Chapter: Bermain-mainAnaia menyembunyikan rasa takutnya agar tak makin menyeret Tristan dalam masalah."Aku ke... pulang dulu." Pamit Anaia.Tanpa memedulikan respons Tristan, Anaia berlari menuju unitnya yang berjarak beberapa pintu. Ia masuk, membanting pintu, lalu menguncinya ganda.Brak.Anaia menyandarkan punggungnya pada pintu dengan napas memburu. Ketakutan menghantamnya—dingin dan mencekik. Dering telepon dan ancaman di balik nama itu membuat jemarinya gemetar.Ia menatap layar ponselnya.Dean (8 missed call)Rasa mual dan tertekan menusuk perutnya. Anaia menggeleng kuat, berusaha menghalau memori buruk. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan detak jantungnya yang liar.Mengabaikan panggilan itu, Anaia mandi air hangat untuk membilas sisa gemetar, lalu berganti pakaian rapi menuju kampus.Pagi di Fakultas Teknik terasa bising oleh lalu lalang mahasiswa. Meski perkuliahan dimulai, atribut maba masih wajib dikenakan. Anaia berdiri di koridor dengan pita biru tua, kemeja putih, rok span hitam
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: Kenapa Harus Peduli?Tristan tidak tahu berapa lama mereka sudah berada di posisi ini. Setengah jam? Satu jam? Ia tidak yakin.Yang pasti ia merasakan punggungnya sedikit sakit karena bertahan di posisi yang sama sejak tadi.. setelah ia merengkuh Anaia yang gemetaran di celah kasur dengan keadaan tubuh dingin dan bergetar hebat.Kedua tangan Tristan masih mendekap tubuh kecil itu dalam pelukannya tanpa suara. Keduanya pun masih berada di lantai meski setelah beberapa saat setelah itu listrik apartemen kembali menyala."Jangan matiin lampunya... jangan kunci pintunya..." gumam Anaia lirih, seperti setengah sadar.Tristan tersentak, mengerutkan dahi keherananan. Karena sejak tadi.. sejak ia menemukan Anaia gemetar ketakutan Tristan masih di sini. Ia tidak kemana mana.Tidak ada yang beranjak mematikan lampu lagi atau bergerak mengunci pintu.Ia sadar ketakutan Anaia bukan sekadar takut gelap biasa.Oh.. kenapa ia harus peduli?Tristan meneguk minuman dinginnya saat kembali. Ia melirik arlojinya yang menunj
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: Dinginnya Malam"Tas aku tertinggal... Barang-barangku semua di sana. Ada dompet... sama kartu akses..." ucap Anaia panik, menatap Tristan dengan pandangan memohon yang tak bisa ditutupi.Tristan terpejam rapat, menghela napas lelah yang terdengar begitu berat. Pria itu menyandarkan badannya pada dinding koridor dingin, menatap Anaia lurus-lurus dengan pandangan tajam, menahan marah.-----Tristan masih memandanginya dengan tatapan tajam. Anaia langsung merasa bersalah. Si ceroboh.Ia tahu betul pria di depannya ini pasti semakin kesal padanya, jengah, marah, dan entah apa lagi yang ada di pikirannya."Sorry.." cicit Anaia lagi.Tristan melangkahkan kaki beberapa meter menjauh, tubuhnya sendiri masih basah kuyup dengan kain kemeja yang menempel dingin di kulit. Pria itu mengusap wajahnya yang basah, lalu merogoh saku, mencoba menghubungi sekuriti gedung atau siapa saja yang bisa membantu membukakan pintu unit Anaia. Namun, nihil. Nada sambung itu terputus berulang kali, ditelan cuaca buruk yang mengac
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: Celaka!Masa orientasi berakhir. Sebelum perkuliahan dimulai, Anaia memenuhi ajakan ibunya untuk makan malam di rumah Bu Rhea. Sesuai janjinya, Bu Rhea ingin memamerkan koleksi buku musiknya.“Kamu juga suka main piano, kan, Anaia?” Bu Rhea memperlihatkan lembaran partitur Mozart dan Beethoven yang tersusun rapi di ruang tengah.“Wah, lengkap banget, Bu Rhea.”“Kamu boleh bawa pulang kalau mau. Dan kalau Anaia mau main piano di sini, tentu Ibu juga bakal senang.” Bu Rhea tersenyum, meski raut sedih membayang di wajahnya. “Dulu, Tristan juga suka main. Sekarang jarang sekali. Ibu jadi kangen dengarnya.”Makan malam tersaji di meja kayu berlapis kaca. Aroma rempah sup iga, tumis lada hitam, dan ayam panggang mentega memenuhi ruangan. Bu Rhea mengajak Marni dan Anaia duduk bersama—membuat keduanya canggung.“Nggak usah sungkan Anaia, Marni. Ayo kita makan bareng-bareng.”Mata Anaia melirik ke arah tangga saat seseorang turun.“Tristan, ikut makan sini,” ajak Bu Rhea.Dugaan Anaia tepat. Tristan
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: Pria ItuPria itu menatap Anaia dengan ekspresi tak terbaca, sementara Anaia tampak canggung.“Eh, K-Kak–”Tanpa menunggu Anaia menyelesaikan ucapannya, pria itu melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Anaia yang masih berdiri di lorong depan unit apartemennya.Pikirannya melayang pada kejadian di koridor sore kemarin. Ia berkali-kali menggeleng dan mendesah kesal, mencoba mengusir bayangan di bibirnya.Niatnya untuk langsung bersih-bersih menguap. "Kok bisa... dia tinggal di sini juga?" gumamnya lirih.—---Spanduk besar "Selamat Datang Mahasiswa Baru" membentang di lapangan utama. Anaia mendongak dengan napas terengah-engah setelah berlari mati-matian mengejar gate yang hampir ditutup. Dengan pita biru tua fakultas teknik di lengan, ia menyelinap masuk ke barisan kelompoknya.“Erin, ya?” ucap gadis berkuncir kuda di sebelahnya.“Bukan. Bukan Erin.” jawab Anaia.“Aku Erin!” Gadis di sebelah kirinya mengangkat tangan lalu menjabat heboh gadis pertama.“Yang di grup, kan? Ah... beda ya sama
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: Pertemuan KeduaGadis itu bisa merasakan tubuh pria tinggi itu membeku seketika. Ia sempat melihat manik mata si pria asing yang berwarna cokelat gelap menatapnya, sebelum kemudian Anaia memejamkan mata rapat-rapat.“An, kamu–”Gendang telinga Anaia menangkap suara Dean tepat beberapa meter di belakang mereka. “Permisi, Mas.” Tak lama, Anaia mendengar Dean kembali berucap. Kali itu, suaranya sudah jauh lebih tenang, tidak lagi nyaring seperti sebelumnya. Begitu Anaia mendengar langkah kaki Dean menjauh, ia buru-buru menarik tubuhnya mundur. Kakinya yang lemas hampir saja membuat posisinya oleng. Dengan napas terengah-engah, Anaia menundukkan kepala dalam. "Maaf..." bisik Anaia lirih. “Maaf, Kak, aku–”Ucapan Anaia berhenti saat ia melihat sepasang mata tajam itu menatapnya, tampak dingin dan menyeramkan.Anaia langsung menundukkan kepala, bersiap menerima hinaan atau apa pun. Akan tetapi, pria asing itu justru memutar tubuhnya dan melangkah pergi ... meninggalkannya di sana.------Langkah kaki A
Last Updated: 2026-09-28