Home / Romansa / Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi! / Bab 5 JMP || Naik Jabatan

Share

Bab 5 JMP || Naik Jabatan

Author: Sora Ayoola
last update publish date: 2026-07-18 22:51:30

“Aku ada tugas untukmu,” ucap Dean membuat Rey yang sedang melamun memikirkan apa yang sedang direncanakan oleh Dean pun langsung mengerjapkan mata berkali-kali.

“Hah? Apa?” Rey langsung gelagapan mendapati lirikan tajam dari Dean.

“Kau melamun, Rey? Jika kau saat ini sedang tidak fokus, lebih baik aku saja yang mengendarai mobil ini,” ucap Dean. Nada suaranya sudah terdengar sangat tidak ramah membuat Rey harus segera bisa kembali fokus untuk bekerja dan mengesampingkan pikiran pribadinya.

“Aman,” sahut Rey. Ia kembali melirik kaca spion ketika menyadari jika Dean masih saja sibuk dengan ponselnya, kemudian Rey pun memutuskan untuk bertanya, “sebenarnya kau sedang mengurus apa, Dean? Bukankah semua jadwal rapat dan pertemuan lain dengan klien hari ini sudah aku bereskan semuanya di hari kemarin? Bahkan kau juga sudah meng-ACC,” sambung Rey sehingga Dean menatap sang teman.

“Bukan urusan kantor, kau tenang saja,” jawab Dean membuat Rey semakin penasaran dengan suatu rencana yang telah disusun oleh Dean seorang diri tanpa Rey ketahui, sebab biasanya Dean kalau ada suatu hal apapun pasti akan selalu meminta pendapat dari Rey dan juga referensi supaya rencananya semakin lancar.

“Hari ini kita akan bertemu dengan seorang desainer terkenal di kota ini, dan dia adalah seorang wanita. Jadi aku harap kau bisa bersikap ramah kepada dia, Dean, karena kita membutuhkan tenaganya supaya dia mau bekerja sama dengan perusahaan kita,” ucap Rey, sang asisten sudah memberikan warning kepada atasannya supaya bisa tetap bersikap ramah dengan lawan jenis.

“Tapi jika bisa, kau carilah seorang desainer yang sudah berumur, supaya dia nggak banyak tingkah,” ucap Dean sambil menghela napas kasar ketika ia teringat saat terakhir ia dan Rey bertemu dengan desainer wanita yang sangat centil kepada Dean.

“Sayangnya tidak ada, Tuan Dean. Kau kan tahu sendiri, di kota kita ini hanya ada dua desainer terbaik dan sudah tidak diragukan lagi keahlian mereka, karena para artis papan atas pun sudah sangat sering menggunakan jasa mereka,” ucap Rey dan cukup bisa membuat Dean menghela napas berat.

“Ya … daripada kita kerja sama dengan desainer yang cowok lembek itu, kau mau memangnya?” ucap Rey sambil terkekeh ketika ia teringat kembali beberapa potongan adegan disaat seorang pria agak setengah wanita berusaha mendekati dan mencuri perhatian Dean.

Dean sudah duduk di meja yang sudah di booking oleh Rey dari beberapa jam sebelum mereka tiba di restoran.

“Selamat sore menjelang malam, Tuan Dean Atmaja. Senang bisa kembali bertemu dengan Anda hari ini,” ucap seorang wanita dengan busana sangat staylish juga makeup onpoint membuat Dean semakin jenuh melihatnya.

“Selamat sore juga, Nona,” jawab Dean sambil membalas jabat tangan dengan wanita di depannya.

“Apakah kedatangan saya sudah membuat Anda menunggu sangat—”

“Tidak. Anda bisa langsung beritahukan saja gambaran kasar mengenai konsep dari model jas yang akan diproduksi oleh perusahaan saya,” ucap Dean membuat Rey terus memberikan senyum ramah kepada rekan bisnis mereka supaya wanita itu bisa mewajarkan sifat dan juga sikap dingin yang selalu Dean tunjukkan kepada lawan jenis.

“Ini adalah hasil sketsa jas yang akan launching dengan merek perusahaan Anda, Tuan. Untuk bahan juga detail desainnya sudah saya gambarkan di kertas halaman kedua, disana juga ada setiap keterangan dari detail yang saya tambahkan pada desain jas ini,” ucap Rahma–seorang desainer ternama yang sangat terkenal di seluruh penjuru kota. Wanita itu terus saja memperhatikan wajah tampan Dean untuk mengetahui seberapa besar persen Dean menyukai model jas yang sudah Rahma buat dalam waktu yang hanya diberikan selama satu Minggu oleh Dean.

“Ya, ini sudah lumayan bagus,” ucap Dean membuat Rahma menelan ludahnya kasar.

‘Lumayan bagus’ yang dimaksud oleh Dean sangat ambigu sekali bagi seorang desainer yang sudah berusaha keras untuk membuat sebuah produk dengan detail desain terbaik.

“Terima kasih, Tuan atas pujiannya,” ucap Rahma namun sama sekali tidak membuat Dean merasa tersindir, “Minggu depan saya akan mempresentasikan hasil desain saya di ruang rapat untuk mendapatkan voting terbanyak dari tiga desain jas yang sudah saya siapkan,” ucap Rahma.

Dean  mengangguk, “Terima kasih banyak, Rahma, kau sudah bekerja keras untuk membuat desain jas kali ini. Jika masuk proses marketing dan banyak produk yang meledak pesanan, maka saya akan menunaikan janji saya memberikan kompensasi kepada dirimu sesuai dengan kesepakatan awal yang sudah kita setujui bersama,” ujar Dean membuat senyum di wajah Rahma langsung mengembang sebab ini adalah kali pertama Dean mengeluarkan kalimat yang cukup panjang kepada dirinya.

“Jika sudah sepakat mengenai konsep desain jas-nya, bagaimana jika kita langsung saja memesan makanan? Perutku sudah sangat lapar,” ceketuk Rey dan tiga orang itu segera menyantap menu makan malam dengan sangat minim sekali obrolan. Semuanya berjalan dengan sangat kaku sekali, karena baik Dean dan juga Rey sama-sama tidak excited dalam merespon semua celotehan yang diucapkan oleh Rahma.

Sementara di belahan dunia lain, seorang wanita masih sibuk dengan pikirannya yang semakin bercabang. Ada puluhan panggilan suara tak terjawab dari nomor tak terdaftar di kontak Caramel. Ya, itu adalah nomor lain milik Gesta, sebab nomor Gesta yang terdaftar di kontak Caramel sudah di blokir oleh gadis itu demi kewarasan jiwanya.

DRTTT!!!

DRRTTT!!!

DRTTTT!!!

“ISH! Berisik banget, sih!” Caramel langsung mengambil kasar ponselnya di nakas dan segera memblokir nomor baru yang digunakan oleh Gesta untuk menghubunginya.

“Siapa sih, Kak? Kok kamu sewot gitu?” Sang ibu bertanya membuat Caramel segera mengubah raut wajahnya menjadi biasa saja.

“Nggak papa kok, Bu. Ini cuma temen Cara aja yang maksa banget mau pinjam uang ke Cara,” ucap Caramel sambil tersenyum kecut karena ia harus kembali membohongi ibunya.

“Emang kamu nggak bilang kalau kamu pun juga belum turun gajinya?”

Caramel perlahan menggelengkan kepala dan menjawab, “Namanya orang kepepet, terus nggak punya orang yang bisa dia pinjami, ya jadinya bakalan maksa terus, Bu. Dia ngiranya Cara selalu punya banyak uang, mentang-mentang Cara kerjanya selalu lembut,” ucap Caramel dengan kepala menunduk. Anak itu tak berani menatap mata indah milik sang ibu jika sedang berbohong.

Caramel menikmati usapan lembut tangan ibunya di kepala. Ia menikmati ketenangan itu dengan mata terpejam. Namun semua itu tidak berlangsung lama karena lagi dan lagi handphone Caramel kembali berbunyi membuat wajah putih Caramel seketika agak memerah.

‘Padahal nomornya yang tadi sudah aku blokir, terus sekarang dia pake nomor siapa lagi untuk menghubungi aku?!” batin Caramel.

Caramel segera menjauh dari sang ibu untuk menjawab telepon. Ia langsung menekan icon telepon berwarna hijau sehingga panggilan tersebut langsung terangkat tanpa dia lihat lagi siapa yang telah meneleponnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 37 || Party

    “Apakah benar di club akan diadakan acara?” tanya Dean tanpa memberikan sapaan lebih dulu atau kalimat pembuka lainnya. “Benar, Tuan. Saat ini saya sedang mengawasi beberapa ruangan VIP yang sedang kami bedah, karena ruangan-ruangan itu akan kami jadikan sebagai tempat transit artis dan juga asistennya nanti,” jawab Kokoh, dan dapat didengar oleh Dean suara-suara berisik manusia dan juga beberapa gesekan barang berat yang sedang dipindah posisi disana. “Siapa artisnya?” tanya Arkananta penasaran. “Aduh, saya juga nggak terlalu ingat namanya, nggak yang terkenal banget sih, dan ini juga karena ada salah satu pengusaha yang sedang berulang tahun, jadi tim mereka menyewa club kita untuk merayakannya dan meminta kita untuk menjaga keamanan supaya tidak ada tamu diluar undangan yang datang, dan juga harus memastikan supaya tidak ada paparazi disini,” ucap Kokoh. “Lalu tujuan kamu menghubungi Rey untuk apa?” tanya Dean. “Tadi tuan Rey sempat menanyakan tentang job desk Caramel di mala

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 36 || Strategi Untuk Bertemu Caramel

    “Benar kata mommy, laki-laki itu harus aktif dan agresif ya kalau menyangkut tentang wanita. Patutlah aku sampai saat ini masih single.” Dean terus menggeser layar handphone untuk melihat semua postingan akun media sosial Caramel.“Pantas saja wanita itu terlihat sangat depresi dan juga menyedihkan, ternyata hubungan asmara keduanya sangat lah lama ya. Hahaha,” gumam Dean, kemudian ia berpindah posisi menjadi tiduran dengan posisi miring ke kiri.“Tapi, pacaran juga untuk apa jika endingnya tetap berpisah? Buang-buang waktu iya, dinikahin enggak.” Mulut lantam Dean kembali bersabda, pria itu sangat kasihan sekali terhadap percintaan buruk yang dijalani oleh Caramel.“Apakah lebih baik aku minta Kokoh untuk memindahkan saja tempat kerja Caramel di cabangku? Setidaknya wanita itu tidak akan bisa ditemukan dan di ganggu lagi oleh mantan kekasihnya,” lirih Dean dengan tubuh sudah duduk tegak di kasur.“Walaupun rencanaku sangat to much, tapi peranku membuat keputusan ini pasti akan sangat

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 35 || Stalking Sosmed

    “Dean, apakah mau kita bawa masalah ini ke hukum saja?” Rey memperhatikan gerak-gerik Dean yang hanya fokus pada layar ponsel, auranya terlihat sedang marah pada suatu hal sehingga Rey berinisiatif untuk mendekat pada Dean. “Kau mendapat kabar update apa dari orang suruhanmu itu?” tanya Rey setelah berhasil mengintip sesuatu yang sedang dilihat Dean. “Aku juga tadi sempat menanyakan jadwal kegiatan Dirga untuk hari esok kepada sekretarisnya. Dia ada waktu senggang di sore hari, apakah kau mau menemui dia di antara jam 4 sampai 6?” tanya Rey dan ia masih berhati-hati memilih kalimat supaya amarah Dean tidak semakin terpancing. “Tidak perlu. Biarkan saja waktu yang memaksanya untuk meminta maaf kepadaku,” sahut Dean dan sungguhan membuat Rey sangat syok. “Kau serius, Bro?” Rey mengedipkan mata beberapa kali saking tidak menyangkanya jika Dean akan membuat keputusan seperti ini. “Ya, aku serius. Sekarang kau istirahatlah, terima kasih banyak karena sudah membantuku untuk menemukan

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 34 || Bermesraan dengan Pria Lain

    Caramel tersedak, ia langsung segera minum air putih, rasa sakit sekaligus panas pada tenggorokannya sangat terasa sekali, karena ia memilih seafood dengan varian saus padang. “Oh, jadi ini alasan kamu selalu memblokir nomorku dan sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk menemuimu lagi, Caramel?” Caramel mengepalkan tangannya melihat pria yang teramat sangat ia benci pada kehidupan ini justru kembali lagi menampakkan wajah di hadapannya dengan urat malu yang sudah putus. “Apa? Kenapa kau memelototi aku seperti itu? Urusan kita bahkan belum pernah selesai, Cara, tapi justru kau malah sudah jalan dengan pria lain? Wahhhh, bravooo!!!!” Gesta bertepuk tangan dengan raut wajah yang sangat menyebalkan. “Urusan apa? Bukankah aku dan kamu sudah tidak punya urusan apapun? Kau urus saja jalang itu, supaya dia makin pintar merawat badan juga wajahnya agar kamu semakin terpikat!” ucap Caramel, ucapannya sangat sarkas membuat Andi dan juga Gesta sangat terkejut, karena Caramel yang se

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 33 || Gangguan Malam Minggu

    “Kokoh ….” Caramel terdiam sebentar, karena ia tidak akan mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya, bisa-bisa kejadian memalukan itu akan tersebar kemana-mana. Kokoh menarik Caramel supaya menjauh lebih dulu dari orang-orangnya Dean. “Maaf, Koh, Cara pikir Cara bisa mengakses CCTV, ternyata tidak semudah itu ya?” ucap Caramel, ia masih belum menemukan alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan dari Kokoh. “Sekarang memang seperti itu, ini semua dikarenakan telah terjadi beberapa hal. Lalu, kau belum menjawab pertanyaan Kokoh yang tadi. Kenapa kamu tiba-tiba banget mau memeriksa rekaman CCTV? Kamu kan paling malas jika Kokoh suruh untuk memeriksa CCTV jika telah terjadi suatu hal. Namun sekarang …?” tanya Kokoh. “Itu hanya tentang meluruskan kesalahpahaman saja dengan pelanggan, Koh. Tapi bukan suatu hal yang sangat fatal kok,” jawab Caramel. Sebisa mungkin Caramel tidak menunjukkan wajah paniknya saat mengatakan sebuah kebohongan itu. “Jika memang hal seperti ini terjadi lagi dan

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 32 || Pemeriksaan CCTV

    “Aku hanya bertanya saja, kenapa kamu sampai terkejut seperti itu?” Sisil menatap curiga pada Caramel, karena menganggap respon yang diberikan sahabatnya ini terlalu berlebihan, padahal pertanyaan yang sedang ia tanyakan hanyalah pertanyaan biasa yang bisa ditanyakan oleh siapa saja. “Aku sedang tidak memiliki hubungan apapun dengan lawan jenis, Sil. Memangnya ada apa? Kenapa tiba-tiba sekali malah bertanya mengenai tuan Dean?” tanya Caramel, ia bertanya dengan sangat hati-hati supaya dirinya tidak terjebak dengan pertanyaannya sendiri. “Aku ingin mengejutkan kamu begitu kamu sedang menutup pintu ruanganmu dan tidak sengaja mendengar ucapanmu tadi. Apakah kau memiliki hubungan dengan tuan Dean?” Sekali lagi Sisil bertanya dan kali ini bisa dengan segera disangkal oleh Caramel. “Tidak ada hubungan apapun. Aku menyebut nama tuan Dean hnya karena takut tidak bisa mengakses CCTV karena jabatanku disini hanyalah sebagai kepala divisi saja kan. Jadi aku sempat berpikir kalau yang bisa me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status