หน้าหลัก / Romansa / Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi! / Bab 4 JMP || Tragedi 3 Kancing Baju

แชร์

Bab 4 JMP || Tragedi 3 Kancing Baju

ผู้เขียน: Sora Ayoola
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-18 22:31:56

****

“Hey, Bro. Kenapa kau melamun saja? Apakah kau tidak ingin mencoba beberapa wanita pemuas kelas atas di club besar ini? Kau harus mencoba mereka, Bro. Di cicil aja, karena aku sangat bisa menjamin jika mereka sangat layak kita bayar dengan harga tinggi,” ucap Dirga dengan dua matanya yang sudah melirik sekitar untuk mencari mangsa yang akan menemani dirinya untuk tidur pulas malam ini.

“Aku tidak tertarik dengan mereka,” ucap Dean seraya melangkah menjauh dari orang-orang yang sudah mulai berpesta. Dean memilih untuk kembali ke tempat duduknya dan minum soda.

“Kau ini sebenarnya pria normal kan, Tuan Dean Atmaja?” Dirga bertanya dengan sangat frontal membuat Dean memberikan tatapan sinis yang bisa membuat Rey disana merinding walaupun Rey sama sekali tidak terlibat.

“Aku akan mencoba mendekati waiters cantik tadi, sepertinya dia adalah gadis yang polos, dan juga ….” Dirga mengangkat dan menurunkan alis berulang kali dan hal seperti itu dapat dipahami oleh Dean dan juga Rey.

“Apa yang ingin kau lakukan dengan wanita itu, Dirga? Janganlah kau macam-macam dengan seorang karyawan yang disini perannya hanya sesuai jobdesk yang dia ambil.” Dean bersuara, botol minuman soda yang sudah Dean habiskan diletakkan begitu saja di meja.

“Menurutmu, apakah dia adalah gadis baik-baik?” tanya Dean dengan sangat tiba-tiba membuat Dirga dan Rey yang saling mengontrol pun langsung memfokuskan atensi mereka kepada Dean yang sangat mengejutkan sekali mencetuskan sebuah pertanyaan informal, akan tetapi justru malah merujuk ke hal lain.

“Hey? Kenapa sangat tiba-tiba sekali, Dean? Apakah sekarang selera kita sama?” tanya Dirga dengan mata berbinar melihat temannya melakukan suatu hal yang sama persis seperti dirinya.

“Aku akan pulang lebih dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, orang tuaku masih sedang sibuk sehingga aku yang harus turun tangan.” Dean memberikan kode kepada Rey supaya sang asistennya itu segera ikut pergi meninggalkan bar.

“Kau sudah mau pulang saja? Bukankah kita datang ke tempat ini untuk menenangkan pikiran, kenapa kau malah memutuskan untuk pulang cepat?” Dirga berdiri dan mencegat tubuh Dean supaya tidak keluar dari lingkaran meja tempat circle mereka kumpul.

“Aku tiba-tiba berubah pikiran ingin menenangkan diri di apartemenku saja, kalian nikmati saja yang sudah tersaji di meja, untuk tagihan bilang saja jika aku sudah memberikan kalian akses untuk menikmati yang bisa club ini sajikan,” ucap Dean.

“Tidak, tidak! Jika kita sudah datang kesini bersama, maka menikmati yang sudah tersaji pun harus bersama.” Dirga menekan bahu Dean supaya sang teman kembali duduk di kursi dan menuangkan wine ke dalam gelas soda Dean.

****

Tak!

Dean meletakkan gelasnya sedikit kasar, pandangannya sudah agak buram sehingga ia sesekali menggelengkan kepala untuk mendapatkan kembali pandangannya yang sudah buram.

“Argghhhh!!!” Dean kembali mengerang seraya memijat kening.

“Are you oke, Babe?’ Veronica langsung bergeser tempat ke samping Dean dan menunjukkan rasa cemasnya.

“Hmmm.” Dean menepis pelan tangan kanan Veronica pada pundaknya.

“Kita harus menggunakan masa muda dengan baik, Tuan Dean. Kapan lagi kan kita bisa memiliki waktu bersama seperti ini lagi di tengah sibuknya mengelola bisnis masing-masing.” Dirga menambahkan wine ke gelas Dean dan langsung diteguk oleh Dean pada detik berikutnya.

“Akan aku minta lagi winenya ke waiters.” Dirga langsung pergi melihat Dean memberikan anggukan kecil, melirik kecil ke arah Rey yang kesadarannya sudah 50% dikuasai oleh alkohol.

“Aku ingin tambah alkohol lagi,” ucap Dirga kepada Andi seraya melirik sekeliling tempat para waiters bertugas, ia mencari keberadaan Caramel.

“Baik, Tuan. Saya akan antarkan setelah saya selesai mengantar pesanan pelanggan yang lain dulu,” sahut Andi. Di tangannya sudah memegang nampan yang berisi berbagai macam minuman untuk customer.

“Tidak usah, berikan saja sekarang kepadaku, aku butuh cepat.” Dirga langsung mengambil sebotol wine dan menuangkan ke gelas yang sudah ia bawa. Tatapannya melihat sekeliling sebentar dan setelah itu langsung kembali ke tempat duduknya.

****

“Arghh, sialan. Sepertinya aku mabuk berat, melihat sekitar pun rasanya sangat sulit sekali,” gumam Dean. Ia berjalan perlahan sambil meraba dinding bangunan tempat orang-orang sedang melaksanakan party, kepalanya semakin berdenyut mendengar kerasnya dentuman musik.

“Sepertinya efek samping minum terlalu banyak sudah mulai terasa, tubuhku terasa panas,” gumam Dean. Ia terus melangkahkan kaki menuju ruang VIP untuk mengamankan diri dari hal-hal yang tidak ingin diinginkan olehnya.

Brakk!!!

“Shittt!!!” Mata Dean menajam ketika tubuhnya tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.

“Apakah matamu buta, Nona?” Mata tajam Dean yang sudah merah akibat efek alkohol langsung menatap sengit wanita di depan yang sudah membuat kemeja putih miliknya bernoda merah.

“A-a … sorry, Tuan. Saya sangat tidak sengaja melakukannya, akan saya bersihkan.”

Dean bergegas menahan pergelangan tangan wanita itu ketika spesies di depannya hendak membersihkan noda tersebut menggunakan sapu tangan yang selalu dibawa kemanapun, sudah menjadi kebiasaan seorang waiters.

‘Wanita ini habis menangis?’ Dean membatin, matanya terus menatap lekat dua bola mata Caramel yang masih sembab.

“Saya akan membersihkannya,” ucap Caramel seraya menarik tangannya agar lepas dari genggam tangan Dean yang begitu kuat.

“Tidak perlu, pergilah!” tegas Dean dan tidak dibantah sama sekali oleh Caramel.

Langkah Dean kembali tertahan ketika suara tangis Caramel tiba-tiba terdengar. Dean berbalik badan dengan dua tangan terkepal, ia masih berusaha untuk mengontrol setan yang sudah mulai menguasai sebagian dirinya. 

“Daripada kau menangis sendirian disini, lebih baik kau bantu aku, Nona.” Dean menarik pinggang Caramel yang sudah dikuasai oleh minuman keras, bahkan sama sekali tidak menolak ajakan paksa dari Dean.

Ctak …. Ctakkkk …..

Dean mengunci pintu kamar VIP di bar itu, matanya kini beralih menatap nyalang Caramel, wanita itu sedang berjalan sempoyongan ke arah ranjang.

“Hahaha, ternyata benar kata orang-orang ya, kalau mencintai pria itu tidak boleh terlalu berlebihan. Hufttt …. Jadinya aku berakhir seperti ini deh, patah hati disaat lelakiku menemukan wanita yang bisa memuaskannya.” Caramel mulai meracau, garis matanya juga sudah sangat kecil, pandangan Caramel hanya tertuju pada kasur berukuran besar.

“Tolong jaga sikapmu, Nona! Aku membawamu kesini karena diluar sana ada banyak pria yang memperhatikanmu berpenampilan berantakan seperti ini, jika sedang patah hati segera pulang, tinggalkan pekerjaanmu!” ucap Dean dengan suara agak lantang sekaligus panik ketika melihat Caramel mulai membuka 3 kancing baju teratas tanpa rasa canggung sedikitpun. 

Glek!

Dean tak kuasa untuk menelan saliva yang sudah mulai bertumpuk di tenggorokannya begitu melihat Caramel memperlihatkan bagian yang begitu indah kepada Dean.

“Ouh, shit! Tubuhku menerima sinyalnya.” 

Dean melangkah perlahan menuju tempat Caramel berbaring, menindih tubuh Caramel dan meletakkan kedua tangan kekarnya disamping kanan-kiri bahu Caramel, mengunci semua pergerakan wanita dibawahnya.

“Maaf jika nanti akan membuatmu kesakitan, Honey,” bisik Dean dan ia semakin gragas melakukan tindakan mengikuti naluri lelakinya terhadap Caramel. Lumatan kecil ia lakukan sehingga lama kelamaan Cramel terbuai dan ikut menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Dean. 

***

Dean bangun lebih awal, ia memperhatikan sekali lagi garis wajah Caramel, wajah yang sangat halus, lembut dan juga natural. Kecantikan Caramel semakin terpancar begitu Dean melihatnya dengan jarak yang sangat dekat.

“Tidurlah yang nyenyak, Nona. Maaf jika tadi malam aku tidak bisa mengendalikan diriku dan membuatmu harus sedikit tersiksa karena jedanya hanya sebentaran,” lirih Dean.

Dean memakai kembali pakaiannya, ia meninggalkan Caramel tanpa memberikan notes kecil di nakas samping kasur seperti yang dilakukan oleh pemeran pria di drama-drama.

***

“Apakah ada posisi yang lebih baik dan kosong untuk saat ini?”

Rey hanya berani melirik sahabat sekaligus bosnya sedang bernegosiasi dengan seseorang, entah apa itu karena Dean sama sekali tidak bercerita ataupun meminta pendapatnya seperti yang telah biasa terjadi.

“Baiklah. Tempatkan saja gadis itu di posisi itu, dan kau harus mengatur semuanya supaya tidak ada yang merasa tersakiti ataupun menyakiti,” ucap Dean sebelum menutup panggilan.

Rey menyadari itu, sehingga pria tersebut langsung pura-pura sedang konsentrasi mengendarai mobil.

‘Apa maksudnya si Dean ini? Apakah dia sedang memiliki rencana lain? Tapi, apa? Rencana ini sepertinya melibatkan seorang gadis seperti yang aku dengar percakapan Dean dengan seseorang,’ batin Rey dengan rasa penasaran yang sangat menggebu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 37 || Party

    “Apakah benar di club akan diadakan acara?” tanya Dean tanpa memberikan sapaan lebih dulu atau kalimat pembuka lainnya. “Benar, Tuan. Saat ini saya sedang mengawasi beberapa ruangan VIP yang sedang kami bedah, karena ruangan-ruangan itu akan kami jadikan sebagai tempat transit artis dan juga asistennya nanti,” jawab Kokoh, dan dapat didengar oleh Dean suara-suara berisik manusia dan juga beberapa gesekan barang berat yang sedang dipindah posisi disana. “Siapa artisnya?” tanya Arkananta penasaran. “Aduh, saya juga nggak terlalu ingat namanya, nggak yang terkenal banget sih, dan ini juga karena ada salah satu pengusaha yang sedang berulang tahun, jadi tim mereka menyewa club kita untuk merayakannya dan meminta kita untuk menjaga keamanan supaya tidak ada tamu diluar undangan yang datang, dan juga harus memastikan supaya tidak ada paparazi disini,” ucap Kokoh. “Lalu tujuan kamu menghubungi Rey untuk apa?” tanya Dean. “Tadi tuan Rey sempat menanyakan tentang job desk Caramel di mala

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 36 || Strategi Untuk Bertemu Caramel

    “Benar kata mommy, laki-laki itu harus aktif dan agresif ya kalau menyangkut tentang wanita. Patutlah aku sampai saat ini masih single.” Dean terus menggeser layar handphone untuk melihat semua postingan akun media sosial Caramel.“Pantas saja wanita itu terlihat sangat depresi dan juga menyedihkan, ternyata hubungan asmara keduanya sangat lah lama ya. Hahaha,” gumam Dean, kemudian ia berpindah posisi menjadi tiduran dengan posisi miring ke kiri.“Tapi, pacaran juga untuk apa jika endingnya tetap berpisah? Buang-buang waktu iya, dinikahin enggak.” Mulut lantam Dean kembali bersabda, pria itu sangat kasihan sekali terhadap percintaan buruk yang dijalani oleh Caramel.“Apakah lebih baik aku minta Kokoh untuk memindahkan saja tempat kerja Caramel di cabangku? Setidaknya wanita itu tidak akan bisa ditemukan dan di ganggu lagi oleh mantan kekasihnya,” lirih Dean dengan tubuh sudah duduk tegak di kasur.“Walaupun rencanaku sangat to much, tapi peranku membuat keputusan ini pasti akan sangat

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 35 || Stalking Sosmed

    “Dean, apakah mau kita bawa masalah ini ke hukum saja?” Rey memperhatikan gerak-gerik Dean yang hanya fokus pada layar ponsel, auranya terlihat sedang marah pada suatu hal sehingga Rey berinisiatif untuk mendekat pada Dean. “Kau mendapat kabar update apa dari orang suruhanmu itu?” tanya Rey setelah berhasil mengintip sesuatu yang sedang dilihat Dean. “Aku juga tadi sempat menanyakan jadwal kegiatan Dirga untuk hari esok kepada sekretarisnya. Dia ada waktu senggang di sore hari, apakah kau mau menemui dia di antara jam 4 sampai 6?” tanya Rey dan ia masih berhati-hati memilih kalimat supaya amarah Dean tidak semakin terpancing. “Tidak perlu. Biarkan saja waktu yang memaksanya untuk meminta maaf kepadaku,” sahut Dean dan sungguhan membuat Rey sangat syok. “Kau serius, Bro?” Rey mengedipkan mata beberapa kali saking tidak menyangkanya jika Dean akan membuat keputusan seperti ini. “Ya, aku serius. Sekarang kau istirahatlah, terima kasih banyak karena sudah membantuku untuk menemukan

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 34 || Bermesraan dengan Pria Lain

    Caramel tersedak, ia langsung segera minum air putih, rasa sakit sekaligus panas pada tenggorokannya sangat terasa sekali, karena ia memilih seafood dengan varian saus padang. “Oh, jadi ini alasan kamu selalu memblokir nomorku dan sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk menemuimu lagi, Caramel?” Caramel mengepalkan tangannya melihat pria yang teramat sangat ia benci pada kehidupan ini justru kembali lagi menampakkan wajah di hadapannya dengan urat malu yang sudah putus. “Apa? Kenapa kau memelototi aku seperti itu? Urusan kita bahkan belum pernah selesai, Cara, tapi justru kau malah sudah jalan dengan pria lain? Wahhhh, bravooo!!!!” Gesta bertepuk tangan dengan raut wajah yang sangat menyebalkan. “Urusan apa? Bukankah aku dan kamu sudah tidak punya urusan apapun? Kau urus saja jalang itu, supaya dia makin pintar merawat badan juga wajahnya agar kamu semakin terpikat!” ucap Caramel, ucapannya sangat sarkas membuat Andi dan juga Gesta sangat terkejut, karena Caramel yang se

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 33 || Gangguan Malam Minggu

    “Kokoh ….” Caramel terdiam sebentar, karena ia tidak akan mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya, bisa-bisa kejadian memalukan itu akan tersebar kemana-mana. Kokoh menarik Caramel supaya menjauh lebih dulu dari orang-orangnya Dean. “Maaf, Koh, Cara pikir Cara bisa mengakses CCTV, ternyata tidak semudah itu ya?” ucap Caramel, ia masih belum menemukan alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan dari Kokoh. “Sekarang memang seperti itu, ini semua dikarenakan telah terjadi beberapa hal. Lalu, kau belum menjawab pertanyaan Kokoh yang tadi. Kenapa kamu tiba-tiba banget mau memeriksa rekaman CCTV? Kamu kan paling malas jika Kokoh suruh untuk memeriksa CCTV jika telah terjadi suatu hal. Namun sekarang …?” tanya Kokoh. “Itu hanya tentang meluruskan kesalahpahaman saja dengan pelanggan, Koh. Tapi bukan suatu hal yang sangat fatal kok,” jawab Caramel. Sebisa mungkin Caramel tidak menunjukkan wajah paniknya saat mengatakan sebuah kebohongan itu. “Jika memang hal seperti ini terjadi lagi dan

  • Aduh, Pak Bos, Jangan Lagi!   Bab 32 || Pemeriksaan CCTV

    “Aku hanya bertanya saja, kenapa kamu sampai terkejut seperti itu?” Sisil menatap curiga pada Caramel, karena menganggap respon yang diberikan sahabatnya ini terlalu berlebihan, padahal pertanyaan yang sedang ia tanyakan hanyalah pertanyaan biasa yang bisa ditanyakan oleh siapa saja. “Aku sedang tidak memiliki hubungan apapun dengan lawan jenis, Sil. Memangnya ada apa? Kenapa tiba-tiba sekali malah bertanya mengenai tuan Dean?” tanya Caramel, ia bertanya dengan sangat hati-hati supaya dirinya tidak terjebak dengan pertanyaannya sendiri. “Aku ingin mengejutkan kamu begitu kamu sedang menutup pintu ruanganmu dan tidak sengaja mendengar ucapanmu tadi. Apakah kau memiliki hubungan dengan tuan Dean?” Sekali lagi Sisil bertanya dan kali ini bisa dengan segera disangkal oleh Caramel. “Tidak ada hubungan apapun. Aku menyebut nama tuan Dean hnya karena takut tidak bisa mengakses CCTV karena jabatanku disini hanyalah sebagai kepala divisi saja kan. Jadi aku sempat berpikir kalau yang bisa me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status