LOGIN"Kamu memang sedang terluka. Tapi Pak Dewa sudah bertahun-tahun selesai dengan masa lalunya. Jadi nggak ada yang perlu kamu khawatirkan."Nadia terdiam. Dalam sekali ucapan Mbak Ayi. Jujur ia merasakan kalau Dewa itu sangat tulus. Cara dia memperlakukan Adam tidak dibuat-buat. Mengalir alami begitu saja. Bahkan Davin saja tidak seperti itu pada anaknya. Dan Dewa juga pernah merasakan sebuah pengkhianatan yang kejam. Nadia menghela napas panjang. "Tante, Adam ngantuk," ucapan Zaki memecah keheningan sesaat."Oh iya, Kak." Nadia menoleh pada anaknya. Adam sudah memejam. Ia bangkit untuk menyelimuti kakinya. "Adam sudah minum obat?" tanya Mbak Ayi."Sudah tadi, Mbak." "Pantesan ngantuk. Hawa di sini juga ngedukung sekali buat molor sepanjang hari."Di luar sana masih terdengar keseruan para karyawan dalam permainan. Bos memberikan hadiah tidak tanggung-tanggung, membuat semangat semakin menyala."Na, saran dari Mbak. Kalau memang Pak Dewa serius, jangan ditolak. Beneran ini. Kamu ngg
Bu Hana terdiam sejenak, lalu menatap putranya dengan sorot yang sulit ditebak. Sedangkan pandangan Dewa mengarah ke lapangan, tapi pikirannya jelas tidak berada di sana. Sang mama mencondongkan tubuh. "Kamu beneran serius sama dia?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa basa-basi. Dewa menoleh dan ia tidak mengelak. "Serius," jawabnya mantap.Wanita itu tersenyum lebar. Sudah lama sekali ia ingin mendengarkan putranya bicara seperti ini. Semenjak dikhianati istrinya, Dewa benar-benar menutup diri. Bahkan pergi menepi dan itu tidak sebentar "Dekati saja jangan buang waktu," ucap Bu Hana. "Mama mendukungmu. Mama pengin kamu segera menikah. Hidup jangan cuma untuk kerja terus.""Mama beneran tidak keberatan. Dia janda anak satu, Ma.""Nggak. Mama juga serius, De. Jadi kenapa harus keberatan? Dia dari keluarga baik-baik. Mama sudah tahu itu."Dewa memandang ke arah sang mama. "Mama, menyelidikinya?"Bu Hana tersenyum. Mamanya dalam urusan ini tidak berubah. Pasti telah menyuruh ora
NADIA- 35 Buket Bunga Selina melangkah turun dari tangga dengan langkah kesal. Menghampiri sofa ruang tamu lantai bawah, tempat Bu Terry duduk bersama Pak Haris dan Arda.Ia kaget karena adiknya sudah duduk di sana. "Kok kamu sudah nyusul ke sini. Nggak jadi hiking?" "Adikmu barusan nyampe. Belum lima belas menitan duduk." Bu Terry yang menjawab."Ada dua temanku yang batal ikut karena ada keperluan mendadak, Mbak. Jadi kami batalin rencana."Hening sejenak. Semua mata tertuju pada layar televisi. Hingga Bu Terry bertanya sambil memandang tangga. "Mana Davin?""Lagi tidur, Ma. Padahal kita sedang berlibur. Dia malah tidur." Selina menggerutu."Biarin dulu istirahat. Mungkin capek nyetir. Nanti malam baru kita keluar nyambut pergantian tahun. Makan-makan di luar."Selina menghela napas panjang. Kesalnya bukan karena Davin tidur, tapi suaminya itu pasti sedang galau telah melihat mantan istrinya bersama pria lain."Tadi aku melihat Nadia bersama seorang laki-laki sewaktu kita keluar
Anak itu langsung membuka mulut. Wajahnya meringis setelah menelan, tapi tidak menangis. Dewa segera membantunya minum air. "Wow, good boy," puji Dewa.Nadia ikut lega. Sebegitunya Dewa, sampai ikut minum sirup anak-anak supaya Adam juga mau minum."Pak Dewa, makasih banyak," ucap Nadia seraya menyimpan obat ke dalam tas. Pagi ini bosnya sangat membantunya dan berjasa sekali.Lelaki ini, vibes family man-nya kentara sekali. Siapa wanita bodoh yang telah mengkhianatinya? Sekarang dia pasti menyesal meninggalkan Dewa. Pasti itu. Seorang pengkhianat pada akhirnya akan menyesal. Entah itu ditunjukkan atau disimpan sendiri karena sudah terlanjur malu.Tapi apakah kebersamaannya dengan si bos kali ini, tidak akan ada yang marah kalau mengetahuinya? Apa Dewa tidak memiliki kekasih?Ah, Nadia tidak mungkin untuk menanyakan hal itu. Pelayan kembali datang mengantarkan pesanan Dewa. Sebuah kotak putih berisi ayam betutu. "Kasihkan ke Mbak Ayi nanti," kata Dewa."Iya, Pak," jawab Nadia. Padaha
Nadia termenung sejenak. Dia teringat sosok di mobil putih tadi. Mantan suami dan mertuanya. Sebenarnya dia kaget juga tadi. Hanya saja memilih diam dan mengacuhkannya. Tak menyangka bertemu mereka di Malang. Mungkin mereka juga sedang menikmati liburan akhir tahun. 'Ah, lupakan itu, Nadia.'Pelayan mengantarkan soto di mangkuk. Nadia mencicipi lebih dulu, sebelum disuapkan ke anaknya. Adam memandang sang mama, tak sabar ingin segera disuapi. "Sakit pun dia gampang ya makannya?" tanya Dewa."Iya, Pak. Dia paling suka soto ayam."Beberapa saat, dua orang fokus memperhatikan Adam yang sedang makan. Tapi satu mangkuk itu tidak habis untuk perut kecilnya.Setelah Adam bilang sudah kenyang, ganti Dewa dan Nadia yang makan. Adam asyik memperhatikan layar televisi yang menempel di tembok. Kebetulan sedang memutar kartun coco melon. Sebab banyak para pengunjung restoran yang membawa anak kecil. Jadi channel kartun yang diputar."Kamu tahu siapa yang ada di mobil putih tadi?" tanya Dewa memb
NADIA - 34 DewaDavin tahu itu mobilnya Dewa. Dengan jelas ia melihat Nadia memangku Adam duduk di samping pria itu. Namun tukang parkir memberikan aba-aba supaya dia segera keluar karena kondisi lalu lintas sedang sepi. Dan mobil lain hendak masuk."Dav, ayo!" seru papa mertua yang duduk di sebelahnya. Pak Haris tahu kalau mantunya sedang terkejut karena melihat mantan istrinya bersama bos Graha Utama."Iya, Pa."Mobil keluar dan langsung menyeberang jalan. Melintas tepat di depan mobilnya Dewa. Selina yang duduk di bangku belakang bersama mamanya, sepintas juga melihat Nadia bersama Dewa. Ia tidak percaya. Sampai menoleh ke belakang untuk memastikan. Tapi mobil hitam itu sudah bergerak masuk ke halaman restoran."Siapa, Sel?" tanya Bu Terry."Bukan siapa-siapa, Ma," jawab Selina singkat sambil menatap tajam pada Davin lewat spion di atas kemudi. Ia yakin, bengongnya Davin tadi karena melihat mantannya.Hati Selina terbakar amarah sekaligus cemburu. Namun ia berusaha menahan diri.







