Share

Part 4

Vian menatap Bella sembari tersenyum. Akhir-akhir ini memperhatikan Bella menjadi kesukaannya. Bella merupakan gadis cantik yang mampu menarik perhatiannya.

"Kedip dong," ujar Regan.

Vian tidak peduli.

"Gue gak pernah percaya sama cinta pada pandangan pertama, tapi ternyata benar-benar ada, ya," kata Beno sambil geleng-geleng.

"Mana terjadi sama teman kita lagi," timpal Regan.

Vian mengalihkan pandangannya pada Regan dan Beno. "Gue mau minta pendapat lo berdua."

"Apa?" Kompak keduanya.

"Gimana cara deketin cewek?"

Keduanya tertawa membuat Vian menatap tajam mereka. "Jawab!"

Mereka langsung berhenti tertawa.

"Em, gue mau mastiin. Lo beneran mau pacarin Bella atau cuma penasaran aja?" Beno bertanya.

"Dan kayak yang kita bilang sebelumnya Bella susah dideketin. Anaknya dingin. Lo yakin?" Regan menimpali.

Vian mengangguk. "Yakin. Makanya lo berdua harus bantuin gue."

"Kenapa kita harus bantuin lo?"

"Kan lo berdua yang pengalaman deketin cewek."

"Iya, tapi kan kita gak pernah deketin cewek kayak Bella."

"Gue gak mau tahu pokoknya lo berdua harus bantuin gue."

*****

"Hai." Bella cukup terkejut melihat Vian yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya.

"Sendirian aja? Gak sama teman lo?" tanya Vian.

Bella kembali sibuk membaca buku tanpa menjawab pertanyaan Vian.

Saat ini Bella sedang berada di perpustakaan. Karena jam kosong di kelas dan suasana yang cukup berisik membuat Bella melarikan diri ke sini. Sudah merupakan kebiasaan Bella. Waktu di sekolah yang lama pun Bella pasti akan melakukan hal yang sama.

Tadi Sita ingin mengikutinya, tapi setelah tahu kalau Bella ingin ke perpustakaan, Sita mengurungkan niatnya untuk ikut. Karena katanya Sita tidak terlalu suka suasana perpustakaan. Alasannya karena dia tidak bisa banyak bicara di sini. Maklum, apalagi suara Sita cukup besar.

"Lo suka baca buku, ya?" Vian kembali mengajukan pertanyaan. Namun, Bella masih tidak menjawab.

"Buku itu gue pernah baca, tapi baru satu halaman gue langsung berhenti. Gak kuat gue bacaan berat kayak gitu," ujar Vian melihat buku bacaan Bella.

Walaupun Vian malas belajar, tapi cowok itu pernah sesekali membaca buku. Meskipun, tidak pernah membacanya hingga selesai. Karena sudah keburu bosan. Begitulah Vian. Tidak akan betah melakukan hal yang menurutnya membosankan.

Sedangkan Bella sebaliknya. Bella sangat suka membaca buku. Buku apapun Bella pasti akan membacanya. Sekalipun bukan buku yang tidak Bella suka, pasti Bella akan membacanya hingga selesai.

"Lo baca buku?" Bella yang sedari tadi diam akhirnya bertanya membuat Vian tersenyum.

"Akhirnya lo ngomong juga. Iya, gue baca juga, tapi jarang. Soalnya bosan."

Bella mendengar jawaban Vian, tapi pandangannya masih terfokus pada buku.

"Salut gue sama lo. Bisa baca buku setebal itu. Jaman sekarang udah jarang orang yang mau baca buku tebal-tebal."

Meskipun di perpustakaan masih ada beberapa murid yang senang membaca, tapi tidak banyak. Bisa dihitung dengan jari. Yang pasti dirinya tidak termasuk dalam beberapa murid tersebut.

Bella bangkit berdiri membuat Vian juga ikut berdiri.

Bella berjalan menuju petugas perpustakaan. Bermaksud ingin meminjam buku yang tadi dibacanya.

Setelah selesai, Bella pun keluar dari perpustakaan.

Bella menghentikan langkahnya ketika Vian berjalan mengikutinya. Bella lalu beralih menatap Vian.

"Bisa gak usah ikutin gue?"

"Hah? Gue gak ikutin lo. Gue mau ke kelas. Kelas kita kan searah."

Bella merutuki dirinya karena sudah salah paham pada Vian.

"Jaket lo besok gue balikin," ujar Bella.

"Iya. Mau dibalikin kapan aja juga gak papa."

Bella lalu pergi. Ia mempercepat langkahnya.

Vian memperhatikan Bella yang semakin jauh lalu mengulum senyumnya. "Lucu."

*****

"Udah balik lo, Bell? Kok cepat baliknya?" Sita bertanya saat Bella sudah kembali ke kelas.

Bella mengangguk. "Ada pengganggu."

"Pengganggu? Siapa?"

Belum sempat Bella menjawab, Sita sudah kembali bersuara. "Biar gue tebak. Yang gangguin lo Rina cs, ya?"

"Kayaknya bukan. Gak mungkin Rina cs ke perpus. Itu langka banget. Atau jangan-jangan Vian, ya?" Sita kembali bertanya.

Bella hanya mengangguk.

"Nah, benar kan. Vian kan sering banget tidur di perpus. Tapi harusnya lo senang diajak ngobrol sama Vian. Kapan lagi dia mau ngajak cewek ngobrol. Langka banget, loh."

"Gak peduli," kata Bella cuek.

"Jangan terlalu cuek, lah, Bell sama cowok."

Bella hanya diam. Memilih sibuk membaca buku yang tadi dipinjamnya.

"Lo gak asyik banget. Diajak ngobrol malah baca buku."

Bella tidak merespons. Bukannya tidak menghargai Sita. Hanya saja Bella sangat malas kalau sudah berbicara mengenai cowok. Bella akan merespons apapun kecuali satu, yaitu pembahasan mengenai cowok. Apalagi sampai dijodoh-jodohkan. Sungguh Bella tidak suka. Karena Bella benar-benar sudah menutup pintu hatinya untuk setiap cowok. Tidak akan Bella biarkan hatinya kembali terluka hanya karena seorang cowok.

*****

"Bell, udah pulang lo."

Bella hanya mengangguk.

Bella lalu menatap jaket yang dipakai Baron.

"Itu jaket lo dapat darimana?" Bella bertanya karena jaket yang dipakai Baron sangat mirip dengan jaket Vian yang cowok itu pinjamkan padanya saat insiden kemarin.

Harusnya Bella mengembalikannya hari ini, tapi Bella lupa. Karena buru-buru.

Baron ikut menatap jaket yang ia pakai.

"Dari kamar lo. Hadiah buat gue, kan? Thanks, ya hadiahnya. Tahu aja lo kalau gue lagi pengin jaket ini."

"Lepas jaketnya."

"Loh, kenapa?"

"Buruan!"

Baron menurut. Baron melepas jaket tersebut lalu mengembalikannya pada Bella.

"Itu jaket cowok. Gue pikir lo beliin buat gue. Kalau bukan buat gue terus buat siapa?" tanya Baron.

Tidak mungkin Bella membeli jaket itu untuk Bella pakai. Apalagi itu jaket cowok.

"Ini jaket orang."

Baron seketika menatap Bella bingung. "Jaket orang? Maksudnya gimana?"

"Udah sana pergi. Lo mau jalan, kan?" Bella tidak akan mau menjawab pertanyaan Baron. Bisa-bisa Baron malah menggodanya karena dipinjamkan jaket oleh Vian.

"Iya, tapi boleh gak gue pinjam jaketnya?"

"Buat apa?" Bella bertanya.

"Buat dipamerin ke teman-teman gue. Apalagi jaketnya keliatan mahal."

"Gak! Kalau mau beli aja sendiri. Jangan gaya pakai barang punya orang."

"Dasar pelit!"

*****

"Bell, udah pulang?"

"Ah, iya, ma." Bella mencium tangan Lani.

"Loh, ini kan jaket yang tadi dipakai Baron. Kok malah ada di kamu?" Lani bertanya melihat jaket yang dipegang Aulia.

Bella terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.

"Bell?"

"Iya, ma. Ini emang jaket yang dipakai Kak Baron. Cuma ini jaket teman aku. Kemarin dia pinjamin ke Bella karena baju Bella basah ketumpahan minuman." Bella menjelaskan secara jujur. Bella tidak mau membohongi sang mama.

Lani manggut-manggut. "Harusnya Baron tanya dulu ke kamu. Eh, dianya malah langsung pakai. Untung kamu liat."

"Iya ma."

"Ngomong-ngomong teman cowok siapa yang pinjamin kamu jaket? Baik banget, ya dia. Baru beberapa hari kamu pindah udah dapat teman cowok."

"Em, ada teman aku. Kalau gitu aku ke kamar dulu, ya, ma."

"Iya. Habis ganti pakaian jangan lupa makan. Mama udah siapin."

"Iya ma."

Lani tersenyum ketika Bella sudah pergi ke kamar. Lani berharap putrinya bisa kembali menjadi Bella yang dulu. Yang tidak menutup diri pada orang lain.

******************************

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status