LOGINAlisha, Angga, dan Bramantyo memiliki kisahnya masing-masing. Mewarnai perjalanan yang mereka lakukan hingga memendam rasa untuk tak saling menyakiti. Kelamnya perjalanan selalu menghilang saat mereka bahu membahu menghadapinya. Hingga keputusan harus dibuat, siapakah yang akan dipilih oleh Alisha?
View MoreAngga tersadar ketika dilihatnya dia sudah memasuki jalan menuju rumah. Saat mulai terlihat rumah yang menjadi tempat berlindung kini, Angga tersenyum. Alisha dan bunda sudah ada di teras menunggunya. Sepertinya rasa rindu pada ayah sudah merasuki mereka.
Mereka kini dalam perjalanan menuju Bandung. Jalan bebas hambatan membuat perjalanan menjadi lebih cepat. Hanya memakan waktu kurang dari dua jam untuk tiba di pemakaman. Pemakaman tampak sepi, hingga mereka sampai di sebuah makam dengan batu hitam bertuliskan nama Baskara Nugraha bin H. Usman Nugraha. Bunda berjongkok bersama Alisha. Memanjatkan doa dan menaburkan bunga. “Ayah, satu tugasku sudah selesai. Alisha sebentar lagi lulus kuliah. Ayah bahagia kan?” batin Angga berbisik seakan bertanya pada ayah. Sebuah panggilan telepon membuat Angga beranjak menjauh. Hendra, asistennya melaporkan perubahan rapat yang pagi tadi diminta, juga melaporkan kondisi kantor sepeninggalnya siang ini. Alisha dan bunda masih terdiam di sana, bergelayut dengan pikirannya masing-masing. Angga tersenyum melihatnya dan memahami jika mereka pasti merasakan kangen yang sama dengannya. Setelah selesai, mereka tak lupa kami mengunjungi Paman Hasan, kakak ayah yang membantu kami mengurus pemakaman dan kehidupan kami selama di Bandung hingga Angga selesai kuliah. Bunda sudah mengabari Paman Hasan sebelumnya. Paman Hasan memang beberapa kali mengirim pesan ingin bertemu mereka. “Alisha, sebenarnya paman menyimpan sebuah hadiah saat usiamu 17 tahun. Namun saat itu paman lupa menyimpannya. Saat kalian mengabarkan akan datang, paman mencoba mencarinya sambil membersihkan kamar tamu. Akhirnya paman menemukannya,” ucap paman sesampainya kami di teras rumah. Kami masuk ke dalam ruang tamu. Paman menyodorkan sebuah kotak kayu antik. Sebuah kalung putih dengan sebuah kata Alisha. Angga mengambil dan mengamatinya. Sangat indah dan sempurna. Angga memakaikan kalung pada leher jenjang Alisha. Keindahannya semakin memancar. Alisha mengucapkan terima kasih pada paman. Bunda tersenyum senang melihatnya. Walau sangat terlambat, namun hadiah itu sangat berharga. “Angga, paman ingin kita bicara berdua di ruang kerja," minta paman dengan nada memerintah seperti biasanya. Angga mengikuti paman menuju ruang kerjanya. Ruangan di mana paman mengajarkannya menjadi seorang yang memiliki tanggung jawab di perusahaan, hingga mulai mendirikan perusahaan sendiri. “Angga, paman menyimpan sebuah rahasia yang sudah saatnya kamu harus tahu. Seharusnya hal ini paman sampaikan saat Alisha berusia 17 tahun. Namun paman belum sanggup menghadapi reaksi yang akan kalian berikan," ucapnya dan sejenak berhenti. Paman menarik napas panjang sebelum melanjutkannya. "Alisha, bukan adik kandungmu. Dia putri dari sahabat paman, pemilik Persada Agung Grup. Kalung tadi pemberian sahabat paman, ayah kandung Alisha” Bagai halilintar menerjang ke dalam ruangan, aku hanya terdiam. Mencoba menelaah ucapan paman dan memahami dengan kebingungan. "Bayi dalam kandungan ibumu meninggal sebelum dilahirkan. Saat itu, istri sahabat paman juga melahirkan dan meninggal. Bayi yang baru dilahirkan itu hanya memiliki ayah yang saat itu di bui." "Saat menerima kabar kalian mengalami kecelakaan dan berada di puskesmas yang sama, paman langsung mencari kalian. Kondisi ayahmu di ruang jenazah dan ibumu tak sadarkan diri setelah melahirkan. Paman tak tahu bagaimana harus menjelaskan jika bayi yang dilahirkannya ternyata sudah tak bernyawa, paman tak sampai hati." “Angga, kesehatan paman mulai tidak baik. Paman takut rahasia ini tak sempat paman sampaikan jika nanti paman tiada.” “Paman Hasan...” Paman Hasan membuka laci meja dan mengambil berkas yang sudah di masukkan dalam kotak. Berkas dokumen kepemilikan Persada Agung Grup, diserahkannya pada Angga. Seharusnya semua ini diserahkan pada Alisha saat menemukan jodohnya nanti. Paman Hasan kini menitipkan amanah ini pada Angga. Paman menjelaskan sedikit banyak mengenai manajemen di Persada Agung Grup. Fariz, putra pertama paman saat ini menjadi direktur utama. Pak Yudha, ayah kandung Alisha kini menjalankan usaha di Singapura. Dia yang mengendalikan Persada Agung Grup, Pak Yudha mempercayakan Paman Hasan sebagai wakilnya. Trauma yang didapatkan di Indonesia sangat mempengaruhinya, hingga memutuskan menetap dan memiliki keluarga di sana. Paman Hasan menjelaskan semuanya pada Angga tanpa ada yang ditutupi. Angga tak bisa berkata-kata, hanya mendengar dan memenuhi keinginan pamannya. Setelah makan malam, mereka kembali ke Jakarta. Besok banyak pekerjaan yang akan diselesaikan. Sepanjang perjalanan Angga tak banyak bicara. Semua yang baru didengar sangat memeras otak. Bagaimana menyampaikan pada bunda dan Alisha tanpa membuat mereka kembali pada rasa kehilangan di masa lalu. “Bunda, Angga langsung istirahat ya,” ucap Angga sesaat mereka masuk ke dalam rumah. “Angga, apa yang paman sampaikan? Mau bicara dengan bunda?” tanya bunda menghentikan langah Angga sejenak. Sepertinya bunda membaca keresahannya, batin Angga. Namun saat ini dia tak siap berbagi. Khawatir jika nanti menyebabkan kesedihan dan kekecewaan pada bunda, Angga lebih memilih berdiam. “Tidak ada bunda, hanya masalah pekerjaan.” Bunda tak memaksa lebih lanjut, menatap Angga menghilang dibalik pintu kamar. Bunda dan Alisha juga akhirnya beranjak ke kamar dan beristirahat. Sesaat akan membaringkan tubuhnya. Pesan masuk dari Hendra. -Pak Angga, Kantor utama kebakaran. Pemadam kebakaran baru saja tiba.- -Sayap kanan terbakar, semoga cepat dipadamkan.- Sebuah panggilan dari Tyo, menghentikan ketikan pesan untuk Hendra. “Angga, kantor jalan Siliwangi...” “Kamu di sana? Tolong cek kondisinya. Cari Hendra. Aku bersiap.” “Oke.” Angga segera berpakaian dan turun menuju kamar bunda untuk pamit izin menuju kantor. Dia akan mengecek langsung kondisi di sana. Hendra dan Tyo sudah di lokasi mengamankan situasi, semoga saja api cepat dikuasai dan dipadamkan.Setelah dokter bisa menangani Aristya, Angga memutuskan kembali ke ruang rawat Alisha. Hendra berdiri di depan pintu ruangan bersama John dan Hans. Saat melihat Pak Angga keluar, mereka mengangguk namun tak berbicara. “Hendra, jika ada kabar penting langsung hubungi,” pesan Angga sebelum beranjak menuju ke ruang rawat Alisha. “Baik Pak.” “Bukannya tadi ada Adrian?” tanyanya penasaran sambil melihat sekeliling. Hendra menatap John dan Hans bergantian. Tadi Adrian memang ada di sini. Mereka sempat mengobrol. Adrian datang bersama Dania, namun sepertinya mereka berduua sudah pergi. Angga menghubungi Alisha. Hanya nada sambung terdengar berbunyi, Alisha tidak mengangkatnya. Dicobanya hingga tiga kali, namun hasilnya sama saja. Angga langsung bergegas menuju lorong ruang rawat Alisha. Perasaannya tak enak. Hendra diminta menghubungi Fathir. Jika ada di luar minta segera kembali ke ruang Alisha. John dan Hans mengikuti langkah bosnya. Angga tak ingin kejadian buruk menimpa Alisha.
Saat Alisha membuka matanya, dirasakan tubuhnya terbaring dalam kamar dengan aroma yang sangat dikenalnya. Dinding putihnya selalu bersih. Walau suka dengan warnanya tapi dia tak mau lama-lama di sini. Mas Angga…? Tadi Hendra bilang jika Mas Angga kecelakaan. Sari yang menabraknya. Jadi benar yang dikatakan Adrian jika kotak hadiah itu dari Sari. Nomor yang selalu menerornya mungkin juga Sari. Tapi mengapa? Alisha mencoba bangun dari tidurnya. Alisha harus mencari Mas Angga. Dia harus tahu kondisinya saat ini. Saat badannya mulai digeser untuk duduk, suara pintu dibuka menghentikan gerakkannya. Ditunggunya siapa yang akan masuk dengan terus menatap lurus ke arah pintu. “Mas Angga…!” Angga duduk di kursi roda yang didorong masuk oleh Fathir, menatap Alisha tajam. Kemudian tersenyum saat melihatnya diam. Setelah Alisha sadar siapa yang datang, Alisha ingin beranjak turun memeluknya. “Di sana saja Hanny. Mas tidak mau kamu lelah,” ucapnya sambil memberikan tanda agar Alisha teta
Jadi hadiah itu dari Sari. Tiba-tiba rasa mual kurasakan, Alisha bangun menuju toilet. Dania mengikutiku dari belakang. Adrian hanya duduk diam dalam kebingungan memutuskan untuk menunggu mereka. Alisha didampingi Dania Kembali duduk di hadapan Adrian. Masih banyak yang ingin diketahuinya. Saat ini Alisha sangat ingin tahu di mana Mas Angga. Pesan yang tadi dikirim masih belum dibacanya. dicobanya menghubungi, tapi hanya suara operator yang menjawab. Alisha mencoba menghubungi Hendra, namun sama saja. Saat Alisha panik, dering telepon berbunyi. Mas Angga. Aisha langsung menggeser layar dan berbicara padanya. “Mas di mana? Kenapa sulit dihubungi?” “Maaf Hanny, mas lagi rapat dan susah sinyal. Ini juga hanya sebentar bisa teleponnya. Mas mau mengingatkan jangan lupa makan siang ya.” “Iya mas. Mas Angga juga ya,” ucap Alisha menginggatkannya. “Kalau di kantor, jangan terlalu lelah ya, kasihan dede nanti. Makan siangnya ditemenin Dania saja Hanny,” ucap Mas Angga. Belum sem
Aku menoleh ke arah Mas Angga, mencoba tersenyum dan menatap wajahnya lekat. Aku Kembali mengusap lembut perutku. Aku harus kuat, Arjuna dan aku bisa melewatinya dulu. Kini aku juga harus bisa. “Tidak apa mas, sudah mulai terasa tidak enak perutnya,” jawabku pelan. “Sebentar lagi kita sampai dede, sabar ya.” Aku tersenyum mendengarnya. Mas Angga sangat memperhatikan kami, aku berharap ini bukan sementara. Pikiranku mengenai Aristya masih mengganjal. Apalagi nomor asing yang mengirim pesan dan foto, membuat aku bertanya-tanya siapa dia? Sesampainya di rumah besar, aku langsung masuk ke dalam kamar. Mas Angga menggendong Arjuna ke kamarnya. Oma dan Opa juga akan beristirahat, sebelum Oma menyiapkan makan siang. Suara pintu kamar yang dibuka membuat aku menoleh. Mas Angga sudah melangkah menuju ke arahku yang masih duduk di tepi tempat tidur. “Masih jail dedenya?” tanya Mas Angga padaku. “Tidak papa. Dede aman,” jawabku sambil tersenyum. Mas Angga mendekat dan berhenti di ha
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews