Mag-log inMelamar sebagai asisten, Asuki bertemu dengan Kento seorang idol, model dan aktor terkenal. Meski mempunyai banyak fans dan sering mendapatkan penghargaan, tidak ada yang tahu Kento memiliki masalah psikologis yang disembunyikannya rapat-rapat. Kesucian yang hampir terenggut dan sikap Kento yang dingin mengawali kisah mereka. “Sentuhanku akan membuatmu ketagihan.” (Follow IG author @vjour_ney untuk info dan visual seputar Novel)
view moreHari baru, semangat baru, pekerjaan baru dan disinilah Asuki berada, di dalam kantor direktur Omega pemilik Agensi Starlight, Co.
Asuki duduk manis menunggu direktur Omega yang kemarin memintanya datang ke kantor untuk sama-sama pergi ke apartemen Kento Yamaguchi. Memakai sepatu kets yang menurut Asuki lebih nyaman, kali ini Asuki berpakaian sedikit lebih rapi dari waktu Asuki datang melamar. Kemeja putihnya dipadupadankan dengan rok dibawah lutut bermotif garis-garis. Asuki juga menyemprotkan parfum wangi sakura ke leher dan lipatan sikunya agar hari ini dia bisa lebih percaya diri menemui sang mantan idola, yang kini berprofesi sebagai model dan aktor. “Kamu sudah lama menunggu Asisten Asuki?” Direktur Omega muncul dari balik pintu. Asuki membungkuk dan menyapa direktur Omega. “Selamat pagi Direktur Omega, saya belum terlalu lama menunggu.” Dipanggil asisten oleh direktur utama sekaligus pemilik agensi, Asuki tersenyum sumringah. Pria beruban itu duduk di kursi sofa berhadapan dengan Asuki. “Kamu tampak rapi hari ini Asuki,” tukasnya memperhatikan Asuki dari atas ke bawah. Dia memberikan kode untuk Asuki duduk. “Besok kamu tidak perlu memakai rok Asuki,” tunjuk direktur Omega dengan lirikan matanya. “Pekerjaanmu tidak mengharuskan kamu memakai rok, akan lebih baik bagimu memakai celana seperti kemarin. Sebenarnya cara berpakaianmu adalah salah satu alasan juga kenapa kamu bisa diterima di pekerjaan ini.” Alis Asuki terangkat. Benarkah? Gaya berpakaian yang terlihat urak-urakkan justru yang membuat aku diterima? Beruntung sekali aku, batinnya bangga. “Sebentar lagi kita akan ke apartemen Kento.” Direktur Omega melirik jam tangan mengkilapnya. “Aku yakin dia masih belum bangun sekarang. Tugasmu saat ini hanya perlu mengurus Kento sampai dia siap keluar dari apartemen,” sambung direktur Omega. Asuki mengerutkan alis bingung. “Sampai siap keluar dari apartemen? Apa maksudnya Direktur Omega?” Direktur Omega melepaskan kacamata dan mengusap pangkal hidungnya. Pertanyaan yang sama, yang terus berulang saat asisten baru datang bekerja untuk artisnya Kento. Dia sudah cukup lelah sebenarnya terus menjelaskan hal ini. “Kalau kamu pernah mendengar rumor tentang Kento yang selalu mengganti asisten setiap kali syuting drama barunya selesai, itu benar!” Asuki kaget, membuka mulut tanpa sadar. “Hah? Jadi rumor itu benar?” Direktur Omega menganggukkan kepala. “Iya. Dan aku harap kamu adalah asisten terakhir yang akan bertahan bersamanya sampai project drama Kento berikutnya selesai.” Asuki tidak percaya, lagi-lagi rumor yang tidak sengaja dia dengar kemarin benar. Asuki berubah khawatir, apa Kento adalah orang yang sangat kejam sampai semua asistennya kabur? Asuki ingat direktur Omega tidak menjelaskan secara rinci apa saja yang boleh dan tidak boleh dia lakukan pada Kento. Direktur Omega hanya terus mengingatkannya tentang satu poin penting yang di capslock di dalam kontraknya kemarin. “Ayo, kita sudah terlambat!” Direktur Omega memakai kembali kacamatanya dan beranjak dari sofa. Direktur Omega membawa Asuki ke apartemen Kento Yamaguchi yang berada Roppongi Hills Residence tower B. Apartemen ini terletak di kawasan Roppongi yang dikenal paling mewah dan bergengsi di Tokyo. Di kawasan ini juga terdapat museum kelas dunia dan restoran berbintang Michelin, serta tempat-tempat berbelanja mewah. Selain itu di Roppongi Hills Residence tower B/C juga banyak artis-artis papan atas Jepang yang tinggal disini, Kento adalah salah satunya. Hampir tiga tahun Asuki hidup di Tokyo sedikit banyak Asuki mengenal tempat-tempat hebat seperti yang ditinggali Kento sekarang. Seumur hidup, Asuki baru pertama kali menginjakkan kaki di lingkungan mewah yang baginya sangat luar biasa. “Ini apartemen Kento.” Direktur Omega berhenti di depan pintu bernomor 2455. Pintu kayu besar dengan ukiran rumit dan smart lock berada tepat di tengahnya terlihat menakjubkan di mata Asuki, sangat jauh berbeda dengan Apaato miliknya. Hati kecil Asuki menjerit iri. “Kode sandi pintu sudah saya kirim ke nomor Line-mu. Kamu bisa masuk sekarang.” Direktur Omega mengantongi ponselnya dan melangkah meninggalkan Asuki. “Tu–tunggu Direktur Omega,” tahan Asuki. “Apa Direktur Omega tidak ikut masuk?” “Tidak. Untuk apa saya ikut masuk? Kamu sudah lupa dengan tugasmu Asuki?” Asuki menggeleng cepat. “Bu–bukan itu maksud saya Direktur Omega. Saya hanya—” “Saya disini hanya untuk mengantarkanmu, selebihnya adalah tanggung jawabmu sendiri!” potong direktur Omega meneruskan langkahnya meninggalkan Asuki terpaku di tempat. Apa-apaan ini, jadi maksudnya aku harus menghadapi pria itu sendirian? Bagaimana nanti kalau dia mengusirku? Bukankah dia sangat kejam sampai semua asistennya tidak betah dan kabur? Asuki bergumul dalam hati. “Oh ya….” Direktur Omega berbalik teringat sesuatu. “Kamu tidak perlu khawatir. Saya sudah mengabari Kento kamu akan datang hari ini. Semoga beruntung!” Suara direktur Omega terdengar sangat tidak tulus saat mengatakan ‘semoga beruntung’. Asuki tahu dia tidak bisa mengandalkan siapa-siapa jika ingin berhasil dalam pekerjaan barunya. Asuki tidak mau lagi kembali ke pekerjaan lamanya yang memaksa dia terus lembur dengan gaji yang tidak seberapa. Sudah cukup Asuki bertahan beberapa tahun di sana, kali ini dia ingin mencoba peruntungannya di dunia asisten artis. Asuki pun menarik napas panjang, mengusap smart lock di pintu dan mulai memasukkan nomor kode sandi apartemen Kento Yamaguchi. Bunyi ‘klik’ menandai pintu berhasil dibuka. Asuki mendorong pintu perlahan,mengintip dari pintu yang belum dibuka sepenuhnya. Gelap? Asuki memicingkan mata mencoba melihat ke dalam apartemen Kento namun tidak terlihat apapun. Apa tidak ada orang di dalam? Sedikit berjinjit Asuki masuk, menutup pintu di belakangnya pelan. Bau tidak sedap bercampur aroma alkohol menyeruak memenuhi indera penciuman Asuki. Asuki refleks menutup hidungnya, bau apa ini? Asuki berusaha menahan diri agar tidak muntah. “Halo, selamat pagi Tuan Kento….” Tidak terdengar suara siapapun yang membalas Asuki. Apa tidak ada orang di sini? Bukannya direktur Omega berkata Kento ada di apartemen? “Halo, Tuan Kento … saya Asuki Miyazaki, asistenmu yang baru.” Lagi, tidak terdengar suara apapun yang menyambutnya. Mungkin dia harus mulai mencari saklar lampu lebih dulu untuk memastikan ada tidaknya Kento di dalam. Asuki pun menyalakan senter pada ponsel dan maju berjalan perlahan. Ruangan yang gelap dan bau membuat Asuki tidak fokus dan menginjak sesuatu hingga kakinya tergelincir dan jatuh. Tubuhnya membentur sesuatu yang cukup empuk dan bidang. A–apa ini? Jari-jari kecil Asuki menusuk-nusuk sesuatu di bawahnya. Rasa penasaran memenuhi pikiran Asuki, apa aku jatuh diatas sofa? Tapi sofa tidak mungkin selembut ini? Tangan yang masih mencoba mencari tahu tiba-tiba ditarik dan digenggam kuat oleh telapak tangan yang perkasa. Asuki refleks berteriak kaget. “Aaa…!” Sosok yang tadinya dipikir Asuki adalah sebuah benda yang tidak sengaja ditindihnya menarik pinggang mungil Asuki dan membungkam bibir Asuki cepat. Asuki tidak sempat bereaksi, pagutan bibir sosok itu menutup mulutnya rapat. Asuki mencoba meronta melepaskan diri dari sosok yang semakin erat memeluk tubuhnya. Bau alkohol yang kuat juga tercium dari sosok itu. Si–siapa dia? Siapa orang gila yang memeluk dan menciumku? Apa dia pencuri? Asuki memukul dada bidang sosok yang terus memaksa masuk memasuki mulut Asuki. Asuki hampir kehabisan nafas saat sosok bertubuh lebih besar darinya mengangkat dan memutar tubuh Asuki yang kini sudah berada dibawah kungkungan sosok itu. Pagutan dalam yang diberikan sosok yang kini diketahui Asuki adalah seorang pria berubah semakin ganas. Asuki merasakan sebuah telapak tangan kasar sedang menyapu pahanya, roknya telah tersibak entah bagaimana. “Mmm … lepaskan aku! Tolong!” Asuki berteriak, membuka mulutnya lebar-lebar meminta pertolongan. Kesempatan itu digunakan si pria menelusup masuk dengan cepat mengulum lidah dan bibir tipis Asuki bergantian. Asuki tidak terima dan memukul dada pria itu kuat namun tangan kasarnya dengan cepat menangkap tangan Asuki, menahannya di atas tubuh Asuki. Tangannya yang lain pindah, naik keatas menarik paksa kemeja Asuki hingga kancing baju Asuki terlepas. Dua benda kenyal tertutup kain renda membuka pemandangan indah di dada Asuki. Tangan pria itu buru-buru menarik penutup benda bulat menyembul milik Asuki. Keadaan yang gelap dan tidak tahu siapa pria yang tengah menggerayanginya membuat Asuki frustasi. Tubuh Asuki bergetar hebat, dia mulai menangis. Hatinya sakit mengetahui pria itu sudah berhasil menelanjangi tubuh bagian atasnya. Jari-jari panjang pria itu bahkan sedang bermain, meremas dada Asuki. Rasa jijik menggerogoti pikiran Asuki. Apa masa depanku akan terenggut oleh seseorang yang tidak aku kenal hari ini? Nafas bau pekat alkohol si pria terdengar memburu, dia melepaskan bibir Asuki dan pindah melumat ujung merah muda Asuki. Desiran aneh menggelitik tubuh Asuki saat pria itu memainkan lidahnya, memutari bulatan merah muda Asuki. Asuki bisa merasakan benda kenyalnya sudah masuk di dalam mulut si pria dan tanpa sadar mendesah. Ini gila! Otak Asuki terus berontak berusaha menyadarkannya. Pria itu melepaskan tangan Asuki yang ditahannya di atas tubuh Asuki begitu mendengar desahan Asuki. Dia mulai melembut, mengecapi tubuh bagian atas Asuki. Pria itu meninggalkan jejak-jejak sebanyak yang dia mau di dada mulus Asuki lalu naik perlahan mencium leher Asuki. “Kamu sangat wangi….” Suara berat si pria bagai kilat yang menyambar pikiran Asuki yang kacau. Asuki refleks mendorong kuat tubuh si pria setelah sadar dia tidak lagi menahannya. Asuki berusaha bangun dan menyeret kakinya menyelamatkan diri sebelum ditangkap, namun banyaknya barang yang berserakan di lantai membuat kaki Asuki terantuk dan terjatuh lagi hingga membentur dinding apartemen. “Aaahh….” Asuki meringis, mengusap dahinya yang berdenyut. Samar-samar Asuki mendengar suara langkah kaki berjalan menuju kearahnya. Dia harus bergegas pergi dari sini. Susah payah Asuki berdiri dan merapatkan tubuhnya ke dinding, kepalanya berdengung karena benturan keras barusan. Asuki berjalan pelan menuju pintu tidak berani bersuara, tangannya meraba-raba dinding dan tidak sengaja menekan saklar lampu. Ruangan yang tadinya gelap gulita mendadak terang dengan pencahayaan lampu warm white menyinarinya. Asuki kaget dan berbalik cepat mencari siapa sosok pria yang hampir memperkosanya. Manik mata coklat Asuki melebar melihat pria yang kemudian jatuh pingsan di depannya. “Ke–kento….”Ucapan terakhir direktur Omega ditelepon masih terngiang-ngiang di kepala Asuki. Hubungan yang masih seumur jagung dipaksa harus berhenti karena ancaman yang terdengar tidak main-main dari petinggi agensi tempat Kento bernaung. Asuki gundah, memilih tetap mempertahankan cintanya pada Kento, Kento mungkin harus kehilangan karir cemerlangnya selama ini. Asuki tidak mau egois, namun tidak mau juga berpisah dari Kento. Asuki benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Layar laptop di depan Asuki masih menyala, dia sedang mengetikkan surat pengunduran dirinya sebagai asisten Kento. Malam ini Kento masih berada di lokasi syuting, mengambil set gambar terakhir. Sedang Asuki mengurung diri di ruang ganti Kento sendirian. Bunyi ketukan tiba-tiba di pintu membuyarkan pikiran Asuki yang refleks menutup laptop. Seorang wanita masuk menyapa Asuki. “Selamat malam Nona Asuki,” sapanya. Asuki tersenyum membalas sapaan sekretaris Hikari. “Selamat malam.” Hikari duduk di dekat Asuki. “Tuan Kento mas
Dua hari setelah pertemuan Asuki dan Direktur Omega menyisakan kesesakan dihati Asuki. Selama waktu-waktu yang berlalu Asuki lebih banyak diam dan melamun. Menemani Kento di lokasi syuting dan tetap menjalankan pekerjaannya sebagai asisten model dan aktor itu, Asuki berpikir keras. Tatapan sendunya tidak pernah lepas dari Kento dan Kento pun merasakannya. Asuki bersikap aneh dan tidak biasa, bahkan malam ini Asuki terus menutup mulut selama Asuki menyiapkan makan malam untuk mereka. “Sayang….” Kento melingkar pinggang Asuki dari belakang. Asuki terenyak, “Ada apa? Kamu butuh sesuatu?” Kento menggeleng, menyandarkan kepala ke bahu Asuki. “Apa yang sedang kamu masak?” tanyanya. “Steak, kamu mengatakan ingin makan steak bukan? Aku menyiapkannya untukmu,” jawab Asuki melepaskan rangkulan Kento. “Duduklah, makanannya sebentar lagi siap,” pinta Asuki. Kento tidak menyahut dan patuh mengikuti ucapan Asuki. Mungkin berbicara dengan Asuki setelah makan malam akan lebih baik pikirnya. S
“Kamu sudah siap?” tanya Asuki. “Ya, bagaimana penampilanku? Apa aku terlihat cocok menggunakan pakaian ini?” Asuki menyorot penampilan kekasihnya dari atas ke bawah, entah kenapa Kento merasa pakaian semi jas yang dikenakannya terasa tidak pas di badan. Asuki tersenyum geli melihat Kento. “Aku tidak percaya kamu ternyata bisa juga merasa tidak percaya diri dengan dirimu sendiri Sayang,” godanya. Kento mencebik, “Aku juga manusia biasa kamu tahu…!” sinisnya. Asuki tertawa mendekati Kento. “Kamu selalu tampak sempurna di mataku Sayang….” Kento tersipu, Asuki mengatur kembali kerah kemeja Kento mendaratkan kecupan sekilas di pipinya. “Semua pakaian yang kamu pakai akan selalu terlihat pantas jika kamu memakainya,” ucap Asuki lembut. Wajah Kento semakin merona, Asuki paling tahu memuji pria tinggi itu. “Bersiaplah, sebentar lagi syuting akan dimulai,” sambung Asuki. Kento mengangguk, membalas kecupan singkat Asuki di bibir. “Aku mencintaimu…,” tandas Kento bahagia. Pasangan kekas
Kento membawa mobil pulang ke apartemen setelah melihat Asuki lebih tenang. Asuki duduk diam di sampingnya, tidak mengeluarkan kata sedikitpun. Sehabis menangis menumpahkan ketakutan dan kekesalan Asuki diam seribu bahasa, Kento bahkan tidak digubrisnya yang sejak tadi membujuk Asuki. Asuki keluar lebih dulu dari mobil begitu mereka tiba di parkiran basement apartemen meninggalkan Kento yang memanggilnya berulang kali. Kento menarik nafas panjang, Asuki benar-benar marah batinnya. Beruntung Asuki masih mau menunggu Kento di dalam lift hingga Kento tidak perlu menunggu lift berikutnya. “Sayang…,” panggil Kento. Asuki diam, mereka berdiri cukup jauh. “Sayang…,” panggil Kento lagi mendekat, namun bunyi pintu lift terbuka menghentikan langkah Kento. Asuki menghambur keluar. Kento sekali lagi menarik nafas panjang, memanjangkan langkah mengikuti Asuki dari belakang. Masuk di dalam apartemen, Kento segera menahan Asuki tidak mengizinkan wanitanya menghindari dia lagi. “Sayang
“Cu–cukup…,” desah Asuki. Kento masih bermain-main di bawah sana, bibir dan lidahnya memaksa masuk diantara lubang kecil, sempit Asuki. Rasa manis bercampur saliva yang disesap Kento meninggalkan candu yang menggetarkan mulut Kento. Sensasi itu membuat celana Kento sesak. Kento membuka kaki Asuk
Makan malam romantis sengaja diatur Kento diluar kediamannya. Lampu-lampu panjang ditarik memenuhi halaman dengan bunga mawar kuning diletakkan diatas meja. Kento mengajak Asuki keluar setelah memastikan semuanya selesai. Makan malam perdana mereka sebagai sepasang kekasih ingin Kento berikan deng
“Asuki, hati-hati!” Kento berteriak panik memanggil wanitanya. Asuki berjengkit mundur mendengar teriakan Kento. Pijakannya goyah dan tersungkur di tanah, Kento bergerak cepat menarik Asuki. “Kamu baik-baik saja?” cemas Kento. Tangannya membolak balikkan tubuh Asuki memeriksa Asuki cermat. “Aku
Yamazaki duduk meneguk bir di tangan, dua hari setelah bertemu Asuki dan mengetahui hubungannya dengan Kento menyisakan penderitaan yang mendalam di hati Yamazaki.Pria berambut lurus dengan warna mentereng itu menangis sedih menikmati dingin malam kota Tokyo. Yamazaki belum kembali ke desa Shiraka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu