hitam kecil. Titik itu semakin lama semakin besar dan semakin jelas. Akhirnya, terlihat sosok seseorang yang memakai jubah hitam dan menutupi wajahnya. Sosok itu memegang cambuk di tangan kanannya. Ketenangan awal Havi mulai hilang dan digantikan oleh rasa takut yang menyebar ke seluruh tubuhnya. "Makhluk apa ini?!" gumam Havi merasa ketakutan. Dia merasa harus segera melarikan diri. Havi langsung bergerak cepat melintasi tempat hampa itu dan mencoba berlari sejauh mungkin, tetapi, tidak peduli seberapa jauh atau cepat dia berusaha pergi, sosok berjubah hitam itu selalu muncul di depannya dan menghadangnya. Havi mulai merasa putus asa. Saat Havi hendak mencoba melarikan diri sekali lagi, cambuk dari sosok berjubah hitam itu tiba-tiba menghantam kepalanya Hantaman itu membuat tubuh Havi terlempar dan berputar ke bawah. Meskipun tidak menyentuh tanah atau permukaan apapun, tubuhnya langsung berhenti di udara dan terpaksa berada dalam posisi bersujud. "Ke mana lagi kau akan lari, Havian Shahreza?!" teriak Sosok berjubah hitam itu. Kalimat itu terdengar seperti pertanyaan, tetapi juga seperti tuduhan dan hukuman yang tidak bisa dibantah. Ucapannya begitu dingin hingga membuat Havi tidak bisa bergerak. "Si-Siapa kau, Tuan?!" tanya Havi dengan suara bergetar, lalu menambahkan, "Dan ..., bagaimana kau tahu namaku?!" Sosok itu melangkah mendekati Havi sembari membawa cambuk di tangan kanannya. "Aku adalah Malaikat yang diutus oleh Tuhan Semesta Alam untuk membawamu ke neraka!" jawab sosok itu. Suaranya tidak terdengar seperti suara pria atau wanita, tetapi seperti gabungan dari berbagai suara yang sulit dijelaskan. "Ampuni aku, Tuan Malaikat! Kumohon, ampunilah aku!" teriak Havi, dia menangis dan berteriak karena putus asa. Cambuk di tangan Malaikat itu kembali menghantam udara. Sembari berteriak keras, dia berkata, "Terlambat untuk meminta ampun!" ujarnya. "Apa kau lupa semua dosa yang telah kau lakukan selama hidupmu?! Apa kau juga lupa dengan kebohongan, pencurian, dan semua luka yang kau sebabkan pada orang lain?!" lanjut Sang Malaikat. "Ampun, Tuan Malaikat! Aku terpaksa melakukan dosa-dosa itu!" Havi berteriak dengan suara yang penuh penyesalan. Malaikat itu tetap berdiri tegak di hadapan Havi, tetapi tidak bergerak sedikit pun. Setelahnya, Malaikat itu hanya berkata, "Kau sudah diberikan kesempatan, Havian Shahreza! Sekarang, saatnya kau mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu!" Malaikat itu mengangkat cambuknya lagi, lalu siap memberikan hukuman berikutnya. Havi tidak bisa bergerak karena rasa takut dan rasa bersalah. Dia hanya bisa pasrah menunggu apa yang akan terjadi. Tiba-tiba, rantai-rantai besar muncul entah dari mana dan langsung melilit leher, pergelangan tangan, dan kaki Havi. Rantai itu terasa dingin dan keras di kulitnya, dan beratnya menarik tubuh Havi ke bawah. Dengan tenaga tersisa, Havi mencoba melepaskan diri. Dia berjuang sekuat tenaga, tetapi semakin dia bergerak, rantai itu justru semakin kuat mencengkeramnya. Malaikat itu mengulurkan tangannya ke arah kepala Havi, lalu bersiap menyeretnya menuju hukuman yang menanti. Sebelum Malaikat itu menyelesaikan tugasnya, tiba-tiba muncul sosok lain dari balik kehampaan. Sosok ini terlihat mirip dengan Malaikat yang membelenggu Havi, tetapi kehadirannya terasa berbeda. Sosok itu juga memakai jubah hitam dan berjalan mendekat dengan tenang. Tanpa berkata apa-apa kepada Havi, dia langsung membisikkan sesuatu ke telinga Malaikat yang membelenggu Havi. Malaikat yang membelenggu Havi tiba-tiba terdiam. Dia menurunkan tangannya perlahan, lalu mundur satu langkah. Malaikat itu kemudian menatap Havi dan berkata dengan suara yang terdengar dari segala arah, "Wahai manusia! Aku sendiri tidak tahu dengan keberuntunganmu hari ini!" ujarnya. Tiba-tiba, jubah hitam kedua Malaikat itu mulai memancarkan cahaya. Warna hitamnya perlahan berubah menjadi warna putih terang yang bercahaya dan menerangi seluruh tempat di sekitarnya. Cahaya itu memperlihatkan wajah mereka yang sangat tampan dan anggun, begitu sempurna hingga sulit dijelaskan dengan kata-kata. Havi ternganga tanpa bisa berkata apa-apa. Dia merasa terpesona dengan ketampanan kedua Malaikat itu. Salah satu malaikat itu maju beberapa langkah, lalu berbicara dengan suara yang tetap kuat, tetapi terdengar lebih tenang dan jelas. "Wahai manusia, dengarkan baik-baik! Di dunia tempatmu berasal, ada seorang wanita yang terus berdoa kepada Tuhan! Siang dan malam, dia memohon agar kamu diberi kesempatan untuk hidup kembali!" ujarnya. Havi melihat ke arah malaikat itu dengan bingung. Dia masih berusaha memahami apa maksudnya. "Seorang wanita?!" tanya Havi pelan, "Siapa dia, Tuan Malaikat?!" lanjutnya. Malaikat itu mengangkat tangan dan menunjuk ke langit. Seketika, langit terbelah dan memperlihatkan gambaran seperti layar besar. Terlihat seorang wanita paruh baya sedang bersujud. Air matanya mengalir deras di sajadah tempatnya berdoa. "Hah?! Wanita itu?!" Havi terkejut, "Itu wanita yang pernah kucuri tasnya, kan?!" lanjutnya. "Benar!" Malaikat itu mengangguk membenarkan, "Namanya adalah Nuriana Salim! Ketahuilah, wahai manusia! Doa dari hati yang tulus bisa sampai ke hadapan Tuhan! Doanya telah dikabulkan! Kau diberi kesempatan hidup kedua bukan karena kau pantas, tetapi karena Tuhan berbelas kasih melalui hati orang yang pernah kau sakiti!" jelasnya. Havi menunduk, dan untuk pertama kalinya sejak berada di tempat itu, air matanya jatuh bukan karena rasa takut, tetapi karena rasa malu yang dalam. Malaikat yang satunya melangkah maju dan berkata, "Atas kehendak Tuhan, engkau tidak akan kembali ke saat kematianmu, tetapi kau akan kembali ke masa mudamu!" Havi terkejut, lalu berkata, "Masa mudaku?!" Malaikat itu melanjutkan, "Gunakan kesempatan ini dengan bijak, Havian Shahreza! Tebus kesalahanmu, dan balaslah budi wanita bernama Nuriana Salim itu! Ingat itu baik-baik!" Sebelum Havi sempat menjawab, roh-nya tersedot ke dalam pusaran yang berputar. Pusaran itu menariknya masuk, dan saat dia melewati lorong seperti terowongan, Havi melihat tubuhnya sendiri, tubuh yang lebih muda seperti saat dia masih remaja. Tubuh dan rohnya bertabrakan, lalu langsung menyatu, dan seketika, Havi hidup kembali. Dia merasa tubuhnya kini segar dan penuh energi. "Aku hidup!" teriak Havi dengan suara penuh rasa syukur, lalu kembali berteriak, "Tuhan, terima kasih! Aku janji akan jadi orang yang baik! Nyonya Nuriana Salim, tunggu aku! Aku akan datang mencarimu!" Dari kejauhan, kedua Malaikat itu memperhatikan kepergian Havi. "Manusia bernama Havi itu sungguh diberi anugerah!" kata Malaikat pertama, "Dia tidak hanya dihidupkan lagi, tetapi juga diberi tambahan kecerdasan dan ketampanan yang lebih!" ujarnya. Malaikat kedua mengangguk, lalu tersenyum, "Benar! Saat Tuhan berkata, 'Jadilah!', maka jadilah dia!" ujarnya. Setelah itu, kedua Malaikat itu perlahan menghilang, kembali menjalankan tugas mereka.Beberapa puluh menit kemudian, Havi sampai juga di rumahnya. Di dalam rumah, kedua orang tua Havi, Ridho dan Saras sudah menunggu dari tadi. Mereka berdua tentu saja heran melihat Havi yang baru pulang setelah hari mulai gelap. Saras mendekati Havi dan berkata, "Havi, kenapa baru pulang sekarang?! Ibu kira kamu ikut Diana ke rumahnya!" ujarnya. Ridho ikut menambahkan sembari tersenyum, "Iya, Bapak juga sempat menduga kamu pergi bersama Diana, Nak!" ujarnya. Havi tersenyum sejenak, lalu menjawab, "Tidak kok, Ayah, Ibu! Aku baru saja dari rumah Kakek Har, yang rumahnya dekat dengan gerbang desa itu!" jelasnya.Saras mengerutkan dahinya, lalu membalas, "Kakek Har?! Setahu Ibu, orang yang tinggal di dekat gerbang desa itu namanya Mardi! Ibu juga tidak tahu seperti apa orangnya, hanya pernah mendengar dari cerita orang-orang desa!" katanya. Ridho mengangguk dan ikut membenarkan, dia setuju dengan perkataan istrinya bahwa nama orang yang tinggal sebuah rumah di dekat gerbang desa mem
Havi berjongkok sambil menatap Kincir Air versi mini di hadapannya yang baru saja berhenti berputar. Ekspresi yang terlihat di wajahnya begitu sangat serius, dan sesekali terlihat dia membuang nafasnya melalui mulutnya sembari menggelengkan kepalanya.Kakek Har memperhatikan ekspresi Havi, lalu bertanya, "Apa yang sedang kamu pikirkan, Anak Muda?! Sepertinya kamu ada sedikit ketidakpuasan?!" ucapnya.Havi membuang nafasnya sekali lagi, lalu menjawab, "Saya sedang berpikir, apa Kincir Air benar-benar bisa dibuat sempurna di dekat Air Terjun Wira, Kek?! Keadaan sekitar Air Terjun Wira cukup terjal, dan saya khawatir, tidak mudah membangun Kincir Air itu di sana!" ujarnya.Kakek Har menatap Havi dengan senyuman, lalu berkata, "Itu pemikiran yang wajar, Nak! Air Terjun Wira memang deras dan tempatnya curam, tapi justru di situlah tenaga air paling besar bisa dimanfaatkan!" jelasnya. Havi menundukkan kepalanya sejenak, lalu menatap lagi Kincir Air versi mini di hadapannya yang kembali b
Kakek Har memperhatikan ekspresi wajah Havi yang penuh keterkejutan, dan dalam hatinya, Kakek itu merasa sangat puas."Bagaimana?!" tanya Kakek Har sembari terus melihat ekspresi wajah Havi.Havi yang masih terkejut dan ternganga tidak segera menjawab pertanyaan Kakek Har itu meski sebenarnya Havi mendengarnya, hingga Kakek Har harus bertanya sekali lagi kepada Havi."Hei, Anak Muda! Kau dengar Kakek tidak?!" tanya Kakek Har, dan kali ini suaranya lebih dikeraskan.Havi langsung sadar dari keterkejutannya, lalu dengan segera membalas pertanyaan Kakek Har, "Oh, maaf Kek, ini luar biasa!" jawabnya memuji.Kakek Har terkekeh sejenak, lalu menunjuk ke arah sudut ruangan yang di sana terdapat beberapa jenis kayu, lalu meminta Havi untuk tetap mengikutinya."Ayo, kita latihan dulu!" kata Kakek Har sembari berjalan ke arah sudut ruangan."Latihan?! Maksudnya, Kek?!" tanya Havi tidak mengerti.Kakek Har berhenti lalu berbalik, kemudian menaikkan sebelah alisnya dan menjawab, "Katanya kamu ing
Pertanyaan dari Havi akhirnya dijawab dengan sebuah pukulan ringan yang kembali mendarat di kepala Havi, dan tentu saja yang melakukannya adalah Kakek Har lagi."Anak muda! Kamu meremehkan Kakek, ya?! Kakek memang tidak tamat sekolah, tapi bukan berarti Kakek belum pernah melihat kincir air sama sekali!" ujar Kakek Har dengan marah. Havi terkejut dan mengedip-ngedipkan matanya, lalu menghela nafasnya sembari berkata, "Kakek, saya kan hanya bertanya! Kenapa harus dipukul lagi!" ujarnya dengan kesal. "Ya sudah, lanjutkan!" ujar Kakek Har mendengkus dengan kasar dan memerintahkan Havi untuk lanjut menjelaskan. Havi mengangguk, meski masih sedikit kesal, dia tetap melanjutkan, "Kakek tahu tidak untuk apa Kincir Air itu digunakan?!" tanyanya.Kakek Har terdiam sejenak sembari berpikir, dia mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti. Dia pun menjawab, "Kakek memang tidak tahu apa sebenarnya kegunaan Kincir Air itu! Apa mungkin itu semacam mainan atau hiasan?! Orang-orang zaman sekarang
Di sebuah villa besar dan mewah, di dunia asal Havi, di mana waktu paradoks ditampilkan ...."HAVI!!!" Seorang wanita berteriak dan spontan bangun dari tidurnya, suaranya jelas serta keras dan terdengar di keheningan malam hari.Dia adalah Nuriana Salim, yang kini duduk di atas kasur empuknya, sementara seluruh tubuhnya basah oleh keringat.Selama tiga malam berturut-turut, mimpinya selalu menampilkan sosok Havi, seorang lelaki yang dulu pernah menjambret tasnya."Kenapa aku masih terus memimpikan Havi?!" ucap Nuriana dengan suara pelan, jantungnya kini berdegup dan berdebar-debar.Dia segera menyalakan lampu kecil yang berada di samping ranjangnya, lalu melangkah menuju ke meja rias dengan perlahan. Berdiri di depan cermin, Nuriana menatap pantulan bayangan dirinya. Wajahnya tetap terlihat anggun dengan kecantikan yang tak berubah meskipun usianya sudah berada dalam kategori paruh baya.Nuriana bergumam dengan suara pelan, "Apakah Tuhan akhirnya mengabulkan doaku?!" tanyanya kepada
Kakek Har terkejut melihat reaksi Havi yang tiba-tiba, "Nak, apa kamu baik-baik saja?!" tanyanya sembari bergegas menghampiri.Havi pucat wajahnya, tubuhnya gemetar dan hampir tidak bisa berbicara sembari terus menatap Kakek Har yang ada di hadapannya.Kakek Har yang masih bingung segera menuju ke dapur dengan langkah tergesa-gesa meski cara jalannya terlihat dipaksakan karena usianya.Beberapa saat kemudian dia kembali membawa segelas air, lalu memberikannya kepada Havi yang gemetar sembari berkata, "Minum dulu, Nak! Wajahmu terlihat sangat pucat!" ucapnya dengan suara penuh kekhawatiran. Havi menerima gelas itu dan meminumnya hingga habis. Air putih itu ternyata bisa sedikit menenangkan dirinya."Nak, kamu tadi kenapa?!" tanya Kakek Har dengan lembut meski dalam hatinya masih tidak mengerti reaksi Havi itu. Dia juga menambahkan, "Kenapa begitu mendengar nama Kakek, kamu sangat terkejut?! Apa kamu mengenal Kakek sebelumnya atau kamu pernah mendengar sesuatu tentang Kakek dari sese
"Diana?! Kenapa kamu ke sini?!" tanya Haryo.Haryo benar-benar terkejut dengan kemunculan mendadak keponakannya. Suaranya yang tegas, berat, dan penuh wibawa, sontak saja memecah heningnya ruang rapat.Semua orang yang hadir menoleh ke arah Diana. Mereka tidak menduga akan adanya gangguan kecil sep
Sudah cukup lama Diana bercengkrama bersama Havi dan kedua orang tuanya. Selain merasakan rasa kehangatan dan kebersamaan keluarga yang selama ini jarang dia rasakan, Diana juga menyadari satu hal, yaitu cinta. Benar, semua karena cinta. Tidak salah Diana memilih, tidak salah perasaannya saat ini,
"Havi belum pulang ya, Pak?!" tanya Saras kepada suaminya."Sepertinya belum, Bu! Bapak pikir, Havi malah lagi di rumah, lagi tidur atau buat sesuatu kayak kemarin!" jawab Ridho."Mungkin..., Havi lagi keliling-keliling desa lagi kayak kemarin ya, Pak?! Atau mungkin ..., dia merasa jenuh karena keb
"Ha-Havi! A-Apa ..., apa maksud perkataanmu itu?!" jawab Diana yang tidak mengerti. Havi melihat ekspresi Diana yang begitu terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Havi memaklumi semua itu. Yang ada di dalam benak Diana saat ini adalah kalimat bagaimana mungkin, karena mend







