MasukMindy is a young woman who goes to study at an art school where paranormal events are said to occur, while she struggles to keep her scholarship, she will be forced to deal with these phenomena that constantly surround her.
Lihat lebih banyak“Ah… lebih cepat!”
“Gini? Hm?” “Jangan berhenti… ya, di situ…” Suara mereka berkelindan, menggema di kamar kos yang sempit dan pengap. Kamera bergoyang, memperlihatkan tubuh perempuan itu menunduk dengan rambut berantakan, sementara pria di bawahnya menahan napas, menatapnya dengan mata liar. “Aku nggak tahan lagi…” desis si perempuan, suaranya nyaris tenggelam oleh derit ranjang. “Sebentar lagi… tahan sedikit…” jawab pria itu, suaranya berat dan tertahan. Cahaya layar ponsel menyorot wajah lelaki yang menonton–rahang menegang, bibir setengah terbuka. Ia tak lagi sadar waktu, hanya terpaku pada suara dan gerakan di layar, tubuhnya perlahan menegang mengikuti ritme yang sama. Jemarinya mulai turun ke bawah, menyingkap selimut yang sudah berantakan… “Woy!” Pintu terbuka keras, suara itu memecah semuanya. Beni tersentak–panas yang tadi mendidih di dadanya mendadak berubah jadi rasa malu yang menyesakkan. “Aku kira kamu masih tidur!” seru Bagas, teman satu kosnya sudah terlanjur masuk. Matanya menyipit, menatap layar laptop Beni yang masih memamerkan adegan mesum, lalu ke posisi Beni yang kaku. “Wah, lagi latihan untuk cabang olahraga lima jari untuk Olimpiade, Bro? Apa gak lecet kalau pakai tangan?” “Kamu bisa nggak sih kasih tau dulu kalau mau masuk?” gerutu Beni sambil menutup laptopnya dengan kasar, wajahnya memerah. “Kan biasanya begini, Lagipula harusnya kamu kasih tulisan di depan–sedang latihan,” sahut Bagas sambil mengambil kerupuk dari meja berantakan. “Ngomong-ngomong, Ibu Kos tadi ngamuk. Katanya kita nunggak sewa tiga bulan dan akan mengusir kita. Uang kos kita yang kamu pakai sudah ada, kan?” “Iya gampang, bilang aja aku akan bayar minggu ini,” gumam Beni, mencoba terdengar meyakinkan padahal di dompetnya hanya tinggal recehan. “Minggu ini?” Bagas menyeringai. “Duitnya dari mana? Dari hasil nonton itu terus dijual screen-recording-nya?” candanya yang getir. “Banyak bacot kamu. Aku masih ada proyek,” bantah Beni lemah, menatap ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Dalam lamunan, Beni tak menyadari bahwa Bagas sudah berdiri di belakang pintu. “Ya udah deh, aku pergi dulu. Tapi saranku,” ucap Bagas sambil membuka pintu, “mending kamu cari pacar yang kaya. Lumayan, bisa dapat uang dengan cepat, dan...” Ia melirik ke arah laptop Beni yang baru saja ditutup, “…barangmu gak akan lecet karena sering dimainin pake tangan sendiri.” Senyumnya lebar sebelum pintu tertutup, meninggalkan Beni dalam keheningan yang menyiksa. Beni menarik napas dalam. “Aku harus menagih,” gumamnya pada diri sendiri. Dia membuka ponselnya dan membuka aplikasi pesan, mulai menghubungi klien-klien yang masih menunggak pembayaran. “Pak Andi, maaf mengganggu. Bagaimana dengan pembayaran video pernikahan anak Bapak? Sudah lewat dua minggu dari janji.” Balasannya datang beberapa menit kemudian. “Maaf, Beni. Uangnya lagi dipakai buat tambahan sewa rumah anak saya.” Dia mencoba yang lain. “Bu Sari, untuk pembayaran video dokumentasi seminar. Sudah ditransfer?” “Oh, Beni. Kantor tidak mau membayar videomu karena mereka kurang puas dengan hasilnya. Maaf ya, nanti aku coba untuk menegosiasi untuk pembayaranmu.” Satu per satu, pesan serupa berdatangan. Alasan yang beragam, tapi intinya sama: tidak mau untuk membayar jasanya. Kepalanya mulai pusing, tangan mengepal. “Bangsat! Semua tidak bisa diandalkan!” hardiknya pada layar ponsel, rasa frustrasinya memuncak. Matanya tertuju pada kamera SLR tua di sudut kamar, warisan satu-satunya dari ayahnya. “Kamera ini bukan sekadar alat, Nak,” bayangan suara ayahnya terngiang. “Dia adalah mata yang jujur, yang menangkap momen terpenting dalam hidup orang-orang.” Ayah Beni adalah seorang fotografer yang ramah dan profesional. Para pelanggan selalu puas dengan pelayanan sang ayah, jika ada komplain sang Ayah selalu siap bertanggung jawab. Dulu, di studio foto kecil ayahnya, kamera itu digunakan untuk mengabadikan senyum bahagia pengantin baru, sorak sorai keluarga yang berkumpul, cahaya kebahagiaan yang tulus. Kini, di tangannya, kamera yang sama hanya menjadi alat mengais recehan, merekam pernikahan-pernikahan yang ujung-ujungnya tak dibayar, atau dia tak mampu memenuhi permintaan pelanggan. Begitu jauh dari idealisme ayahnya yang mengutamakan visi artistik pribadi. Dengan napas berat, Beni mencoba menenangkan diri. “Mungkin masih ada proyek yang bisa diselesaikan,” gumamnya berusaha percaya diri. Dia membuka kembali laptop yang sempat ditutup akibat kedatangan Bagas. Tapi tiba-tiba layarnya menyala menjadi biru pekat—BLUESCREEN—dipenuhi kode-kode putih yang tak dipahaminya. Darah di kepalanya seakan membeku. “Tidak... jangan sekarang!” tangannya gemetar menekan-nekan keyboard dengan sia-sia. Semua data proyek yang sedang dikerjakan, file mentah video pernikahan klien, backup pekerjaan selama berbulan-bulan—semua ada di dalam sana. Tanpa laptop, ia benar-benar tak bisa menyelesaikan apapun untuk mendapat uang. “Sialan!” teriaknya, meninju bantal di sampingnya dengan segenap rasa frustasi yang memuncak. Kepalanya tertunduk dalam keputusasaan, sementara di sudut ruangan, kamera SLR tua ayahnya seolah menatapnya dengan pandangan penuh kekecewaan. Dunia terasa seperti runtuh sepenuhnya. Kemudian, dari tengah kepanikan dan kemarahannya yang membara, sebuah nada dering dari ponselnya memecah kesunyian. Getarannya terasa seperti sengatan listrik di atas meja. Dengan masih diselimuti emosi, ia menyambar ponselnya. Nomor tak dikenal berkedip di layar. “Halo! Benar ini Beni Visual.” Suara rendah seorang pria di seberang telepon. Beni langsung mengesampingkan amarah dan berganti dengan senyum harapan karena mengira penelepon itu seorang pelanggan. “Iya benar, ada yang bisa dibantu.” Jawab Beni dengan ramah menyambut pelanggan seperti biasanya. “Aku Rendra, Aku ingin membuat sebuah video dokumentasi. Untuk konsep dan detailnya bisakah kita bertemu? Aku tak suka membicarakan lewat telepon.” “Si..siap pak. Sekarang saya sedang luang.” Beni kegirangan karena angin keberuntungan berhembus ke arahnya. “Bagus sekali! Aku menunggumu di Kafe Miranti.” “Baik saya akan ke sana sekarang.” Mendengar nama kafe itu Beni tanpa pikir panjang langsung mengiyakan dan menutup telepon dengan tergesa-gesa karena sudah tak sabar. Beni bergegas menuju ke kafe Miranti yang memang kebetulan tak jauh dari tempat kosnya. Langkahnya terasa ringan karena dia akan mendapat klien baru untuk membayar sewa kosnya. Lima belas menit kemudian Beni tiba di Kafe, dia memperhatikan kondisi kafe yang memang saat itu sangat sepi. Seorang pria paruh baya duduk di sudut ruangan dekat jendela mengenakan jaket kulit dan topi berwarna hitam. Naluri Beni mengatakan bahwa pria itu adalah orang yang meneleponnya barusan. Dia mendekati pria tersebut meski ada sedikit keraguan. “Permisi! Apa benar anda Pak Rendra?” “Kamu Beni? Silahkan duduk!” Pria itu tersenyum ramah sambil menjabat tangan Beni. “Kamu sudah memesan minum?” “Nanti saja, Pak.” Balas Beni dengan senyum tak kalah ramah. “Baiklah, kita langsung saja menyambung pembicaraan di telepon tadi.” Rendra langsung berubah menjadi serius. Beni hanya mengangguk dengan berusaha mempertahankan senyum ramahnya. “Aku ingin membuat video. Aku butuh orang dan akan membayar 10 juta untuk satu video.” Beni mengerutkan kening seolah masih belum percaya apakah orang di hadapannya ini benar-benar serius. “Anda mau membuat video apa, Pak? Sampai berani membayar semahal itu.” Rendra tersenyum sambil mencondongkan badannya ke depan. “Aku ingin kau menjadi kameramen untuk video dewasa…”We went to where Vanessa's voice was heard, but she was nowhere to be seen. the same voice sounded in every room.-This is annoying.-We'll have to split up.-I don't think so, we'd get lost again.-You're right.We opened each of the doors and there was no one there, only cries and terrifying screams.-Carolina, I'm here," I heard Vanessa say, I turned around and saw her shadow walking away.We ran after her until we reached a room with no exit.-I thought I saw Vanessa.-Talvez wasn't her.-I'm sure it was.When we left the room, the corridor had changed shape, it had become a labyrinth with huge walls.-¿What the hell is going on?I saw Vanessa's shadow heading in another direction and I followed her, leaving Misti and Miranda behind.I didn't understand anything about this place, it didn't make any sense. I called Vanessa, but she kept running until she went through one of th
-¿Were you talking to someone?-No, I was just thinking out loud.-The school is almost empty.-¿Almost? ¿What are you talking about? There's no one in the halls.-No one besides Mindy.I kept hiding without saying a word.-I know you're in there Mindy, you can come out now.-No one is here, Moon.An invisible force pulled me by my feet dragging me out of my hiding place. Luna ordered her partner to blindfold me, she obeyed and everything became silent. I could feel them taking me to a place. When they took off the blindfold, I was bound hand and foot inside a red circle.Some hooded people were standing around it singing a song in a language I didn't understand. One of the hooded men stepped into the circle and approached me with a knife in his hand. He took off his hood and it was Luna's friend. The other hooded men did the same and I was surprised to see that they were my friends.Vanessa,
We were in drama class, the teacher asked us to do a trust exercise, the typical exercise in which you have to drop to be caught by your partner. The times I had to do it with Caroline, I ended up on the floor with bruises on my leg.-¿Are you okay? You've been very distracted.-¿Huh?-I said, you look weird today.-Sorry, I didn't sleep at all last night.-¿Because of the nightmares you told me about?-Yes.She was like that all day long, sitting in a corner and not communicating with anyone. Miranda told me that she used to scream in her sleep and wake up late at night.I was curious to know what she saw at night, so that night I slept with them, taking advantage of the fact that Lucia used to escape at night to go to her boyfriend's room.-This is going to be great, I never had a sleepover.-We can get in trouble for this.-I've never had a problem breaking the rules, ¿W
Dear Mom and Dad:My first day was quite interesting, I met some classmates that I liked very much, especially one named Carolina who told me something interesting about the academy, remember I told you that the boarding school was haunted, it seems that the rumors are true.Today I start the first day of school and I am nervous, but I will still do my best not to betray your trust.Love, Mindy.-Mindy, ¿are you ready?-Yes, just let me send this message and...done.-Let's go.Luckily I got the first class with Coni and Misti. When we were walking to the classroom, we saw a group of girls around a young man with blond hair. He ignored them when he saw Misti and approached us.-Sis, it's good to see you.-¿Sis?" said Coni and I at the same time.-¿What are you doing here?-Just like you, I came to learn.-It can't be.-¿Aren't you glad to see me after so long?
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.