LOGINSinopsis: Rian adalah penulis novel romantis komedi yang sangat perfeksionis. Saat tengah menggarap kisah terbaru tentang Arka, sang tokoh utama pria yang dingin dan sempurna, serta Kinan, gadis ceroboh nan manis, sebuah kecelakaan aneh justru menyeret Rian masuk ke dalam draf cerita buatannya sendiri.
View More"Tatap matanya, Arka, lalu ucapkan dialog eskalasi ketertarikan dengan nada bariton yang menggoda," gumam Rian sambil mengetik diatas keyboard.
Rian Pratama, seorang Pria berusia 25 tahun, yang memiliki profesi sebagai penulis novel komedi romantis dan menjunjung tinggi perfeksionisme. Dan dia tidak akan pernah membiarkan celah logika sekecil apa pun di buku terbarunya. Di layar monitor laptop, adegan pertemuan antara Arka yang merupakan tokoh utama pria yang dingin, sempurna, dan berwajah pahatan dewa, bertemu dengan Kinan, si gadis ceroboh berhati lembut, sedang memasuki puncaknya. Dalam bab ini, hubungan mereka diceritakan sedang tidak baik-baik saja. Setelah merampungkan draf cerita hingga pada bab 3, Rian mulai menyusun detail world-building untuk adegan mereka selanjutnya. Rian membuat sketsa layout dengan latar; Sebuah cafe untuk tempat mereka bertemu nanti, sebuah bangunan yang bergaya vintage dengan dinding berwarna pastel lembut, aroma kue vanila yang menguar di setiap sudut ruangan, serta alunan musik jazz pelan yang menenangkan. Semua tatanan meja, kursi kayu estetik, hingga rak buku di sudut ruangan dibuat sedemikian rupa agar suasananya tampak hidup. Cafe tersebut diberi nama " Cafe D'Amour." Sebuah nama yang memiliki makna 'Penuh Cinta'. Namun, tepat setelah Rian merampungkan deskripsi lingkungan kafe tersebut, sebuah insiden terjadi. Secangkir kopi hitam tumpah tersenggol siku tangan kanannya. Cairan pekat itu tumpah seketika tepat di atas papan keyboard sambungan kabel USB tambahan yang terhubung langsung ke stopkontak utama dinding. "ZRAK!" Kilatan listrik berwarna biru terang tiba-tiba menyambar jari-jarinya. Sensasi terbakar yang luar biasa menusuk saraf, membuat pandangannya mendadak gelap gulita. Tubuhnya terasa melayang, seolah ditarik paksa ke dalam pusaran angin berkecepatan tinggi yang terbuat dari ribuan lembar kertas berisikan teks cerita yang baru saja ditulis. *** Begitu kesadarannya kembali perlahan, aroma wangi kue vanila yang manis dan bisingnya lalu-lintas kafe menyapa indra penciumannya. Rian mengerjap-ngerjapkan mata berkali-kali. "Ruangan ini ... Ruangan ini ... Bukan kamarku yang berantakan. Dinding kafe ini dicat dengan warna pastel yang lembut, dan dihiasi rak-rak buku estetik yang sama persis seperti yang kubuat dalam deskripsi rinci Bab 3 naskahku!" batin Rian yang ingat sekali tentang tempat ini. Belum selesai dengan rasa penasarannya, Rian dikejutkan lagi oleh suara dari seorang Wanita yang terdengar dari posisi sebelahnya.. "Ehm ... Permisi, Mas?" Sebuah suara lembut yang sangat familiar membuatnya mendongak kaget. Jantungnya seketika mencelos jatuh ke lambung. Seorang gadis berambut messy bun sebahu dengan gaun merah muda selutut berdiri di hadapannya. Rian kenal perempuan itu. Dia Kinan.Tokoh utama wanita yang baru saja diciptakannya dua jam yang lalu. Di tangannya, sebuah nampan berisi dua cangkir teh hampir tumpah karena ia tampak kebingungan menatap Rian lekat-lekat. "Kamu ... bukan pelanggan biasa yang ada di meja ini." Kinan mengerjap polos sambil memiringkan kepalanya dengan manis. "Kenapa kamu muncul di sini tiba-tiba? Jas dan tas kerjamu tampak asing sekali..." sambung Kinan. Sebelum Rian sempat merespons, pintu kaca kafe terbuka dengan dentingan lonceng kecil yang nyaring. Sosok tinggi berjas rapi berwarna hitam dengan potongan rambut klimis dan tatapan mata setajam elang melangkah masuk dengan langkah tegas. Arka adalah tokoh utama pria yang digambarkan dingin, sempurna, kaya raya, dan sama sekali tidak pernah tersenyum pada siapa pun. Arka langsung berjalan lurus ke arah meja mereka, matanya menatap Rian penuh selidik. "Siapa kamu?" tanya Arka dingin."Dan kenapa kau memegang tangan wanitaku?!" Baik Arka maupun Kinan sama sekali tidak mengetahui bahwa dDia adalah Rian, sang penulis yang menciptakan eksistensi mereka di atas kertas. Bagi mereka, Rian hanyalah seorang pria asing misterius yang mendadak muncul entah dari mana, dan mengacaukan jalannya pertemuan pertama mereka. Rian menunduk spontan. "Sial ... Baru kuperhatikan, tangan kananku ternyata sedang menggenggam erat pergelangan tangan Kinan karena kaget sewaktu terjatuh ke dunia ini tadi!" batin Rian di dalam hati. Kinan menoleh ke arah Arka dengan ekspresi terkejut, lalu kembali menatap Rian. Alih-alih merasa ketakutan atau berlari ke pelukan Arka sesuai skenario aslinya,. Kinan justru semakin mengeratkan genggamannya di tangan Rian. "Aku tidak tahu kenapa ... Tapi, jantungku berdegup jauh lebih kencang saat melihatmu, bukan saat bersama pria arogan itu. Dia sama sekali bukan tipeku ... Kamu yang justru menghuni hatiku ..." bisik Kinan pelan tepat di telinga Rian, namun suara itu cukup keras untuk didengar oleh Arka. Rian menelan ludah dengan susah payah, lalu meraba ransel kerjanya. Laptop di dalamnya ternyata ikut terbawa ke dalam dunia fiksi ini. Ia benar-benar heran dan terkejut dengan kejadian ini. "Mati aku ... Tokoh utama ku sendiri, Kinan, baru saja menolak pangeran sempurnanya dan memilih sang penulis amatir yang tersesat ini sebagai 'selingkuhan' rahasianya. T, tanpa mereka berdua sadari bahwa akulah dalang di balik takdir hidup mereka." Ucap Rian dalam hati. "Ya ampun Tuhan … bagaimana ini bisa terjadi?!" batin Rian panik sendiri. Belum selesai rasa penasaran Rian hilang, tiba-tiba Arka berusaha menarik tangan Kinan dengan kasar dari genggamannya. "Tenang Tuan Arka, kamu sepertinya salah paham. Aku bisa menjelaskannya padamu!" kata Rian mencoba menenangkan hati Arka. "Simpan semua bualanmu, dasar penjilat!" Arka mengatakan kalimat itu persis seperti apa yang biasanya terlintas dalam pikiranku saat Rian menulis karakternya. Namun, yang membuat bulu kuduk Rian meremang, sekarang Arka mengucapkan suara itu dengan jenis suara yang benar-benar Rian bayangkan selama ini. Suara rendah yang datar, tegas, tanpa banyak intonasi emosional, namun memiliki otoritas yang besar dan mengintimidasi. Kinan tidak melepaskan tangannya dari Rian, justru dia semakin mengeratkan genggamannya, seolah tindakan itu semakin memancing emosi Arka hingga batas maksimal. "Tenang ... Arka, tenang! Aku ini ..." teriak Rian panik. Situasi di dalam cafe semakin kacau. Pengunjung fiktif di meja lain mulai berbisik-bisik melihat keributan di sudut ruangan. Otak Rian berputar keras mencari cara untuk menghentikan amukan sang tokoh utama pria sebelum dia benar-benar menghajarnya habis-habisan di dunia ciptaannya sendiri. Tiba-tiba, sebuah ide nekat muncul di kepala Rian. Mengingat dDia adalah penciptanya, jadi dia tahu persis rahasia terbesar apa saja yang sedang membebani pikiran Arka di dalam alur cerita bab ini.'sebuah konflik rahasia perusahaan keluarganya yang belum sempat dibuka pada bab-bab awal.' Dengan sisa-sisa keberanian yang ada, Rian menatap tepat ke dalam manik mata tajam Arka, lalu mendesiskan kalimat, dengan nada meyakinkan.: "Atau kau ingin aku membongkar soal kebocoran data keuangan PT Sinar Abadi yang sedang digelapkan oleh wakil direktur utamamu di belakang layar, Tuan Arka?" Seketika itu juga, gerakan tangan Arka yang hendak melayangkan pukulan berhenti. Wajahnya yang tadinya dipenuhi amarah mendadak pucat pasi menatap Rian dengan mata terbelalak tak percaya. Nafasnya seperti tercekat di tenggorokan. "Aa..a..apa ... Apa katamu?" tanya Arka bergetar. "Bagaimana ... bagaimana mungkin kamu tahu soal kebocoran data PT Sinar Abadi? Laporan rahasia itu bahkan baru dipegang olehku dan belum ada satupun orang di luar dewan direksi yang mengetahuinya!" Kinan ikut terkejut, lalu menatap bergantian antara Rian dan Arka dengan mata membelalak takjub. "Arka? Perusahaan keluargamu sedang ada masalah besar? Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku?" "Bukan urusanmu, Kinan!" tukas Arka panik. "Jawab aku! Siapa sebenarnya kau?! Dari mana kau bisa tahu masalah internal perusahaanku sedetail itu? Apakah kau mata-mata yang disewa oleh pamanku untuk menjatuhkanku?!" bentak Arka. Rian menelan ludah dengan susah payah untuk menahan rasa takut.Sedan hitam klasik yang dikemudikan Arka melaju mulus membelah jalanan kota yang kembali normal. Sisa-sisa garis kode teks merah dan hijau di langit senja telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh langit malam berbintang yang tenang. Tidak ada lagi suara noise digital atau pemandangan bangunan yang terurai menjadi piksel. Di kursi penumpang depan, Kinan menyandarkan kepalanya pada jendela, membiarkan angin malam menyapu wajahnya setelah ketegangan luar biasa di markas PT Sinar Abadi. Sementara itu, Rian masih terpaku menatap layar ponselnya yang menampilkan satu baris teks asing berukuran mikro. Baris kode itu tidak berasal dari draf novel yang ia tulis."[Peringatan: Root sistem tidak dikenal mendeteksi anomali baru di luar bab ini.]" Rian mengerutkan kening, jari-jarinya dengan cepat mengetuk tombol back untuk menutup sistem, tetapi layar ponselnya justru bergetar hebat. Huruf-huruf di atas layar bergeser sendiri membentuk kalimat baru: [Bab Tambahan: Karakter Pengamat
Di atas kepala Rian, Kinan, dan Arka, langit kota bukan lagi bentangan senja biasa, melainkan layar raksasa penuh kode biner merah dan hijau yang berkedip liar. Glitch sistem semakin parah, meretakkan realitas fiksi tempat mereka terjebak. "Lewat sini! Ikuti jalan setapak menuju gerbang samping!" teriak Arka sambil memegang erat flash drive dan map dokumen di dalam jaketnya. Rian berlari di posisi paling belakang, sesekali menoleh ke arah jendela lantai dasar yang baru saja mereka masuki. Dari balik kaca yang pecah, bayangan sang paman, yang merupakan antagonis utama, sedang menatap tajam dengan tubuh yang separuhnya telah terurai menjadi piksel cahaya putih. Suara hancur nya sistem atau error digital berderak nyaring di udara, mirip suara radio rusak yang memekakkan telinga. "Dia mengejar kita?!" tanya Kinan terengah-engah, langkah kakinya bergemuruh di atas paving block taman. "Bukan cuma dia!" balas Rian, napasnya mulai memburu. "Karena ini bab akhir dari konflik lokal, skri
"Itu ruangannya," bisik Arka sambil menunjuk pintu tersebut dengan dagunya.Arka bergerak maju dengan langkah sangat hati-hati, memastikan tidak ada penjaga atau sistem keamanan otomatis yang aktif di koridor darurat itu, sedangkan Rian dan Kinan mengekor tepat di belakangnya. Rian mengeluarkan laptop dari dalam tas ranselnya, memastikan daya baterainya masih cukup untuk melakukan proses dekode sistem. Sebagai penulis yang merancang seluruh latar belakang karakter di dunia ini, Rian tahu persis bahwa paman Arka menyukai teka-teki logika klasik berbasis angka, sebuah kebiasaan kecil yang sengaja Rian sisipkan dalam lembar deskripsi tokoh antagonis tersebut. Arka membuka pintu sebab pintu itu tidak terkunci, tetapi panel kunci digital di sampingnya memancarkan cahaya merah berkedip, menandakan sistem keamanan brankas di dalam ruangan sedang dalam status siaga tinggi. "Sistem keamanannya menggunakan enkripsi lapis ganda," kata Arka dengan kening berkerut, menatap layar sentuh b
"Jelaskan padaku secara rinci, Rian," suara bariton Arka memecah keheningan. "Kalau badai teks itu terus meluas, berapa lama waktu yang kita miliki sebelum seluruh distrik Kota Lumina terhapus total?" tanya Arka. Rian berhenti mengetik sejenak, lalu mendongakkan kepalanya menatap Arka dengan mengerutkan keningnya. "Berdasarkan kecepatan peluruhan sistem yang kulihat di layar laptopku, kita tidak punya banyak waktu. Mungkin kurang dari dua jam sebelum 'glitch' ini mencapai inti pusat kota dan memicu 'system crash' permanen." Kinan melangkah mendekati meja kerja dengan wajah pucatnya. "Lalu, apa hubungannya dengan ancaman paman Arka di kantor? Kenapa badai ini bisa terjadi bertepatan dengan konflik perusahaan PT Sinar Abadi?" tanya Kinan. Rian menghela napas panjang, bersandar lelah pada kursinya. "Karena di dalam alur cerita novel rom-com yang kutulis, konflik eksternal perusahaan dan konflik romansa utama saling terikat secara paralel." "Ketika Kinan menolak Arka di k












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.