Share

Part 5

Bella berjalan menuju kelas Vian. Bella ingin mengembalikan jaket cowok itu. Semalam, Bella sudah menaruhnya di dalam tas agar tidak lupa.

“Eh, ini anak baru yang ditaksir Vian, ya? Cantik sih, tapi gak cantik-cantik amat. Cantikan juga gue.”

“Iyalah. Cantikan lo kemana-mana kali. Kayaknya Vian dipelet deh sama dia.”

Bella mendengar omongan mereka, tapi Bella mengabaikannya. Bella merasa tidak penting mengurus hal sepele seperti itu. Lagipula Bella sudah biasa mendapat omongan seperti itu. Baginya itu hanyalah hal biasa.

“Pagi Bella. Tumben ke kelas kita. Mau cari Vian, ya?” ucap Regan sembari tersenyum.

Bella hanya mengangguk.

“Vian belum datang. Kayaknya dia datang telat.”

“Boleh minta tolong?” pinta Bella.

“Boleh-boleh. Mau minta tolong apa?”

Bella memberikan jaket Vian. “Tolong kasih ke Vian.”

Regan pun menerimanya. “Oke Bell.”

Regan menoleh pada kedua cewek yang tadi menjelek-jelekan Bella. Sampai sekarang pun keduanya masih membicarakan Bella.

“Lo berdua gak ada kerjaan, ya? Pagi-pagi udah gosipin orang. Ngaca dulu sana,” omel Regan.

Kedua cewek itu kesal, lalu pergi dari sana.

“Gak usah dipikirin ya, Bell. Mereka berdua emang tukang gosip. Hampir satu sekolah mereka jelek-jelekin. Ngerasa paling sempurna.”

“Gue gak papa, kok. Gue ke kelas dulu.”

***

“Bella.” Bella berpapasan dengan Vian.

Bella menatap Vian sejenak. Penampilan Vian tampak berantakan. Baju seragamnya kusut dan tidak dimasukkan. Wajahnya terlihat seperti baru bangun tidur dan matanya merah.

Bella tidak habis pikir kenapa murid cewek di sini menyukai Vian dengan penampilan yang berantakan seperti itu?

Vian tersenyum. “Darimana? Kelas lo kan di sana.”

“Kelas lo. Balikin jaket,” jawab Bella singkat.

“Sama-sama.”

“Makasih.” Bella malah lupa mengucapkan terima kasih.

“Gue kan udah nolongin lo. Gue boleh minta imbalan gak?”

Bella terdiam sejenak. Bella pikir Vian menolongnya dengan ikhlas. Ternyata Vian malah meminta imbalan. Memang benar, di dunia ini tidak ada yang gratis. Harusnya Bella tidak boleh langsung menilai kalau Vian cukup baik dibandingkan penampilannya.

“Boleh gak?” tanya ulang Vian.

Bella membuka tasnya membuat Vian menatap bingung. Bella mengeluarkan kotak bekal, lalu memberikannya pada Vian.

“Kita impas.” Setelah Vian menerima kotak bekalnya, Bella pun pergi.

Vian menatap kotak bekal tersebut sembari tersenyum. Meskipun Vian menginginkan imbalan yang lain, tapi Vian cukup senang. Kapan lagi dia bisa mendapat makanan dari Bella.

***

“Bell, ayo makan. Lo bawa bekal, kan?” tanya Sita.

Sita sudah mengeluarkan kotak bekalnya dari dalam tas.

Bella terdiam. Bekalnya sudah dia berikan pada Vian. Semalam, Sita mengirim pesan pada Bella. Sita menyuruh Bella untuk membawa bekal agar mereka tidak perlu mengantre lama di kantin. Bella malah lupa dan memberikannya pada Vian. Karena Vian meminta imbalan, Bella tidak tahu harus memberikan apa. Yang terlintas di pikirannya hanya kotak bekalnya.

“Bell? Kok diam?”

“Em, sorry, Sit, gue lupa. Ketinggalan padahal udah disiapin.” Bella berbohong. Bella sengaja karena kalau dia jawab jujur sudah pasti Sita menggodanya.

“Ya udah, gak papa. Ayo ke kantin.”

“Gak usah. Gue pergi sendiri saja.” Bella menolak.

“Udah gak papa. Gue juga sekalian mau beli minum kok. Ayo.” Sita merangkul Bella, kemudian mereka pergi.

***

Bella menahan napas ketika melihat banyak murid yang berdesak-desakan di kantin. Bella berharap jangan sampai bertemu dengan Vian. Karena Sita nanti akan mengetahui kalau Bella berbohong.

“Sit, lo cari tempat biar gue yang beli minum buat lo.”

“Oke.” Bella pergi membeli makan, sedangkan Sita pergi mencari meja kosong.

“Duduk di mana, ya? Meja pada penuh lagi.” Sita bergumam melihat semua meja yang sudah penuh.

“Setan!” Sita menoleh ketika pundaknya ditepuk oleh seseorang.

Sita seketika kesal ketika tahu kalau orang tersebut adalah Regan. “Nama gue Sita bukan setan. Gila lo!”

Regan cengengesan. “Sorry, habisnya gue lupa nama lo.”

“Kalau lupa mending gak usah dipanggil. Gue dikasih nama bagus-bagus sama orang tua gue, malah dipanggil setan.”

“Sorry deh. Lo cari tempat kosong, kan? Gabung saja. Kebetulan gue masih dapat meja.”

Sita menatap Regan sinis. “Kebetulan apanya? Jelas-jelas lo sama teman-teman lo ada meja sendiri.”

Memang Vian, Regan, dan Beno memiliki tetap di kantin. Dimana hanya boleh mereka bertiga yang duduk di situ. Dan murid-murid yang lain patuh. Mereka tidak pernah duduk di tempat itu termasuk Sita.

“Halo Sikat.” Beno menyapa Sita dengan senyum lebar.

Sita melotot. “Sita! Nama gue Sita bukan Sikat! Suka banget ganti-ganti nama gue. Gak Regan, gak lo sama aja!” ujar Sita kesal.

“Sorry, Sit, gue lupa mulu sama nama lo.”

“Udah lo duduk aja ...”

“Sita,” potong Sita cepat. Sebelum Vian menjadi orang ketiga yang mengubah namanya menjadi lebih aneh.

“Iya Sita. Lo duduk aja.”

“Bella mana, Sit?” Vian bertanya.

“Lagi beli makan. Padahal semalam gue sudah suruh dia bawa bekal biar gak perlu beli di kantin lagi. Soalnya kan lama banget. Yang ada keburu masuk. Mana hari ini jamnya Ibu Heni. Kalau masuk telat disuruh nulis kata maaf lima ribu kali. ”

“Emang galak Bu Heni. Waktu gue telat pas jamnya dia aja gue disuruh ngajar gantiin dia. Mana kalau ngajarnya gak benar digebukin lagi.” Regan menimpali.

Beno tertawa. “Asli lucu banget. Seketika langsung jadi gagap.”

“Kalau lo jadi gue juga lo bakal gagap.”

Vian menatap kotak bekal pemberian Bella. Rupanya Bella berbohong pada Sita. Padahal Bella malah memberikan kotak bekalnya pada Vian.

Vian merasa tidak enak pada Bella. Harusnya tadi Vian menolak.

“Tumben lo bawa bekal, Yan,” sahut Beno melirik kotak bekal yang dipegang Vian.

Regan ikut melirik. “Lah, iya juga. Kok gue baru nyadar? Padahal dia udah bawa dari kelas, kan?”

Beno dan Regan tahu kalau Vian paling malas membawa bekal. Jangankan bekal, buku saja kadang Vian tidak bawa.

“Gue gak bawa bekal, gue dikasih.”

“Dikasih? Sama siapa? Tumben lo terima makanan dari cewek. Biasanya mana pernah lo mau terima.”

“Bener. Lo sendiri yang bilang gak akan mau terima barang apapun dari cewek manapun.” Regan menimpali.

Cukup banyak cewek di sekolah ini yang mengagumi Vian. Mereka selalu memberikan makanan ataupun hadiah pada Vian, tapi selalu Vian tolak. Bukannya tidak menghargai, hanya saja Vian tidak mau membuat mereka salah paham karena menerima pemberian mereka.

Waktu itu Vian pernah menerima hadiah dari seorang cewek. Cewek itu salah paham dan mengira Vian menyukainya. Akhirnya Vian harus terlibat perkelahian dengan kakak cewek tersebut karena merasa Vian mempermainkan cewek itu. Sejak saat itu, Vian memutuskan untuk tidak akan mau menerima pemberian dari cewek manapun.

“Jawab Yan. Ini bukan soal Matematika yang bikin lo harus susah mikir.”

“Dikasih Bella.”

Ketiganya terkejut. “Bella?!”

******************************

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status