登入“Apaan sih, Gesta?! Kamu masih belum menyerah menghubungi aku setelah aku memblokir dua nomor kamu?” Caramel langsung mengeluarkan kata-kata makian yang tertuju untuk sang mantan.
“Hey, hey, Cara! Ini Kokoh, bukan pacarmu Gesta!”
DEG!
Jantung Caramel langsung memompa darah menjadi lebih cepat dari biasanya ketika yang ia dengar juga suara sang manager tempat Caramel mencari rezeki.
“E-eh? Kokoh?” Seketika Caramel langsung panas dingin dan secara perlahan menjauhkan handphonenya untuk memastikan jika yang menghubungi dirinya ini adalah nomor sang manager.
‘Mampus gue!’ batin Caramel.
Gadis itu agak sedikit keringat dingin, pasalnya tadi Caramel sudah keceplosan mengeluarkan kata-kata yang sudah tersusun menjadi sebuah kalimat makian untuk Gesta, namun ternyata malah sasaran.
“Kalau lagi ada masalah sama pacarmu, diselesaikan secara baik-baik, Cara. Jangan sampai hal seperti tadi terulang lagi, okay?”
Caramel menggigit bibirnya mendengar teguran dari sang atasan di tempat kerjanya. Dengan ragu pada akhirnya Caramel pun membuka mulut untuk meminta maaf, “Maaf, Koh, Cara lagi nggak bisa mengontrol emosi,” ucap Caramel penuh rasa bersalah.
“Ya sudah, nggak papa. Kokoh menghubungi dirimu malam-malam begini karena ingin memberitahukan suatu hal yang lumayan penting dan harus segera Kokoh samapaikan kepadamu malam ini juga supaya besok kau sudah siap,” ucap Kokoh membuat Caramel menajamkan indera pendengarannya.
“Mulai besok, kau naik jabatan, Cara. Kau tidak lagi di perkenankan untuk menjadi waiters lagi,” ucap Kokoh akan tetapi tidak membuat Caramel merasa 100% puas dengan naik jabatannya ini. Lagi pula ganjal rasanya jika Caramel tiba-tiba saja bisa naik jabatan, sedangkan Andi yang kerjanya selalu melebihi jobdesk masih diam di tempat.
“Kenapa malah Cara yang naik jabatan, Koh? Kan yang paling berkontribusi kalau bekerja tuh si Andi,” ucap Caramel.
“Maaf, Cara, tapi ini bukan atas dasar keputusan Kokoh.”
“Lalu keputusannya siapa? Kan yang berwenang memecat, menerima dan naik jabatan karyawan itu adalah Kokoh sendiri,” ucap Caramel. Dahinya saat ini sudah mengerut.
“Kokoh juga nggak paham, Cara. Atasan tertinggi kita tiba-tiba saja mengubah aturan, untuk head waiters harus seorang wanita, dan shift 2, jadwal kamu berjaga harus diwajibkan lelaki semua yang bekerja,” ucap Kokoh membuat kepala Caramel hampir pecah saking banyaknya pikiran di kepala, apalagi peraturan ini sangat tidak masuk akal untuk Caramel,.
“Sudah, ya, jangan banyak tanya lagi. Kokoh ingin memantau club dulu, kamu besok datang ke club dengan jabatan baru kamu, ya. Jangan membantah!” tegas Kokoh.
“Tapi, Koh …. Cara nggak bisa mengambil kenaikan jabatan itu. Cara merasa masih belum layak …,” ucap Caramel.
“Jangan membantah! Menurut saja, Cara! Jika kamu tidak menerima kenaikan jabatan kamu ini, jangan salahkan Kokoh jika besok kamu justru akan kehilangan pekerjaan kamu.”
Tut!
Panggilan telepon langsung dimatikan karena Kokoh harus mengurus banyak hal di club dan menyisakan Caramel yang masih berusaha untuk berpikir keras dimana letak sesuatu yang harus Caramel banggakan sehingga sesuatu itu yang bisa membuat diri Caramel jadi naik jabatan.
“Masa lagi patah hati malah naik jabatan, sih? Lucu banget deh!” gumam Caramel.
“Atasan tertinggi di club memangnya siapa? Kenapa dia malah milih aku sebagai head waiters sih? Kayak kenal aku aja!” gerutu Caramel dengan wajah di tekuk.
"Apa jangan-jangan pria yang menghabiskan malam panjang denganku adalah pemilik club tempat aku kerja?" Dua bola mata Caramel langsung terbuka lebar ketika pikirannya langsung memikirkan ke arah sana.
"Nggak, nggak! Nggak mungkin juga, Cara! Untuk bisa naik jabatan itu sangat susah, jad tidak akan mungkin hanya karena tragedi kemarin malam kamu bisa langsung dinaikkan jabatan jika pria yang tidur denganku memang adalah orang yang memiliki kuasa di tata kelola tempat kerjaku," gumam Caramel. Matanya masih menatap kosong view yang dapat ia lihat dari kaca jendela rumahnya.
"Bisa jadi kenaikan jabatanku ini memang murni karena aku sudah bekerja keras dann juga sangat baik dalam menjalankan semua tugas. Ya, Cara! Pasti memang seperti itu." Caramel berusaha tersenyum untuk meyakinkan dirinya.
"Toh berpikir positif juga nggak ada pajaknya," gumam Caramel, walaupun pikirannya masih dominan tidak percaya dengan kenaikan jabatannya ini.
"Aku harus menyiapkan pertanyaan untuk Kokoh besok dan ya, aku juga akan bertanya kepada Andi."
BUGH! KREK! TAK!Perkelahian langsung terjadi selang beberapa detik Caramel disuruh untuk berdiri agak menjauh dari sopirnya Dean supaya tidak terkena pukulan ataupun tendangan ketika perkelahian sedang berlangsung.KRIEKKK!!!“ARGGHHH!!” Salah satu preman sudah tak bisa melawan lagi akibat pergerakannya langsung dikunci oleh sang sopir.“Sialan!” Preman itu mengumpat diselingi ringisan ketika sopir itu semakin menekan tangan salah satu preman yang sudah ia pelintir.“Begini lah seorang lelaki, lawannya ya lelaki jika ingin berkelahi! Jangan malah menjebak perempuan dan membuat mereka tidak berdaya! Dasar pecundang!”Dua preman lainnya yang tidak kena pukulan dan juga kunci pergerakan dari sopirnya Dean berusaha untuk mencari benda yang bisa mereka gunakan untuk menumbangkan musuh mereka sebab semua orang yang bekerja untuk Dean sudah dipastikan memiliki ilmu bela diri yang sudah tinggi sehingga akan bisa melindungi Dean dimanapun dan kapanpun.“Brengs3k, jika begini terus kita akan m
"Ya, Tuan. Saya melihatnya.""Kau turunlah.""Tuan ingin saya mengajak karyawan bar untuk pulang bareng?" Pertanyaan itu langsung membuat sang sopir langsung mendapat tatapan mematikan dari Dean."Kau turun, dan jagalah dia dari jarak jauh!" tegas Dean. Melihat sopirnya masih kebingungan membuat Dean menambahkan kalimatnya, "ada beberapa pria yang sedang mengincar dia dari halte seberang, kau turun dan jagalah dia dari kejauhan sembari dia sedang menunggu jemputannya," lanjut Dean.Tanpa banyak bertanya lagi sopir itu langsung turun dari mobil sesuai dengan perintah majikannya dan Dean memantau keduanya dari dalam mobil."Apakah dia sedang menunggu pacarnya menjemput setelah tadi siang cowoknya itu sudah berani membuat keributan di bar-ku?" Dean masih terus mengawasi gerak-gerik para preman yang sudah mengincar Caramel sejak tadi."Duh, ini mana sih tukang ojeknya? Aku udah nunggu lebih dari 15 menit padahal, tapi sampai sekarang chat yang aku kirimkan saja masih belum dibalas sama di
Dean langsung memalingkan pandangan begitu ia sudah merasa terlalu lama beradu pandang dengan mata karyawannya. “Kau kenapa?” tanya Dirga begitu melihat gelagat Dean tiba-tiba saja menjadi aneh. “Sodamu aman kan, nggak mengandung obat apa-apa?” tanya Rey, pikirannya sudah menduga jika minuman soda yang dikonsumsi oleh Dean ada yang sudah merencanakan dengan dicampur dengan obat perang sang. “Aman. Semuanya aman aja, nggak seperti yang kamu pikirkan,” sahut Dean dan ia langsung memahami isi pikiran sahabatnya. “Jadi, kau mau atau tidak aku carikan seorang wanita untuk menemani salah satu malammu di bulan ini?” tanya Dirga lagi membuat Rey segera menatap tajam temannya itu. “Kan Dean yang berhak memutuskan dia mau melepaskan ke per jaka aannya atau tidak dengan wanita manapun itu, kenapa disini malah kau yang ribut?” celetuk Rey dengan tatapan sinis terhadap Dirga.’ “Its oke, aku hanya ingin membantu teman kita ini saja, siapa tahu dia sedang lelah dan membutuhkan pelepasan bukan?
“Kokoh sudah menyuruh orang-orang Kokoh untuk menyeret dia keluar dari lingkungan club ini. Kau tenang saja, dia sudah Kokoh ancam supaya tidak mengganggumu lagi,” jawab Kokoh membuat Caramel dapat menghela napas lega. “Renungkan baik-baik saran yang sudah diberikan oleh tuan Dean kepadamu, Cara. Masukan yang tadi beliau ucapkan seharusnya bisa membuat kamu menjadi pribadi yang lebih profesional, sebab kamu di club ini di tuntut untuk fokus pada pekerjaanmu dan jangan membawa-bawa masalah pribadi, itu akan membuat pelanggan akan menilai buruk club kita,” ucap Kokoh, melanjutkan dan juga menjabarkan agak lebih rinci pesan yang tadi sudah disampaikan oleh Dean untuk Caramel. “Iya, Koh. Cara akan mengusahakan semuanya akan berjalan lebih baik dari ini,” sahut Caramel. Dua orang itu langsung masuk ke dalam club dan melakukan tugas mereka masing-masing. Naik jabatan membuat Caramel sesekali merasa bosan karena hanya menjawab pertanyaan saja dari para pelanggan dan juga pekerja yang pena
Sekali lagi Caramel memperhatikan pria jangkung yang ada di dekatnya, kali ini dengan tatapan sinis dan memperhatikan jelas setiap pakaian dan juga benda yang ada di tubuh pria itu. “Hmmm, kayaknya dia bukan orang biasa. Apakah dia ini adalah seorang pejabat sampai si Kokoh bisa ketakutan kayak gini?” gumam Caramel dengan suara sangat kecil dan tak ada yang mendengar gumamnya barusan. “Cara, pokoknya kamu harus meminta maaf dengan segera kepada tuan Dean!” tegas Kokoh membuat bola mata Caramel langsung mendelik. “Aku tidak bersalah, Koh! Lalu kenapa aku harus minta maaf?” ucap Caramel dan semakin membuat pria di depannya terus memperhatikan Caramel. “Cara, jika kamu ingin aman, kamu harus segera melakukannya! Tuan Dean ini adalah salah satu bos besar di tempat kita mencari rezeki untuk keluarga,” bisik Kokoh dengan suara penuh penekanan membuat Caramel rasanya ingin menghilang dari hadapan pria dengan nama Dean sekarang juga. “APA?!” Caramel reflek berteriak dan langsung segera
“Ya, Tuan. Tolong jangan macam-macam dengan dia!” tegas Gesta membuat Caramel memutar bola mata dengan malas.Caramel langsung meninggalkan dua pria yang saling memberikan tatapan tajam tanpa permisi lagi sehingga membuat Gesta yang menyadari lebih dulu kepergian Caramel langsung mengejar Caramel, menyisakan senyuman di wajah devil di wajah Dirga.“Hmmm …. Ya, tidak heran sih jika gadis secantik itu sudah mnemiliki kekasih. Tapi, ini sepertinya terlihat sangat menarik sekali, mereka sedang bertengkar, ya?” Dua bola mata Dirga masih belum lepas dari pemandangan dimana Gests sedang berusaha mengejar Caramel dan merayu gadis itu supaya mau berbicara dan menatap Gesta.“Sayang, tolong berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Ayolah, kamu jangan seperti ini. Jika semua akun media sosial yang aku miliki sudah kamu blokir, bagaimana caraku memberikan penjelasan kepadamu, Sayang?” Gesta berhasil menangkap tangan kanan Caramel dan menahan wanita itu supaya tetap berdiri di hadapannya







