Partager

Bab 6

Auteur: Hiro Sayank
last update Date de publication: 2026-10-12 19:41:38

Embun menyelesaikan kegiatannya menata pakaian ke dalam lemari kayu di kamar barunya. Setelah itu, ia menyusun barang-barangnya yang lain: buku-buku literatur perkuliahan, beberapa boneka kesayangannya, dan hiasan kecil di atas meja belajar. Kamar bernuansa merah muda itu kini terlihat semakin hidup dan cantik. Embun merasa sangat puas dan nyaman.

Brukkkk!

Embun menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk. Rasa lelah setelah seharian melewati kejadian berat di kampus dan proses pindah rumah membuat tenaganya terkuras habis. Ia berniat memejamkan mata sejenak.

"Pus ... Pus ...!"

Sayup-sayup terdengar suara panggilan pelan dari luar. Embun menegakkan duduknya dan menajamkan pendengaran.

"Pus ... Sini, Pus ...."

Suara itu bersumber dari area balkon. Embun beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan menuju pintu kaca tebal yang menghubungkan kamarnya dengan balkon luar. Begitu pintu didorong, angin malam yang dingin langsung menyapa kulitnya.

Embun mengedarkan pandangan. Di balkon sebelah, yang hanya dibatasi pagar besi rendah dengan balkon kamarnya, terlihat sosok Semesta. Mahasiswa itu sedang duduk bersila di atas lantai keramik sambil memangku seekor kucing berbulu oranye.

Semesta tidak menyadari kehadiran Embun. Ia tampak begitu larut mengelus bulu halus kucing itu dengan gerakan yang sangat lembut.

"Kamu dari mana saja, hemm? Jangan bikin bingung lagi ya," gumam Semesta pelan. Ia bahkan memeluk dan mengecup gemas kepala kucing tersebut.

Embun terpaku di tempatnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari Semesta. Wajah dingin yang biasanya dipenuhi tatapan tajam saat di kampus kini terlihat begitu hangat dan manis. Garis senyum tulus mengembang di bibirnya. Semesta yang ada di hadapannya saat ini terasa seperti orang yang sama sekali berbeda dari sosok pembuat rusuh di lingkungan fakultas.

Setttt!

Tiba-tiba Semesta menoleh ke samping, menangkap basah Embun yang sedang memerhatikannya. Pandangan mereka beradu. Embun mendadak salah tingkah karena tertangkap mengintai.

"Maaf, Kak ... aku tadi tidak sengaja__"

Belum sempat Embun menyelesaikan kalimatnya, Semesta sudah berdiri dari lantai. Tanpa membalas ucapan Embun, ia menggendong kucingnya lalu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kaca balkon rapat-rapat.

Embun menghela napas panjang menanggapi kepribadian saudara tirinya yang berubah-ubah itu. Ia akhirnya kembali ke kamar untuk mandi dan bersiap tidur.

***

Tepat pukul sembilan malam, Embun sudah mengenakan piyama tidurnya. Sesuai kebiasaannya, ia mulai merebahkan diri di atas tempat tidur empuknya. Posisi tubuhnya terlentang menatap langit-langit kamar.

Namun, rasa kantuk tak kunjung datang. Mungkin karena suasana kamar baru yang masih terasa asing baginya. Embun terus berganti posisi, miring ke kanan, miring ke kiri, hingga tengkurap, tetapi matanya tetap terjaga.

"Ohhhh ... Ahhhh ...."

Sebuah suara samar mendadak menembus keheningan malam. Embun menahan napas.

"Suara apa itu?" gumamnya heran.

"Ahhh ... Ssssh ... Ohhhh ...."

Suara desahan itu terdengar semakin konsisten dan tidak berhenti. Embun memiringkan tubuhnya mendekati dinding kamar yang membatasi kamarnya dengan kamar Semesta. Ia menempelkan telinganya di permukaan tembok dingin tersebut.

Suara itu terdengar jauh lebih jelas dari balik dinding.

Embun menjauhkan telinganya kembali. Ia mencoba bersikap acuh tak acuh dan memejamkan mata rapat-rapat. Esok hari ia harus ada jadwal kuliah pagi dan tidak boleh bangun kesiangan. Namun, suara desahan wanita dan pria yang saling menyahut itu terus terdengar, merambat melalui dinding dan mengganggu ketenangannya.

Rasa risih dan tidak nyaman membuat Embun tidak bisa menahannya lagi. Ia memutuskan untuk bertindak. Embun beranjak dari tempat tidur, berjalan mendekati pintu kamar, lalu melangkah menuju pintu kamar Semesta yang berada tepat di sebelah.

Tok ... tok ... tok …

"Kak Semesta!" panggil Embun pelan dari luar pintu.

Tidak ada jawaban dari dalam, hanya suara desahan yang masih terus terdengar nyaring.

"Kak!" panggil Embun sekali lagi.

Karena tetap tidak ada sahutan, Embun memutar gagang pintu secara iseng. Pintu itu ternyata tidak dikunci dari dalam dan langsung terbuka sedikit.

Embun mengintip ke dalam. Ruangan itu tampak sepi dan tidak ada sosok Semesta di atas tempat tidur. Embun memberanikan diri melangkah masuk, bermaksud mencari sumber suara yang mengganggu tidurnya. Ia yakin suara itu berasal dari laptop yang menyala di atas meja belajar Semesta.

"Maaf ya, Kak, aku lancang masuk," bisik Embun pelan sambil mengendap-endap mendekati meja.

Namun, saat matanya menatap layar laptop yang menyala terang, langkah Embun terhenti seketika. Matanya membelalak kaget. Layar itu menampilkan adegan film dewasa yang memperlihatkan sepasang pria dan wanita tanpa busana sedang melakukan hubungan intim dengan gerakan-gerakan sensual.

Sensasi aneh mendadak menjalar ke seluruh tubuh Embun. Dadanya berdesir hebat, jantungnya terasa berdebar kencang, dan rasa hangat yang asing mendadak menyeruak di dalam dirinya. Pemandangan di layar itu seolah menahannya untuk tetap diam terpaku.

"Kenapa? Lo juga mau coba melakukannya?"

Sebuah bisikan dingin terdengar tepat di dekat telinga Embun. Embun terperanjat kaget dan berbalik cepat.

Semesta sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. Mahasiswa itu menatap Embun dengan pandangan tajam yang dipenuhi aura mengintimidasi. Senyum tipis menyeringai muncul di wajahnya.

"Lo mau gue gituin?" tanya Semesta lagi, memangkas jarak di antara mereka.

"M-maksud Kak Semesta apa?" tanya Embun dengan suara gemetar, wajahnya makin memanas.

"Kita melakukan hubungan intim, Embun. Lo sama gue bercinta."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 8

    Setibanya di ruang kelas, Embun disambut oleh Prili, satu-satunya teman dekatnya di kampus. Prili juga sering menjadi sasaran perundungan dari mahasiswa lain, dan nasib yang sama itulah yang membuat mereka berdua menjadi akrab."Embun! Kamu dicari Bu Fitri. Kamu disuruh ke ruang dosen," kata Prili saat Embun meletakkan tas ransel di atas mejanya.Wajah Embun langsung berbinar gembira. Ia tahu Bu Fitri ingin membicarakan mengenai beasiswa akademik yang ia ajukan beberapa bulan lalu. "Oke, Prili. Aku langsung ke sana ya!"Embun berjalan penuh semangat menuju ruang dosen yang terletak di gedung utama fakultas. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, ia melangkah masuk."Ada apa, Embun?" sapa Pak Burhan, dosen Sejarah Perkuliahan yang sedang duduk di dekat pintu masuk."Saya disuruh Bu Fitri ke sini, Pak," jawab Embun sopan."Bu Fitri sedang ke perpustakaan pusat sebentar. Kamu tunggu saja di mejanya," ujar Pak Burhan."Baik, Pak."Embun berjalan menuju meja Bu Fitri yang berada di deretan

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 7

    "Jangan, Kak! Tolong jangan lakukan itu!" ujar Embun ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat."Kenapa lo nggak mau? Seks itu enak. Nanti lo bakal gue buat senang dan ketagihan. Setelah itu, lo pasti pengin lagi," ucap Semesta sambil terus melangkah mendekat. Ia menghimpit Embun hingga punggung gadis itu terbentur meja belajar."Aku nggak mau! Pokoknya aku nggak mau! Aku__" Embun tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Isakannya pecah dan air matanya menetes di hadapan Semesta.Semesta menghentikan gerakannya. Ia mendengus sebal melihat linangan air mata Embun. "Ah, nggak asyik lo! Malah menangis!" katanya sambil menarik diri dan menjauh."Pergi sana! Sebelum benar-benar gue perkosa!" ancam Semesta tajam.Tanpa membuang waktu, Embun berbalik dan berlari keluar dari kamar Semesta. Ia buru-buru masuk ke kamarnya sendiri, mengunci pintu, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Embun memeluk bantal erat-erat, menahan tubuhnya yang masih bergetar karena rasa takut.***Keesokan harinya, suasan

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 6

    Embun menyelesaikan kegiatannya menata pakaian ke dalam lemari kayu di kamar barunya. Setelah itu, ia menyusun barang-barangnya yang lain: buku-buku literatur perkuliahan, beberapa boneka kesayangannya, dan hiasan kecil di atas meja belajar. Kamar bernuansa merah muda itu kini terlihat semakin hidup dan cantik. Embun merasa sangat puas dan nyaman.Brukkkk!Embun menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk. Rasa lelah setelah seharian melewati kejadian berat di kampus dan proses pindah rumah membuat tenaganya terkuras habis. Ia berniat memejamkan mata sejenak."Pus ... Pus ...!"Sayup-sayup terdengar suara panggilan pelan dari luar. Embun menegakkan duduknya dan menajamkan pendengaran."Pus ... Sini, Pus ...."Suara itu bersumber dari area balkon. Embun beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan menuju pintu kaca tebal yang menghubungkan kamarnya dengan balkon luar. Begitu pintu didorong, angin malam yang dingin langsung menyapa kulitnya.Embun mengedarkan pandangan. Di balkon sebelah,

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 5

    "Semesta!" panggil Embun kaget, suara lirihnya refleks terucap begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.Andi yang berdiri di samping mereka mengerutkan alisnya bingung. "Kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya?""Kita teman satu angkatan di kampus, Yah," sahut Semesta cepat sebelum Embun sempat menjawab."Oh, ya? Benarkah!" Andi tampak terkejut sekaligus sangat gembira mendengar hal itu. "Bagus kalau begitu! Jadi kalian tidak perlu canggung lagi untuk saling kenal. Oh iya, Embun, bagaimana Semesta kalau di kampus? Dia anak yang baik dan penurut, kan?"Embun mendadak bingung. Tenggorokannya terasa menyempit. Mana mungkin ia berterus terang kepada sang ayah tentang kelakukan buruk Semesta di kampus, mulai dari sering membolos kuliah, menjadi ketua pimpinan organisasi yang paling ditakuti, bertindak sesuka hati, hingga gosip miringnya yang sering bergonta-ganti pasangan mahasiswi."Semesta anak yang baik kok, Yah. Dia mahasiswa teladan di kelas. Ya kan, Mbun?" potong Semest

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 4

    Sebuah sepeda motor berhenti di depan sebuah area indekos. Semesta dan Alin masuk ke dalam salah satu kamar di sana. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah. Semesta mendaratkan ciumannya di leher Alin, memberikan kecupan-kecupan kecil sambil jemarinya meremas bagian tubuh mahasiswi baru itu di balik pakaian kuliahnya. Alin mendesah pelan, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Semesta.Namun, di tengah-tengah aksinya, Semesta mendadak menghentikan gerakannya. Ia duduk di tepi kasur, membiarkan Alin yang kini berganti posisi mendekatinya."Pegang punya gue," perintah Semesta pendek.Alin menurut. Jemarinya yang lihai mulai membuka resleting celana Semesta dan melakukan gerakan lembut yang membuat Semesta memejamkan mata. Selama ini, Semesta memiliki masalah tersembunyi yang sulit ia kendalikan. Ia memiliki dorongan seksual berlebih yang membuatnya selalu mencari pelampiasan bersama mahasiswi-mahasiswi yang mengejar-ngejar dirinya. Semesta kembali menarik Alin ke dalam

  • Abang Tiriku Yang Nakal   Bab 3

    Suara bel tanda berakhirnya jam perkuliahan berdering nyaring dari pengeras suara gedung fakultas. Bagi Embun, kampus adalah tempat yang terasa seperti neraka. Begitu mendengar suara tersebut, ia merasa sangat lega karena penderitaannya untuk hari ini telah usai. Embun bergegas memasukkan buku-buku literatur perkuliahannya ke dalam tas ransel. Ia menggendong tasnya di punggung, lalu bangkit dari tempat duduknya dengan niat untuk segera pulang ke kosan.Namun, baru beberapa langkah bergerak menuju pintu keluar kelas, Maudi, Angel, dan Vanesa tiba-tiba muncul dan berdiri menghadang jalannya. Mereka sengaja mengunci langkah Embun agar mahasiswi itu tidak bisa keluar ruangan."Mau ke mana lo?" gertak Angel dengan nada galak."A-aku mau pulang," jawab Embun dengan suara terbata-bata. Firasat buruk langsung menyelimuti hatinya."Lo belum boleh pulang! Lo harus ikut kita dulu!" perintah Angel tegas.Tanpa menunggu persetujuan Embun, Maudi langsung memegang pergelangan tangan kanan Embun, sed

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status