เข้าสู่ระบบ"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"Seorang pelayan keluarga Hadi membukakan pintu. Restu berdiri di ambangnya."Bilang pada Ndoromu, saya ingin bertemu. Ada urusan penting."Sang pelayan mengangguk patuh. Restu dibiarkan menunggu di ruang tamu. Dia duduk di kursi ukir kayu jati klasik.Mata elang Restu sibuk memindai. Rumah ini dan furniture-nya terlalu mewah untuk pengangguran macam Hadi. Dan tukang shopping seperti Andini.Restu tahu, Hadi licik. Pria itu punya segudang cara untuk mendapatkan kekayaan tanpa perlu mengeluarkan keringat.Padahal sosok seperti dirinya. Bahkan seorang Alfa perlu begadang untuk menghasilkan uang. Perlu memeras otak agar modal mereka berputar lagi.Sedang Hadi, jam sepuluh saja masih belum buka mata. Restu siap angkat kaki. Ketika suara langkah terdengar mendekat.Pria itu mengangkat pandangan. Sampai dia jumpai sosok yang membuat Restu refleks mengumpat. "Demit mana lagi ini."Dari arah lantai dua. Andini menuruni tangga dengan cepat. Kakinya telanjang. S
"Pulang dan istirahatlah. Jangan dengarkan dia."Titah Hadiwijaya membuat Hadi yang baru datang bersama Andini menggeram.Alfa lantas menggandeng Luna. Membawanya pergi dari sana setelah pamit pada semua orang. Keduanya abaikan teriakan penuh kemarahan dari Hadi."Dia masih belum terima tahta diberikan pada Kaisar?""Orang tamak sepertinya tidak akan pernah terima apalagi puas dengan apa yang sudah ada di tangannya. Itulah kenapa Kakek sama sekali tidak mempertimbangkan dia untuk jadi penerus."Luna mengangguk paham. Mereka masuk ke mobil yang sudah disediakan oleh Jerri dan Restu. Dua orang yang ekspresinya bertolak belakang.Jerri masih dengan raut wajah kesal. Sementara Restu dengan kenetralannya. Restu memang setenang Kaisar dalam menghadapi sebuah situasi."Aku heran, kalian baru bertengkar seminggu full. Sekarang sudah mesra lagi. Yang kemarin pura-pura ya." Jerri tak tahan untuk berkomentar."Aku tidak perlu menjelaskan. Kau akan paham jika pernah mengalaminya. Betul tidak Rest
Pengakuan Alfa membuat Luna terbelalak. Jadi selama ini pria itu juga punya rasa padanya. Jadi rasa sukanya tidak bertepuk sebelah tangan."Na, aku tahu kebodohanku telah menyakitimu. Tapi mulai hari aku usahakan hal itu tidak terjadi lagi. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku, aku tidak harus apa jika tidak ada dirimu."Alfa menundukkan kepala. Ia biarkan air mata menuruni pipinya. Sosok yang selalu tampak kuat dan menyebalkan di depan Luna. Kini menunjukkan sisi lain.Pria itu terisak untuk beberapa waktu hingga sentuhan tangan Luna membuatnya mendongak."Aku paling tidak bisa melihatmu terluka. Aku mencemaskanmu, Al."Demi apapun, rasa bahagia menyeruak di dada Alfa. Definisi cinta bukan melulu melalui kata aku cinta padamu. Tapi ada bentuk lain yang bisa menggambarkan perasaan itu.Dan Luna menunjukkannya dengan cara lain. Alfa segera memeluk Luna. Mendekap erat tubuh ringkih sang istri yang balas mengusap punggungnya."Kita mulai lagi dari awal ya? Cecar aku jika ada yang tid
"Dia menarik gugatannya. Dia tidak akan bercerai darimu sampai kapanpun."Keheningan jatuh di antara kakek dan cucu. Di depan keduanya sudah terhidang dua cangkir teh yang asapnya masih mengepul.Wangi melati menyeruak di antara mereka. Selain itu ada pisang rebus juga ubi rebus yang jadi pendamping acara minum teh mereka."Alfa, dia mencintaimu. Kamu tahu itu.""Aku pernah menyakitinya, Kek."Hadiwijaya memiringkan kepala. "Motifnya?""Tiga tahun lalu, ketika aku baru berpacaran dengan Luna. Ada orang yang menerorku. Dia mengancamku.""Awalnya aku tidak peduli. Sampai Ibu kecelakaan. Bayangkan Kek, Ibu yang punya kemampuan melindungi diri saja tidak luput dari kejaran mereka. Bagaimana dengan Luna."Alfa menghela napas. "Jadi aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Selain itu aku harus fokus pada proyekku. Aku tidak mau dia terluka. Dan perhatianku terbagi."Alfa mengakhiri penjelasannya."Yang pada akhirnya kamu sendiri yang terluka. Yang kamu sampai opname di ICU berhari-ha
Alfa yang tengah dalam posisi berlutut, melotot mendapati Luna berada di ambang pintu Kedhaton. "Luna," sebutnya lirih.Sementara yang dipanggil lekas berlari lantas ikut berlutut di depan Alfa."Ngapain kamu ke sini? Kaisar! Bawa dia pergi.""Mbah Kung, jangan hukum Alfa. Saya yang salah."Alfa mendelik mendengar perkataan Luna."Menghukum Alfa? Memangnya apa yang aku lakukan?" Hadiwijaya tersenyum tipis melihat kedatangan sang cucu mantu."Mbah Kakung mau cambuk Alfa. Jangan, Kung.""Dia melakukan kesalahan. Sudah sepatutnya kena hukum.""Jangan, Kung. Saya yang salah. Alfa tidak salah. Ampuni dia, Kung."Alfa memandang tajam pada Kaisar. Sosok yang kini duduk manis di sisi kiri. Ekspresinya datar tapi sarat makna. Lebih tepatnya antusias akan drama sepupunya."Kalau rumah tangga kalian gagal. Itu adalah salahnya. Sebagai lelaki sudah sepantasnya dia menjaga istrinya. Bukannya malah membuat kamu tidak bahagia. Tidak nyaman hingga berakhir pisah.""Kung, bukan begitu. Saya bisa jel
"Kenapa kamu gak bilang?!""Aku mana tahu. Restu saja diam. Gak pernah kasih tahu apapun soal urusan istana. Kalau mau ngamuk, jangan sama aku. Tapi sama dia."Luna terbelalak ketika Jerri malah lebih galak dibanding dirinya. Wanita itu lantas menoleh pada Kaisar. Sosok yang kini sedang menghubungi seseorang.Raut wajahnya jelas panik. Walau demikian Kaisar coba bersikap tenang. "Tidak ada yang mau bicara. Sepertinya Mas Alfa sudah merencanakakan semua."Tubuh Luna merosot lemas. Air mata kembali menggenang di matanya yang bengkak."Apa dia rela kehilangan semua." Jerri kembali bertanya. Matanya fokus ke jalanan di depan. Sesekali bibirnya mengumpat ketika lampu merah menghadang. Ingin sekali dia menerjang jika tidak ingat dua orang yang tengah dia bawa."Kamu pernah dengar kan. Kalau dia rela melepasnya kalau dia mau.""Aku mana tahu kalau taruhannya harta peninggalan ibunya." Rahang Jerri mengetat. Sorot matanya tajam mengunci sang nyonya dari spion tengah."Dalam aturan istana k
"Dijodohkan? Yang benar saja!" Gerutu Luna sambil mengelap piring yang baru saja dicuci. "Tidak! Itu tidak mungkin. Mana mungkin kami dijodohkan. Kak Rio sama si buaya itu pasti bohong." Luna pilih denial untuk membuat hatinya lebih tenang. Ingatannya kembali ke kejadian dua tahun lalu. Saat Al
"Copet!" Teriakan itu sontak membuat semua kepala menoleh ke arah yang sama. Tak berapa lama sejumlah orang mulai mengejar sesosok pria yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans. Laki-laki yang diduga sebagai tersangka pencopet. "Kejar dia! Jangan sampai lolos! Enak saja mencopet di wilayah ki
Di tempat lain, seorang pria berperawakan tinggi besar, baru keluar dari air port. Seorang pria mengiringi langkahnya. Kaca mata hitam, sukses menyembunyikan tatapan elang sang pria. "Di mana dia?" "Jadi dosen di kota Yogyakarta." Tawa kecil menyambut jawaban sang asisten. "Main dosen-dosenan rup
"Kita mulai materinya. Dengarkan dan simak baik-baik. Karena akan ada tugas setelah ini."Gumam keberatan, kecewa membahana di seluruh kelas. Bisa Luna lihat, Alfa sempat mengedipkan sebelah mata padanya. Gadis itu berdecak kesal. Dia ingat bagaimana semalam Alfa memasukkannya paksa ke mobil. Me







