LOGINBisikan itu menggema pelan di kepala Jaka seperti suara sound horeg.
Cari... dalam hatimu...
Jaka tercekat. Suara itu seperti datang dari dalam tulang rusuknya sendiri. Bukan hanya menggema, suara itu menusuk hingga hati yang paling dalam. Ia berdiri tergagap di tepi jalan yang sudah dikenalinya yakni jalan tempat nyawanya telah direnggut.
Angin malam menyentuh jiwanya yang tak bertubuh seperti kabut es. Jalan itu tampak sunyi, tapi tidak benar-benar sepi. Ada dengungan halus, semacam suara berbisik yang tak berbahasa namun bersembunyi di balik desir dedaunan. Lampu jalan berkedip – kedip pelan, seperti enggan untuk menerangi malam itu.
Saat Jaka menoleh, matanya tertuju pada sebuah bangunan tua yang berdiri tak jauh dari tempat ia terbujur sebelumnya. Rumah itu tampak kosong dengan jendela-jendela gelap seperti mata mati yang telah lama menjadi legenda seram di kalangan warga sekitar. Dindingnya tampak mengelupas seperti kulit yang terbakar dan pagarnya berkarat mencuat seperti gigi monster yang siap menerkam. Bulu kuduk Jaka, bila ia masih punya, pasti sudah berdiri melihat itu.
Ampun… jangan sampe aku harus ke situ…
Tapi rasa takutnya kalah dengan satu hal yang kini terus menggelayuti pikirannya yaitu keinginan apa yang membuat tetap bertahan di sana dan tidak bisa memasuki pintu menuju akhirat.
Ia berjalan mondar-mandir di tepi jalan itu sambil menggigiti ujung pikirannya sendiri. Tapi semakin keras ia berpikir, seakan semakin kabur jawabannya. Yang muncul hanyalah rasa rindu. Rindu pada sesuatu yang belum ia kenali.
Tanpa sadar, saat ia melangkah sambil merenung, tubuhnya yang tak kasat mata bagi manusia, melintas tepat di depan seorang pengendara motor yang lewat. Seketika, suara teriakan membelah keheningan malam.
“ASTAGHFI…AAAARGH!!”
Motor itu oleng dan hampir tergelincir ke depan saluran air. Pengendaranya kabur terbirit-birit setelah melihat sosok hantu yang berlumur darah dengan wajah hancur di satu sisi dan melayang begitu saja menembus udara.
Jaka melongo melihat kejadian itu, seakan nonton layar tancap edisi terbatas.
“Eh?!”
Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Sekelompok remaja kekinian, lewat sambil tertawa-tawa, mungkin baru saja pulang nongkrong. Jaka mendekat, tujuan sebenarnya untuk berbagi kebahagiaan, walau ia sadar bahwa komunikasi itu sudah mustahil untuk terjadi. Tapi begitu salah satu dari sekelompok remaja itu menoleh...
“WOY Anja…. Ada Hantu!!!!”
Tampak salah satu remaja jatuh terduduk dan di tarik beberapa temannya, salah satu lagi langsung lari lintang pukang sambil meninggalkan tetesan air seni yang berceceran di jalanan.
Jaka makin panik melihat kehebohan itu, seakan dunia ini sangat sibuk.
Apa aku sebegitu seramnya?!
Ia pun berjalan ke depan kaca jendela sebuah mobil yang parkir di pinggir jalan seperti tetangga yang numpang parkir di depan rumah kita dan saat melihat bayangannya...
Perutnya seperti diangkat dari tubuh.
Wajahnya tampak remuk di sebelah kiri dengan tulang pipi yang mencuat keluar dan satu bola mata menggantung berayun lemas. Lehernya tampak patah, sedikit miring ke sebelah kiri dengan darah yang mengering menutupi dadanya.
Ia terduduk lemas.
Jaka baru sadar... Kenapa semua orang lari ketakutan saat melihat sosoknya.
Setelah insiden sekelompok orang ketakutan hingga ada yang sampai kencing di celana, Jaka benar-benar merasa bersalah. Ia akhirnya memutuskan untuk bersembunyi dari dunia. Ia menyelinap ke balik semak-semak kering di depan rumah kosong yang tadinya dia takuti, lalu jongkok di antara ranting dan ilalang yang menusuk-nusuk pantatnya.
“Penghuni… aku enggak niat kesini, sumpah... Aku cuma enggak mau nakutin orang – orang lagi. Merasa berdosa aku…,” gumamnya lebih ke diri sendiri.
Malam semakin menunjukkan nuansa dinginnya. Angin menelusup lewat lubang-lubang genting rumah tua itu, menghasilkan suara yang aneh. Suara yang terdengar seperti bisikan orang mengeluh dari dalam dinding. Daun-daun kering berdesir dan lampu jalan berkedip pelan seolah tahu sesuatu yang Jaka tidak ketahui.
TUK!
Sebuah batu melayang dari arah rumah dan menghantam plat seng yang terlah berkarat. Suaranya terdengar nyaring hingga membuat Jaka tersentak. Jaka menoleh dengan cepat. Namun tidak ada siapa pun. Tapi suasana di sekitarnya mulai berubah. Udara menjadi terasa berat, seperti ada tekanan dari dalam bumi.
TUK!
Kali ini batu itu menghantam kaleng yang berada tak jauh dari kakinya. Jaka berdiri perlahan. Matanya seketika tertuju pada rumah itu. Pintu kayunya seperti bergetar pelan, lalu terbuka dengan derit panjang seperti kuku yang menggores papan tulis.
Gelap di dalam sana seperti menelan semua partikel cahaya bulan.
Dan dari kegelapan itu…
Keluar sesosok bayangan.
Tinggi…
Besar…
Langkahnya terlihat aneh, seakan berat sebelah. Seperti orang yang sedang menyeret kaki tapi melayang.
Tubuhnya tampak tegap, berbalut kain gelap yang melambai tertiup angin dan wajahnya tampak samar dalam kegelapan. Tapi Jaka bisa menangkap sedikit karakternya, yakni dengan rahang yang tegas, kulit yang pucat seperti tak pernah terkena matahari dan tatapan kosong yang dingin. Wajah itu sepintas tampak rupawan.
Namun ada yang aneh dari cara makhluk itu bergerak. Seperti tubuhnya bukan miliknya. Gerakannya terlihat kaku tapi juga terlihat kuat.
Jaka mundur perlahan dengan napas yang membeku.
“Apaan tuh…” ucapnya pelan, lanjutnya “Penunggu rumah ini kah...?”
Sosok itu berhenti di ambang pintu. Tak berbicara dan tak bergerak lagi. Hanya berdiri termenung, dengan tatapan yang menatap langsung ke arah Jaka, tatapan menembus semak dan menembus malam.
Jaka mematung, tak tahu harus apa. Berharap sosok itu tidak melihatnya, walau dia tau tatapan itu ditujukan untuknya.
Jaka sangat bingung, apakah dia harus….
Lari?
Berteriak?
Atau pura-pura saja jadi batu?
Dan saat itulah, terdengar suara berat dan dalam seperti datang dari perut bumi, pelan, namun jelas,
"Aku sudah melihatmu."
***
Rumah Azrael tidak berubah, masih tampak tenang, kokoh dan memancarkan aura yang sulit dijelaskan.Azrael menunggu di depan meja kerjanya dengan mengenakan jubah putih yang kali ini tampak lebih bersinar. Di tangannya, buku besar dari catatan kehidupan Jaka terbuka di halaman terakhir.“Kamu menepati janji, Jaka,” ucap Azrael. “Selamat datang... waktumu telah tiba.”Jaka menatap pintu besar yang bercahaya itu. Kali ini tidak ada keraguan lagi. Begitu melangkankan kaki ke ambang pintu, cahaya putih yang menyilaukan menyambutnya. Ia melangkah masuk perlahan, kenangan – kenangan masalalunya mulai bermunculan di pikirannya. Perjalanan yang cukup panjang, telah ia lewati dengan baik, hingga akhirnya, ia dapat memasuki dunia abadi.Cahaya itu bukan cahaya yang membuatnya terpaku, melainkan dunia yang terbentang luas di hadapannya. Terlihat hamparan pa
Malam itu, setelah melewati pertarungan yang besar dan penyelamatan Dimas yang melelahkan, Jaka dan Dimas duduk berdua di beranda rumah Dimas. Udara dingin membawa aroma tanah basah, dan tampak lampu jalan berkedip lembut seperti ikut menikmati suasana damai. Keheningan terasa menggantung disana, sampai akhirnya, Dimas menatap Jaka dengan serius.“Jak, aku mau tanya sesuatu…”“Apaan?”“Kenapa kamu enggak masuk ke pintu akhirat aja? Kenapa harus balik buat nolongin aku? dan pasti ada harga yang harus kamu terima, kan? Apa itu?”Jaka terdiam. Tangannya memainkan sudut kain sarung yang entah dari mana ia gunakan. Lalu, ia hanya menjawab sambil nyengir.“Enggak kok, karna emang belum siap aja… Masih pengen nongkrong sama kamu, tau.”
📍 Di Rumah DimasLangit malam tampak seperti biasanya, tidak ada signyal – signyal bahaya yang terpancar.Dimas membuka pintu rumahnya dengan santai, mengira segalanya telah kembali normal. Tanpa sesosok Jaka ataupun yang lainnya. Ia melepas jaket, menggantungnya di balik pintu yang tampak pakunya sudah copot sebelah. Langkah berpindah menuju dapur untuk mengambil air minum…Dan tiba – tiba….KRAAAKK!!Suara lantai kayu mencicit tajam, Dimas segera membalikkan badannya. Sepuluh pasang mata merah menatapnya dari ruang tengah. Bayangan-bayangan hitam, tubuh-tubuh berjas compang-camping, rambut panjang lepek, dan mulut menganga seperti mesin ketik rusak.“Selamat datang kembali... Dimas.”“Kami sudah menunggumu.”Hantu Makela
Malam itu di rumah Dimas suasana terasa sangat tenang. Udara dingin perlahan masuk melalui jendela yang setengah terbuka. Dimas duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap langit malam, sementara Jaka bersandar di dinding sambil menatap kosong ke arah langit-langit.“Akhirnya…” ucap Jaka pelan.“Kita berhasil,” sahut Dimas.Lalu mereka diam beberapa saat. Di wajah Jaka tergambar sebuah kebahagiaan, tapi juga ada awan tipis yang menyelimuti matanya.“Aku seneng… banget…. tapi juga agak sedih, Dim.”“Sedih kenapa?”“Karena aku bakal ninggalin kamu sendirian di sini…”Dimas menatap Jaka.“Kamu enggak ninggalin aku, kok Jak. Kamu cuma pulang, ditem
Sinar matahari yang hangat menyelinap masuk melalui tirai jendela rumah berdiri di pinggir kota. Dokter Hadi yang terkena kilauan cahaya itu, perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa berat seperti baru bangun dari tidur puluhan tahun. Ia lalu duduk di sofa sambil memijit pelipisnya.Suasana seperti biasanya, hening.Tanpa ia sadari, terdapat hal yang terasa aneh di sekelilingnya. Rumah yang biasanya berantakan dan dipenuhi tumpukan sampah dan debu, kini tampak sangat bersih. Lantai yang tampak mengilap, foto-foto di rak yang kembali berdiri tersusun rapi dan tirai jendela yang terbuka seolah membiarkan cahaya pagi menyapa dengan lembut.Dokter Hadi berdiri perlahan melihat sekelilingnya. Kakinya melangkah pelan ke area ruang tengah dan pandangannya tertuju pada sebuah meja kecil di dekat rak sepatu.Sebuah catatan kecil yang ditempel di situ.Jangan lupa semir sepatu bila in
Setelah melihat isi dari buku tabungan dan sedikit menjamah serpihan masa lalu dokter Hadi, Jaka mendadak menoleh ke arah Dimas dengan ekspresi yang serius, tampak seperti seorang yang mau mengajak bisnis MLM.“Dim, ini penting banget.”“Apa?”“Kita butuh... duitnya.”Dimas memelototkan mata, “Hah?!”“Buat beli bahan sushi!” seru Jaka cepat, “Ini bukan untuk hura – hura kok, tapi buat kepentingan yang sangat mulia!”Dimas menatap dompet si dokter yang sudah tergeletak di meja.“Kalo yang ini... aku rasa, ga masalah, dia juga tidak akan keberatan.”Jaka segera meminta Dimas menuliskan daftar panjang seperti chef profesional yang sedang mempersiapkan







