LOGIN"Wifey?" Finda bergumam. Menirukan ucapan Alfa barusan. Setelahnya gemuruh terdengar seantero hall. Ketika Alfa menggandeng Lana menuju podium. Luna menunduk sepanjang jalan. Malu sekaligus tersipu dengan tindakan Alfa. Sedang sorak sorai tak percaya menggema di tempat itu. "Astaganaga. Istrinya pak dosen adalah Luna." "Unbelievable. Sungguh tidak bisa dipercaya." "Yang disembunyikan selama ini ternyata teman dekat kita. Gelo!" Kali ini Agus yang bicara sambil bertepuk tangan. "Nda! Masak kamu gak tahu sama sekali soal ini!" Finda tersentak ketika Ruth mengeplak lengannya. Mereka benar-benar tak terima dengan fakta ini. Terlalu membuat jantungan, syok. Darah tinggi mungkin. "Suer! Aku gak tahu. Pak dosen gak pernah muncul kalau aku lagi sama dia. Haish!" Finda kesal sendiri. Sementara itu di podium. Ada Luna yang menyembunyikan diri di belakang punggung lebar suamimya. Tak berani menunjukkan wajahnya. Bukan karena dia tidak mau dipublikasikan. Hanya saja dia belum siap. Apala
"Selanjutnya kami panggilkan Saudari Amara Luna Narendra dari fakultas ekonomi. Lulus dengan dengan IPK 3,90.""Magna cumlaude?!"Citra nyaris berteriak dari tempatnya duduk. Di depan sana, terpampang di layar besar. Luna sedang berjalan menuju podium untuk menjalani seremoni wisuda.Wajah naturalnya berbinar menerima ijazah. Tubuhnya yang ramping tampak elegan berbalut kebaya lilac. Yah, Luna si pecinta ungu. Apapun momennya ungu warnanya.Wanita itu melambaikan ijazahnya pada keluarganya yang duduk di tingkat dua. "I did it!" Teriaknya tanpa suara. Setelah itu tubuh Luna tenggelam ketika teman lain datang untuk memeluknya. Finda, Ruth dan Agus. Mereka wisuda bersama setelah sempat terseok waktu mengerjakan skripsi. Tidak masalah. Usaha keras mereka berbuah manis.Di tengah kehebohan acara wisuda. Diam-diam Luna mencari satu sosok yang sejak tadi tak terlihat. Alfa, lelaki itu hanya mengantarnya sampai ke gerbang. Sebelum dia bergabung dengan dosen, dekan dan rektor lain di podium
Hari-hari Alfa kian bahagia dan berbunga-bunga. Kala frasa "aku juga mencintaimu" terucap dari bibir Luna hari itu.Seperti memasuki era baru. Pernikahan Alfa dan Luna yang pada awalnya karena terpaksa. Kini berakhir menemukam dermaganya. Bukan untuk berlabuh. Tapi untuk melanjutkan perjalanan menggunakan biduk yang sama.Tak lagi berlayar dengan kapal yang berbeda. Alfa dan Luna mengukuhkan pernikahan mereka sukses melewati trial pertama. Dua orang itu benar-benar seperti pasangan yang dimabuk asmara. Tapi versi halal. Jadi mau melakukan apa saja tidak masalah.Tidak ada batas. Tak ada larangan. Bebas.Pertama kali mereka go publik ke pernikahan Restu dengan Nia. Kenapa mereka berani melakukannya. Sebab Nia menggelar pesta pernikahan di kampung halaman orang tuanya.Tidak ada orang kampus yang diundang. Jadi aman. Sesuai permintaan Restu. Resepsi untuk kolega akan diadakan sendiri di hall sebuah hotel di kota. Dan Luna tidak perlu menghadirinya. Dia hanya duduk di hotel yang sudah
Luna tersentak. Walau dia tahu kebenarannya, tetap saja dia terkejut. "Itu, itu. Maaf, Lex. Aku tidak bermaksud menyakitimu."Salah tingkah, juga rasa bersalah menyergap Luna."Jangan begitu. Aku tidak menyalahkamu. Aku sendiri yang salah. Seharusnya aku turuti kata Lilo. Dia suruh aku tembak kamu.""Tapi aku terlalu takut kehilanganmu. Aku tahu kamu cuma anggap aku teman."Alex menatap intens pada Luna. Sosok yang juga tengah memandangnya. Alex tersenyum, walau terpaksa."Kaget ya.""Aku tidak tahu harus bagaimana," aku Luna terus terang."Ya sudah, begini saja. Gak perlu gimana gimana.""Kamu gak marah sama aku?""Marah, buat apa. Aku yang memulainya. Harusnya aku siap dengan konsekuensinya."Netra Luna berkaca-kaca. "Jangan menangis, nanti suamimu marah. Atau dia akan cemburu padaku."Luna mengeplak lengan Alex. Pria itu ikut tertawa. Rasanya sakit, sakit sekali. Tapi Alex tidak ingin memaksakan diri.Memaksakan agar Luna menerima dirinya. Atau memaksakan hatinya untuk menghapus
Luna mencengkeram stang motornya. Coba mengatasi gentar yang menyusup di hati. Meski dia bisa bela diri. Tetap saja Luna merasakan yang namanya takut.Cukup lama Luna dibuat bertanya-tanya soal siapa yang menyerobot laju motornya. Hingga si pengendara keluar. Dari takut, wajah Luna berubah murka. "Brengsek! Aku pikir siapa main hadang jalan orang."Yang dimaki hanya menggulung senyum."Maaflah, aku langsung kemari begitu dapat laporan Andini nyerang kamu. Waktu aku datang, eh situ lagi makan cilok. Berarti kamu gak apa-apa.""Cuma lecet sedikit. Sudah ke dokter tadi.""Pulang kalau begitu.""Naik motor aja," pinta Luna sambil mengedip manja."Astaga, kakiku turah panjangnya, Na. Jadi kayak anak bayi naik mobil-mobilan."Lana tertawa sambil melingkarkan tangan di pinggang sang suami. Benar sekali, Alfalah yang memotong laju motornya. "Masih mau jajan?" Alfa menoleh melalui bahunya."Cari bakul kwetiau yuk.""Ayok, aku pengen makan nasi goreng.""Alamat balik lagi ke kota."Luna tert
"Kenapa tanya padaku?"Luna bertanya setelah beberapa saat terdiam."Siapa tahu kamu tahu.""Aku bukan intel," kilah Luna."Iya juga. Sudahlah, aku balik kerja dulu. Kalau gak selesai, aku harus lembur kata Mbak Mira. Apa kabar nasib skripsiku. Tingga penutup juga dari kapan tahu gak kelar-kelar.""Sama dong kalau gitu," sahut Luna mengiyakan."Tapi yang penting bulan depan kita bisa gajian. Bisa buat beli bensin."Luna menggulung senyum. Gajian? Tiap bulan dia juga gajian. Tapi duit belanjanya langsung masuk tabungan."Gajian? Maaf, Nda. Bukannya meremehkan, tapi aku berada di sini untuk mengasah kemampuanku," batin Luna.Dia kembali asyik dengan pekerjaannya setelah mengirim pesan pada Alfa. Apa Simbah Kakung baik-baik saja. Setelah putra bungsunya dijebloskan ke penjara oleh cucunya sendiri.Mengingat kesehatan beliau menurun belakangan.Hari itu berjalan lancar. Luna pulang agak telat untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pun dengan Finda yang rupanya datanya bermasalah. Harus fix har
Di tempat lain, seorang pria berperawakan tinggi besar, baru keluar dari air port. Seorang pria mengiringi langkahnya. Kaca mata hitam, sukses menyembunyikan tatapan elang sang pria. "Di mana dia?" "Jadi dosen di kota Yogyakarta." Tawa kecil menyambut jawaban sang asisten. "Main dosen-dosenan rup
"Kita mulai materinya. Dengarkan dan simak baik-baik. Karena akan ada tugas setelah ini."Gumam keberatan, kecewa membahana di seluruh kelas. Bisa Luna lihat, Alfa sempat mengedipkan sebelah mata padanya. Gadis itu berdecak kesal. Dia ingat bagaimana semalam Alfa memasukkannya paksa ke mobil. Me
Luna protes sepanjang jalan, entah ke mana Alfa membawanya. "Eh pak dosen. Tanggung jawab dong. Situ ngadain kelas tambahan, tapi situ malah melarikan diri. Satu lagi, saya gak mau dijodohin sama Bapak." "Itu bukan salah saya. Asistennya saja gak kompeten! Dengar ya Luna, bukan saya yang nentuin
"Lama amat," protes Rina yang akhirnya memesan bakso lebih dulu karena kelamaan menunggu Luna. "Pak dosen banyak tanya." Luna menggertakkan gigi. Ingat bagaimana dia berakhir menindih tubuh Alfa. Dengan lelaki itu tersenyum puas. Tangan Alfa bertengger manis di pinggang Luna kemudian turun menje







