LOGINBeredar kabar bahwa putri Keluarga Amarta sudah tidur dengan Jody Bramantya, pria paling berpengaruh di Kota Areta, sehingga membuat semua sosialita di Kota Areta merasa iri dan cemburu. Namun, siapa sangka begitu sang tokoh utama dalam rumor tersebut kembali ke kediaman Keluarga Amarta, dia justru menanggalkan pakaian mewahnya, mengenakan masker dan seketika berubah menjadi pembantu rendahan? Semua orang tahu bahwa setelah malam itu, Pak Jody begitu memanjakan putri Keluarga Amarta tersebut. Akan tetapi, sebulan kemudian, ada yang melihat putra Keluarga Bramantya sedang memeluk seorang pembantu dengan begitu mesranya. Seluruh kota terkejut. Semua orang menunggu Keluarga Bramantya membantah rumor tersebut. Namun, setelah ditunggu-tunggu, akhirnya Jody pun muncul sambil merangkul pacar aslinya, yang ternyata memang si pembantu itu! Pria itu pun mengumumkan dengan lantang, "Istriku cuma ada satu, yaitu wanita yang ada di sisiku ini!" Setelah berkata seperti itu, Jody menunduk dan menggigit lembut daun telinga wanita itu. "Sayang, sampai kapan kamu akan terus bersandiwara?"
View MoreLengan Adji terasa perih membakar, tetapi pikirannya tetap jernih. Adji melihat dengan jelas sosok yang datang. "Kamu?"Pelayan dari Calista itu.Amelia membawa kotak P3K. Lantaran gaun formal yang dikenakannya membuatnya sulit untuk membungkuk, Amelia memutuskan untuk berlutut di atas karpet. Dia mengeluarkan perban dan cairan disinfektan, lalu mulai membersihkan luka Adji seadanya. Amelia tidak menyangka pria ini tega berbuat begitu kejam terhadap dirinya sendiri.Luka Adji sangat dalam dan dia kehilangan banyak darah.Telapak tangan Amelia dipenuhi bercak darah hangat pria itu dan jemarinya gemetar hebat.Amelia menarik napas panjang dengan terengah-engah. Dia tampak sangat ketakutan."Pak, Pak Adji, ini mungkin akan sedikit sakit. Tolong tahan sebentar," kata Amelia sambil menekan kapas disinfektan ke luka pria itu. Pada saat yang sama, Amelia memejamkan matanya rapat-rapat, seakan tidak berani melihat.Adji mendengus dingin, "Takut, tapi kenapa masih berani kembali?"Amelia pun me
Amelia menengadah dan matanya bersirobok dengan pria yang berdiri di ambang pintu.Langkah kaki pria itu terhuyung-huyung dan napasnya memburu.Amelia langsung mengenali siapa yang datang."Pak, Pak Adji?"Pandangan Adji mulai kabur. Setelah memukul pingsan Olivia, dia berjalan keluar dengan langkah sempoyongan. Adji sudah benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri.Adji tidak tahu siapa yang sudah menjebaknya. Namun, Adji sadar betul jika dirinya tidak boleh membiarkan rencana orang itu berhasil. Oleh karena itu, Adji tidak berani berlama-lama di lantai dua. Rencana Adji adalah mencari kamar kosong di lantai tiga untuk bersembunyi sementara, sambil menunggu bantuan. Akan tetapi, Adji tidak menyangka jika ternyata ada orang di dalam kamar tersebut.Suara Adji terdengar begitu serak, "Siapa?"Amelia berdiri. Dia menatap bingung ke arah pria yang napasnya tidak stabil itu. "Pak Adji." Wajah tampan pria itu tampak merah padam dengan urat-urat yang menonjol di dahi, seakan sedang
Saat ini, hasrat yang mendidih di dalam tubuh Adji hampir menghancurkan Adji. Tubuh lembut wanita di hadapannya terus-menerus menyiksa pikirannya yang sudah begitu tegang. Adji langsung memicingkan matanya, kemudian dia mengulurkan tangan dan tiba-tiba memukul tengkuk Olivia dengan keras.Olivia langsung pingsan di tempat.Adji menarik selimut untuk menutupi tubuh Olivia. Kemudian, dengan sisa-sisa kesadaran yang mulai kacau, Adji melangkah pergi dengan terburu-buru.…Sementara itu, di dalam aula perjamuan di lantai bawah."Ah!"Terdengar suara pekikan. Amelia buru-buru menangkap seorang wanita di sampingnya yang hampir terjatuh. Namun, sialnya, meski wanita itu berhasil berdiri tegak, sampanye yang dipegangnya justru tumpah ke pakaian Amelia."Maaf, maafkan aku!" Nora Setiawan buru-buru meletakkan gelasnya dan menatap Amelia dengan wajah penuh rasa bersalah.Amelia tersenyum tipis, lalu berkata, "Nggak apa-apa.""Tapi pakaianmu jadi basah semua …." Nora mengerutkan kening dengan cema
Setengah jam kemudian, ponsel Olivia yang berada di meja main kartu bergetar.[Lantai 2, ruang VIP 211.]Olivia mengangkat pandangannya. Dia tiba-tiba berdiri dan berkata kepada teman-temannya, "Aku nggak mau main lagi. Kalian lanjutkan saja."Setelah Olivia pergi, teman-temannya sesama sosialita saling berpandangan dengan bingung."Olivia ini benar-benar sulit dilayani. Yang ingin main kartu dia, yang tiba-tiba mau pergi juga dia.""Ssst, pelankan suaramu. Siapa tahu dia belum pergi jauh.""Takut apa? Kedap suara di sini sangat bagus," ucap seorang sosialita yang mengenakan gaun panjang berwarna biru tua. "Apa Olivia akan kembali? Kalau nggak, aku akan telepon temanku untuk datang bermain. Kita kurang satu orang nih.""Pasti nggak akan kembali. Sejam lagi perjamuan ulang tahun ini juga selesai. Ayo cepat!"…Di depan pintu kamar 211.Jantung Olivia berdetak kencang. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengumpulkan seluruh keberaniannya sebelum mendorong pintu hingga terbuka.Sepanjang 2
Mengapa dipindahkan ke lorong?Amelia mencengkeram lengan perawat itu erat-erat dan tidak mau melepaskannya. "Kenapa di lorong? Bukankah kami sudah membayar biaya pengobatannya?"Bukankah Keluarga Amarta sudah berjanji padanya? Selama dia patuh berpura-pura menjadi "Rissa", mereka akan memberikan pe
Rasa kesal tiba-tiba muncul di hati Jody. Dia mengerutkan keningnya rapat-rapat.Tatapannya tertuju pada foto setengah telanjang itu selama beberapa saat, sebelum kemudian meremas kedua foto tersebut menjadi gumpalan dan membuangnya ke dalam kotak sampah.Wanita seperti ini tidak mungkin adalah gadi
Pria itu mengenakan pakaian bertudung untuk olahraga berwarna hitam. Tubuhnya tampak agak kurus. Dia juga memakai topi bisbol hitam dengan pinggiran yang ditarik sangat rendah, sehingga memancarkan aura dingin dan menakutkan yang menusuk hingga ke tulang.Amelia memegangi kursi roda itu. Dia berusah
Memikirkan hal tersebut, Amelia segera menelepon Ambar. Namun, Ambar sama sekali tidak mengangkatnya.Amelia lalu mencegat taksi dan melaju kencang menuju kediaman Keluarga Amarta. Dengan perasaan kalut, Amelia berlari masuk ke vila. Begitu melihat Pak Irsan, Amelia langsung bergegas maju dan bertan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore