LOGINNora tak pernah menyangka pembunuh suaminya akan kehilangan ingatan dan mengingat dirinya sebagai Alex Wilmington—suaminya sendiri. Demi anak-anaknya, Nora memilih mempertahankan sandiwara itu dan hidup serumah dengan pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun semakin lama, pria itu justru berubah menjadi sosok suami dan ayah sempurna yang tak pernah ia miliki sebelumnya. Semakin Ronan berubah menjadi pria sempurna, semakin Nora takut. Bagaimana jika suatu hari ingatannya kembali?
View More"Kamu... istriku?"
Nora mematung di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu seperti terkunci. Pertanyaan itu lolos dari bibir pucat pria itu begitu saja, tanpa keraguan, meluncur bersama napasnya yang berat. Ruangan yang sedari tadi pengap oleh bau obat-obatan mendadak terasa makin menghimpit dada Nora, membuatnya kesusahan untuk sekadar menarik oksigen. Pria itu... amnesia? Akal sehat Nora menjeritkan alarm bahaya. Ia ingin berteriak, menggeleng, atau mengatakan yang sebenarnya bahwa pria di ranjang itu adalah orang asing yang malam tadi datang seperti malaikat maut untuk suaminya. Namun, tatapan Ronan mengunci pergerakannya. Sepasang mata elang yang malam lalu terlihat begitu dingin dan mematikan di bawah guyuran hujan, kini menatapnya dengan binar yang sama sekali berbeda. Ada rasa bingung yang kentara di sana, bercampur dengan setitik rasa bersalah yang amat dalam. Sebelum Nora sempat bersuara untuk meluruskan—atau entah memperpanjang kebohongan yang telanjur bergulir—pintu kayu kamar rawat berderit terbuka. Langkah kaki kecil yang tergesa memecah keheningan yang mencekam itu. Seorang bocah laki-laki berumur tiga tahun berlari masuk, langsung memeluk erat kaki Nora. "Mama... Matt lapar," cicit anak itu lirih, menyembunyikan wajah bulatnya di balik kain gaun ibunya yang lusuh. Nora tersentak, refleks mendekap kepala Matt dan membawanya ke dalam lindungan tubuhnya. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Dia takut Ronan akan menyadari sesuatu, takut pria ini akan mengingat bahwa anak yang sedang memeluknya adalah darah daging dari pria itu. Namun, reaksi Ronan justru di luar dugaan. Mata tajamnya beralih pada Matt, mengamati helai rambut bocah itu hingga ke jemari kecilnya yang gemetar. Entah magnet dari mana, rasa nyeri yang sedari tadi menghantam pelipis Ronan mendadak surut saat melihat sosok mungil tersebut. Jiwa pelindungnya yang dominan bangkit seketika, mengalahkan rasa linglung yang menyergap sekujur tubuhnya yang kaku. "Matt?" Ronan mengulang nama itu, mencoba meresapi bunyinya di lidah. Terasa asing, namun entah kenapa ada kehangatan yang mendesak dadanya saat nama itu terucap. Pria itu memaksakan diri untuk duduk lebih tegak, mengabaikan denyut kencang di kepalanya yang diperban. "Sini, Jagoan. Kemari sama Ayah." Nora memekik tertahan di dalam hati. Tangannya refleks mencengkeram bahu Matt lebih erat, mencoba menahan langkah sang anak. Sialnya, Matt yang polos justru mendongak. Anak itu menatap Ronan dengan mata bulatnya yang penasaran. Selama tiga tahun hidupnya, Matt tidak pernah mendengar nada selembut itu dari pria yang dia panggil 'Ayah'. Alex Wilmington, ayahnya yang asli hanya tahu cara membentak, memaki, atau memukul ibunya di ruang bawah tanah. Sementara pria di atas ranjang ini, meski wajahnya pucat dan kepalanya diperban kasar, memancarkan rasa aman yang tidak pernah Matt rasakan sebelumnya. Matt melepaskan pegangannya dari gaun Nora, mengabaikan tarikan pelan ibunya. Dia melangkah pelan, mendekati sisi ranjang besi yang dingin. "Ayah udah bangun? Kepala Ayah... sakit?" tanya Matt polos, menjulurkan tangan kecilnya, menyentuh pinggiran seprai tempat tidur yang kasar. Ronan tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang terasa kaku di wajah tegasnya yang biasa digunakan untuk memberi perintah perang, namun terasa begitu tulus. Ia mengulurkan tangannya yang besar, dipenuhi kapalan dan bekas luka, lalu membungkus jemari Matt dengan sangat hati-hati. Seolah-olah, bocah lelaki di hadapannya ini terbuat dari kaca yang bisa pecah kapan saja jika dia mengerahkan sedikit saja kekuatannya. "Sudah tidak apa-apa. Maaf ya, sudah membuatmu menunggu lama," ucap Ronan lembut. Suaranya bergetar, menahan gejolak emosi yang dia sendiri tidak pahami dari mana asalnya. Ia mendongak lagi, kembali menatap Nora yang masih berdiri kaku bagai patung di sudut ruangan yang temaram. "Maafkan aku... aku pasti sudah merepotkanmu selama ini. Aku berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi." Nora hanya bisa menelan ludah dengan getir yang menyumbat kerongkongan. Rasa bersalah, takut, dan ngeri bercampur aduk menjadi satu, menciptakan badai di dalam kepalanya. Pria yang malam sebelumnya membunuh suaminya, kini menatapnya halus. Tatapan menuntut yang biasa dia terima dari Alex kini berganti menjadi tatapan penuh permohonan maaf. Sisi gelap di otaknya berbisik untuk segera mengambil Matt, berlari keluar dari rumah sakit ini, dan menghilang ke kota lain. Namun, melihat bagaimana Matt begitu tenang dan merasa aman di dekat pria asing ini, kaki Nora terasa lumpuh total. Nora tahu, dia baru saja menjebloskan dirinya ke dalam permainan yang sangat berbahaya. Ia memanfaatkan amnesia pria ini untuk menyelamatkan nyawanya dan nyawa anaknya. Hubungan mereka sekarang tertahan oleh seutas benang kebohongan yang sangat tipis. Kebohongan yang jika suatu saat nanti putus, dan ingatan pria ini kembali, mungkin akan membawa petaka yang jauh lebih mengerikan dari apa yang dia hadapi malam lalu. "Nora..." Ronan memanggilnya, mencoba mengingat nama yang sempat dia dengar samar-samar dari perawat tadi. "Kemarilah. Jangan berdiri jauh-jauh di sana."Ronan bersiap diatas pohon dengan senapannya. Disisi lain pohon yang sama Karl juga duduk dengan waspada. Jejak serigala akhirnya terlihat tak lama setelah mereka masuk ke dalam hutan. Jelas serigala itu selalu bergerak disana. Empat orang dari kelompok berburu membuat api unggun dibagian hutan yang lapang, empat lainnya naik ke atas pohon untuk berjaga. Karl tidak banyak mengoceh seperti biasanya. Ketegangan terlihat jelas dari wajah pria muda itu. Sedang Ronan anehnya merasa tenang. Peluru yang dia punya tidak banyak. Tapi entah kenapa dia yakin dia bisa berhasil berburu hewan buas itu. Di kejauhan, Ronan bisa melihat pergerakan hewan berbulu itu. Cara berjalan hewan itu terlihat sedang bersiap untuk berburu juga. Mengendap pelan tapi terlihat kuat. Dan sasaran hewan itu adalah kelompok pemburu yang menyalakan api. "Karl arah jam 2," ucap Ronan pelan. "Aku siap, sir," jawab Karl. Ronan membidikan senapannya ke arah target. Ronan mengintruksikan Karl menembak setelah dia menem
Di perjalan pulang, Ronan bertemu dengan nyonya Morton. Wanita paruh baya ramah itu memberinya bucket bunga lili putih. Nyonya Morton bilang dia sedang bosan dan membuatnya, tapi di rumahnya sudah banyak hiasan bunga. Jadi dia memberikan pada Ronan sebagai hadiah. Ronan tidak sampai hati menolak kebaikan nyonya Morton. Jadi dia menerima bunga itu. Berniat memberikan pada Nora. Memasuki pekarangan rumahnya, Ronan merasa heran. Kemana Matt? Biasanya dia akan ribut menyambut Ronan pulang. Bahkan saat memasuki rumahnya, tidak ada wangi makanan manis yang akhir-akhir ini selalu Nora buat. Rumahnya tampak lebih berantakan dari hari-hari kemarin. Nora sepertinya tidak membersihkan rumah hari ini. Di meja makan, piring bekas makan masih ada disana. Perubahan kecil yang membuat Ronan merasa gelisah. Ronan dengan spontan membuka pintu kamar Matt. Anak itu tidak ada disana. Lalu dengan perlahan membuka pintu kamarnya. Dan mendapati istri dan anaknya berbaring saling berpelukan diatas ranjang.
"Matt apa kau bilang?" Suara Nora bergetar gugup, bagaimana dia tidak menyadarinya. Dia kira Matt tidak mengingat wajah ayah kandungnya. Bukan salah anak itu. Dia lah yang selama ini berdelusi. Dia yang berharap pria jahat itu tidak ada di ingatan anaknya. Nora mengangkat Matt dan memangkunya. Memeluknya erat. Menciumi wajah mungil Matt. Suara tawa Matt membuat Nora tenang. Dia membawa anaknya ke sofa. Masih memangkunya. Membelai rambut hitam Matt dengan sayang. "Matt... Kau tahu dia ayah baru?" tanya Nora hati-hati. Matt mengangguk. Mata hitam anak itu menatap ibunya polos. "Kau ingat wajah ayah yang lama?" Nora bertanya lagi. Dia berhasil membuat suaranya terdengar tenang di tengah ribut gemuruh hatinya.Matt mengangguk lagi, perlahan tatapan anak itu berubah. Pupilnya terlihat lebih gelap. Ekspresi cerianya menghilang. Tiba-tiba wajahnya terlihat ketakutan. "Dia tidak akan kembali kan mama?" bisik Matt. Mendengar itu hati Nora mencelos. Dia merasa bodoh karena baru menanyak
Desahan terdengar memecah kesunyian di dalam kamar kecil itu. Nora tidak sadar kapan mereka berpindah dari sofa dekat perapian ke ranjang mereka. Yang memenuhi kepala Nora hanya jejak panas bekas bibir Ronan di seluruh leher dan dadanya. Lebih panas, lebih intens daripada apa yang dia rasakan di bawah pohon asam tempo hari. Jawaban apa yang dia beri saat Ronan bertanya tadi? "Alex...." pekik Nora menyebut nama suaminya saat gaunnya tersingkap ke atas. Nora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa malu yang tiba-tiba menyadarkan tindakan agresifnya yang tidak bisa dia halau dengan logika. Apa yang dia lakukan? Lagi, dia terbawa arus, terjebak dalam gelombang yang menenggelamkan semua akal sehat yang tersisa di dalam kepalanya. Benda basah dan lembut yang menyentuh kulit diantara kakinya membuat Nora tersentak. Dengan spontan memundurkan pinggulnya menjauh, tapi tangan besar berurat Ronan membawanya kembali mendekat, menahannya untuk tidak bergerak.Di tengan erangan dan d
Sebagian dari Ronan berharap Nora menolak. Agar akal sehatnya yang sudah tertutup kabut kembali jernih lagi. Agar dia bisa membangun batas itu lagi. Sedang di sisi lain, Nora sudah menyerah pada hasrat. Ia tahu bahwa keserakahan yang ada pada dirinya tumbuh semakin besar setiap waktu. Pria misteri
"Hai sayang... Ini ayah nak," suara Ronan bergetar saat mengucapkannya. Ia merasa sangat emosional. Ronan menelan ludahnya gugup. Dia menatap wajah Nora lagi. Dan lega karena tidak ada ketegangan yang terlihat disana. "Dia berhenti bergerak," ucap Ronan pelan. "Dia tertidur," jawab Nora diiringi
Nora melihat Ronan melambai dari gerbang rumah mereka. Senyum Ronan semakin lebar saat menangkap Matt yang berlari ke arahnya. Pria itu berjalan mendekat sambil memangku Matt. Nora -anehya- bisa menangkap sesuatu yang tidak biasa dari Ronan. Pandangan Nora menjelajahi suaminya itu. Keningnya berk
Ronan berjalan menelusuri jalanan desa. Membeli beberapa handuk baru. Dan masuk ke rumah penjahit. Wanita dengan tubuh gempal berwajah ramah menyambutnya dengan senyum. "Bisa saya bantu?" sambut wanita itu sopan. Membalas sapaan singkat Ronan yang membuka topi koboinya dan sedikit mengangguk.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.