LOGINMyers Linda tidak menyangka hidupnya akan berubah drastis sesudah menerima lamaran pernikahan Keeiko Jevt— Pria mapan dan sukses yang menyukainya pada pandangan pertama. Myli menolaknya berkali-kali karena pernah putus cinta setelah 5 tahun berpacaran dan di situ juga Keeiko tetap menunggunya. Hingga takdir dan peristiwa kecil membuatnya mengambil keputusan dengan cara menerima Keeiko. Meskipun ragu akan masa depannya yang cerah bersamanya.
View More“Sudah berapa kali Ibu bilang simpan ponselmu baik-baik, tapi kau selalu menyepelehkan perkataanku. Sekarang pecah dan tidak bisa diperbaiki kau tangisi. Apa kau tahu kalau bayaran Ibu sebulannya hanya 500ribu. Untuk membayar listrik, air, dan kebutuhan lainnya saja kurang.” Reimma menatap putri tunggalnya yang terduduk lemas di bawah. Pertengkaran siang ini dipicu oleh ketelodaran Myli, menurut Ibunya.
Ya, bagaimana tidak Ibunya mengamuk. Selama ini Reimma selalu menawarkan membelikan dan menyuruh Myli untuk memberi cashing pada ponselnya. Tapi gadis itu dengan keras kepalanya menolak tegas. Lalu Myli juga ceroboh dalam bertindak. Terkadang ponsel yang ia genggam ia jatuhkan dan yang palinh sering Myli membawanya saat tidur. Waktu ia bangun, ponsel itu sudah terjatuh di bawah. Karena memang sudah fatal dan sering perempuan itu jatuhkan. Hari ini lah akibatnya datang. Ya, ponselnya mati total. 8 konter hp menolak memperbaikinya. Bukan karena tidak mau, tapi ponsel yang digunakan Myli adalah keluaran lama. Kemudian mesin di dalamnya rusak hancur, lcd depannya pecah hingga terkelupas setengah, baterainya mengembang, cpu nya rusak, emmc-nya juga rusak karena kebanyakan memori data, dan ponsel fisik bagian belakangnya retak menjadi 2 bagian. Sekalipun dibelikan mesinnya, ponselnya tetap tidak bisa diperbaiki kata staff konter itu. Mereka menyarankan Myli untuk membeli baru dan mengikhlaskannya. “Hanya ponsel saja kau menangis. Tunggu dua tahun lagi akan Ibu belikan baru. Kalah dengan anak kecil yang tidak menangis saat terjatuh.” Ujar Reimma menenangkan. Meskipun Ibunya galak dan bersuara keras saat berbicara. Namun Reimma sangat perhatian dan penyayang. Myli terduduk lesu di depan Ibunya. Sedaritadi matanya memandang lantai yang dingin. Tidak ada suara lain selain tangisan. “Berapa kali aku bilang, aku menangisi isi dan data-data yang ada di dalam ponsel itu. Aku tidak mencadangkannya dan belum memindahkan ke kartu SD. Wajar saja aku menangis karena bersedih. Berhenti menyamakanku dengan anak balita.” Kebiasaan Ibunya yang melarang dirinya menangis. Apa salahnya mengungkapkan rasa kesal di hatinya dalam bentuk air mata. Tidak bisa disamakan dengan Reimma yang tangguh. “Ibu… ayo kita cari konter hp lainnya yang lebih canggih. Aku yakin ada yang bisa menjadi harapanku…” Myli memohon dan menggenggam tangan kanan Ibunya. Reimma langsung menghempaskannya begitu saja, “kau punya uang? Apa kau punya uang? Itu kesalahanmu sendiri!!” Emosi Reimma menjadi meledak dengan ketidakpercayaan anaknya itu. “Sudah 8 konter yang menolak, delapan!! Apa yang kau harapkan lagi. Kau tidak kasihan padaku??” Perlahan Myli melepaskan genggaman itu. Sadar, bahwa dirinya terlambat. Hanya ada kata sabar dan ikhlas yang harus ia gaungkan. Reimma mengambil napas sejenak setelah memarahinya dan ia lakukan berkali-kali agar tidak semakin marah. “Kau ingin tahu sesuatu?” Ucapnya pada Myli yang tertunduk. “Ibu memiliki hutang pada Bu Hinny sebesar 5 juta, di Bu Lainni 3 juta, di Bu Pina 2 juta, di Bu Veva 7 juta, dan di Bu Hena 10 juta. Ayahmu tidak kerja kalau saja kerja, pasti Ibu tidak akan menghutang sana sini.” Setelah berkata seperti itu, Reimma pergi dari sana dan menyisakan dirinya saja. Apa? Hutang… Myli baru tahu kalau sebanyak itu jumlahnya. Myli memandang sosok Ibunya yang telah menjauh. Dirinya merasa bersalah karena tidak bisa membantu. Bagaimana mau membantu, kerja saja tidak. Sudah 3 tahun dirinya menjadi pengangguran. Dia tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana kehidupannya selanjutnya, dirinya tidak tahu. •••• Reimma memijat kepalanya sendiri yang sangat pusing itu. Baru saja dirinya ditagih oleh sang pemberi hutang. Namun yang bisa ia bayarkan hanya berjumlah 50ribu saja. Untungnya diperbolehkan, tapi tetap saja ia merasa tidak enak hati pada tetangganya itu. Pasti juga sangat butuh. Adanya tekanan dari hutang dan sana sini lah, membuat Reimma mudah marah dan terkadang banyak melamun. Anehnya, kondisi fisiknya tidak pernah drop. Kejadian itu tidak luput dari penglihatan dan pendengaran Myli. Bukan bermaksud menguping, tapi dia tidak sengaja mendengarkannya karena suara mereka sangat keras. Dari balik pintu yang terbuka setengah, Myli mengintip Ibunya. Takut kalau aneh-aneh seperti menyakiti diri sendiri atau berniatan meminum racun, akibat saking frustasinya. Di genggaman tangan Myli ada ponsel sang Ibu. Berkali-kali menghela napas, tapi juga tidak kunjung lega. Myli menatap ponsel itu lagi, “haruskah aku menerimanya?” Gumamnya dengan suara sangat kecil, yang mana hanya dia yang bisa mendengarkannya. Kemudian Myli memilih masuk ke dalam kamarnya sendiri dan menutup pintunya. Rasa hampa dan kosong langsung menerkamnya. “Aku sudah tidak ingin berhubungan dengan pria manapun…” Gadis itu terduduk di atas ranjang dan memeluk kedua lututnya. Ragu dan bimbang yang dirasakannya. Haruskah… haruskah dirinya menerimanya untuk memperbaiki masa depan dan kehidupan orang tuanya? Myli menutup wajahnya, “ini sama saja seperti menggadaikan masa depanku. Belum tentu hidupku akan bahagia jika terikat oleh pernikahan.” Ia trauma dengan yang namanya cinta, membuat dirinya sulit percaya dengan pria manapun. Tapi benarkah ia trauma? Atau lebih tepatnya gagal move on dengan bertamengkan trauma? Gadis muda itu sangat lah gengsi untuk mengakuinya. Intinya, setelah putus cinta selama 6 tahun berpacaran, Myli merasa tidak tertarik lagi membuka hatinya. Ia lelah dengan berhubungan asmara yang ujung-ujungnya mengundang air mata, entah dari perbuatan atau perkataan pria. “Kalau aku menerima mungkin hidupku akan terjamin, walaupun harus mengorbankan diri ini.” Tapi, bukan kah itu lebih baik? Hidupnya akan berubah dan tidak monoton. Tanpa ingin berpikir panjang lagi, dengan cepat Myli memutuskan menghubungi seseorang. Nomornya telah tersimpan di kontak Ibunya dan masih ada jejak chatnya. Tanpa bermusyawarah dan memberi tahu Ibunya, Myli telah memutuskannya dan keputusannya itu sudah bulat. Myli Halo Apa kau sibuk? Kata itu lah yang ia ketikkan di pesan. Sudah 10 menit berlalu tapi belum juga dilihat apalagi dibalas. Mungkin saja sangat sibuk dengan pekerjaan. Jantung Myli seketika berdetak kencang dan gugup saat pesannya sudah dibaca. Ia berdiam sebentar sebelum akhirnya memencet tanda telepon di aplikasi pesan itu. Tidak lama pangilannya tersambung dengan seseorang di seberang sana. “Halo, Bu?” Pria itu bersuara terlebih dahulu. Tapi belum ada jawaban dari Myli hingga 20 detik berlalu. “Halo, apakah dengar suaraku, Bu?” Tanyanya lagi sebab tidak ada balasan. “Ini aku Myli…” Telapak tangannya menjadi sangat dingin ketika berbicara dengannya. Terdengar suara terkejut dan tidak menyangka dari nada laki-laki itu. “Oh ya, ada apa? Apa ada sesuatu dengan Ibumu?” Suaranya mendadak bersemangat saat tahu itu adalah Myli. Myli menghela napasnya dalam-dalam. “Aku ingin bertemu denganmu untuk membicarakan lamaran itu,” ***Olla menggeram, saat duduk lama di wc, sudah ditungguin dan benar tidak terasa keluar apa-apa lagi. Tapi pas mau keluar kamar mandi kok malah kebelet, begitu saja terus. Hingga ia kesal, mau sampai berapa lama di sini. Tanpa bisa tahan langsung meluncur bebas. Di tengah-tengah buang air besarnya itu. Telepon miliknya berbunyi terus menerus. Itu Sereya. “Hah? Kalau tidak ada yang penting, jemput aku sekarang, aku sedang sakit.” Potong Olla langsung. “Kau sakit?” Pertanyaan dari seberang sana. Olla belum menjawab, tapi suara kentutnya lah yang menjawab itu semua. “Menjijikan. Kentutmu besar sekali terdengar seperti teriakan megalodon. Aku yakin pasti orang luar dengar...” “Benarkah?” Olla cemas mendengar itu. “Tapi air krannya sudah aku nyalakan full untuk mengurangi suaranya...” “Orang yang pendengarannya tajam dan jernih akan tetap bisa mendengarnya...” Olla gelisah dan meremas perutnya yang sangat mulas, “please, jemput aku. Aku benar-benar sedang kacau.” Bertepatan dengan t
Olla melihat ke sekelilingnya, para pekerja yang sama dengannya sibuk dengan urusan masing-masing. Tentunya tidak ada yang melihat ke arahnya. Di meja dapur ada satu piring makanan dan minuman yang terletak jadi satu di nampan. Makanannya sangat enak terbuat dari daging. Dia sih mikirnya makanan itu mau dikirim ke orang-orang di lantai atas. Makanya Olla nekat memberi makanan dan minumannya dengan obat pencahar biar Marisa dimarahin dan diprotes. “Syukurin kena masalah!” Gumamnya kecil. Kemudian dia menyibukkan diri, berpura-pura sibuk di wastafel. Padahal cuma hidup matiin air. Ia pun berbalik dan terkejut, “eh itu makanannya siapa yang belum diantar? Kok tidak segera diantar sih? Nanti nungguin loh orangnya...” Ujar Olla perhatian. Dia mendekat ke arah meja untuk sekedar melihatnya. “Tanya saja ke Prity. Sepertinya itu bukan untuk diantar...” Jawab Llia di tengah kesibukannya membuangi sisa makanan. “Oh begitu ya?” Olla mengangguk-angguk. Tidak lama... Prity datang dengan me
“Tidak mau tahu pokoknya jangan mendekati aku sebelum tubuh ku sembuh...” Kata Myli memukuli Keeiko dan mengusap matanya kasar. Air matanya terus bercucuran meski sudah diusap. Lagi dan lagi drama kecil tanpa diminta hadir sendiri. Tadi, dia kebelet pipis. Tapi pas bangun kok sakit semua dari atas ke ujung kakinya. Mau ngesot juga tidak mungkin, terasa tidak memiliki tenaga. Lalu pas sudah diantar Keeiko, lah kok rasanya panas dan perih ya pas buang air kecil? Dari situ lah Myli tidak tahan dan mereog pada akhirnya. Karena dia tidak betah dengan namanya sakit. “Bangun-bangun badan aku sakit semua, gara-gara dirimu, kau yang salah.” Dia melampiaskan kesalnya dengan meremas lengan Keeiko. Biar, biar gosong sekalian kulitnya. Dibuat tidur tidak nyenyak, dipaksa tidur juga tidak bisa. Rasanya tidak nyaman seperti lelah level berat habis menanjak gunung secara non stop. Tulang-tulangnya rasanya mau lepas dari dagingnya. “Aku akan bertanggung jawab membawa mu ke tempat Spa selama satu
Suara aneh dan berisik masuk ke telinga Keeiko. Sebenarnya sudah daritadi, namun ia enggan membuka mata karena masih mengantuk. Suara itu masih saja tidak berhenti. Terpaksa lah dia bangun. Menurutnya seperti suara ribuan lalat yang bergerombol dan mendengung 'wwngwnggggg'. Saat Keeiko membuka matanya dan menoleh ke suara itu dengan lesu. Ternyata sebuah hairdryer yang dinyalakan. Tunggu... Hairdryer?! Artinya waktu nyoblos sudah tiba?Saking senangnya ia hampir berteriak. Keeiko bangkit dengan cepat dan mengambil hp untuk melihat jam. Sudah pagi ternyata. Akhirnya hari yang ia tunggu-tunggu... Setelah malamnya menunggu dengan tidak sabar sampai tidak bisa tidur. “Myli, kau habis mandi?” Tanya Keeiko dan berdiri di sampingnya. “Yang kau lihat bagaimana? Apa aku sedang boker di sini? Atau terlihat seperti orang yang habis tercebur?” Ucap Myli kesal. Sudah tahu jawabannya kenapa masih suka ditanyakan sih? Keeiko berlari mengambil peralatan mandi. Walau nyawanya masih belum penu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.