Share

Bab 6 || Curiga

Penulis: Sora Ayoola
last update Tanggal publikasi: 2026-07-18 23:04:52

“Apaan sih, Gesta?! Kamu masih belum menyerah menghubungi aku setelah aku memblokir dua nomor kamu?” Caramel langsung mengeluarkan kata-kata makian yang tertuju untuk sang mantan.

“Hey, hey, Cara! Ini Kokoh, bukan pacarmu Gesta!”

DEG!

Jantung Caramel langsung memompa darah menjadi lebih cepat dari biasanya ketika yang ia dengar juga suara sang manager tempat Caramel mencari rezeki.

“E-eh? Kokoh?” Seketika Caramel langsung panas dingin dan secara perlahan menjauhkan handphonenya untuk memastikan jika yang menghubungi dirinya ini adalah nomor sang manager.

‘Mampus gue!’ batin Caramel.

Gadis itu agak sedikit keringat dingin, pasalnya tadi Caramel sudah keceplosan mengeluarkan kata-kata yang sudah tersusun menjadi sebuah kalimat makian untuk Gesta, namun ternyata malah sasaran.

“Kalau lagi ada masalah sama pacarmu, diselesaikan secara baik-baik, Cara. Jangan sampai hal seperti tadi terulang lagi, okay?”

Caramel menggigit bibirnya mendengar teguran dari sang atasan di tempat kerjanya. Dengan ragu pada akhirnya Caramel pun membuka mulut untuk meminta maaf, “Maaf, Koh, Cara lagi nggak bisa mengontrol emosi,” ucap Caramel penuh rasa bersalah.

“Ya sudah, nggak papa. Kokoh menghubungi dirimu malam-malam begini karena ingin memberitahukan suatu hal yang lumayan penting dan harus segera Kokoh samapaikan kepadamu malam ini juga supaya besok kau sudah siap,” ucap Kokoh membuat Caramel menajamkan indera pendengarannya.

“Mulai besok, kau naik jabatan, Cara. Kau tidak lagi di perkenankan untuk menjadi waiters lagi,” ucap Kokoh akan tetapi tidak membuat Caramel merasa 100% puas dengan naik jabatannya ini. Lagi pula ganjal rasanya jika Caramel tiba-tiba saja bisa naik jabatan, sedangkan Andi yang kerjanya selalu melebihi jobdesk masih diam di tempat.

“Kenapa malah Cara yang naik jabatan, Koh? Kan yang paling berkontribusi kalau bekerja tuh si Andi,” ucap Caramel.

“Maaf, Cara, tapi ini bukan atas dasar keputusan Kokoh.”

“Lalu keputusannya siapa? Kan yang berwenang memecat, menerima dan naik jabatan karyawan itu adalah Kokoh sendiri,” ucap Caramel. Dahinya saat ini sudah mengerut.

“Kokoh juga nggak paham, Cara. Atasan tertinggi kita tiba-tiba saja mengubah aturan, untuk head waiters harus seorang wanita, dan shift 2, jadwal kamu berjaga harus diwajibkan lelaki semua yang bekerja,” ucap Kokoh membuat kepala Caramel hampir pecah saking banyaknya pikiran di kepala, apalagi peraturan ini sangat tidak masuk akal untuk Caramel,.

“Sudah, ya, jangan banyak tanya lagi. Kokoh ingin memantau club dulu, kamu besok datang ke club dengan jabatan baru kamu, ya. Jangan membantah!” tegas Kokoh.

“Tapi, Koh …. Cara nggak bisa mengambil kenaikan jabatan itu. Cara merasa masih belum layak …,” ucap Caramel.

“Jangan membantah! Menurut saja, Cara! Jika kamu tidak menerima kenaikan jabatan kamu ini, jangan salahkan Kokoh jika besok kamu justru akan kehilangan pekerjaan kamu.”

Tut!

Panggilan telepon langsung dimatikan karena Kokoh harus mengurus banyak hal di club dan menyisakan Caramel yang masih berusaha untuk berpikir keras dimana letak sesuatu yang harus Caramel banggakan sehingga sesuatu itu yang bisa membuat diri Caramel jadi naik jabatan.

“Masa lagi patah hati malah naik jabatan, sih? Lucu banget deh!” gumam Caramel. 

“Atasan tertinggi di club memangnya siapa? Kenapa dia malah milih aku sebagai head waiters sih? Kayak kenal aku aja!” gerutu Caramel dengan wajah di tekuk.

"Apa jangan-jangan pria yang menghabiskan malam panjang denganku adalah pemilik club tempat aku kerja?" Dua bola mata Caramel langsung terbuka lebar ketika pikirannya langsung memikirkan ke arah sana.

"Nggak, nggak! Nggak mungkin juga, Cara! Untuk bisa naik jabatan itu sangat susah, jad tidak akan mungkin hanya karena tragedi kemarin malam kamu bisa langsung dinaikkan jabatan jika pria yang tidur denganku memang adalah orang yang memiliki kuasa di tata kelola tempat kerjaku," gumam Caramel. Matanya masih menatap kosong view yang dapat ia lihat dari kaca jendela rumahnya.

"Bisa jadi kenaikan jabatanku ini memang murni karena aku sudah bekerja keras dann juga sangat baik dalam menjalankan semua tugas. Ya, Cara! Pasti memang seperti itu." Caramel berusaha tersenyum untuk meyakinkan dirinya.

"Toh berpikir positif juga nggak ada pajaknya," gumam Caramel, walaupun pikirannya masih dominan tidak percaya dengan kenaikan jabatannya ini.

"Aku harus menyiapkan pertanyaan untuk Kokoh besok dan ya, aku juga akan bertanya kepada Andi."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 37 || Party

    “Apakah benar di club akan diadakan acara?” tanya Dean tanpa memberikan sapaan lebih dulu atau kalimat pembuka lainnya. “Benar, Tuan. Saat ini saya sedang mengawasi beberapa ruangan VIP yang sedang kami bedah, karena ruangan-ruangan itu akan kami jadikan sebagai tempat transit artis dan juga asistennya nanti,” jawab Kokoh, dan dapat didengar oleh Dean suara-suara berisik manusia dan juga beberapa gesekan barang berat yang sedang dipindah posisi disana. “Siapa artisnya?” tanya Arkananta penasaran. “Aduh, saya juga nggak terlalu ingat namanya, nggak yang terkenal banget sih, dan ini juga karena ada salah satu pengusaha yang sedang berulang tahun, jadi tim mereka menyewa club kita untuk merayakannya dan meminta kita untuk menjaga keamanan supaya tidak ada tamu diluar undangan yang datang, dan juga harus memastikan supaya tidak ada paparazi disini,” ucap Kokoh. “Lalu tujuan kamu menghubungi Rey untuk apa?” tanya Dean. “Tadi tuan Rey sempat menanyakan tentang job desk Caramel di mala

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 36 || Strategi Untuk Bertemu Caramel

    “Benar kata mommy, laki-laki itu harus aktif dan agresif ya kalau menyangkut tentang wanita. Patutlah aku sampai saat ini masih single.” Dean terus menggeser layar handphone untuk melihat semua postingan akun media sosial Caramel.“Pantas saja wanita itu terlihat sangat depresi dan juga menyedihkan, ternyata hubungan asmara keduanya sangat lah lama ya. Hahaha,” gumam Dean, kemudian ia berpindah posisi menjadi tiduran dengan posisi miring ke kiri.“Tapi, pacaran juga untuk apa jika endingnya tetap berpisah? Buang-buang waktu iya, dinikahin enggak.” Mulut lantam Dean kembali bersabda, pria itu sangat kasihan sekali terhadap percintaan buruk yang dijalani oleh Caramel.“Apakah lebih baik aku minta Kokoh untuk memindahkan saja tempat kerja Caramel di cabangku? Setidaknya wanita itu tidak akan bisa ditemukan dan di ganggu lagi oleh mantan kekasihnya,” lirih Dean dengan tubuh sudah duduk tegak di kasur.“Walaupun rencanaku sangat to much, tapi peranku membuat keputusan ini pasti akan sangat

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 35 || Stalking Sosmed

    “Dean, apakah mau kita bawa masalah ini ke hukum saja?” Rey memperhatikan gerak-gerik Dean yang hanya fokus pada layar ponsel, auranya terlihat sedang marah pada suatu hal sehingga Rey berinisiatif untuk mendekat pada Dean. “Kau mendapat kabar update apa dari orang suruhanmu itu?” tanya Rey setelah berhasil mengintip sesuatu yang sedang dilihat Dean. “Aku juga tadi sempat menanyakan jadwal kegiatan Dirga untuk hari esok kepada sekretarisnya. Dia ada waktu senggang di sore hari, apakah kau mau menemui dia di antara jam 4 sampai 6?” tanya Rey dan ia masih berhati-hati memilih kalimat supaya amarah Dean tidak semakin terpancing. “Tidak perlu. Biarkan saja waktu yang memaksanya untuk meminta maaf kepadaku,” sahut Dean dan sungguhan membuat Rey sangat syok. “Kau serius, Bro?” Rey mengedipkan mata beberapa kali saking tidak menyangkanya jika Dean akan membuat keputusan seperti ini. “Ya, aku serius. Sekarang kau istirahatlah, terima kasih banyak karena sudah membantuku untuk menemukan

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 34 || Bermesraan dengan Pria Lain

    Caramel tersedak, ia langsung segera minum air putih, rasa sakit sekaligus panas pada tenggorokannya sangat terasa sekali, karena ia memilih seafood dengan varian saus padang. “Oh, jadi ini alasan kamu selalu memblokir nomorku dan sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk menemuimu lagi, Caramel?” Caramel mengepalkan tangannya melihat pria yang teramat sangat ia benci pada kehidupan ini justru kembali lagi menampakkan wajah di hadapannya dengan urat malu yang sudah putus. “Apa? Kenapa kau memelototi aku seperti itu? Urusan kita bahkan belum pernah selesai, Cara, tapi justru kau malah sudah jalan dengan pria lain? Wahhhh, bravooo!!!!” Gesta bertepuk tangan dengan raut wajah yang sangat menyebalkan. “Urusan apa? Bukankah aku dan kamu sudah tidak punya urusan apapun? Kau urus saja jalang itu, supaya dia makin pintar merawat badan juga wajahnya agar kamu semakin terpikat!” ucap Caramel, ucapannya sangat sarkas membuat Andi dan juga Gesta sangat terkejut, karena Caramel yang se

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 33 || Gangguan Malam Minggu

    “Kokoh ….” Caramel terdiam sebentar, karena ia tidak akan mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya, bisa-bisa kejadian memalukan itu akan tersebar kemana-mana. Kokoh menarik Caramel supaya menjauh lebih dulu dari orang-orangnya Dean. “Maaf, Koh, Cara pikir Cara bisa mengakses CCTV, ternyata tidak semudah itu ya?” ucap Caramel, ia masih belum menemukan alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan dari Kokoh. “Sekarang memang seperti itu, ini semua dikarenakan telah terjadi beberapa hal. Lalu, kau belum menjawab pertanyaan Kokoh yang tadi. Kenapa kamu tiba-tiba banget mau memeriksa rekaman CCTV? Kamu kan paling malas jika Kokoh suruh untuk memeriksa CCTV jika telah terjadi suatu hal. Namun sekarang …?” tanya Kokoh. “Itu hanya tentang meluruskan kesalahpahaman saja dengan pelanggan, Koh. Tapi bukan suatu hal yang sangat fatal kok,” jawab Caramel. Sebisa mungkin Caramel tidak menunjukkan wajah paniknya saat mengatakan sebuah kebohongan itu. “Jika memang hal seperti ini terjadi lagi dan

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 32 || Pemeriksaan CCTV

    “Aku hanya bertanya saja, kenapa kamu sampai terkejut seperti itu?” Sisil menatap curiga pada Caramel, karena menganggap respon yang diberikan sahabatnya ini terlalu berlebihan, padahal pertanyaan yang sedang ia tanyakan hanyalah pertanyaan biasa yang bisa ditanyakan oleh siapa saja. “Aku sedang tidak memiliki hubungan apapun dengan lawan jenis, Sil. Memangnya ada apa? Kenapa tiba-tiba sekali malah bertanya mengenai tuan Dean?” tanya Caramel, ia bertanya dengan sangat hati-hati supaya dirinya tidak terjebak dengan pertanyaannya sendiri. “Aku ingin mengejutkan kamu begitu kamu sedang menutup pintu ruanganmu dan tidak sengaja mendengar ucapanmu tadi. Apakah kau memiliki hubungan dengan tuan Dean?” Sekali lagi Sisil bertanya dan kali ini bisa dengan segera disangkal oleh Caramel. “Tidak ada hubungan apapun. Aku menyebut nama tuan Dean hnya karena takut tidak bisa mengakses CCTV karena jabatanku disini hanyalah sebagai kepala divisi saja kan. Jadi aku sempat berpikir kalau yang bisa me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status