Share

60. Saya Antar 2

Penulis: Lis Susanawati
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-02 14:21:20

Nadia yang sedang 'berhalangan' langsung menuju meja prasmanan.

"Gabung sama kita, yuk. Makan bareng," ajak Clara.

"Iya, Mbak." Nadia melangkah bersama Clara. Mengambil makanan kemudian bergabung di meja teman-temannya.

Selina yang memegang piring dan hendak bergabung, terlihat mematung beberapa langkah dari meja. Dia berdecak jengkel.

"Hai, Sel. Cepet duduk. Ngapain manyun disitu?" tegur Dira sambil mengunyah.

Akhirnya Selina duduk bergabung bersama mereka. Walaupun sebenarnya risih karena ada Nadia di sana. Dia yang biasanya paling berisik, sekarang lebih banyak diam. Sedangkan Nadia duduk dengan tenang menikmati makanan di piringnya.

"Ih, Selin setelah nikah jadi pendiam sekarang," tegur Clara sambil memandang wanita yang duduk tepat di hadapannya.

"Maklum pengantin baru, mungkin sering lembur tiap malam. Kejar target supaya lekas isi," jawab Clara.

Nadia terus makan meski hatinya terasa tercubit. Mereka tidak tahu siapa dirinya, jadi tidak mungkin sengaja mengejek. Bahkan denga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (10)
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
wah sengaja ni km gak di jemput nad..mau di ksih tumpangan ma pak boss
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
jangan pede Selina.. buat apa Nadia ngedeketin temen²mu buat bongkar aibmu.. toh mereka juga nanti bakalan tahu sendiri kelakuanmu..
goodnovel comment avatar
carsun18106
pak sopir mah udh diatur sama pak bos, nad hehehe
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   94. Dia Anakku 3

    Davin sebenarnya ingin bertanya apa hubungan Nadia dan Dewa, tapi pertanyaan itu tidak jadi dikeluarkan. Dia tidak ingin berurusan dengan Selina ketika sampai di rumah nanti. Dengan cara lain, ia akan mencari tahu sendiri. Satu yang menggema dalam dadanya, menginginkan Nadia dan Adam kembali padanya. Penyesalan terdalamnya, adalah melepaskan Nadia. "Mas, ayo kita pergi. Anakmu nggak mengenalimu lagi." Selina menarik tangan suaminya. Namun Davin bergeming. Tatapannya masih terpaku di wajah ayu dan tenangnya Nadia.Selina semakin geram. Ia memandang pada Nadia. Saat itu ia melihat bros yang berkilau tersemat di jilbabnya. Selina yang terbiasa dengan barang-barang mewah tahu, yang dipakai Nadia bukan bros biasa. Lebih mahal benda itu dari gaji Nadia sebagai staf baru. Jelas itu bukan pemberian dari Davin. Dewa-kah yang memberikannya?"Mas, ayolah. Ngapain di sini. Kamu nggak dianggap oleh anakmu sendiri. Adam sengaja diajarin begitu kayaknya."Meski hatinya terluka oleh perkataan Selina

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   93. Dia Anakku 2

    "Bisa kita bicara bertiga saja, Na. Ini hanya urusan kita," kata Davin."Bertiga saja dengan siapa, Mas? Aku, kamu, dan Adam maksudnya?""Denganku," sahut Selina. Tentu saja ia tidak akan membiarkan suaminya hanya duduk berdua dengan mantan istrinya."Kalau begitu, biar Pak Dewa ada di sini. Aku datang ke sini bersama beliau. Sebab aku dan Adam akan pulang bersama beliau juga," bantah Nadia.Hening. Davin terperangkap. Dia sudah terlanjur basah oleh keadaan itu. Padahal seharusnya tidak begini, Dewa itu rekan bisnis perusahaan, jadi martabatnya harus dijaga di depannya. Namun semuanya tidak sesuai ekspektasi. Sebab saat memanggil Adam tadi, dia berharap anaknya antusias dan senang bertemu dengannya. Tapi ternyata sebaliknya.Hening. Suasana yang seharusnya menyegarkan karena cuaca sangat mendukung, tapi di meja mereka ketegangan tercipta. Untungnya tempat mereka paling ujung, jadi tidak menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya.Dan suara handphone milik Dewa yang berdering, membuat

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   92. Dia Anakku 1

    NADIA - 38 Dia AnakkuAdam tertawa lucu saat Dewa membisikkan sesuatu ke telinganya. Pria itu juga merangkul erat bocah yang ada di pangkuannya. Tubuh tingginya menunduk seolah melindungi Adam.Saat melihat anaknya bercanda dengan Dewa, hati Davin kian terbakar. Dia tidak menghiraukan Selina yang menarik lengannya. "Itu ada tempat duduk yang kosong, Mas," kata Selina. Namun suara istrinya seolah tak di dengar."Mas!" panggil Selina lagi disaat suaminya masih diam. Dan saat bersamaan, ia pun menoleh ke arah yang sama dan melihat apa yang sedang diperhatikan oleh Davin. Dia kaget. Ternyata ada Dewa, Nadia, dan Adam di ujung sana.Tanpa menanggapi ucapan istrinya, Davin melangkah ke tempat paling ujung. Selina tidak melepaskan pegangan tangan dan tergesa mengikuti langkah sang suami. Wajah wanita itu terlihat menegang. "Mas," panggilnya. Tapi Davin tidak peduli. Akhirnya Selina merubah ekspresi. Dia melangkah anggun, dada membusung, dan kepala tegak. Tangannya semakin erat memeluk lenga

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   91. Serius 3

    Dewa mengajak Nadia ke sebuah restoran yang cukup terkenal dan menjadi favorit para pecinta alam dan kuliner. Sebab restoran itu berdiri anggun di punggung bukit."Kita duduk di atas, semoga masih ada tempat," ajak Dewa yang menggendong Adam. Kemudian menaiki tangga menuju lantai dua yang semi outdoor. Sampai di atas mereka disambut udara sejuk khas pegunungan. Dewa mengajak Nadia dan Adam duduk paling pojok di dekat pagar pembatas, yang menghadap langsung ke bentangan alam. Hamparan Kota Malang tampak seperti lukisan hidup, diselimuti kabut tipis yang bergerak pelan. Di kejauhan, Gunung Semeru dan Arjuno berdiri tenang, megah, serta kebiruan.Sejenak Nadia menghadap jauh ke sana dan menghirup udara segar dalam-dalam. Sedangkan Dewa menurunkan Adam ke baby chair yang sudah disiapkan pelayan. Kemudian memesan makanan. Ada sup iga yang bisa untuk menyuapi Adam.Mereka berbincang, sesekali menanggapi celoteh Adam yang mengundang tawa. Anak kecil itu terlihat begitu bahagia. Makanan dat

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   90. Serius 2

    Zaki menyenggol lengan Adam dan kedua anak itu saling tersenyum. "Kakak pulang dulu, ya. Sampai bertemu lagi, Adam," ucap Zaki seraya melambaikan tangan dan dibalas oleh anak Adam.Mbak Ayi mengangguk sejenak pada Dewa yang masih melangkah. Kemudian ia meninggalkan tempat itu seraya menggandeng anaknya.Dada Nadia kian berdebar saat langkah Dewa semakin mendekat. Pria itu tersenyum padanya. Nadia mencoba mengatur napas agar tidak terlihat terlalu gugup. Adam yang berada dalam gendongannya menoleh, lalu tersenyum lebar. Membuat dua lesung pipi kecil muncul di pipinya."Om," teriak Adam."Hai, Adam."Bocah itu tidak bisa menyembunyikan binar bahagia di matanya. Mungkin dilubuk hati kecilnya yang paling dalam, ia menemukan figur seorang ayah pada Dewa. "Mau Om gendong." Dewa mengulurkan tangannya."Nggak usah, Pak Dewa. Biar saya gendong saja.""Kalau begitu, biar ranselnya saja yang saya bawakan." Dewa mengambil ransel dari punggung Nadia tanpa menyentuh tubuh wanita itu. Dia sangat be

  • Adakah Jalan Untuk Kembali   89. Serius 1

    NADIA - 37 Serius Nadia masih mematung dengan dada yang berdebar. Ponsel masih di genggaman tangannya. Mbak Ayi menyarankan untuk memakai bros pemberian Dewa. Dan ia sudah menyematkan di jilbab yang langsung sekalian tersangkut di bajunya.Sekarang Mbak Ayi menyarankan agar dirinya mau diajak pulang bersama Dewa. Bagaimana tidak kaget setelah tidak pernah diperhatikan oleh lelaki yang bergelar suami, disia-siakan selama menikah, dan sekarang mendadak mendapatkan perhatian sebesar ini. Padahal mereka juga baru kenal. Jadi wajar kalau Nadia masih memiliki perasaan bimbang.Nadia buru-buru memasukkan buket bunga ke dalam paper bag. Ia akan membawa pulang bunga itu."Mama," panggilan dari Adam membuat Nadia terkesiap dan buru-buru meraih ransel dan ditaruh di punggungnya. Anak yang sejak tadi sudah berada di teras cabin bersama Zaki, mengintip masuk dari balik pintu.Nadia keluar. Mbak Ayi masih di sana kemudian membantunya menggendong Adam. "Bukan karena Mbak dekat dengan bos, lalu me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status