Share

Bab 89

Author: NACL
last update Huling Na-update: 2026-01-02 08:37:02
Sepanjang malam ini Diana tidur berguling kanan dan kiri. Bukan karena sendirian di atas ranjang. Ia sudah biasa. Melainkan ada sesuatu yang mengganjal dalam dadanya. Apa itu? Ia juga tidak tahu.

Diana duduk dan bersandar pada headboard. Jemari lentiknya bercat kuku coral itu meraih telepon genggam di atas nakas. Ia memindai sidik jarinya dan tidak ada apa-apa di sana.

“Berlebihan aja aku ini,” gumamnya. Lantas ia berbaring lagi dan menghadap sisi ranjang lainnya. Wajah Dhava terbayang dalam ingatannya kala ranjang ini menjadi panas.

Dan ….

Benar, ingatannya tentang keburukan Rayan hilang sudah. Setiap kali melihat kasur empuknya ini, ia hanya tahu tentang hal menyenangkan, tidak ada bentakan, tidak diabaikan, dan paling penting apa itu haknya sebagai wanita. Saking tenggelamnya memikirkan Dhava, Diana terlelap sambil memeluk selimut.

Paginya ia bangun, dan melakukan ritual hariannya. Diana sudah mandi, mengenakan setelan formal nude membingkai tubuhnya. Ia juga mengeriting ujung rambu
NACL

Ditunggu lanjutannya ^^

| 3
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (8)
goodnovel comment avatar
NACL
semoga ga berhasil ya kak Rayan dudul dasar
goodnovel comment avatar
NACL
bener salah pilih ya kak akibatnya jadi manjang deh
goodnovel comment avatar
NACL
terima kasih Kak Nur Ajifa doa yang sama untuk kakak ^^
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 96

    Tidak pernah disangka, akhirnya akan seperti ini. Diana tahu sebagai pendatang baru, tentu banyak yang tidak menyukainya. Apalagi menurut para customer kalau mereka mendapat pelayanan kurang di butik lain yang pernah langganan, itu menjadi poin penting bagi Diana. Namun, setidak suka itu kah mereka padanya? Padahal ia tidak pernah mengusik siapa pun, dan jalannya lurus.Sekarang, tatapan Diana pada asistennya bukan hanya penuh harap, tetapi juga menghujam tajam.Hingga Dita mundur selangkah merasakan hal itu. Ia menelan ludah dengan susah payah. Belum lagi Dhava yang kini memusatkan perhatiannya pada Dita.“Siapa? Ada orang yang mencurigakan masuk butik?” tanya Dhava, suara beratnya, tatapannya, dan gestur tubuhnya benar-benar membuat seseorang terpojok.Dita buru-buru menggerakkan kedua tangannya. Ia harus menenangkan kedua orang ini.“Bu—bukan, Pak, Bu.” Dita menatap lekat pada atasannya. “Bu, gaun pale mint itu … Ibu ingat?” bisiknya.Tercenung sejenak mendengar ucapan Dita, Diana

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 95

    “Gaun aku kenapa, Mas?” tanya Diana, suaranya tercekat dan tangannya saling meremas di depan dada. Ia bisa menangkap kalau nada bicara Dhava berat. Suasana makin tegang, dan itu pasti tidak baik-baik saja.“Ini rusak.” Satu kata itu meluncur kaku dari mulut Dhava.Diana membalik tubuhnya dan mulutnya yang spontan menganga ditutupnya dengan satu tangan. “Hah?” Mata karamelnya bergulir pelan sekali. “Bagaimana bisa … seperti ini?”Tangannya terulur gemetaran meraih setiap helai kain sutra yang kini berubah menjadi oranye pudar dari yang seharusnya biru kehijauan tua, warnanya benar-benar pudar di beberapa bagian. Ini tidak bisa dijahit, atau dilipat, atau ditambah sulam. Hancur!Yang lebih membuat Diana menahan napas, tatkala bagian pinggangnya menggembung dengan sedikit kerutan. Di situ bahannya menjadi kaku, ketika diremas kecil pun menimbulkan suara ‘krak’. Ia geleng-geleng membuat air matanya bercucuran. Entah siapa yang tega merusak jerih payahnya selama berbulan-bulan. Seingatnya

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 94

    “Mereka!!!” desis Renita dalam duduknya dan genggaman botol yang sudah remuk. Napas wanita itu memburu liar menatap apa yang ada di depan mata. Wajahnya memerah, lapisan bedak tebal di pipinya tak mampu menyembunyikan urat yang berkedut. Ia merogoh tas kecil gold-nya, meraih ponsel dan menekan kontak seseorang.Tidak ada jawaban.Ingin sekali Renita membanting ponsel miliknya itu, tetapi urung. “Rayan berengsek!” desisnya lagi, penuh penekanan, tetapi suaranya yang kecil teredam oleh music. Ia melirik ke kursi sebelahnya yang kini kosong, tempat Dhava seharusnya berada, dan kebenciannya berlipat ganda.Jelas, ini penghinaan ganda!Tujuannya datang ke sini tentu saja untuk melihat bagaimana keterpurukan Diana! Namun, langit berbintang yang sejak kemarin menyambutnya, kini seakan runtuh menggemparkan. Matanya masih melebar, nyaris keluar dari tempatnya. Bahkan duduknya pun makin tidak nyaman, kursi ini seakan memiliki api di bawahnya, dan ballroom ini bagai oven bersuhu tinggi.Renita m

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 93

    Tepat sebelum show dimulai, Dhava melihat gelagat mencurigakan dari Rayan. Pria itu tampak tidak normal sebagai tamu VIP. Bukannya tak sabar menanti runway istrinya sendiri atau memberi dukungan, justru sibuk menggoda gadis muda yang menurut feeling Dhava seorang model. Mereka pergi makin jauh. Sial, saat Dhava ingin menyusul, Renita bertingkah.“Kamu ingat, ya, kita harus pulang bareng. Mama kamu bisa curiga! Dan aku nggak mau jadi tumbal, menjawab semua!” dengkus wanita itu, matanya memutar malas.Dhava kembali duduk sambil merapikan jasnya sendiri.Acara dimulai, satu per satu model tampil memukau dengan elegan melalui siluet yang mengalir dan bahan mewah, serta feminin melalui palet warna pastel yang lembut, mewujudkan keindahan dan keanggunan wanita. Elemen Berani muncul dalam keberanian untuk menampilkan kelembutan sebagai kekuatan dan potongan gaun yang agak provokatif, mewakili wanita yang teguh mengejar mimpinya.Hanya saja kala para model itu kembali ke dalam stage dan pemba

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 92

    Satu hari sebelumnya. Rayan mendapat pesan dari Renita bukan hanya teks, tetapi diikuti beberapa foto. [Lu cegah ini cewek masuk hotel. Dia bakal tampil couple sama temannya. Terserah mau lu apain! Dan gue harap lu bisa maju jadi penolong Diana!]Semua informasi penting itu, Renita dapatkan melalui file kiriman Rayan.Saat hari show tiba, beberapa saat sebelum dimulai, Rayan yang gelisah merogoh sakunya. Ia pergi ke pojokan untuk menggunakan serbuk putih seperti tepung yang dibelinya dari kelab. Perasaan itu muncul bukan tanpa alasan, lantaran ia harus menjalankan rencananya, demi Diana kembali dalam pelukannya, jadi istri penurut, dan sayang sama suami. Usai menghirup secuil bubuknya, ia mengelap sisa yang tertinggal di jari pada gusi.Seketika darahnya mengalir cepat, detak jantungnya berdentam hebat, dan Rayan menyeringai menatap orang-orang yang jauh di depannya. Ia lantas merapikan lagi penampilannya. Pria itu tidak masuk ke ballroom, melainkan menggunakan pesonanya memikat para w

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 91

    “Tck. Renita Ganti bajumu!” Suara Dhava meninggi dari lantai dua. Membuat Renita yang memang menantikan itu menyeringai dalam hati. Ada aura penuh kemenangan memancar dalam diri. Ia melangkah perlahan ke atas. Renita melirik Maharani sekilas, dan tanpa menatap Dhava, wanita itu menyelinap masuk. Di kamar pribadinya yang juga terhubung dengan kamar mereka, ia mencari-cari gaun paling seksi yang dimiliki. “Diana-Diana, lu harus tahu berhadapan sama siapa,” ucap wanita itu sambil menatap pantulan diri pada cermin. Meskipun pakaiannya didominasi dengan style casual, ia masih memiliki beberapa gaun tahun lalu yang layak pakai. Renita memoles wajahnya secantik mungkin, sebagai beauty vlogger itu bukan hal sulit. Beberapa saat kemudian Renita keluar kamar menggunakan gaun model mermaid ruby ketat dengan belahan paha tinggi. Ia begitu percaya diri menggandeng tangan suaminya. “Maa, aku titip anak-anak, ya.” Senyum puas merekah di bibirnya. Maharani mengangguk melihat keduanya itu. Campu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status