Share

BAB 7: Menginginkanmu

Penulis: NACL
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-27 21:58:37

​Bahu mulus itu terpampang nyata. Kulitnya begitu putih bersih dan tampak kenyal. Diana menyadari tatapan Dhava menelusuri lekuk tubuhnya, jauh berbeda dari suami sahnya.

​‘Haruskah … aku?’ batin Diana, tangannya gemetaran di balik punggung. Meskipun ingin mendapatkan haknya sebagai wanita, tetapi nuraninya menahan sekuat tenaga. ‘Aduh. Jangan, Di! Kalian udah punya pasangan!’ larangnya dalam hati.

​Alih-alih mengoreksi ucapannya tadi, Diana justru membeku tatkala Dhava mengikis jarak dengannya. Ia berjengit saat ujung jemari pria itu menyentuh kulit lengannya, teramat lembut dan hati-hati. Itu sentuhan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

​Dhava mengambil napas panjang. Pandangan intensnya tidak berubah.

 “Di… kamu memang siap. Tapi, sekarang bukan waktunya. Sentuhan harus datang dari hati yang jernih, bukan karena emosi atau tertekan, hm?” tutur pria itu.

​Sebelah tangan Dhava menarik pinggulnya perlahan. Pria itu lantas menaikkan kembali resleting gaun Diana dengan gerakan lambat yang … teramat menyiksa.

​“Istirahatlah di sini, sampai kamu tenang. Jangan pikirkan apa pun,” ucap Dhava, tepat di hadapan Diana. Ini lebih dari sekadar saran, karena suaranya yang lembut benar-benar menyentuh.

​“Mas Dhava mau ke mana?” cicitnya, Diana sedikit menunduk. Sungguh ia kehilangan muka karena bersikap impulsif tadi. Ah … pikirannya memang sedang kacau.

​“Kembali ke klinik. Ada sesi terapi lainnya.” Jemari Dhava tak diam saja, tetapi mengelus pelan sepanjang tulang punggung wanita itu. Sentuhan perpisahan yang meninggalkan jejak panas.

​Diana memainkan rambut, dan lidahnya terasa kelu meminta Dhava tetap tinggal. Namun ia tahu diri tidak seharusnya menginginkan pria itu tinggal di sampingnya.

​“Tapi … Mas harus janji. Kembali ke sini. Secepatnya,” ucapnya takut-takut. Mulutnya memang mengizinkan pria itu pergi, tetapi tidak dengan tubuhnya.

​Dhava mengangguk pelan dan membelai puncak kepala Diana. “Aku bakal datang. Kalau ada apa-apa, hubungi aku.”

​“Jangan lama-lama, ya, Mas.” Diana menarik ujung kemeja Dhava lagi. Ia menjentikkan jari kelingkingnya.

​“Hm, janji.” Dhava menautkan jari kelingkingnya. Setelah itu, ia melangkah perlahan meninggalkan Diana di hotel.

​Sudah dua jam sejak Dhava pergi, Diana hanya duduk di tepi ranjang. Ia memeriksa ponsel, tidak ada satu pesan pun dari sang suami. Sungguh miris, karena Rayan seakan enggan memperbaiki rumah tangga mereka.

​Ketika hari mulai senja, telepon genggamnya berpendar. Jantungnya berdebar tak karuan, berharap itu panggilan dari seseorang yang ada dalam benaknya. Namun, pandangannya berubah sayu tatkala membaca nama pada layar.

​Satu pesan masuk dari ibu mertua. [Kamu di mana, Nak? Ini udah sore.]

​Diana menggenggam erat ponselnya. Ia tidak mau kembali ke rumah mengerikan itu.

​Pesan masuk diterima lagi. [Jangan marah, ya, Nak. Biar ibu jemput kamu. Jangan sampai masalah rumah tangga ini kedengaran mamamu, kasihan beliau.]

​Diana terhenyak membaca pesan itu. Napasnya terasa sesak, membenarkan kata-kata Ibu Mertua.

​Telepon genggamnya berdenting lagi.

​[Pulang, ya, Nak. Rayan sudah Ibu marahi. Dia janji nggak akan kasar lagi sama kamu.]

​Entah bagaimana bisa, ia justru membalas pesan itu dengan tidak masuk akal.

​[Iya, Bu.]

​Pesan itu benar-benar terkirim dan terlihat Ibu Mertua sedang mengetik jawabannya. Diana mengutuk dirinya sendiri, mengapa jemarinya menjawab semudah itu?

​Ia membaca jawaban dari Ibu Mertua. [Mantuku Sayang. Ibu tunggu di rumah, ya. Ibu udah belanja tauge, nanti Ibu buatkan jus.]

​Sungguh membayangkan meminum jus itu membuatnya mual luar biasa. Diana berlari ke toilet. Ia memuntahkan cairan saja, karena memang sejak pagi belum sarapan.

​Tiba-tiba rambut panjangnya yang menjuntai ke dalam wastafel diikat oleh seseorang. Diana bisa merasakan bagaimana jemari itu bergesekan dengan tengkuknya. Ia mendongak lurus, menatap pantulan orang itu melalui cermin.

​“M–mas … Dhava?” lirihnya pelan, mulutnya sedikit menganga tidak percaya.

​“Sudah muntahnya?” Dhava membantu Diana berdiri tegak. Menggunakan saputangan kelabu, tangannya bergerak cekatan menyeka noda di bibir wanita itu.

​“Pasti gerd kamu kambuh, benar ‘kan?” tanya Dhava, tanpa menghakimi.

​Wanita itu mengangguk-angguk sambil memegangi perutnya yang perih. Ternyata Dhava masih ingat, ia memiliki penyakit lambung yang diderita sejak kecil.

​“Aku sudah pesan layanan kamar. Makan dulu.” Suara lembut dan ramah Dhava menggetarkan hati.

​Belum sempat Diana membalas, ia kembali terkejut karena Dhava menggenggam tangannya, membawanya keluar dari toilet.

​Pintu terdengar diketuk pelan. Tanpa melepaskan genggaman tangan, Dhava membuka pintu. Mempersilakan staf hotel menyajikan makanan di kamar mereka.

​“Terima kasih. Ini tips untukmu.” Dhava memberikan selembar uang merah pada staf.

​Gerak-gerik pria itu tak luput dari pengamatan sepasang mata karamel di balik bulu mata lentik.

​Dhava membuka penutup saji, aroma lembut, hangat, dan kaldu merasuk dalam hidung. Diana menatap isi mangkuk di atas meja.

​“Cream soup ini hangat dan ringan, cocok untukmu.” Dhava menyerahkan mangkuk itu ke tangan Diana.

​Tak membuang waktu lagi, Diana menghabiskan makanannya. Perutnya benar-benar lapar. Bahkan secara impulsif ia mengambil mangkuk kedua, dan melahap sampai habis.

​“Hm, harusnya aku pesan empat porsi untukmu,” goda pria itu.

​Diana mendelik tajam dan bibirnya cemberut.

​“Kenapa marah? Memang benar. Itu jatah punyaku, kamu makan.” Ucapan Dhava membuat Diana terbatuk-batuk dan meletakkan mangkuknya.

​Dhava membantu menenangkannya hingga batuk reda.

​“Maaf, Mas. Aku … a–aku lapar banget soalnya,” lirihnya pelan. Sedikit menunduk, sungguh ia benar-benar kehilangan muka kali ini.

​“Bukan masalah. Habiskan saja.” Dhava tersenyum sesaat, lalu memainkan ponsel. Diam-diam Diana mengintip, karena jarak mereka terlalu dekat. Pria itu sedang melihat jadwal konsultasi kliennya.

​“Aku bawa pakaian bersih untukmu,” ucap Dhava tiba-tiba, jarinya menunjuk pada paper bag putih di atas sofa.

​Sambil memainkan ujung rambutnya, Diana berbisik, “A–aku … mau pulang aja, Mas.”

​“Hm?” Dhava memiringkan kepala.

​“Pulang. Aku ….” Diana tak menahan ucapannya. Terlalu bingung harus menjelaskan apa pada sepupunya ini. “Mas, bisa antar aku ke rumah?”

​“Kamu sudah siap ketemu Rayan?” Dhava mengepal tangan di atas pahanya.

​Diana menggeleng pelan.

​“Kenapa pulang?” desak pria itu lagi.

​“Aku … takut Mama dan Papa tahu kalau … rumah tanggaku dan Mas Rayan bermasalah. Nanti Mama bisa masuk rumah sakit lagi, Mas. Aku nggak mau itu terjadi.” Bibir Diana merengut.

​Dhava mendengkus kecil, ada senyum sinis tersembunyi. "Baiklah. Aku antar, tapi jangan pernah lupa apa yang kamu butuhkan."

​Selesai Diana makan dan mengganti baju, Dhava mengantar sepupunya itu ke rumah.

​“Makasih, Mas. Salam untuk Anak-Anak dan … istrimu,” lirihnya, mendadak merasa getir mengingat kehidupan Dhava jauh lebih sempurna dibanding dirinya.

​Diana melepas sabuk pengaman, tetapi tiba-tiba Dhava menarik lengannya. Dengan cepat merangkum wajahnya.

​Bibir mereka nyaris bersentuhan, Dhava menahan napas, matanya terpaku pada bibir Diana. ​

Akan tetapi, ketukan kaca mobil dan suara lantang terdengar.

​“Turun, Diana!”

NACL

Halo Teman Teman selamat datang di kisahnya Diana ^^

| 38
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Khanif Khanif
baru mampir thorr
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 231 Ayam Goreng

    Diana berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah di balik punggung lebar sang suami. Sesekali ia meremas ujung kemeja suaminya itu dengan tangan yang basah. "Mas, gimana ini? Bilang apa dong?" bisik Diana, berdebar. Hanya saja ia juga merasa gemas ingin mencubit pinggang Dhava yang terlihat sangat tenang menghadapi interogasi dua pria paruh baya di depan mereka. ​Denver melipat tangan di dada dengan dahi berkerut tajam. "Mau beli ayam goreng saja kenapa harus sampai menginap semalaman? Kalian tahu jam berapa sekarang?" ​Darius pun tidak mau kalah memberikan tekanan. "Si kembar menangis terus sejak subuh. Davka juga sama sekali tidak mau tidur!!!” Tidak kikuk sama sekali, ​Dhava tetap memasang wajah setenang mungkin. Namun, satu tangannya diam-diam bergerak ke balik punggung, menyentuh perut Diana. "Maaf Pa, Uncle. Sebenarnya kami ke hotel," ucap Dhava dengan nada yang sangat meyakinkan. Sontak saja ​Diana langsung melotot lebar. Ia mencubit keras pinggang suaminya sampai

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 230 Tertangkap Basah

    Tak ingin mengganggu kualitas tidur sang istri, Dhava buru-buru menjauh dari ranjang sambil membawa ponselnya yang terus bergetar. Ia melangkah ke dekat pintu, lalu menerima panggilan itu dan menyahut dengan nada seriang mungkin."Ya, Ra? Ada apa?" tanya Dhava.Hanya saja, bukan suara pengasuh yang menyahut, melainkan suara cempreng khas anak-anak dari seberang telepon."Papa ... Papa di mana? Kapan pulang? Kita kangen banget. Oma Lani seling cembelut aja, malah mawah-mawah waktu aku mau deketin adek kembal," lapor Davka, sesekali terisak.Dhava melirik ke arah Diana yang masih terlelap, napasnya berembus pelan menahan gejolak di dada."Sebentar lagi pulang, Sayang. Mama Diana masih bobo, kasihan jangan diganggu dulu ya?""Memang Mama di mana? Papa apain Mama?" tanya Davka, membuat Dhava harus berdeham untuk menetralkan suaranya."Papa dan Mama sedang ada urusan orang dewasa, Sayang. Sudah, ya, tunggu di rumah, nanti Papa bawakan ayam goreng yang banyak,” janji Dhava mencoba mengalihk

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 229 Sama-sama Nakal

    WARNING, baca setelah buka puasa!Lelah karena digempur habis-habisan selama hampir tiga jam, Diana sempat terlelap entah berapa lama. Tubuhnya begitu remuk, dengan rasa pegal dan linu yang menjalar di setiap persendian. Ia menggeliat kecil, lalu melenguh panjang kala merasakan bibir panas suaminya kembali menyapu bahu polosnya.Bukan sekadar ciuman biasa, Dhava menghisap kulitnya dengan kuat sampai-sampai rasanya jiwa Diana ikut tersedot keluar."Eunghh ... Mas, udah ... jangan di situ, geli," igau Diana dengan suara serak, matanya masih terpejam rapat, tetapi kepalanya gelisah mencari kenyamanan di atas bantal.Dhava tertawa melihat tingkah istrinya yang masih setengah sadar itu. Ia menciumi telinga Diana, lalu berbisik nakal, "Bangun, Sayang. Katanya tadi takut dicariin anak-anak? Ini udah lewat waktunya."Diana membuka matanya yang sangat berat dan sipit. Ia memonyongkan bibir dengan raut yang menggemaskan."Ngantuk, Mas ... lemas banget. Kaki aku rasanya beneran nggak punya tulan

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 228 Pelan-Pelan Mas

    WARNING, baca setelah buka puasa!"Baru mulai udah minta ampun? Bukannya kamu berani menantangku tadi, hm?" bisik Dhava dengan bergetar, dan tatapan penuh gairah.Pria itu menyeringai lebar tatkala memindai tubuh istrinya yang sudah memerah dan basah oleh peluh. Di matanya, Diana tampak begitu menggiurkan, apalagi di bawah cahaya lampu yang remang.​Diana menggeleng lemah di atas seprai putih, napasnya tersengal-sengal, dan tatapannya sayu. "Ugh ... aku lemas banget, Mas. Kakiku … ahh … rasanya mirip jelly, cukup, ya?" rintih Diana, meminta.Hanya saja tatapan sayu dari mata karamelnya, justru makin memicu insting berburu liar dalam diri Dhava.​"Tidak bisa, Baby. Bayar lunas penantianku hampir setahun ini!" tegas Dhava, jelas sekali tak terbantahkan.​Tanpa memberikan kesempatan bagi Diana untuk menolak lagi, Dhava  menyambar pinggul istrinya itu, dan menyeret tubuh mungil, hingga ke pinggir ranjang.“Aww … Ma

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 227 Dibuat Susah Jalan

    Warning. Baca malam aja ya!!!Dhava tak membuang waktu lagi. Ia melepas sisa pakaiannya hingga kain itu terlempar entah ke mana. Matanya yang memerah dan gelap menatap Diana dengan buas, persis seperti predator yang sudah puasa berburu selama ratusan hari. Napasnya memburu dan otot-otot di lengan serta dadanya menegang keras.​"Habis kamu malam ini, Di. Jangan harap aku kasih ampun, hm," geram Dhava dengan nada berlagak mengancam sekaligus menggoda.​Dhava merangkak naik ke atas ranjang dengan. Namun, tepat saat ia hendak mengukung tubuh molek sang istri dan mengunci di bawah kuasanya, Diana justru dengan gesit berguling ke samping, menghindari terkaman Dhava.​"Baby?!" seru Dhava, matanya melebar dan tangannya yang kekar hanya meraup sprei kosong. Ia menoleh dengan tatapan bingung sekaligus bernafsu.​Bukannya takut, Diana justru terkekeh kecil. Sebelum Dhava berhasil untuk mengejarnya, wanita itu bergerak cepat dengan mendorong bahu kokoh sampai-sampai pria itu jatuh terlentang di a

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 226 Di Mulutmu

    Dhava menggeram pelan, suaranya yang parau itu menahan ledakan gairah kala tangan nakal Diana tak lagi bermain di luar serat kain celana, melainkan merayap masuk ke balik ritsleting. Wanita itu membelai langsung kejantanan yang sudah sekeras baja dan berdenyut hebat.​"Maaf, ya, Mas, kemarin gagal terus" bisik Diana dengan tatapan sayu yang begitu provokatif.Hanya saja ​Dhava sudah tidak fokus lagi. Pikirannya benar-benar terbakar hasrat dan hanya ingin segera melesat ke menu utama. Namun, saat ia hendak membungkam bibir mungil, justru istrinya itu bergerak turun. Bibir mengilap Diana menciumi leher harum musk Dhava, turun ke dada bidangnya, lalu memberikan kecupan-kecupan basah di perutnya yang berotot.​"Di?" desis Dhava, dengan napas memburu melihat Diana sudah berada di antara kedua kakinya.​Wanita berparas manis dan cantik itu mendongak sambil gigit bibir."Tenang, Mas. Aku sudah belajar banyak dari kamu,” bisiknya. Dengan gerakan perlahan, Diana meloloskan celana Dhava hingga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status