LOGINBeredar kabar bahwa putri Keluarga Amarta sudah tidur dengan Jody Bramantya, pria paling berpengaruh di Kota Areta, sehingga membuat semua sosialita di Kota Areta merasa iri dan cemburu. Namun, siapa sangka begitu sang tokoh utama dalam rumor tersebut kembali ke kediaman Keluarga Amarta, dia justru menanggalkan pakaian mewahnya, mengenakan masker dan seketika berubah menjadi pembantu rendahan? Semua orang tahu bahwa setelah malam itu, Pak Jody begitu memanjakan putri Keluarga Amarta tersebut. Akan tetapi, sebulan kemudian, ada yang melihat putra Keluarga Bramantya sedang memeluk seorang pembantu dengan begitu mesranya. Seluruh kota terkejut. Semua orang menunggu Keluarga Bramantya membantah rumor tersebut. Namun, setelah ditunggu-tunggu, akhirnya Jody pun muncul sambil merangkul pacar aslinya, yang ternyata memang si pembantu itu! Pria itu pun mengumumkan dengan lantang, "Istriku cuma ada satu, yaitu wanita yang ada di sisiku ini!" Setelah berkata seperti itu, Jody menunduk dan menggigit lembut daun telinga wanita itu. "Sayang, sampai kapan kamu akan terus bersandiwara?"
View MoreSemua mata tertuju ke arah itu.Di ambang pintu ruang perjamuan, tampak seorang pemuda mendorong kursi roda perlahan untuk masuk. Pria yang duduk di kursi roda itu mengenakan setelan jas hitam. Wajahnya tampan dan berkarakter, memancarkan aura bangsawan yang begitu kental.Amelia yang sedang menyantap makanan di area prasmanan langsung tertegun.Pria ini … bukankah dia pria yang dia temui di Calista waktu itu?Pria yang berada di ruangan VIP yang sama dengan Jody itu, sepertinya bernama …. Adji?Tanpa sadar, Amelia mengalihkan pandangannya dari pria itu ke arah Jody.Jody sudah kembali ke sisi Tuan Besar Tirta. Bibir tipisnya terkatup rapat dan wajah dinginnya tidak menunjukkan emosi apa pun.Setelah memasuki aula perjamuan, Pak Aldo yang berada di belakang Adji menyerahkan tongkat kepada Adji, membantu Adji berdiri dan melangkah setapak demi setapak ke arah Tirta.Adji bertubuh tinggi besar. Meskipun kaki kirinya pincang, hal itu sama sekali tidak memengaruhi auranya yang elegan dan b
Detik berikutnya, Salman sepertinya menyadari sesuatu. Tanpa menarik perhatian, dia berdiri di depan Amelia, menghalangi pandangan Jody pada Amelia, lalu berkata sambil tersenyum, "Aku dan Amelia datang untuk mewakili orang tuaku memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Tuan Besar Tirta.""Lho? Amelia, ternyata itu kamu ya? Aku hampir nggak mengenalimu." Rissa yang berdiri di samping tiba-tiba berkata dengan nada terkejut. Saat menyadari tatapan bingung dari orang-orang di sekitar, Rissa menjelaskan dengan nada yang pura-pura santai, "Maaf, aku jadi kurang sopan. Masalahnya, aku agak sulit untuk percaya. Bagaimana bisa pembantu di rumah keluargaku menjadi pacar Dokter Salman?"Kata-kata yang diucapkan dengan lembut dan tenang itu volumenya begitu pas, tidak terlalu keras, tetapi tidak terlalu pelan. Cukup untuk didengar oleh semua orang di sekitar yang memperhatikan mereka.Dalam sekejap, kabar jika pembantu Keluarga Amarta datang menghadiri pesta ulang tahun pun menyebar dengan ce
Salman menyerahkan kartu undangan berlapis emas itu. Amelia menggandeng lengannya saat mereka berjalan masuk. Seketika itu juga, Amelia terpana oleh pemandangan mewah dan glamor di hadapannya."Dokter Salman, kamu … kamu datang ke perjamuan apa?" tanya Amelia. Amelia baru menyadari ada yang tidak biasa. Amelia mengira karena Salman berasal dari keluarga dokter, di mana kedua orang tuanya juga dokter dan bukan dari kalangan keluarga terpandang, maka Amelia berpikir perjamuan ini hanya semacam diskusi akademis saja."Maaf, aku lupa memberitahumu secara rinci. Ayahku pernah mengoperasi jantung Tuan Besar Tirta. Tuan Besar Tirta merasa berterima kasih. Jadi, setiap tahun di hari ulang tahunnya, dia selalu mengundang ayahku."Dokter Salman sedikit memiringkan kepalanya. Dia menjelaskan dengan suara rendah sambil terus berjalan. Namun, saat mendengar nama "Tuan Besar Tirta", langkah kaki Amelia mendadak terhenti. "Tuan Besar Tirta?"Salman menyadari perubahan emosi Amelia. "Ada apa?"Amelia
"Di sekitar sini cuma ada beberapa klinik kecil. Kalau kamu mau berobat, baiknya ke pusat kota saja. Dalam radius dua kilometer dari sini cuma ada Rumah Sakit Marganta, itu pun rumah sakit jiwa."Rumah sakit jiwa?Wajah Amelia sedikit berubah. Monika menenangkannya, "Jangan khawatir, ini baru sekadar kemungkinan. Ayo, kita cari lagi.""Hmm."Amelia mengunjungi ibunya seminggu sekali. Apakah ibunya berada di Rumah Sakit Jiwa Marganta atau tidak, Amelia akan mengetahuinya besok setelah pergi ke sana.Setelah berpamitan dengan Monika, Amelia tiba di rumah lebih awal. Ketika sedang merapikan rumah, Amelia baru menyadari jika liontin batu alam pemberian Monika sudah hilang.Aneh, dia selalu menyimpannya di dalam tas.Kenapa bisa hilang?Amelia mencari ke seluruh sudut kamar tidurnya, tetapi tetap tidak bisa menemukan liontin batu alam putih tersebut.Tiba-tiba, ponsel Amelia berbunyi.Ternyata dari Salman."Amelia, apa besok malam kamu ada waktu luang? Aku mau minta tolong padamu.""Ada apa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.