Home / Romansa / Adik Angkatku, Istriku / Bab 58 Dunia Mainan

Share

Bab 58 Dunia Mainan

Author: Oase-biru
last update Last Updated: 2023-05-05 23:32:05
Hampir pukul sepuluh, Mas Angga mengajakku kembali ke halaman sekolah. Aku sudah menghabiskan roti bakar dan minumanku. Kami berjalan kembali menuju ke seberang, di mana sekolah Arjuna berada. Sebentar lagi Arjuna akan keluar dari kelasnya. Tak lama Arjuna berlari kecil melihat bunda dan Papa Angga menunggunya di depan gerbang.

“Papa Angga... Bunda. Arjuna senang sekali.”

Mas Angga berjongkok dan memeluknya. Arjuna melingkarkan tangannya pada leher Papa Angga, yang langsung menggendongnya. Merek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Adik Angkatku, Istriku   Bab 115 Akhir Sebuah Cerita

    Setelah dokter bisa menangani Aristya, Angga memutuskan kembali ke ruang rawat Alisha. Hendra berdiri di depan pintu ruangan bersama John dan Hans. Saat melihat Pak Angga keluar, mereka mengangguk namun tak berbicara. “Hendra, jika ada kabar penting langsung hubungi,” pesan Angga sebelum beranjak menuju ke ruang rawat Alisha. “Baik Pak.” “Bukannya tadi ada Adrian?” tanyanya penasaran sambil melihat sekeliling. Hendra menatap John dan Hans bergantian. Tadi Adrian memang ada di sini. Mereka sempat mengobrol. Adrian datang bersama Dania, namun sepertinya mereka berduua sudah pergi. Angga menghubungi Alisha. Hanya nada sambung terdengar berbunyi, Alisha tidak mengangkatnya. Dicobanya hingga tiga kali, namun hasilnya sama saja. Angga langsung bergegas menuju lorong ruang rawat Alisha. Perasaannya tak enak. Hendra diminta menghubungi Fathir. Jika ada di luar minta segera kembali ke ruang Alisha. John dan Hans mengikuti langkah bosnya. Angga tak ingin kejadian buruk menimpa Alisha.

  • Adik Angkatku, Istriku   Bab 114 Kegelisahan Alisha

    Saat Alisha membuka matanya, dirasakan tubuhnya terbaring dalam kamar dengan aroma yang sangat dikenalnya. Dinding putihnya selalu bersih. Walau suka dengan warnanya tapi dia tak mau lama-lama di sini. Mas Angga…? Tadi Hendra bilang jika Mas Angga kecelakaan. Sari yang menabraknya. Jadi benar yang dikatakan Adrian jika kotak hadiah itu dari Sari. Nomor yang selalu menerornya mungkin juga Sari. Tapi mengapa? Alisha mencoba bangun dari tidurnya. Alisha harus mencari Mas Angga. Dia harus tahu kondisinya saat ini. Saat badannya mulai digeser untuk duduk, suara pintu dibuka menghentikan gerakkannya. Ditunggunya siapa yang akan masuk dengan terus menatap lurus ke arah pintu. “Mas Angga…!” Angga duduk di kursi roda yang didorong masuk oleh Fathir, menatap Alisha tajam. Kemudian tersenyum saat melihatnya diam. Setelah Alisha sadar siapa yang datang, Alisha ingin beranjak turun memeluknya. “Di sana saja Hanny. Mas tidak mau kamu lelah,” ucapnya sambil memberikan tanda agar Alisha teta

  • Adik Angkatku, Istriku   Bab 113 Semua Terungkap

    Jadi hadiah itu dari Sari. Tiba-tiba rasa mual kurasakan, Alisha bangun menuju toilet. Dania mengikutiku dari belakang. Adrian hanya duduk diam dalam kebingungan memutuskan untuk menunggu mereka. Alisha didampingi Dania Kembali duduk di hadapan Adrian. Masih banyak yang ingin diketahuinya. Saat ini Alisha sangat ingin tahu di mana Mas Angga. Pesan yang tadi dikirim masih belum dibacanya. dicobanya menghubungi, tapi hanya suara operator yang menjawab. Alisha mencoba menghubungi Hendra, namun sama saja. Saat Alisha panik, dering telepon berbunyi. Mas Angga. Aisha langsung menggeser layar dan berbicara padanya. “Mas di mana? Kenapa sulit dihubungi?” “Maaf Hanny, mas lagi rapat dan susah sinyal. Ini juga hanya sebentar bisa teleponnya. Mas mau mengingatkan jangan lupa makan siang ya.” “Iya mas. Mas Angga juga ya,” ucap Alisha menginggatkannya. “Kalau di kantor, jangan terlalu lelah ya, kasihan dede nanti. Makan siangnya ditemenin Dania saja Hanny,” ucap Mas Angga. Belum sem

  • Adik Angkatku, Istriku   Bab 112 Rasa Bersalah

    Aku menoleh ke arah Mas Angga, mencoba tersenyum dan menatap wajahnya lekat. Aku Kembali mengusap lembut perutku. Aku harus kuat, Arjuna dan aku bisa melewatinya dulu. Kini aku juga harus bisa. “Tidak apa mas, sudah mulai terasa tidak enak perutnya,” jawabku pelan. “Sebentar lagi kita sampai dede, sabar ya.” Aku tersenyum mendengarnya. Mas Angga sangat memperhatikan kami, aku berharap ini bukan sementara. Pikiranku mengenai Aristya masih mengganjal. Apalagi nomor asing yang mengirim pesan dan foto, membuat aku bertanya-tanya siapa dia? Sesampainya di rumah besar, aku langsung masuk ke dalam kamar. Mas Angga menggendong Arjuna ke kamarnya. Oma dan Opa juga akan beristirahat, sebelum Oma menyiapkan makan siang. Suara pintu kamar yang dibuka membuat aku menoleh. Mas Angga sudah melangkah menuju ke arahku yang masih duduk di tepi tempat tidur. “Masih jail dedenya?” tanya Mas Angga padaku. “Tidak papa. Dede aman,” jawabku sambil tersenyum. Mas Angga mendekat dan berhenti di ha

  • Adik Angkatku, Istriku   Bab 111 Air Mata Bahagia

    Aku menatap wajah Alisha lekat, rasa bersalah menyelimuti. Aku sepertinya terlalu terburu-buru mengharapkan kehamilannya. Seharusnya aku membahagiakannya dahulu. Aku melangkah mendekatinya dan memeluknya erat. “Tidak apa Hanny, masih banyak waktu. Arjuna pasti mau menunggu,” ucapku pelan di telinganya. “Arjuna mau menunggu, apakah mas juga mau menunggu?” tanyanya pelan. Aku lepas pelukanku, menangkup kedua pipinya dan memintanya menatapku. Mata Alisha berkaca-kaca, aku tak ingin butiran air mata itu turun. Aku tersenyum menguatkannya. “Aku pasti akan menunggu Hanny, tidak perlu khawatir. Sampai nanti Allah memberikan kita kepercayaan untuk menjaga amanah,” ucapku pelan sambil tetap tersenyum. “Mas, ini hasilnya,” suara Alisha terdengar pelan sambil menyodorkan testpack yang tadi kuberikan. Aku mengambilnya dan meneliti bagian yang memiliki garis merah. Kesedihan Alisha sepertinya harus kuhilangkan, aku sudah merencanakan akan mengajaknya bersama Arjuna berlibur nanti. Aku

  • Adik Angkatku, Istriku   Bab 110 Datang dan Pergi

    “Lebih baik diperiksa ke dokter kandungan, biar lebih yakin hasilnya,” ucap Oma sambil menatap pada Alisha. “Oma bilang apa? Aku tidak salah dengar kan?” tanyaku mendengar ucapan Oma pada Alisha. Oma hanya tersenyum. Mengajak Arjuna untuk kembali ke rumah. Arjuna yang masih duduk di samping Alisha mengangguk, meminta papa untuk menjaga bunda dan dia berjanji akan menuruti Oma dan Opa. Aku tersenyum mendengarnya kemudian menurunkan Arjuna setelah mencium pipi Alisha dan membuat janji kelingking agar Arjuna menepati janji. Alisha melambaikan tangannya hingga Arjuna menghilang di balik pintu. Kini hanya ada aku dan Alisha di kamar. “Mas mau keluar sebentar Hanny, berani sendiri atau mau dipanggilkan perawat?” tanyaku sesaat tiba di samping tempat tidur. “Berani mas, tapi jangan lama-lama ya,” jawab Alisha pelan sambil menatap matanya. Sebuah senyum terbit dari sudut bibirku, kemudian melangkah keluar kamar. Setelah aku menutup pintu Alisha merebahkan tubuhnya. Sebenarnya Alisha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status