Share

Bab 88

Penulis: NACL
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-01 15:41:10

“Renita mana, Ma?” tanya Dhava yang baru saja masuk rumah. Ia melepas sepatunya dan mengganti dengan sandal rumah. Ia mendongak menatap ke lantai atas, sunyi, senyap tidak ada tanda kehidupan kecuali di lantai satu. Bahkan anak-anaknya sudah sudah masuk kamar, tidak ada celotehan lagi.

Maharani yang menyambut Dhava di pintu utama menghela napas panjang. “Di kamar. Bisa nggak kamu pulang praktik jangan kemalaman gini, kasihan Renita, dia lagi sakit. Butuh perhatian kamu, Nak.”

Bukan bermaksud tidak peduli pada nasihat sang Ibu, tetapi Dhava seolah lupa untuk menjadi suami sempurna, ya, untuk Renita. Matanya menatap tajam ke dapur. Di sana, di atas meja makan masih tertata rapi makanan.

“Mama belum makan?” Dhava menoleh pada Maharani.

Tangan wanita paruh baya itu memukul cepat bahu putranya. “Kamu ini, malah tanya Mama. Harusnya istri kamu! Dia makannya sedikit, harusnya sih jangan diet kalau mau punya anak lagi.”

Daripada terlalu lama di sini bersama Maharani, sepertinya bagi Dhava aka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 97

    Renita yang duduk di jajaran VIP, membaca pesan rekannya dengan mata berkilat penuh dendam. Bibir berperona merah menyala itu mengatup rapat. Napasnya memberat seiring dengan lamanya Dhava kembali entah dari mana. Namun, ia yakin suaminya itu menghampiri Diana, di sana, di balik stage.[Gagal gimana, sih?] balas Renita cepat. Matanya menatap awas ke arah karpet merah.[Gaun yang kita rusak. Itu memang rusak. Tapi Diana punya cadangannya.]Membaca barisan kalimat itu, amarah Renita memuncak seketika. Padahal sebelumnya Rayan bilang hanya ada satu gaun yang akan digunakan pada penutup acara, sekarang Diana memiliki penggantinya juga?Renita mendengkus. Lalu berdiri, ia masuk toilet. Kegelisahan menyambar dan membuatnya berulang kali menggosok-gosokkan telapak tangannya dan tubuhnya bergoyang-goyang. Ia membutuhkan lebih dari sekadar penyokong penenang.Renita menghubungi Rayan.Sekali di-reject.Dua kali di-reject.“Bangsat, Rayan!!!” Napasnya menderu cepat. Jika acara show ini sesuai p

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 96

    Tidak pernah disangka, akhirnya akan seperti ini. Diana tahu sebagai pendatang baru, tentu banyak yang tidak menyukainya. Apalagi menurut para customer kalau mereka mendapat pelayanan kurang di butik lain yang pernah langganan, itu menjadi poin penting bagi Diana. Namun, setidak suka itu kah mereka padanya? Padahal ia tidak pernah mengusik siapa pun, dan jalannya lurus.Sekarang, tatapan Diana pada asistennya bukan hanya penuh harap, tetapi juga menghujam tajam.Hingga Dita mundur selangkah merasakan hal itu. Ia menelan ludah dengan susah payah. Belum lagi Dhava yang kini memusatkan perhatiannya pada Dita.“Siapa? Ada orang yang mencurigakan masuk butik?” tanya Dhava, suara beratnya, tatapannya, dan gestur tubuhnya benar-benar membuat seseorang terpojok.Dita buru-buru menggerakkan kedua tangannya. Ia harus menenangkan kedua orang ini.“Bu—bukan, Pak, Bu.” Dita menatap lekat pada atasannya. “Bu, gaun pale mint itu … Ibu ingat?” bisiknya.Tercenung sejenak mendengar ucapan Dita, Diana

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 95

    “Gaun aku kenapa, Mas?” tanya Diana, suaranya tercekat dan tangannya saling meremas di depan dada. Ia bisa menangkap kalau nada bicara Dhava berat. Suasana makin tegang, dan itu pasti tidak baik-baik saja.“Ini rusak.” Satu kata itu meluncur kaku dari mulut Dhava.Diana membalik tubuhnya dan mulutnya yang spontan menganga ditutupnya dengan satu tangan. “Hah?” Mata karamelnya bergulir pelan sekali. “Bagaimana bisa … seperti ini?”Tangannya terulur gemetaran meraih setiap helai kain sutra yang kini berubah menjadi oranye pudar dari yang seharusnya biru kehijauan tua, warnanya benar-benar pudar di beberapa bagian. Ini tidak bisa dijahit, atau dilipat, atau ditambah sulam. Hancur!Yang lebih membuat Diana menahan napas, tatkala bagian pinggangnya menggembung dengan sedikit kerutan. Di situ bahannya menjadi kaku, ketika diremas kecil pun menimbulkan suara ‘krak’. Ia geleng-geleng membuat air matanya bercucuran. Entah siapa yang tega merusak jerih payahnya selama berbulan-bulan. Seingatnya

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 94

    “Mereka!!!” desis Renita dalam duduknya dan genggaman botol yang sudah remuk. Napas wanita itu memburu liar menatap apa yang ada di depan mata. Wajahnya memerah, lapisan bedak tebal di pipinya tak mampu menyembunyikan urat yang berkedut. Ia merogoh tas kecil gold-nya, meraih ponsel dan menekan kontak seseorang.Tidak ada jawaban.Ingin sekali Renita membanting ponsel miliknya itu, tetapi urung. “Rayan berengsek!” desisnya lagi, penuh penekanan, tetapi suaranya yang kecil teredam oleh music. Ia melirik ke kursi sebelahnya yang kini kosong, tempat Dhava seharusnya berada, dan kebenciannya berlipat ganda.Jelas, ini penghinaan ganda!Tujuannya datang ke sini tentu saja untuk melihat bagaimana keterpurukan Diana! Namun, langit berbintang yang sejak kemarin menyambutnya, kini seakan runtuh menggemparkan. Matanya masih melebar, nyaris keluar dari tempatnya. Bahkan duduknya pun makin tidak nyaman, kursi ini seakan memiliki api di bawahnya, dan ballroom ini bagai oven bersuhu tinggi.Renita m

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 93

    Tepat sebelum show dimulai, Dhava melihat gelagat mencurigakan dari Rayan. Pria itu tampak tidak normal sebagai tamu VIP. Bukannya tak sabar menanti runway istrinya sendiri atau memberi dukungan, justru sibuk menggoda gadis muda yang menurut feeling Dhava seorang model. Mereka pergi makin jauh. Sial, saat Dhava ingin menyusul, Renita bertingkah.“Kamu ingat, ya, kita harus pulang bareng. Mama kamu bisa curiga! Dan aku nggak mau jadi tumbal, menjawab semua!” dengkus wanita itu, matanya memutar malas.Dhava kembali duduk sambil merapikan jasnya sendiri.Acara dimulai, satu per satu model tampil memukau dengan elegan melalui siluet yang mengalir dan bahan mewah, serta feminin melalui palet warna pastel yang lembut, mewujudkan keindahan dan keanggunan wanita. Elemen Berani muncul dalam keberanian untuk menampilkan kelembutan sebagai kekuatan dan potongan gaun yang agak provokatif, mewakili wanita yang teguh mengejar mimpinya.Hanya saja kala para model itu kembali ke dalam stage dan pemba

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 92

    Satu hari sebelumnya. Rayan mendapat pesan dari Renita bukan hanya teks, tetapi diikuti beberapa foto. [Lu cegah ini cewek masuk hotel. Dia bakal tampil couple sama temannya. Terserah mau lu apain! Dan gue harap lu bisa maju jadi penolong Diana!]Semua informasi penting itu, Renita dapatkan melalui file kiriman Rayan.Saat hari show tiba, beberapa saat sebelum dimulai, Rayan yang gelisah merogoh sakunya. Ia pergi ke pojokan untuk menggunakan serbuk putih seperti tepung yang dibelinya dari kelab. Perasaan itu muncul bukan tanpa alasan, lantaran ia harus menjalankan rencananya, demi Diana kembali dalam pelukannya, jadi istri penurut, dan sayang sama suami. Usai menghirup secuil bubuknya, ia mengelap sisa yang tertinggal di jari pada gusi.Seketika darahnya mengalir cepat, detak jantungnya berdentam hebat, dan Rayan menyeringai menatap orang-orang yang jauh di depannya. Ia lantas merapikan lagi penampilannya. Pria itu tidak masuk ke ballroom, melainkan menggunakan pesonanya memikat para w

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status