分享

Pacar

作者: zuyyinald
last update publish date: 2026-10-02 22:13:34
Video pendek durasi sepuluh detik yang merekam kejadian di koridor lantai dua menyebar di grup-grup angkatan mereka dalam hitungan jam.

Berita tentang Tristan yang menghajar seorang mahasiswa tingkat dua demi melindungi seorang maba menjadi topik paling hangat yang dibicarakan dari kantin hingga pelataran parkir.

Di sudut kafe luar kampus, Serra menancapkan sedotan boba-nya ke dalam gelas plastik dengan sentakan kasar. Wajahnya yang terpoles riasan rapi tampak keruh penyesalan dan amarah.

Wa
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (1)
goodnovel comment avatar
Sweety
si Serra serra itu sok banget sih, yaa masa gak paham klo Tristan itu gak into you heyyyy...
查看全部評論

最新章節

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Di Titik Terendah

    Suasana kelas studio perancangan di kampus mendadak terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.Deby duduk di meja seberang, sibuk membolak-balik lembar laporan hidrologi tanpa ada niat sedikit pun untuk bersuara keras seperti biasa. Sesekali, gadis itu melirik ke arah kursi kosong di sudut ruangan—tempat Tristan biasa duduk bersama rentang meteran dan laptopnya.Berita duka tentang meninggalnya Adhiyaksa Kusuma menyebar dengan cepat di kalangan mahasiswa satu angkatan, terutama setelah insiden mendadak di rumah sakit beberapa hari lalu. Tidak ada yang berani membahasnya secara langsung di depan Anaia.Anaia sendiri duduk diam di sudut meja mereka. Pandangannya kosong menatap layar laptop yang menampilkan bab penutup laporan akhir, namun jemarinya tidak bergerak menyentuh tetikus sama sekali. Pikirannya melayang pada pesan teks terakhir yang ia kirimkan kemarin malam ke nomor Tristan—pesan sederhana yang hanya berisi: “Tris, kamu di mana?”Hingga detik ini, pesan itu hanya bercentang dua a

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Berita Kelam

    "Maaf..."Suara dokter itu terdengar pelan, memotong udara koridor yang mencekam.Di luar sana, sisa-sisa hujan gerimis masih menempel di kaca jendela besar Namun di dalam koridor ruang ICU ini, waktu seolah berhenti berdetak.Danendra tertegun sejenak, seakan otaknya menolak menerjemahkan suku kata yang baru saja diucapkan sang dokter. Pria paruh baya itu mengerjap, dasinya sudah lama melonggar di leher."Dok, maksudnya apa?" Danendra melangkah maju setengah langkah, nada suaranya naik satu oktaf—bukan lagi nada memerintah atau menekan seperti saat ia menelepon Tristan di kampus tadi, melainkan kepanikan mentah seorang adik yang menolak kehilangan. "Tadi dibilang masih bisa ditangani! Kenapa tiba-tiba...""Kami sudah melakukan prosedur resusitasi maksimal selama lebih dari empat puluh menit, Pak Danendra," jawab dokter utama dengan napas berat, menundukkan kepalanya sejenak sebagai tanda duka. "Kondisi organ vital pasien sudah terlalu lemah, dan riwayat komplikasi jantungnya membua

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Code Blue

    Taksinya melaju membelah kemerahan lampu rem kendaraan di Jalan TB Simatupang. Di dalam kabin mobil yang ber-AC dingin, udara terasa begitu padat hingga menyulitkan dada untuk mengembang sempurna.Tristan duduk di sisi jendela, menatap kosong pada titik-titik air hujan yang mulai menempel di kaca luar, lalu pecah tersapu angin. Sepanjang perjalanan, ia sama sekali tidak membuka suara. Pikirannya melayang bebas kembali ke masa-masa lampau—ke sebuah sore bertahun-tahun lalu ketika papa masih meluangkan waktu duduk di teras rumah, atau saat mereka bermain piano bersama sebelum kesibukan korporasi dan ambisi keluarga merenggut figur itu perlahan-lahan dari sisinya.Juga sebelum perselingkuhan dan kekerasan yang menimpa mamanya terjadi.Ia selalu membayangkan kebenciannya pada sang ayah akan bertahan selamanya. Ia mengira dirinya punya cukup alasan untuk terus memelihara jarak dan kecewa. Namun, kenyataan bahwa nyawa seseorang bisa surut dalam hitungan detik membuat pertahanan itu terasa

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Apa-apa yang masih milikku

    Tristan berdiri di depan pintu putar lobi, menarik napas dalam-dalam lalu menghempasnya perlahan. Di dalam saku celananya, layar ponsel bergetar lagi. Nama Danendra menyala terang untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu satu jam terakhir.Tristan mengabaikannya. Ia memilih mendongak sejenak, menatap puncak menara korporasi milik keluarganya sendiri—sebuah tempat yang seumur hidup ia hindari, dan hari ini, baru saja ia tolak mentah-mentah untuk dijadikan tempat bersembunyi.“Kamu baru saja menghancurkan masa depanmu sendiri, Tristan. Kamu nggak tahu apa yang sedang kamu hadapi,” bunyi penggalan pesan singkat dari sang paman yang baru saja masuk sesaat sebelum ia melangkah keluar lift.Tristan tidak membalas. Jari jemarinya justru mengeratkan genggaman pada tali ransel. Ia menjauhi zona perkantoran elit itu, untuk kembali ke kampus. Di sana, di meja panjang studio yang berantakan laptop dan beberapa teman satu kelompoknya, hidupnya masih masuk akal. Di sana, masalah diukur dari lemb

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Menunggu dengan Cemas

    Pukul sembilan lewat seperempat pagi.Udara di lantai dasar gedung perkantora di kawasan Sudirman terasa begitu kontras dengan suasana tenang di kampus. Di sini, segala sesuatunya bergerak cepat dalam balutan jas rapi, sepatu pantofel yang mengkilap, dan aroma kopi mahal bercampur kepanikan yang tak kasat mata.Tristan melangkah keluar dari dalam lift dengan kemeja hitam lengan panjang yang digulung sampai siku. Langkahnya mantap, meski semalam ia praktis tidak tidur barang sekejap pun. Di tangannya, sebuah map manila cokelat tipis berisi dokumen portofolio studinya tergenggam erat."Tris! Kamu baru datang?" suara berat memecah kebisingan lobi privat lantai sepuluh.Danendra muncul dari balik pintu kaca ruang rapat utama. Pria paruh baya berjas charcoal itu tampak mondar-mandir dengan ponsel di telinga sebelum akhirnya melihat keponakannya. Wajahnya menyiratkan kelegaan yang dipaksakan, disusul oleh raut tidak sabar begitu melihat penampilan Tristan yang sama sekali tidak mencerminka

  • Accidental Kiss With Senior Galak!   Luruh dan Runtuh

    Anaia duduk bersandar di tumpukan bantal di atas tempat tidur milik Tristan.Di pangkuannya, sebuah iPad tersaji menampilkan draf laporan studio perancangan, tetapi perhatiannya sama sekali tidak tertuju pada garis-garis digital di layar. Matanya terus mengikuti pergerakan Tristan yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi, menyeka rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.Tristan tidak mengenakan atasan—hanya celana sweatpants abu-abu tipis yang menggantung santai di pinggulnya. "Kamu harus istirahat, Tris," suara Anaia memecah keheningan kamar yang begitu privat itu. Suaranya lembut, merayap tenang di antara keheningan malam. "Badan kamu masih hangat dari semalam."Tristan menghentikan usapan handuknya. Ia melemparkan kain lembut itu ke atas kursi sofa di ujung ranjang, lalu berjalan mendekat. Kasur empuk itu sedikit bergeser saat Tristan naik dan merebahkan tubuh tinggi jangkungnya di samping Anaia, bersandar pada headboard yang sama hingga bahu mereka bersentuhan

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status