Share

Pulang Ke Rumah

Author: Zinnia Azalea
last update Last Updated: 2024-11-28 07:18:15

Heri menggebrak meja ketika ia kalah lagi dalam berjudi. Semua temannya tergelak tertawa melihat wajah kusut dari pria yang masih berstatus suami dari Alana itu. Selain bermain judi online, pria itu juga gemar bermain judi secara langsung bersama teman-temannya.

"Lagi engga nih?" Seorang temannya makin tertawa lebar melihat wajah frustasi dari Heri.

"Uang gue udah abis!" Heri mengacak rambutnya frustasi.

"Ya udah sono pulang dulu dan minta uang ke istri lu!" Perintah bandar judi yang wajahny
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Pertengkaran

    Sudah seminggu ini Heri terbaring sakit. Mantan suami dari Alana itu kini tinggal sebatang kara. Heri memicingkan mata, kepalanya terasa berat, wajahnya pun terlihat pias.. "Haus sekali," lirihnya dengan suara lemah. Pria yang berprofesi sebagai tukang bangunan itu memaksakan diri untuk bangun demi membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering. Heri berjalan dengan tergopoh ke arah galon yang berada di sudut ruangan. Tubuhnya terasa remuk redam. Bekerja sebagai kuli bangunan memang pengalaman hidup yang amat berat bagi Heri yang terbiasa bekerja dengan santai. Tangan Heri menuangkan air ke dalam gelas dengan pelan. Pria itu meneguk habis air dalam gelas sampai tak tersisa. Untung saja temannya berbaik hati tidak membawa galon dan gelas gelas di kontrakan karena iba akan nasib Heri. Heri sudah sebulan bekerja sebagai tukang bangunan. Dirinya amat dibenci oleh rekan rekannya karena perseteruannya dengan salah satu pekerja. "Ibu, Bapak, Annida," Heri merebahkan dirinya kemb

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Perayaan Tahun Baru

    Alana memetik pucuk teh dengan riang. Ia kemudian memperlihatkannya pada Arga yang sedang ia gendong. "Lihat nih, Sayang!" Ujar Alana riang. Matanya beralih pada hamparan kebun teh yang begitu luas. Hijau, sejuk, damai dan begitu memanjakan mata. Alana begitu riang ketika ia diajak untuk merayakan tahun baru di villa milik tuannya, Elzaino. Alana amat bersyukur bisa bekerja pada Elzaino. Alana mengalihkan pandangannya pada Arga yang sedang ia gendong dengan gendongan depan. Bayi berusia 8 bulan itu menatapnya dengan mata yang jernih. Kehampaan dan kesedihan Alana memang sangat terobati dengan kehadiran bayi gembul itu. "Arga dingin, Nak?" Alana menyentuh pipi Arga yang memerah. Bayi itu kemudian tersenyum menatap Alana. "Emm, hangat," Alana berbicara sendiri. Yakin jika tuan mudanya itu tidak kedinginan karena Alana juga sudah memakaikan pakaian yang hangat untuk Arga. "Ayo kita ke sebelah sana ya, kita lihat kabut dan embun!" Alana melangkah lebih jauh. Sementara itu Elzaino,

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Siasat Amanda

    Amanda masih berusaha memasuki kediaman orang tuanya meski petugas keamanan terus saja berbicara sinis padanya. Wanita yang sudah berada di depan gerbang rumah ayahnya itu pun keluar dari mobil. Ia berteriak bak orang kesetanan karena tak kunjung mendapat izin untuk masuk ke dalam kediaman orang tuanya. "Buka gerbangnya, Babu!!!" Hardiknya dengan penuh amarah kepada petugas keamanan yang bernama Jono. Jono keukeuh tak ingin membuka gerbang. "Tidak bisa," tolak Jono sekali lagi, wajahnya cukup santai. "Kurang ajar!! Aaaa!!" Amanda berteriak seraya mencari batu untuk ia lempar kepada petugas keamanan yang sudah mengabdi di sana selama puluhan tahun itu. Handoko dan Resti yang sedang berada di pendopo merasa terganggu dengan suara bising yang terdengar dari pos keamanan. "Seperti suara Amanda, Pa!" Resti berdiri dari duduknya. Raut wajahnya berubah saat mendengar suara sang putri. Sementara Handoko hanya diam. Ia memang sudah mengira sang putri akan datang ke kediamannya. "Bi

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Tak Ingin Alana Sakit

    Sejak kedatangan Amanda, Meri begitu mencemaskan keadaan sang cucu. Meri takut, Amanda akan berbuat nekat untuk mengambil Arga dari sisi keluarganya. Meri berjalan ke arah kamar Arga dan Alana. Wanita modis itu membuka pintu kamar Arga sedikit, ia tersenyum saat melihat Arga sedang berceloteh dan bercanda dengan Alana. Lagi-lagi hatinya menghangat karena Alana. "Alana," Panggil Meri lembut "Iya, Nyonya?" Alana menatap Meri yang sedang berjalan ke arahnya. "Terima kasih, Alana. Karena kamu telah menyayangi cucu saya sepenuh hati kamu," ucap Meri yang membuat Alana seakan tak percaya, karena Meri tak pernah mengatakan terima kasih kepada pekerjanya. "Sama-sama, Nyonya. Sudah kewajiban saya harus menjaga dan menyayangi Den Arga dengan sepenuh hati," Alana tersenyum yang membuat Meri semakin menyukai wanita cantik itu. "Saya akan membawa Arga ke taman, hanya di taman rumah ini. Saya ingin menghabiskan waktu dengan cucu saya," Meri berujar yang mirip sekali dengan meminta izin kepada

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Rencana Pergantian Tahun

    Elzaino berencana untuk merayakan pergantian tahun di villa pribadi miliknya yang ada di kota kembang. Villa itu terletak di kawasan asri dan dikelilingi kebun teh yang luas. Elzaino memang sengaja membelinya agar ia bisa membawa keluarganya menjauh sejenak dari hiruk pikuk perkotaan. Elzaino ingin menenangkan pikirannya dari segala masalah yang akhir-akhir ini menderanya."Seriusan Kak kita mau ke villa?" Tanya Mireya dengan mata yang berbinar.Kakak beradik itu kini berada dalam ruangan pribadi milik Elzaino. Mireya sendiri diminta datang ke ruangan pribadi kakaknya untuk menyampaikan hasil rapat tadi siang dengan perusahaan dari Amerika."Seriusan. Tapi semua kerjaan kantor udah beres kan?" Elzaino memastikan. Ia tak ingin pergi berlibur sementara pekerjaan di kantor belum rampung."Kakak ini tidak tahu apa kinerjaku seperti apa?" Mireya mengerucutkan bibirnya.Memang Elzaino begitu mengenali sifat pekerja keras adiknya. Bukan karena Mireya adalah adiknya lantas El menunjuk wanita

  • ASI Untuk Putra Sang CEO   Hari Pertama MPASI

    Pagi-pagi sekali Alana sudah berjibaku dengan apron warna putihnya. Hari ini, adalah hari pertama Arga MPASI. Wanita itu sangat fokus sekali dengan masakannya, hingga tak menyadari kedatangan Meri dan Mireya yang menghampiri dirinya. "Sedang apa, Sus? Serius sekali!" Mireya yang sedang libur itu bertanya kepada Alana seraya berdiri di samping Alana. Elzaino sudah dua hari ke luar kota, ia pun tak tahu Arga akan mulai MPASI hari ini. "Saya sedang memasak untuk Den Arga. Hari ini hari pertama MPASInya," jawab Alana dengan ceria. Mireya dan Meri merasa terkejut mendengar Arga yang sudah mulai fase MPASI. Mereka sangat sibuk sampai tidak sadar jika Arga sudah genap berusia enam bulan. "Kamu masak apa saja untuk Arga, Alana?" Meri memperhatikan makanan yang ada di dalam panci anti lengket itu. Meri sebenarnya merasa tak yakin dengan Alana, apakah wanita itu tahu gizi yang dibutuhkan oleh seorang bayi? Meri menatap isi panci itu, isinya adalah nasi, daging sapi, brokoli, dan tahu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status