INICIAR SESIÓN"Dia bahkan sampai ke sana untuk melayani klien."Gumam Luna dengan tangan menopang dagu. Tatapannya terarah ke luar jendela seperti biasa. Belakangan kampus terasa lebih damai.Setelah skandal Rina dipatahkan begitu dramatis oleh Alfa. Serta Brittanya yang entah kenapa anteng saja sejak kemarin. Tidak riweuh mengganggunya macam biasa."Ngapain, Nya?"Luna tidak menoleh ketika Kevin bertanya. Dia hanya menghembuskan napasnya pelan."Vin, kamu kan brengsek?""Iya, kenapa?" "Kamu tahu kalau kelakuan Siska sama Rina gak jauh beda.""Tahulah. Kenapa? Eh kamu tahu gak kemarin Siska sempat nyemplung penjara."Ini baru berita."Soal apa?""Kasus Erwan. Dia bawa nama Siska. Tapi karena bukti tidak cukup kuat. Siska dibebaskan.""Pantas saja dia kemarin sudah gawe di bandara."Kevin tertawa lirih. "Tidak heran. Koneksinya lumayan mengerikan. Aku sarankan hati-hati sama Siska.""Aku gak pernah nyenggol dia.""Tapi dia ngincar lakik kamu."Ada binar lelah di wajah Luna. Dia merasa punya suami s
"Sebaiknya Den Ayu dibawa istirahat dulu. Benturan energi tadi mungkin menguras tenaga Den Ayu."Alfa memandang Luna yang kini terlelap di tikar. Setelah makan, wanita itu langsung tidur. Biasanya tidak."Baik. Kalau bisa dilacak saya ingin tahu siapa yang coba menyerang Luna. Pakdhe bisa berkomunikasi dengan paklek Catur.""Sendiko, Den Mas."Pria tadi spontan berujar demikian. Satu hal yang membuat Alfa lagi-lagi kesal. Dia sungguh tak menyukai penghormatan yang berlebihan. Sewajarnya saja. Pasalnya Alfa bukan orang penting dalam istana. Hanya kedudukannya saja yang membuat orang lain segan. Padahal dia tidak pernah sudi menerima posisi tersebut.Alfa menggendong Luna, memindahkannya ke mobil setelah menyentuh lembut dahinya. Sedikit sirep Alfa lakukan. Dia ingat sang ibu pernah mengajarkan hal tersebut.Pria itu menganggukkan kepala sebelum melajukan mobil. Sang juru kunci membungkuk sebagai balasan. Pria itu sempat melakukan gerakan menyembah setelah Alfa tak melihatnya."Benar-b
"Panas, Na.""Justru bagus. Kamu kelamaan di peram di AC. Buruan!"Luna setengah menghardik Alfa. Mereka sudah berada di parkiran salah satu pantai yang kebetulan dekat dengan bandara.Air port kota itu memang dibangun di area pesisir. Jadi lokasinya dikelilingi oleh sejumlah pantai. "Aku di sini saja. Di sini adem.""Oke deh, aku bisa cari teman main sendiri."Mampus! Demi mendengar teman main sendiri terucap dari bibir Luna. Alfa gegas meraih jaket juga kaca mata. Sambil menjepit ponsel, dia terbirit-birit mengejar Luna."Anaknya pak Bima kalau disuruh bujuk sama ngancam memang jagonya," gerutu Alfa sepanjang jalan.Mungkin Bima Narendra di ujung sana kerap bersin. Pasalnya Alfa sering menyebut Luna anaknya pak Bima dalam berbagai kesempatan.Begitu mendekati area pantai. Udara panas dan kering menyambut Alfa. Pria itu buru-buru memakai kacamata juga jaketnya.Mata elangnya lekas mencari keberadaan sang istri. Dan ketemu. Di tengah sejumlah pengunjung yang memadati pantai, sangat m
"Sakit gak?""Bengkak kali. Buruan periksa.""Emoh. Sudah pasti bengkak. Kan dia bangun."Luna menggeser tubuhnya, menjauhi Alfa. Meski wajahnya masih tampak cemas.Hasil dari rebutan ponsel tadi. Luna dan Alfa sampai terjatuh dari kasur. Posisi terakhir, siku Luna menghantam area pribadi sang suami. Bisa dibayangkan sakitnya seperti apa."Lagian kamu itu hobi sekali menyiksa masa depanku. Gak bisa bangun lagi, kamu yang susah.""Susah di mananya. Aku tinggal cari yang baru. Yang sehat, yang ....""Tapi mereka belum tentu bisa memuaskanmu. Seperti aku memuaskanmu."Luna buru-buru menelan ludah. Menyadari jika yang diucapkan Alfa ada benarnya."Diam berarti sepakat.""Enggak bisa gitu," Luna segera membantah pernyataan sang suami."Terus?"Giliran Alfa mendesak Luna. Pria itu mendekatkan tubuh mereka. "Stop, jaga jarak. Jauh-jauh sana.""Sudah gak zamannya covid, Na. Sekarang mah jarak bebas. Mau nempel juga boleh."Kumat lagi tengilnya Alfa. Kadang Luna bingung. Yang mana satu karakt
"Ini sungguh mengejutkan."Alfa berkata dengan bibir melengkung."Jika bukan karena permintaan Kakekmu, aku ogah melihatmu!"Rio nyaris melempar satu dokumen ke hadapan Alfa. Dua sahabat yang hubungannya renggang karena satu perempuan.Salah Alfa juga. Siapa suruh dia jadi brengsek. Hingga membuat Luna patah hati."Terima kasih."Rio melengos. Enggan sekali menatap Alfa. Walau demikian, dia bisa melihat kilau cincin pernikahan di jari pria itu. Agaknya Alfa memang tak pernah melepasnya.Dari laporan anak buahnya, Rio tahu jika Alfa tak lagi keluyuran malam-malam ke klub. Entah apa yang dia lakukan. Yang jelas, Alfa kerap berada di rumah setelah urusan kampus selesai."Untuk proyeknya aku setuju. Tapi soal pengolahan limbah, aku mau semua bersih sebelum dibuang ke alam."Alfa mulai membahas dokumen di tangannya."Kau tidak baca sampai akhir?" Sindir Rio."Sudah, aku hanya memperjelas. Selain itu, aku mau masyarakat dan UMKM di sekitarnya dilibatkan.""Sedang didiskusikan dengan pejabat
Brittany pikir dia sedang menunjukkan sisi buruk seorang Luna pada Alex. Padahal dia tidak tahu apa-apa mengenai aktivitas yang Luna kerjakan kini.Saat ini Luna sedang duduk berdua, dengan seorang pria yang usianya jauh lebih dewasa dibanding Luna.Gesture keduanya juga tampak sangat dekat. Luna dan pria itu bahkan duduk berdampingan. Bukan berhadapan.Keduanya tertawa. Bercanda juga berbincang begitu hangat. Sang lelaki sesekali mengusap pelan puncak kepala Luna."Lihat, dia bukan hanya dekat dengan Kevin saja."Brittany mulai mengompori Alex. Dia pikir Alex akan marah, atau setidaknya kecewa pada Luna. Namun siapa sangka jika Alex tanpa ragu justru menjawab, "Memangnya kenapa kalau dia dekat dengan pria itu.""Alex, apa kamu tidak berpikir jika dia itu murahan." Terkejut Brittany mendengar balasan santai dari Alex."Siapa yang murahan di sini. Kau atau Luna?"Alex dengan cepat berjalan mendekati Luna dan sosok tadi. Satu hal yang membuat Brittany terbelalak. Apalagi ketika pria di
Luna protes sepanjang jalan, entah ke mana Alfa membawanya. "Eh pak dosen. Tanggung jawab dong. Situ ngadain kelas tambahan, tapi situ malah melarikan diri. Satu lagi, saya gak mau dijodohin sama Bapak." "Itu bukan salah saya. Asistennya saja gak kompeten! Dengar ya Luna, bukan saya yang nentuin
"Lama amat," protes Rina yang akhirnya memesan bakso lebih dulu karena kelamaan menunggu Luna. "Pak dosen banyak tanya." Luna menggertakkan gigi. Ingat bagaimana dia berakhir menindih tubuh Alfa. Dengan lelaki itu tersenyum puas. Tangan Alfa bertengger manis di pinggang Luna kemudian turun menje
Luna mengepalkan tangan di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang laksana genderang perang yang ditabuh bertalu-talu. Kemarahannya memuncak. Kenapa juga dia harus bertemu mantan menyebalkan itu di sini. "Ya Tuhan, jauh-jauh aku melarikan diri. Kenapa masih juga dipertemukan. Mana jadi dosenku lag
"Dijodohkan? Yang benar saja!" Gerutu Luna sambil mengelap piring yang baru saja dicuci. "Tidak! Itu tidak mungkin. Mana mungkin kami dijodohkan. Kak Rio sama si buaya itu pasti bohong." Luna pilih denial untuk membuat hatinya lebih tenang. Ingatannya kembali ke kejadian dua tahun lalu. Saat Al







