Adik Angkatku, Istriku

Adik Angkatku, Istriku

last updateLast Updated : 2023-08-02
By:  Oase-biruCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
4 ratings. 4 reviews
115Chapters
9.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Alisha, Angga, dan Bramantyo memiliki kisahnya masing-masing. Mewarnai perjalanan yang mereka lakukan hingga memendam rasa untuk tak saling menyakiti. Kelamnya perjalanan selalu menghilang saat mereka bahu membahu menghadapinya. Hingga keputusan harus dibuat, siapakah yang akan dipilih oleh Alisha?

View More

Chapter 1

Bab 1 Sebuah Kisah Dari Masa Lalu

"Bagaimana, Tyo?”

Anggukan kecil Tyo membuat Angga tersenyum. Akhirnya adik semata wayangnya tak akan merengek lagi. Sahabat terbaiknya siap membantu, dua bulan waktu yang tersisa hingga sidang skripsi dilaksanakan.

Walaupun Angga adalah salah satu komisaris di kampus tempat Alisha kuliah, namun dia harus mengikuti semua aturan seperti mahasiswa lainnya. Semua untuk kebaikannya di masa depan. Agar bisa bertanggung jawab dengan pekerjaannya nanti.

“Bagaimana mau menolak? Semua keinginanmu kan harus terpenuhi,” tanya Tyo memberikan alasan dengan bersungut.

Walau bersungut, Tyo tetap saja akan menetujuinya. Angga hanya tersenyum. Tyo tak bisa menolak jika dia yang meminta bantuan. Mereka saling mengenal saat mulai merintis usaha hingga akhirnya perusahaan mereka menjadi dua perusahaan besar di ibukota dalam bidang yang berbeda.

Tyo memang memiliki banyak pengalaman dalam bidang desain interior. Mulai dari pusat perbelanjaan hingga rumah sakit tak lepas dari desain tenaga-tenaga ahlinya. Hingga perusahaan yang dipegangnya semakin dipercaya oleh beberapa pemilik gedung dan perkantoran.

“Sambil pendekatan juga boleh,” ujar Angga menyemangati.

Segaris senyuman dilihatnya. Sejak lama Tyo ingin mendekati adiknya Alisha, tapi selalu dihalangi. Kini setelah kuliahnya hampir rampung lampu hijau diberikannya. Keputusan akhir tentu saja tetap di tangan Alisha. Kebahagiaan Alisha tujuan utama Angga, karena tanggung jawab sebagai pengganti ayah sudah ada di pundaknya sejak Alisha lahir.

Jika mengingat kenangan saat Alisha dilahirkan, sepertinya rasa sayangnya tak akan pernah hilang. Perjalanan hidupnya hanya didampingi bunda dan kakaknya, Angga. Hal itu yang membuatnya ingin melindungi Alisha sampai kapanpun. Bunda selalu menguatkan mereka berdua yang tumbuh besar tanpa kasih sayang ayah.

***

Hampir dua bulan berlalu, setiap akhir pekan Tyo membantu Alisha menyelesaikan skripsinya. Siang tadi Alisha menelepon mengabarkan jika semua persyaratan sidang terpenuhi. Kini Alisha hanya menunggu jadwal yang akan diberikan pekan ini.

Angga membayangkan Alisha kecil yang manja memakai toga kelulusannya. Sebuah senyuman dengan rasa senang terbit dari sudut bibirnya. Untuk berbagi kebahagian, Angga berencana mengunjungi makam ayahnya sore ini. Orang yang telah mengajarkannya banyak hal mengenai kehidupan.

-Sha, mau ikut ke makam ayah?-

-Mau mas, sama bunda juga ya?-

-Iya, siap-siap ya, mas menuju rumah-

Setelah mengirim balasan w****App, dilajukan mobil sport putih menyusuri jalan ibukota yang mulai macet. Ingatannya kembali pada peristiwa kecelakaan 22 tahun lalu.

“Bunda, sabar ya. Sebentar lagi sampai ke puskesmas," ucap ayah menenangkan bunda sambil tangannya tetap memegang kemudi mobil dan fokus ke jalanan di hadapannya.

Bunda yang duduk di samping Angga memegangi perutnya dengan wajah yang menahan sakit. Angga hanya bisa berdoa dalam hati sambil memegangi lengan bunda. Usia 7 tahun, namun dia harus merasakan terusir dari rumah sendiri.

Perusahaan yang dijalankan ayahnya mengalami kebangkrutan. Perusahaan mengalami kerugian, belum lagi ada yang membawa kabur uang kantor. Semua kerugian yang terjadi harus ditanggung ayahnya. Rumah yang mereka tempati disita, hingga mereka berencana kembali ke kampung halaman ayah di Bandung.

“Ayah, awas...”

Sorot lampu tajam dari bus di depan kami menerobos melalui kaca depan. Angga merasakan mobil oleng dan bermanuver hingga menabrak pohon besar di pinggir jalan.

“Jaga bunda dan adikmu Angga,” ucap ayah lirih sambil mencoba meraih tangan Angga. Menggenggam kuat dan terlepas perlahan.

Saat tersadar, Angga sudah berada di puskesmas. Seorang perawat membawanya ke kamar lain. Bunda duduk bersandar pada tempat tidur sedang memberi susu menggunakan botol pada bayi mungil.

“Angga, ini Alisha,” ucapnya mencoba tersenyum pada Angga.

"Bunda kenapa adik minum susu pakai botol?" tanyanya heran.

Wajah bunda berubah sangat sedih. Saat itu Angga tidak tahu mengapa, namun setelah Angga semakin besar barulah mengerti jika bunda tidak bisa menyusui Alisha. 

Angga tersadar ketika dilihatnya dia sudah memasuki jalan menuju rumah. Saat mulai terlihat rumah yang menjadi tempat berlindung kini, Angga tersenyum. Alisha dan bunda sudah ada di teras menunggunya. Sepertinya rasa rindu pada ayah sudah merasuki mereka. 

Mereka kini dalam perjalanan menuju Bandung. Jalan bebas hambatan membuat perjalanan menjadi lebih cepat. Hanya memakan waktu kurang dari dua jam untuk tiba di pemakaman.

Pemakaman tampak sepi, hingga mereka sampai di sebuah makam dengan batu hitam bertuliskan nama Baskara Nugraha bin H. Usman Nugraha. Bunda berjongkok bersama Alisha. Memanjatkan doa dan menaburkan bunga.

“Ayah, satu tugasku sudah selesai. Alisha sebentar lagi lulus kuliah. Ayah bahagia kan?” batin Angga berbisik seakan bertanya pada ayah.

Sebuah panggilan telepon membuat Angga beranjak menjauh. Hendra, asistennya melaporkan perubahan rapat yang pagi tadi diminta, juga melaporkan kondisi kantor sepeninggalnya siang ini. Alisha dan bunda masih terdiam di sana, bergelayut dengan pikirannya masing-masing. Angga tersenyum melihatnya dan memahami jika mereka pasti merasakan kangen yang sama dengannya.

Setelah selesai, mereka tak lupa kami mengunjungi Paman Hasan, kakak ayah yang membantu kami mengurus pemakaman dan kehidupan kami selama di Bandung hingga Angga selesai kuliah. Bunda sudah mengabari Paman Hasan sebelumnya. Paman Hasan memang beberapa kali mengirim pesan ingin bertemu mereka.

“Alisha, sebenarnya paman menyimpan sebuah hadiah saat usiamu 17 tahun. Namun saat itu paman lupa menyimpannya. Saat kalian mengabarkan akan datang, paman mencoba mencarinya sambil membersihkan kamar tamu. Akhirnya paman menemukannya,” ucap paman sesampainya kami di teras rumah.

Kami masuk ke dalam ruang tamu. Paman menyodorkan sebuah kotak kayu antik. Sebuah kalung putih dengan sebuah kata Alisha. Angga mengambil dan mengamatinya. Sangat indah dan sempurna. Angga memakaikan kalung pada leher jenjang Alisha. Keindahannya semakin memancar.

Alisha mengucapkan terima kasih pada paman. Bunda tersenyum senang melihatnya. Walau sangat terlambat, namun hadiah itu sangat berharga.

“Angga, paman ingin kita bicara berdua di ruang kerja," minta paman dengan nada memerintah seperti biasanya.

Angga mengikuti paman menuju ruang kerjanya. Ruangan di mana paman mengajarkannya menjadi seorang yang memiliki tanggung jawab di perusahaan, hingga mulai mendirikan perusahaan sendiri.

“Angga, paman menyimpan sebuah rahasia yang sudah saatnya kamu harus tahu. Seharusnya hal ini paman sampaikan saat Alisha berusia 17 tahun. Namun paman belum sanggup menghadapi reaksi yang akan kalian berikan," ucapnya dan sejenak berhenti.

Paman menarik napas panjang sebelum melanjutkannya.

"Alisha, bukan adik kandungmu. Dia putri dari sahabat paman, pemilik Persada Agung Grup. Kalung tadi pemberian sahabat paman, ayah kandung Alisha”

Bagai halilintar menerjang ke dalam ruangan, aku hanya terdiam. Mencoba menelaah ucapan paman dan memahami dengan kebingungan.

"Bayi dalam kandungan ibumu meninggal sebelum dilahirkan. Saat itu, istri sahabat paman juga melahirkan dan meninggal. Bayi yang baru dilahirkan itu hanya memiliki ayah yang saat itu di bui."

"Saat menerima kabar kalian mengalami kecelakaan dan berada di puskesmas yang sama, paman langsung mencari kalian. Kondisi ayahmu di ruang jenazah dan ibumu tak sadarkan diri setelah melahirkan. Paman tak tahu bagaimana harus menjelaskan jika bayi yang dilahirkannya ternyata sudah tak bernyawa, paman tak sampai hati."

“Angga, kesehatan paman mulai tidak baik. Paman takut rahasia ini tak sempat paman sampaikan jika nanti paman tiada.”

“Paman Hasan...”

Paman Hasan membuka laci meja dan mengambil berkas yang sudah di masukkan dalam kotak. Berkas dokumen kepemilikan Persada Agung Grup, diserahkannya pada Angga. Seharusnya semua ini diserahkan pada Alisha saat menemukan jodohnya nanti. Paman Hasan kini menitipkan amanah ini pada Angga.

Paman menjelaskan sedikit banyak mengenai manajemen di Persada Agung Grup. Fariz, putra pertama paman saat ini menjadi direktur utama. Pak Yudha, ayah kandung Alisha kini menjalankan usaha di Singapura. Dia yang mengendalikan Persada Agung Grup, Pak Yudha mempercayakan Paman Hasan sebagai wakilnya.

Trauma yang didapatkan di Indonesia sangat mempengaruhinya, hingga memutuskan menetap dan memiliki keluarga di sana. Paman Hasan menjelaskan semuanya pada Angga tanpa ada yang ditutupi. Angga tak bisa berkata-kata, hanya mendengar dan memenuhi keinginan pamannya. 

Setelah makan malam, mereka kembali ke Jakarta. Besok banyak pekerjaan yang akan diselesaikan. Sepanjang perjalanan Angga tak banyak bicara. Semua yang baru didengar sangat memeras otak. Bagaimana menyampaikan pada bunda dan Alisha tanpa membuat mereka kembali pada rasa kehilangan di masa lalu.

“Bunda, Angga langsung istirahat ya,” ucap Angga sesaat mereka masuk ke dalam rumah.

“Angga, apa yang paman sampaikan? Mau bicara dengan bunda?” tanya bunda menghentikan langah Angga sejenak.

Sepertinya bunda membaca keresahannya, batin Angga. Namun saat ini dia tak siap berbagi. Khawatir jika nanti menyebabkan kesedihan dan kekecewaan pada bunda, Angga lebih memilih berdiam.

“Tidak ada bunda, hanya masalah pekerjaan.”

Bunda tak memaksa lebih lanjut, menatap Angga menghilang dibalik pintu kamar. Bunda dan Alisha juga akhirnya beranjak ke kamar dan beristirahat. Sesaat akan membaringkan tubuhnya. Pesan masuk dari Hendra.

-Pak Angga, Kantor utama kebakaran. Pemadam kebakaran baru saja tiba.-

-Sayap kanan terbakar, semoga cepat dipadamkan.-

Sebuah panggilan dari Tyo, menghentikan ketikan pesan untuk Hendra.

“Angga, kantor jalan Siliwangi...”

“Kamu di sana? Tolong cek kondisinya. Cari Hendra. Aku bersiap.”

“Oke.”

Angga segera berpakaian dan turun menuju kamar bunda untuk pamit izin menuju kantor. Dia akan mengecek langsung kondisi di sana. Hendra dan Tyo sudah di lokasi mengamankan situasi, semoga saja api cepat dikuasai dan dipadamkan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Oase-biru
Oase-biru
Masih berusaha membuat menjadi lebih baik.
2023-10-10 05:43:46
0
0
Agus Irawan
Agus Irawan
Mampir ke Novelku juga ya. judul" Kembang Desa Sang Miliarder" pena" Agus Irawan" sudah tamat. yuuk pada mampir.
2023-05-09 19:01:59
2
0
Rama Insani
Rama Insani
Congrats miss! Bagus ...
2023-05-06 21:54:30
2
0
Oase-biru
Oase-biru
semoga bisa bermanfaat
2023-04-02 20:55:37
2
0
115 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status