Partager

Bab 5

Auteur: Hiro Sayank
last update Date de publication: 2026-10-12 19:40:56

"Semesta!" panggil Embun kaget, suara lirihnya refleks terucap begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.

Andi yang berdiri di samping mereka mengerutkan alisnya bingung. "Kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya?"

"Kita teman satu angkatan di kampus, Yah," sahut Semesta cepat sebelum Embun sempat menjawab.

"Oh, ya? Benarkah!" Andi tampak terkejut sekaligus sangat gembira mendengar hal itu. "Bagus kalau begitu! Jadi kalian tidak perlu canggung lagi untuk saling kenal. Oh iya, Embun, bagaimana Semesta kalau di kampus? Dia anak yang baik dan penurut, kan?"

Embun mendadak bingung. Tenggorokannya terasa menyempit. Mana mungkin ia berterus terang kepada sang ayah tentang kelakukan buruk Semesta di kampus, mulai dari sering membolos kuliah, menjadi ketua pimpinan organisasi yang paling ditakuti, bertindak sesuka hati, hingga gosip miringnya yang sering bergonta-ganti pasangan mahasiswi.

"Semesta anak yang baik kok, Yah. Dia mahasiswa teladan di kelas. Ya kan, Mbun?" potong Semesta mendahului. Ia berbohong tanpa ragu.

Pada kenyataannya, sikap Semesta di kampus berbanding terbalik dengan apa yang ia tampilkan di rumah. Di kampus ia terkenal badung dan sering mengabaikan aturan, namun entah mengapa selalu lolos dari sanksi pihak akademis. Embun sangat heran melihat perubahan drastis itu. Di rumah, Semesta tampak menjadi sosok anak yang ramah dan penurut kepada ayahnya.

Semesta kemudian melirik ke arah Embun. Lewat tatapan matanya, ia seolah menuntut Embun untuk mendukung kebohongannya.

"I-iya, Yah ... Semesta anak yang baik di kampus," jawab Embun terpaksa sambil membenarkan kacamata tebalnya yang sedikit melorot.

"Embun, mulai hari ini kamu tidak boleh memanggil kakakmu hanya dengan namanya saja. Panggil dia Kak Semesta," tegur Alya lembut.

"Iya, Bu," jawab Embun patuh.

"Ayo, Embun! Ayah antar kamu melihat kamar barumu di lantai atas," ajak Andi bersemangat.

Embun mengangguk gembira. Ia mengikuti langkah ayah tirinya menaiki anak tangga menuju lantai dua. Di sana, kamar baru Embun terletak tepat di sebelah kamar Semesta.

Andi mendorong pintu salah satu kamar. Mereka melangkah masuk, dan Embun seketika terperangah. Sebuah kamar dengan nuansa warna merah muda yang manis terpampang di depan matanya. Kamar itu terlihat sangat rapi dan cantik.

"Bagaimana? Kamu suka kamarnya?" tanya Andi penuh harap.

"Suka banget, Yah! Embun suka sekali!" jawab Embun antusias.

"Maaf ya kalau ukurannya tidak terlalu besar. Kalau kamu kurang nyaman, kamu bisa bertukar kamar dengan kakakmu. Kamar Semesta ukurannya jauh lebih luas," tawar Andi.

"Nggak perlu, Yah! Begini saja Embun sudah senang sekali," tolak Embun halus.

"Benarkah?"

"Iya, benar, Yah."

Andi menghela napas lega melihat binar gembira di mata putri tirinya. "Syukurlah kalau kamu suka. Kamu mau langsung istirahat di kamar, atau mau mengobrol dulu dengan kami di bawah?"

"Mau mengobrol dulu, Yah," jawab Embun.

Mereka pun kembali turun ke lantai bawah. Di ruang tengah, Alya sedang duduk mengobrol bersama Semesta di atas sofa empuk di depan televisi berlayar lebar. Andi dan Embun bergabung duduk bersama mereka. Suasana hangat tercipta lewat obrolan ringan dan sesekali diselingi candaan Andi yang membuat mereka tertawa.

Beberapa saat kemudian, Andi berdiri dari sofa. "Ayo, Sayang, aku tunjukkan kamar kita," ajaknya pada Alya.

Alya mengangguk manis. Pasangan suami istri baru itu berjalan menuju kamar utama yang berada di sisi kanan ruangan, meninggalkan Embun dan Semesta berdua di ruang tengah.

Jarak duduk mereka kini hanya dipisahkan oleh lengan sofa. Embun mencoba memberanikan diri membuka percakapan. "Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu ternyata saudaraku. Aku senang banget, aku__"

Ucapan Embun terhenti begitu saja. Semesta tiba-tiba merogoh saku, mengeluarkan headset, lalu memasangnya di kedua telinganya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau menoleh sedikit pun, Semesta bangkit dari duduknya dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan Embun sendirian.

Sikap dingin itu sangat kontras dengan keramahannya di hadapan sang ayah tadi. Namun, bagi Embun, sikap seperti inilah yang paling ia kenali dari Semesta selama berada di lingkungan kampus, dingin, acuh tak acuh, dan sukar dijangkau.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 8

    Setibanya di ruang kelas, Embun disambut oleh Prili, satu-satunya teman dekatnya di kampus. Prili juga sering menjadi sasaran perundungan dari mahasiswa lain, dan nasib yang sama itulah yang membuat mereka berdua menjadi akrab."Embun! Kamu dicari Bu Fitri. Kamu disuruh ke ruang dosen," kata Prili saat Embun meletakkan tas ransel di atas mejanya.Wajah Embun langsung berbinar gembira. Ia tahu Bu Fitri ingin membicarakan mengenai beasiswa akademik yang ia ajukan beberapa bulan lalu. "Oke, Prili. Aku langsung ke sana ya!"Embun berjalan penuh semangat menuju ruang dosen yang terletak di gedung utama fakultas. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, ia melangkah masuk."Ada apa, Embun?" sapa Pak Burhan, dosen Sejarah Perkuliahan yang sedang duduk di dekat pintu masuk."Saya disuruh Bu Fitri ke sini, Pak," jawab Embun sopan."Bu Fitri sedang ke perpustakaan pusat sebentar. Kamu tunggu saja di mejanya," ujar Pak Burhan."Baik, Pak."Embun berjalan menuju meja Bu Fitri yang berada di deretan

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 7

    "Jangan, Kak! Tolong jangan lakukan itu!" ujar Embun ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat."Kenapa lo nggak mau? Seks itu enak. Nanti lo bakal gue buat senang dan ketagihan. Setelah itu, lo pasti pengin lagi," ucap Semesta sambil terus melangkah mendekat. Ia menghimpit Embun hingga punggung gadis itu terbentur meja belajar."Aku nggak mau! Pokoknya aku nggak mau! Aku__" Embun tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Isakannya pecah dan air matanya menetes di hadapan Semesta.Semesta menghentikan gerakannya. Ia mendengus sebal melihat linangan air mata Embun. "Ah, nggak asyik lo! Malah menangis!" katanya sambil menarik diri dan menjauh."Pergi sana! Sebelum benar-benar gue perkosa!" ancam Semesta tajam.Tanpa membuang waktu, Embun berbalik dan berlari keluar dari kamar Semesta. Ia buru-buru masuk ke kamarnya sendiri, mengunci pintu, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Embun memeluk bantal erat-erat, menahan tubuhnya yang masih bergetar karena rasa takut.***Keesokan harinya, suasan

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 6

    Embun menyelesaikan kegiatannya menata pakaian ke dalam lemari kayu di kamar barunya. Setelah itu, ia menyusun barang-barangnya yang lain: buku-buku literatur perkuliahan, beberapa boneka kesayangannya, dan hiasan kecil di atas meja belajar. Kamar bernuansa merah muda itu kini terlihat semakin hidup dan cantik. Embun merasa sangat puas dan nyaman.Brukkkk!Embun menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk. Rasa lelah setelah seharian melewati kejadian berat di kampus dan proses pindah rumah membuat tenaganya terkuras habis. Ia berniat memejamkan mata sejenak."Pus ... Pus ...!"Sayup-sayup terdengar suara panggilan pelan dari luar. Embun menegakkan duduknya dan menajamkan pendengaran."Pus ... Sini, Pus ...."Suara itu bersumber dari area balkon. Embun beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan menuju pintu kaca tebal yang menghubungkan kamarnya dengan balkon luar. Begitu pintu didorong, angin malam yang dingin langsung menyapa kulitnya.Embun mengedarkan pandangan. Di balkon sebelah,

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 5

    "Semesta!" panggil Embun kaget, suara lirihnya refleks terucap begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.Andi yang berdiri di samping mereka mengerutkan alisnya bingung. "Kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya?""Kita teman satu angkatan di kampus, Yah," sahut Semesta cepat sebelum Embun sempat menjawab."Oh, ya? Benarkah!" Andi tampak terkejut sekaligus sangat gembira mendengar hal itu. "Bagus kalau begitu! Jadi kalian tidak perlu canggung lagi untuk saling kenal. Oh iya, Embun, bagaimana Semesta kalau di kampus? Dia anak yang baik dan penurut, kan?"Embun mendadak bingung. Tenggorokannya terasa menyempit. Mana mungkin ia berterus terang kepada sang ayah tentang kelakukan buruk Semesta di kampus, mulai dari sering membolos kuliah, menjadi ketua pimpinan organisasi yang paling ditakuti, bertindak sesuka hati, hingga gosip miringnya yang sering bergonta-ganti pasangan mahasiswi."Semesta anak yang baik kok, Yah. Dia mahasiswa teladan di kelas. Ya kan, Mbun?" potong Semest

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 4

    Sebuah sepeda motor berhenti di depan sebuah area indekos. Semesta dan Alin masuk ke dalam salah satu kamar di sana. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah. Semesta mendaratkan ciumannya di leher Alin, memberikan kecupan-kecupan kecil sambil jemarinya meremas bagian tubuh mahasiswi baru itu di balik pakaian kuliahnya. Alin mendesah pelan, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Semesta.Namun, di tengah-tengah aksinya, Semesta mendadak menghentikan gerakannya. Ia duduk di tepi kasur, membiarkan Alin yang kini berganti posisi mendekatinya."Pegang punya gue," perintah Semesta pendek.Alin menurut. Jemarinya yang lihai mulai membuka resleting celana Semesta dan melakukan gerakan lembut yang membuat Semesta memejamkan mata. Selama ini, Semesta memiliki masalah tersembunyi yang sulit ia kendalikan. Ia memiliki dorongan seksual berlebih yang membuatnya selalu mencari pelampiasan bersama mahasiswi-mahasiswi yang mengejar-ngejar dirinya. Semesta kembali menarik Alin ke dalam

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 3

    Suara bel tanda berakhirnya jam perkuliahan berdering nyaring dari pengeras suara gedung fakultas. Bagi Embun, kampus adalah tempat yang terasa seperti neraka. Begitu mendengar suara tersebut, ia merasa sangat lega karena penderitaannya untuk hari ini telah usai. Embun bergegas memasukkan buku-buku literatur perkuliahannya ke dalam tas ransel. Ia menggendong tasnya di punggung, lalu bangkit dari tempat duduknya dengan niat untuk segera pulang ke kosan.Namun, baru beberapa langkah bergerak menuju pintu keluar kelas, Maudi, Angel, dan Vanesa tiba-tiba muncul dan berdiri menghadang jalannya. Mereka sengaja mengunci langkah Embun agar mahasiswi itu tidak bisa keluar ruangan."Mau ke mana lo?" gertak Angel dengan nada galak."A-aku mau pulang," jawab Embun dengan suara terbata-bata. Firasat buruk langsung menyelimuti hatinya."Lo belum boleh pulang! Lo harus ikut kita dulu!" perintah Angel tegas.Tanpa menunggu persetujuan Embun, Maudi langsung memegang pergelangan tangan kanan Embun, sed

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status