MasukBab 105: Rencana tetap berjalan. Pukul empat pagi. Kabut tipis masih menyelimuti kompleks, namun dapur umum di rumah Nadya sudah mengepulkan uap. Bu Nur, dengan mata yang masih sedikit sembab karena kurang tidur, mendadak mematung di depan kuali besar."Lho, Bu Nur? Kenapa diam saja? Itu santannya keburu pecah kalau tidak diaduk," tegur Bu Fatma sambil membawa nampan berisi gelas kopi untuk para bapak yang membantu.Bu Nur tidak menjawab. Tangannya gemetar menunjuk ke arah deretan ember besar tempat daging kambing yang sudah dibumbui semalam disimpan. "Bu... Bu Fatma... lihat itu."Bu Fatma mendekat. Bau menyengat menusuk hidung—bukan aroma prengus kambing yang khas, melainkan bau solar yang sangat tajam. Cairan hitam berminyak menggenang di permukaan bumbu kuning yang seharusnya menggugah selera. Lima ekor kambing yang sedianya akan disedekahkan telah dicemari."Astagfirullah! Siapa yang tega melakukan ini?!" pekik Bu Fatma hampir menjatuhkan nampan nya. Disisi lain perumahan.
Bab : 104: Sabotase. Matahari baru saja menyembul di ufuk timur, tapi aroma bumbu dapur sudah menyeruak di gang-gang perumahan. Pak Hardi berdiri di teras rumahnya, memikirkan proyek pembangunan rumah yang sempat dirusak kemarin. Meski hatinya tahu persis siapa tangan kotor di balik kerusakan itu, ia memilih untuk menyimpan amarahnya rapat-rapat. Baginya, ada hal yang jauh lebih sakral daripada sekadar semen yang hancur: hari Jumat hanya tinggal hitungan jari.Urusan administrasi sudah beres di tangan asistennya yang cekatan. Kini, konsentrasinya hanya satu—menuju akad nikah di rumah Nadya. Sehari menjelang hari ‘H’. Di halaman rumah Nadya, suasana seperti pasar malam. Bude Ijum dan Bu Fatma memimpin pasukan ibu-ibu. Komandannya? Bu Nur, pedagang sarapan pagi keliling yang legendaris. Demi pernikahan ini, Bu Nur rela meliburkan dagangannya sejak hari Senin."Aduh, Bu Nur, ini cabe nya apa tidak kebanyakan? Nanti tamu-tamunya bukan mengucap 'Samawa', malah 'Aduh mulas'!" celetuk B
Bab 103: Setelah mengharukan menggemparkan. Matahari pagi itu menggantung rendah, menyebarkan warna jingga keemasan yang seolah berusaha menghangatkan suasana dingin di hati Nadya. Hari ini adalah hari keberangkatan Akmal ke pondok pesantren. Di halaman rumah, Pak Hardi sudah datang dengan Alphard mewahnya. Mementara Nadya memeriksa sekali lagi tas besar milik putra semata wayangnya. Ada rasa sesak yang tertahan, namun sejak lamaran Pak Hardi tadi malam semuanya sudah berubah. Dirinya tidak lagi merasa sendiri. Ada kekuatan yang memberi ketegasan baru dalam sorot matanya.Perjalanan menuju pesantren terasa singkat. Sesampainya disana, suasana sudah ramai. Namun, langkah Nadya terhenti saat melihat sebuah mobil yang sangat dikenalnya terparkir di bawah pohon rindang. Di sana berdiri Mantan suaminya dan Danur adiknya.Akmal, yang sejak tadi tampak tegang, seketika cerah wajahnya melihat ayah dan pamannya. Meski ia sempat melirik Nadya dengan perasaan sungkan—takut ibunya terluka meli
Bab 102: Ancaman. Suasana di ruang tamu rumah Pak RT mendadak mencekam. Harum aroma kopi yang baru saja diseduh tidak mampu menutupi bau ketegangan yang menyesakkan dada. Pak RT duduk tertegun di kursi kayu jatinya, sementara istrinya, Bu RT, berdiri di hadapannya dengan napas memburu dan mata yang berkilat penuh amarah."Masih mau mengelak lagi, Pak?" suara Bu RT meninggi, memecah kesunyian malam. "Aku ini istrimu belasan tahun! Aku tahu arti tatapan kosongmu itu. Kamu sedang memikirkan Nadya, kan? Janda baru itu!"Pak RT berdehem, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Bu, kamu jangan sembarangan menuduh. Saya cuma sedang memikirkan masalah lingkungan...""Masalah lingkungan atau masalah hati yang mencari kesempatan untuk selingkuh?" potong Bu RT tajam. Ia menggebrak meja hingga cangkir kopi berguncang. "Jangan pikir aku lupa, Pak! Dulu kamu hampir saja menikah diam-diam dengan si pembantu keluarga Pak Suryo itu kalau tidak ketahuan olehku. Tabiatmu memang tidak pernah berubah!"
Bab 101: Rencana licik Pak RTKegelisahan itu seperti kabut tebal yang enggan beranjak dari hati Nadya. Sejak Pak Hardi mengungkapkan niatnya secara terbuka beberapa hari lalu, ketenangan Nadya menguap. Pagi itu, ia duduk di tera. Sebuah ruang tamu terbuka yang dirancang khusus oleh Pak Hardi agar Nadya, sebagai seorang janda, bisa menerima klien dengan leluasa tanpa memicu fitnah tetangga.Di depannya, laptop menyala menampilkan timeline video iklan pesanan klien. Namun, fokus Nadya tercerai-berai. Matanya justru terpaku pada pagar kokoh yang baru saja diselesaikan oleh Pak Hardi dan timnya. Pagar itu bukan sekadar pembatas fisik, tapi bukti perhatian pria itu yang begitu detail.Kini, setelah proyek pagar selesai, rumah itu terasa senyap secara mendadak. Tak ada lagi suara palu yang beradu atau deru mesin potong besi. Tak ada lagi sosok tegap Pak Hardi yang mondar-mandir dengan peluh di dahi. Ditambah lagi, besok Akmal, putra bungsunya, akan berangkat ke pondok pesantren. Kesepian
Bab 100: Pak RT tidak tahu malu. Hati Wanda seketika menciut saat melihat sosok Pak Hardi berdiri tegak di dalam kamar rawat itu. Wibawa pria itu seolah membungkam keberanian Wanda yang sedari tadi ia kumpulkan."Aku... aku ingin menjenguk Nadya," ucap Wanda terbata, suaranya hampir menyerupai bisikan."Papa..." Akmal bergumam. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk segera menghampiri dan mencium tangan ayahnya. Namun, melihat tubuh ibunya yang masih lemah di atas ranjang, Akmal mengurungkan niat. Ia memilih tetap berada di sisi Nadya, menjaga benteng pertahanan terakhir ibunya.Wanda tak berani melangkah lebih dalam. Ia terpaku di ambang pintu, merasa seperti orang asing yang tak diinginkan. Hanya Feri dan Rina yang melangkah maju mendekati ranjang."Bagaimana keadaanmu, Nadya?" tanya Rina lembut, matanya menyiratkan simpati yang mendalam.Keheningan itu pecah saat petugas keamanan masuk dan meminta sebagian pembesuk untuk keluar demi ketenangan pasien. Di dalam ruangan, kini ha







