LOGINLuna tersentak. Walau dia tahu kebenarannya, tetap saja dia terkejut. "Itu, itu. Maaf, Lex. Aku tidak bermaksud menyakitimu."Salah tingkah, juga rasa bersalah menyergap Luna."Jangan begitu. Aku tidak menyalahkamu. Aku sendiri yang salah. Seharusnya aku turuti kata Lilo. Dia suruh aku tembak kamu.""Tapi aku terlalu takut kehilanganmu. Aku tahu kamu cuma anggap aku teman."Alex menatap intens pada Luna. Sosok yang juga tengah memandangnya. Alex tersenyum, walau terpaksa."Kaget ya.""Aku tidak tahu harus bagaimana," aku Luna terus terang."Ya sudah, begini saja. Gak perlu gimana gimana.""Kamu gak marah sama aku?""Marah, buat apa. Aku yang memulainya. Harusnya aku siap dengan konsekuensinya."Netra Luna berkaca-kaca. "Jangan menangis, nanti suamimu marah. Atau dia akan cemburu padaku."Luna mengeplak lengan Alex. Pria itu ikut tertawa. Rasanya sakit, sakit sekali. Tapi Alex tidak ingin memaksakan diri.Memaksakan agar Luna menerima dirinya. Atau memaksakan hatinya untuk menghapus
Luna mencengkeram stang motornya. Coba mengatasi gentar yang menyusup di hati. Meski dia bisa bela diri. Tetap saja Luna merasakan yang namanya takut.Cukup lama Luna dibuat bertanya-tanya soal siapa yang menyerobot laju motornya. Hingga si pengendara keluar. Dari takut, wajah Luna berubah murka. "Brengsek! Aku pikir siapa main hadang jalan orang."Yang dimaki hanya menggulung senyum."Maaflah, aku langsung kemari begitu dapat laporan Andini nyerang kamu. Waktu aku datang, eh situ lagi makan cilok. Berarti kamu gak apa-apa.""Cuma lecet sedikit. Sudah ke dokter tadi.""Pulang kalau begitu.""Naik motor aja," pinta Luna sambil mengedip manja."Astaga, kakiku turah panjangnya, Na. Jadi kayak anak bayi naik mobil-mobilan."Lana tertawa sambil melingkarkan tangan di pinggang sang suami. Benar sekali, Alfalah yang memotong laju motornya. "Masih mau jajan?" Alfa menoleh melalui bahunya."Cari bakul kwetiau yuk.""Ayok, aku pengen makan nasi goreng.""Alamat balik lagi ke kota."Luna tert
"Kenapa tanya padaku?"Luna bertanya setelah beberapa saat terdiam."Siapa tahu kamu tahu.""Aku bukan intel," kilah Luna."Iya juga. Sudahlah, aku balik kerja dulu. Kalau gak selesai, aku harus lembur kata Mbak Mira. Apa kabar nasib skripsiku. Tingga penutup juga dari kapan tahu gak kelar-kelar.""Sama dong kalau gitu," sahut Luna mengiyakan."Tapi yang penting bulan depan kita bisa gajian. Bisa buat beli bensin."Luna menggulung senyum. Gajian? Tiap bulan dia juga gajian. Tapi duit belanjanya langsung masuk tabungan."Gajian? Maaf, Nda. Bukannya meremehkan, tapi aku berada di sini untuk mengasah kemampuanku," batin Luna.Dia kembali asyik dengan pekerjaannya setelah mengirim pesan pada Alfa. Apa Simbah Kakung baik-baik saja. Setelah putra bungsunya dijebloskan ke penjara oleh cucunya sendiri.Mengingat kesehatan beliau menurun belakangan.Hari itu berjalan lancar. Luna pulang agak telat untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pun dengan Finda yang rupanya datanya bermasalah. Harus fix har
"Benarkah itu hak Paman?"Tanya Alfa sambil menyeringai. Dia ulurkan tangan dengan Catur sigap memberinya sebuah dokumen. Benda yang kemudian di dorong Alfa ke hadapan Hadi.Lelaki itu buru-buru mengambil. Menelaah isinya untuk kemudian memucat wajahnya."Jadi, masih mau bilang itu hak Paman?"Hadi gemetar di tempatnya. Sikapnya membuat Andini keheranan. Pandangannya yang penuh puja pada Alfa. Kini beralih pada Hadi."Ada apa? Kapan aku bisa shopping lagi. Aku ada pertemuan dengan teman-temanku besok malam. Aku mau beli baju baru."Perkataan Andini kontan memancing amarah Hadi. "Shopping, shopping. Tahumu cuma menghabiskan uang saja! Giliran disuruh melayani suami kau lakukan setengah hati!""Ssstt, kalau mau bertengkar. Silakan keluar. Aku tidak tertarik dengan drama rumah tangga kalian." Usir Alfa halus."Alfa, tolong. Jangan lakukan ini ke Paman. Paman tidak bersalah.""Tidak bersalah? Mencuri uang orang lain Paman sebut tidak bersalah."Hadi bungkam seribu bahasa. Tak lagi mampu m
"Terima kasih sudah memberitahu saya, Paklek.""Sudah jadi tugas kami, Nduk. Den Mas ada di kamarnya. Mungkin sedang tidur."Luna mengangguk sebelum beranjak ke bagian Dalem Inggil yang lebih dalam. Tempat paling pribadi dari peninggalan Retno Setyowati.Putri Bima menarik napas begitu sampai di depan pintu kamar utama. Pintu gebyok penuh ukiran membuat Luna berpikir, kalau dia sedang berada di masa lalu.Itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah menemui Alfa. Memastikan keadaan pria itu baik-baik saja.Begitu dia masuk, Luna dapati Alfa terbaring di kasur mereka. Sepertinya memang tidur. Luna memeriksanya dan benar. Netra Alfa terpejam rapat dengan nafas teratur. Tidak ingin mengganggu. Luna pilih menjauh. Dia duduk di dekat jendela. Spot yang menyajikan keindahan tebing berbatu. Di bawahnya berhadapan langsung dengan samudra lepas.Debur ombak yang menghantam karang terdengar jelas. Ianya bak melodi yang membuat siapa saja terpukau. Termasuk Luna. Wanita itu perlu beberapa
"Kamu lihat dia?"Alfa bergeming di tempatnya berdiri. Dia pandangi Ratri yang tengah duduk diam di dalam kamar perawatannya. Seperti yang Luna lihat tempo hari. Tatapan mata wanita itu kosong. Tidak ada lagi Ratri yang penuh ambisi. Tidak ada Ratri yang ber-make up tebal.Wanita di depan Aro sepenuhnya berbeda.Ratri bukan lagi wanita sombong, yang pura-pura lembut dan baik hati di hadapan banyak orang."Itu karena dia berhenti memberi tumbal. Mereka balas mengganggunya. Menuntut tumbal."Suara Nan muncul di telinga Alfa. Bersamaan dengan itu dia melihat sejumlah makhluk tidak kasat mata mengitari Ratri."Tidak akan sembuh?""Itu akibatnya berurusan dengan kami. Selalu ada konsekuensi jika kalian berurusan dengan kami. Apalagi sampai minta sesuatu, lalu mereka minta imbalan."Alfa terdiam mendengar jawaban Nan. Apapun yang dikatakan Luna sama sekali tidak masuk ke rungunya. Alfa sepenuhnya tenggelam dalam lamunannya."Alfa kamu dengar aku kan? Maafkan dia ya.""Maafkan dia? Tidak se
"Lama amat," protes Rina yang akhirnya memesan bakso lebih dulu karena kelamaan menunggu Luna. "Pak dosen banyak tanya." Luna menggertakkan gigi. Ingat bagaimana dia berakhir menindih tubuh Alfa. Dengan lelaki itu tersenyum puas. Tangan Alfa bertengger manis di pinggang Luna kemudian turun menje
Luna mengepalkan tangan di bawah meja. Jantungnya berdegup kencang laksana genderang perang yang ditabuh bertalu-talu. Kemarahannya memuncak. Kenapa juga dia harus bertemu mantan menyebalkan itu di sini. "Ya Tuhan, jauh-jauh aku melarikan diri. Kenapa masih juga dipertemukan. Mana jadi dosenku lag
"Dijodohkan? Yang benar saja!" Gerutu Luna sambil mengelap piring yang baru saja dicuci. "Tidak! Itu tidak mungkin. Mana mungkin kami dijodohkan. Kak Rio sama si buaya itu pasti bohong." Luna pilih denial untuk membuat hatinya lebih tenang. Ingatannya kembali ke kejadian dua tahun lalu. Saat Al
"Copet!" Teriakan itu sontak membuat semua kepala menoleh ke arah yang sama. Tak berapa lama sejumlah orang mulai mengejar sesosok pria yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans. Laki-laki yang diduga sebagai tersangka pencopet. "Kejar dia! Jangan sampai lolos! Enak saja mencopet di wilayah ki







