Se connecterSebuah sepeda motor berhenti di depan sebuah area indekos. Semesta dan Alin masuk ke dalam salah satu kamar di sana. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah. Semesta mendaratkan ciumannya di leher Alin, memberikan kecupan-kecupan kecil sambil jemarinya meremas bagian tubuh mahasiswi baru itu di balik pakaian kuliahnya. Alin mendesah pelan, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Semesta.
Namun, di tengah-tengah aksinya, Semesta mendadak menghentikan gerakannya. Ia duduk di tepi kasur, membiarkan Alin yang kini berganti posisi mendekatinya. "Pegang punya gue," perintah Semesta pendek. Alin menurut. Jemarinya yang lihai mulai membuka resleting celana Semesta dan melakukan gerakan lembut yang membuat Semesta memejamkan mata. Selama ini, Semesta memiliki masalah tersembunyi yang sulit ia kendalikan. Ia memiliki dorongan seksual berlebih yang membuatnya selalu mencari pelampiasan bersama mahasiswi-mahasiswi yang mengejar-ngejar dirinya. Semesta kembali menarik Alin ke dalam pelukannya, menghujani dada gadis itu dengan ciuman panas hingga kancing kemeja Alin terlepas sebagian. Namun, di saat hasrat Semesta sedang memuncak, ponsel di dalam tas ranselnya tiba-tiba berdering nyaring. Drrrrrt ... Drrrrrt … "Sialan!" umpat Semesta kesal karena kegiatannya terganggu. Ia mengambil ponselnya dan melihat nama pemanggil di layar. Itu adalah telepon dari ayahnya, Andi. Semesta merapikan napasnya lalu mengangkat telepon tersebut. "Halo, Yah?" jawab Semesta dengan nada bicara yang berubah sopan dan ramah, sangat berbeda dari gayanya sehari-hari di lingkungan kampus. "Cepat pulang, Semesta! Sebentar lagi Ibu dan Adik barumu sampai di apartemen. Kamu harus menyambut mereka," kata Andi dari seberang telepon. "Baik, Yah. Semesta pulang sekarang," jawab Semesta tanpa bantahan. Ia segera menutup telepon, merapikan kemejanya yang sedikit kusut, lalu menyambar tas ransel perkuliahan miliknya. "Kak Semesta mau ke mana? Nggak jadi?" tanya Alin heran melihat Semesta yang bersiap pergi. "Gue harus pulang. Lain kali aja," jawab Semesta singkat. Tanpa memedulikan wajah kecewa Alin, Semesta melangkah keluar kamar kos dan langsung mengendarai motornya menuju rumah. *** Di dalam sebuah taksi yang sedang membelah jalanan kota, Embun duduk di samping ibunya, Alya. Setelah kejadian perundungan di kampus tadi, Embun sempat membersihkan diri seadanya di toilet umum sebelum pulang. Hari ini adalah hari penting bagi mereka. Mereka telah mengemas seluruh barang dari rumah kontrakan lama yang sudah mereka tempati selama lima tahun untuk pindah ke tempat tinggal yang baru. "Masih jauh ya, Bu?" tanya Embun membuka percakapan. "Sebentar lagi sampai, Sayang. Kenapa? Kamu udah nggak sabar mau ketemu Ayah?" goda Alya sambil tersenyum. "Iya, Bu," jawab Embun malu-malu. Embun memang belum pernah bertemu secara langsung dengan ayah tirinya. Seminggu yang lalu, ibunya menikah dengan seorang pria bernama Andi saat Embun sedang mengikuti ajang olimpiade sains mahasiswa di luar kota. Pernikahan itu berlangsung sederhana setelah proses perkenalan yang singkat melalui kerabat. "Ayah Andi orangnya baik kan, Bu?" tanya Embun memastikan. "Tentu saja baik. Kalau nggak baik, Ibu nggak mungkin mau menikah sama dia," jawab Alya terkekeh pelan. Taksi yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di halaman sebuah gedung apartemen yang cukup mewah. Embun membelalakkan matanya kagum melihat bangunan tinggi di hadapannya. "Ayah tinggal di sini, Bu?" tanya Embun heran. "Iya, Ayahmu tinggal di lantai tiga. Yuk turun!" ajak Alya. Keduanya keluar dari taksi sambil membawa koper besar masing-masing. Mereka naik menggunakan lift menuju lantai tiga dan berhenti tepat di depan pintu apartemen nomor 15. Alya memencet bel di sebelah pintu. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan memperlihatkan seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan wajah yang ramah. "Hai, Sayang!" sapa Andi langsung memeluk Alya dengan hangat. Setelah melepaskan pelukannya, pandangan Andi beralih kepada Embun yang berdiri di samping ibunya. "Ini Embun?" tanya Andi dengan senyum lebar. "Iya, ini Embun, putriku," jawab Alya sambil merangkul pundak Embun. "Halo, Om ... eh, maksud saya, Ayah!" kata Embun gugup hingga salah sebut, membuat Andi dan Alya tertawa bersama. "Jadi ini Embun? Sini, panggil Ayah," kata Andi hangat sambil membuka kedua tangannya lebar-lebar. Embun mendekat dan memeluk ayah tirinya itu. Perasaan hangat dan aman langsung menyelimuti hatinya. Ia merasa bersyukur karena ibunya mendapatkan pasangan yang sangat baik. "Ayo masuk! Jangan berdiri di luar terus," ajak Andi ramah. Mereka melangkah masuk ke dalam apartemen yang luas, bersih, dan tertata rapi. Tempat itu terasa sangat nyaman untuk ditinggali. "Semesta!" panggil Andi dengan suara agak keras ke arah lantai atas. "Ibu dan Adikmu sudah sampai! Sini turun, sambut mereka!" Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki menuruni tangga. Seorang mahasiswa tinggi berjalan santai mendekati mereka. "Embun, kenalin, ini putra Ayah. Mulai hari ini, dia adalah Kakak kamu," kata Andi memperkenalkan. Betapa kagetnya Embun saat mendongakkan kepala. Cowok yang berdiri di hadapannya, yang kini menjadi saudara tirinya, adalah Semesta. Teman satu angkatannya yang ditakuti di kampus, sekaligus cowok yang selama ini diam-diam ia kagumi dalam tulisan diary-nya. Semesta menatap Embun, lalu perlahan sebuah senyuman tipis dan ramah terukir di wajah tampannya, sebuah ekspresi lembut yang belum pernah sekalipun Embun lihat selama berada di kampus.Setibanya di ruang kelas, Embun disambut oleh Prili, satu-satunya teman dekatnya di kampus. Prili juga sering menjadi sasaran perundungan dari mahasiswa lain, dan nasib yang sama itulah yang membuat mereka berdua menjadi akrab."Embun! Kamu dicari Bu Fitri. Kamu disuruh ke ruang dosen," kata Prili saat Embun meletakkan tas ransel di atas mejanya.Wajah Embun langsung berbinar gembira. Ia tahu Bu Fitri ingin membicarakan mengenai beasiswa akademik yang ia ajukan beberapa bulan lalu. "Oke, Prili. Aku langsung ke sana ya!"Embun berjalan penuh semangat menuju ruang dosen yang terletak di gedung utama fakultas. Setelah mengetuk pintu beberapa kali, ia melangkah masuk."Ada apa, Embun?" sapa Pak Burhan, dosen Sejarah Perkuliahan yang sedang duduk di dekat pintu masuk."Saya disuruh Bu Fitri ke sini, Pak," jawab Embun sopan."Bu Fitri sedang ke perpustakaan pusat sebentar. Kamu tunggu saja di mejanya," ujar Pak Burhan."Baik, Pak."Embun berjalan menuju meja Bu Fitri yang berada di deretan
"Jangan, Kak! Tolong jangan lakukan itu!" ujar Embun ketakutan. Tubuhnya gemetar hebat."Kenapa lo nggak mau? Seks itu enak. Nanti lo bakal gue buat senang dan ketagihan. Setelah itu, lo pasti pengin lagi," ucap Semesta sambil terus melangkah mendekat. Ia menghimpit Embun hingga punggung gadis itu terbentur meja belajar."Aku nggak mau! Pokoknya aku nggak mau! Aku__" Embun tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Isakannya pecah dan air matanya menetes di hadapan Semesta.Semesta menghentikan gerakannya. Ia mendengus sebal melihat linangan air mata Embun. "Ah, nggak asyik lo! Malah menangis!" katanya sambil menarik diri dan menjauh."Pergi sana! Sebelum benar-benar gue perkosa!" ancam Semesta tajam.Tanpa membuang waktu, Embun berbalik dan berlari keluar dari kamar Semesta. Ia buru-buru masuk ke kamarnya sendiri, mengunci pintu, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur. Embun memeluk bantal erat-erat, menahan tubuhnya yang masih bergetar karena rasa takut.***Keesokan harinya, suasan
Embun menyelesaikan kegiatannya menata pakaian ke dalam lemari kayu di kamar barunya. Setelah itu, ia menyusun barang-barangnya yang lain: buku-buku literatur perkuliahan, beberapa boneka kesayangannya, dan hiasan kecil di atas meja belajar. Kamar bernuansa merah muda itu kini terlihat semakin hidup dan cantik. Embun merasa sangat puas dan nyaman.Brukkkk!Embun menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk. Rasa lelah setelah seharian melewati kejadian berat di kampus dan proses pindah rumah membuat tenaganya terkuras habis. Ia berniat memejamkan mata sejenak."Pus ... Pus ...!"Sayup-sayup terdengar suara panggilan pelan dari luar. Embun menegakkan duduknya dan menajamkan pendengaran."Pus ... Sini, Pus ...."Suara itu bersumber dari area balkon. Embun beranjak dari tempat tidur, melangkah pelan menuju pintu kaca tebal yang menghubungkan kamarnya dengan balkon luar. Begitu pintu didorong, angin malam yang dingin langsung menyapa kulitnya.Embun mengedarkan pandangan. Di balkon sebelah,
"Semesta!" panggil Embun kaget, suara lirihnya refleks terucap begitu menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.Andi yang berdiri di samping mereka mengerutkan alisnya bingung. "Kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya?""Kita teman satu angkatan di kampus, Yah," sahut Semesta cepat sebelum Embun sempat menjawab."Oh, ya? Benarkah!" Andi tampak terkejut sekaligus sangat gembira mendengar hal itu. "Bagus kalau begitu! Jadi kalian tidak perlu canggung lagi untuk saling kenal. Oh iya, Embun, bagaimana Semesta kalau di kampus? Dia anak yang baik dan penurut, kan?"Embun mendadak bingung. Tenggorokannya terasa menyempit. Mana mungkin ia berterus terang kepada sang ayah tentang kelakukan buruk Semesta di kampus, mulai dari sering membolos kuliah, menjadi ketua pimpinan organisasi yang paling ditakuti, bertindak sesuka hati, hingga gosip miringnya yang sering bergonta-ganti pasangan mahasiswi."Semesta anak yang baik kok, Yah. Dia mahasiswa teladan di kelas. Ya kan, Mbun?" potong Semest
Sebuah sepeda motor berhenti di depan sebuah area indekos. Semesta dan Alin masuk ke dalam salah satu kamar di sana. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah. Semesta mendaratkan ciumannya di leher Alin, memberikan kecupan-kecupan kecil sambil jemarinya meremas bagian tubuh mahasiswi baru itu di balik pakaian kuliahnya. Alin mendesah pelan, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Semesta.Namun, di tengah-tengah aksinya, Semesta mendadak menghentikan gerakannya. Ia duduk di tepi kasur, membiarkan Alin yang kini berganti posisi mendekatinya."Pegang punya gue," perintah Semesta pendek.Alin menurut. Jemarinya yang lihai mulai membuka resleting celana Semesta dan melakukan gerakan lembut yang membuat Semesta memejamkan mata. Selama ini, Semesta memiliki masalah tersembunyi yang sulit ia kendalikan. Ia memiliki dorongan seksual berlebih yang membuatnya selalu mencari pelampiasan bersama mahasiswi-mahasiswi yang mengejar-ngejar dirinya. Semesta kembali menarik Alin ke dalam
Suara bel tanda berakhirnya jam perkuliahan berdering nyaring dari pengeras suara gedung fakultas. Bagi Embun, kampus adalah tempat yang terasa seperti neraka. Begitu mendengar suara tersebut, ia merasa sangat lega karena penderitaannya untuk hari ini telah usai. Embun bergegas memasukkan buku-buku literatur perkuliahannya ke dalam tas ransel. Ia menggendong tasnya di punggung, lalu bangkit dari tempat duduknya dengan niat untuk segera pulang ke kosan.Namun, baru beberapa langkah bergerak menuju pintu keluar kelas, Maudi, Angel, dan Vanesa tiba-tiba muncul dan berdiri menghadang jalannya. Mereka sengaja mengunci langkah Embun agar mahasiswi itu tidak bisa keluar ruangan."Mau ke mana lo?" gertak Angel dengan nada galak."A-aku mau pulang," jawab Embun dengan suara terbata-bata. Firasat buruk langsung menyelimuti hatinya."Lo belum boleh pulang! Lo harus ikut kita dulu!" perintah Angel tegas.Tanpa menunggu persetujuan Embun, Maudi langsung memegang pergelangan tangan kanan Embun, sed







