LOGINAnaia hanya ingin hidup tenang sebagai mahasiswi baru, tapi di hari pertama, ia justru terpaksa mencuri ciuman pertama pria asing demi kabur dari mantan kekasihnya. Ia pikir kemalangannya berakhir di situ, tapi ternyata ia salah karena pria yang diciumnya itu ternyata adalah Tristan Adyatma, kakak tingkatnya yang menyeramkan sekaligus ... putra bos ibunya!
View MoreBagi Anaia, tempat ini lebih mirip set film daripada kampus.
Dipandanginya deretan mobil mewah yang memenuhi parkiran halaman gedung administrasi. Ia berani jamin, harga satu mobil di sana bisa membuat Anaia mendapatkan pendidikan sampai menerima gelar doktor, paling tidak.
Gadis itu menghela napas. Tangannya masih menggenggam berkas penerimaan, bukti bahwa per hari ini, Anaia resmi menjadi mahasiswa di Cendekia Mulia, kampus paling elit di ibukota.
Sebagai gadis perantauan dari kota kecil yang menerima beasiswa penuh, jelas Anaia merasa beruntung. Meski begitu, tetap tidak bisa dipungkiri juga bahwa dirinya merasa gugup bila mengingat kenyataan bahwa kuliah di sini berarti ia harus berhadapan dengan orang-orang berstatus tinggi setiap harinya
Tapi toh, dia di sini untuk mencari ilmu, memperoleh gelar, lalu mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi hingga ia bisa menaikkan derajat orang tuanya.
Anaia merapikan letak tali tas punggungnya dan menggenggam erat gagang koper besarnya yang sedikit oleng.
Ia memutuskan untuk mencari kantin mahasiswa atau setidaknya tempat untuk duduk dan beristirahat sejenak. Badannya terasa remuk setelah duduk di bus selama berjam-jam dari–
“Ana?”
Tubuh Anaia tiba-tiba membeku. Suara itu…
Anaia menoleh ke arah sumber suara. Di sana, sekitar lima belas meter darinya, berdiri seorang pria dalam balutan kemeja biru tua yang tergulung hingga siku berjalan cepat menyeberangi koridor.
Dean.
Jantung Anaia berdegup kencang. Setiap derap langkah pria itu melintasi lantai koridor membawa kembali ketakutan mencekam, membuatnya mual.
Bagaimana bisa … mantan kekasihnya itu muncul di depannya sekarang? Bukankah kata orang, pria itu sedang kuliah di luar negeri?
Kenapa dia ada di sini?
"An, Ini beneran kamu?"
Dean memangkas jarak dengan cepat. Pria itu menyalip beberapa orang di sekitarnya dan kini sudah berdiri tegak di hadapan Anaia.
"Kamu... kamu kuliah di sini juga? Kok nggak pernah ngabarin aku?" Dean melangkah lagi. "Kamu ke mana aja selama ini, An? Kontak aku kamu blokir semua."
Anaia menundukkan kepala dalam-dalam. Ia tak sanggup menatap mata elang itu. Pandangannya hanya tertuju pada sepatu kulit Dean, sementara badannya menyusut perlahan.
"Hm... iya. Aku baru masuk hari ini," jawab Anaia lirih, menahan cemas.
"An, jangan gini. Lihat aku," Dean mensejajarkan posisinya saat Anaia mencoba bergeser ke kiri. Wajah pria itu melukiskan rasa bersalah yang dipaksakan. "Aku tahu kamu masih marah sama aku. Tapi aku benar-benar menyesal buat semua yang udah aku lakuin ke kamu dulu. Tolong, beri aku satu kesempatan lagi buat perbaiki semuanya."
"Nggak ada yang perlu dibicarain lagi, Dean," potong Anaia cepat. Suaranya pecah, ketakutan yang menumpuk mulai membuat air mata menggeng di pelupuknya. "Semua udah selesai dari lama."
"Nggak! Kita belum selesai!" Suara Dean mendadak meninggi. “Gila, setelah dua tahun kamu masih belum bisa maafin aku?”
Suara Dean menarik tatapan penasaran dari sekelompok mahasiswa yang melintas di koridor, membuat perhatian Dean teralih.
Melihat itu, Anaia berniat menggunakan kesempatan itu untuk kabur.
Namun, baru saja ia mengambil satu langkah, langan Dean bergerak cepat.
Pergelangan tangan kiri Anaia dicengkeramnya dengan keras. Persis seperti tabiat kasar pria itu di masa lalu yang selalu mengurungnya dalam ketakutan.
"Lepas, Dean! Sakit!" Anaia meringis kesakitan.
Ia berusaha menyentak tangannya dengan sekuat tenaga. Namun, genggaman jari-jari Dean makin mengunci rapat, menarik tubuh Anaia hingga mengikis jarak di antara mereka.
"Aku nggak akan lepasin kamu," ucap Dean dengan napas memburu, wajahnya mendekat dengan kilat mata yang mengeras. "Aku masih cinta sama kamu, Anaia. Bukannya hubungan kita masih bisa dibangun lagi?"
"Lepasin! Aku udah punya pacar! Aku nggak mungkin balikan sama kamu!" ucap Anaia pada akhirnya.
Cengkeraman di pergelangan tangannya mengendur seketika.
Tatapan Dean berubah terkejut, namun hanya bertahan beberapa detik sebelum berganti menjadi kekehan sinis dan dingin, lalu menggelengkan kepala dengan raut wajah meremehkan.
"Pacar?" pangkas Dean dengan nada mengejek. "Kamu bohong, kan? Kamu cuma bilang gitu biar aku berhenti. Benar begitu?"
“Lagipula,” lanjut Dean. Ia mengambil satu langkah mundur dan mengamati Anaia dari kepala hingga kaki. “Ada orang lain yang mau sama kamu?”
Anaia merasakan perutnya kembali bergejolak melihat ekspresi penuh kesombongan di hadapannya itu.
“Sekarang, lebih baik kamu–argh!”
Dengan kekuatan entah dari mana, Anaia mendorong Dean dan menendang tulang selangkanya sebelum berlari kabur. Persetan dengan nasibnya di masa depan. Yang penting ia harus lolos hari ini dulu.
"Anaia, berhenti! Siapa pacar yang kamu maksud itu!?" teriak Dean dari belakang. Rupanya pria itu masih saja mengejar Anaia. “An!”
Ah! Anaia mengutuk dalam hati. Mantan pacarnya itu ternyata belum menyerah.
Napasnya makin tersendat, kakinya terasa lemas dan gemetar.
Di sudut persimpangan koridor yang agak lengang dari lalu lalang orang, pandangannya yang kabur menangkap sosok pria tinggi yang sedang berdiri bersandar pada pilar beton besar.
Pria berkaos hitam polos itu tampak santai, sibuk menunduk menatap layar ponsel di tangannya.
Anaia melepaskan gagang kopernya hingga jatuh. Ia membelokkan arah lari secara tajam dan memangkas jarak menuju pria asing berkaos hitam tersebut.
Pria tinggi itu sempat menaikkan pandangannya dari layar ponsel, menyipitkan mata bingung .
"Mas, tolong!" Anaia menelan ludah. “Saya dikejar orang gila. Tolong buat dia percaya kalau Mas adalah pacar saya.”
Pria itu melangkah mundur, menjauh, begitu Anaia menghimpitnya. Alis tebalnya mengerut ke tengah, menampilkan ekspresi kebingungan.
“Maksudmu?”
“Dia–” Ucapan Anaia terputus saat ia kembali mendengar teriakan Dean yang sudah ada di belakangnya..
Detik itu juga, tanpa pikir panjang, Anaia berjinjit dan memajukan tubuhnya. Di saat yang sama, ia meraih kerah kaos hitam pria itu dan menariknya turun.
Anaia menempelkan bibirnya tepat di atas bibir pria asing itu.
Anaia menyembunyikan rasa takutnya agar tak makin menyeret Tristan dalam masalah."Aku ke... pulang dulu." Pamit Anaia.Tanpa memedulikan respons Tristan, Anaia berlari menuju unitnya yang berjarak beberapa pintu. Ia masuk, membanting pintu, lalu menguncinya ganda.Brak.Anaia menyandarkan punggungnya pada pintu dengan napas memburu. Ketakutan menghantamnya—dingin dan mencekik. Dering telepon dan ancaman di balik nama itu membuat jemarinya gemetar.Ia menatap layar ponselnya.Dean (8 missed call)Rasa mual dan tertekan menusuk perutnya. Anaia menggeleng kuat, berusaha menghalau memori buruk. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang liar.Mengabaikan panggilan itu, Anaia mandi air hangat untuk membilas sisa gemetar, lalu berganti pakaian rapi menuju kampus.Pagi di Fakultas Teknik terasa bising oleh lalu lalang mahasiswa. Meski perkuliahan dimulai, atribut maba masih wajib dikenakan. Anaia berdiri di koridor dengan pita biru tua, kemeja putih, rok span hitam
Tristan tidak tahu berapa lama mereka sudah berada di posisi ini. Setengah jam? Satu jam? Ia tidak yakin.Yang pasti ia merasakan punggungnya sedikit sakit karena bertahan di posisi yang sama sejak tadi.. setelah ia merengkuh Anaia yang gemetaran di celah kasur dengan keadaan tubuh dingin dan bergetar hebat.Kedua tangan Tristan masih mendekap tubuh kecil itu dalam pelukannya tanpa suara. Keduanya pun masih berada di lantai meski setelah beberapa saat setelah itu listrik apartemen kembali menyala."Jangan matiin lampunya... jangan kunci pintunya..." gumam Anaia lirih, seperti setengah sadar.Tristan tersentak, mengerutkan dahi keherananan. Karena sejak tadi.. sejak ia menemukan Anaia gemetar ketakutan Tristan masih di sini. Ia tidak kemana mana.Tidak ada yang beranjak mematikan lampu lagi atau bergerak mengunci pintu.Ia sadar ketakutan Anaia bukan sekadar takut gelap biasa.Oh.. kenapa ia harus peduli?Tristan meneguk minuman dinginnya saat kembali. Ia melirik arlojinya yang menunj
Tristan tidak tahu berapa lama mereka sudah berada di posisi ini. Setengah jam? Satu jam? Ia tidak yakin.Yang pasti ia merasakan punggungnya sedikit sakit karena bertahan di posisi yang sama sejak tadi.. setelah ia merengkuh Anaia yang gemetaran di celah kasur dengan keadaan tubuh dingin dan bergetar hebat.Kedua tangan Tristan masih mendekap tubuh kecil itu dalam pelukannya tanpa suara. Keduanya pun masih berada di lantai meski setelah beberapa saat setelah itu listrik apartemen kembali menyala."Jangan matiin lampunya... jangan kunci pintunya..." gumam Anaia lirih, seperti setengah sadar.Tristan tersentak, mengerutkan dahi keherananan. Karena sejak tadi.. sejak ia menemukan Anaia gemetar ketakutan Tristan masih di sini. Ia tidak kemana mana.Tidak ada yang beranjak mematikan lampu lagi atau bergerak mengunci pintu.Ia sadar ketakutan Anaia bukan sekadar takut gelap biasa.Oh.. kenapa ia harus peduli?Tristan meneguk minuman dinginnya saat kembali. Ia melirik arlojinya yang menunj
Masa orientasi berakhir. Sebelum perkuliahan dimulai, Anaia memenuhi ajakan ibunya untuk makan malam di rumah Bu Rhea. Sesuai janjinya, Bu Rhea ingin memamerkan koleksi buku musiknya.“Kamu juga suka main piano, kan, Anaia?” Bu Rhea memperlihatkan lembaran partitur Mozart dan Beethoven yang tersusun rapi di ruang tengah.“Wah, lengkap banget, Bu Rhea.”“Kamu boleh bawa pulang kalau mau. Dan kalau Anaia mau main piano di sini, tentu Ibu juga bakal senang.” Bu Rhea tersenyum, meski raut sedih membayang di wajahnya. “Dulu, Tristan juga suka main. Sekarang jarang sekali. Ibu jadi kangen dengarnya.”Makan malam tersaji di meja kayu berlapis kaca. Aroma rempah sup iga, tumis lada hitam, dan ayam panggang mentega memenuhi ruangan. Bu Rhea mengajak Marni dan Anaia duduk bersama—membuat keduanya canggung.“Nggak usah sungkan Anaia, Marni. Ayo kita makan bareng-bareng.”Mata Anaia melirik ke arah tangga saat seseorang turun.“Tristan, ikut makan sini,” ajak Bu Rhea.Dugaan Anaia tepat. Tristan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.