LOGINJihan Ayunda Wiryawan (22thn) tidak pernah menyangka bahwa kedekatannya dengan sang senior, Airin Saraswati Adiningrat, akan membawanya masuk terlalu dalam ke kehidupan keluarga Adiwangsa. Sejak dibantu Airin di masa kuliah dulu, Jihan sudah menganggap Airin sebagai kakaknya sendiri. Namun, Jihan menyimpan satu rahasia besar: ia diam-diam mengagumi suami Airin, Julian Pratama Adiwangsa, seorang CEO muda yang selalu terlihat sempurna. Segalanya berubah ketika Airin meninggal dunia akibat kanker dua tahun lalu. Kepergian Airin meninggalkan duka mendalam bagi Julian yang menjadi dingin, serta putri kecil mereka, Aruna, yang kehilangan sosok ibu. Sebagai sahabat, Jihan merasa bertanggung jawab untuk tetap hadir. Di sela kesibukannya menyelesaikan skripsinya, Jihan selalu menyempatkan diri mengurus Aruna. Kehadiran Jihan yang telaten dan penuh kasih sayang perlahan menjadi satu-satunya alasan Aruna bisa kembali tersenyum. Melihat ketulusan Jihan, tembok pertahanan Julian perlahan runtuh. Pria yang tadinya menutup diri dari cinta itu mulai menyadari bahwa Jihan adalah sosok yang ia butuhkan untuk menyembuhkan luka masa lalunya. Kini, Jihan harus berhadapan dengan perasaannya sendiri: tetap menjadi sahabat yang setia pada kenangan Airin, atau berani mengambil kesempatan untuk menjadi bagian dari masa depan Julian dan Aruna.
View MoreGedung serbaguna Fakultas Pertanian terasa seperti oven raksasa bagi Jihan Ayunda Wiryawan. Sebagai mahasiswi semester empat yang baru pertama kali memegang tanggung jawab besar sebagai staf Humas Agripreneurship Expo, Jihan merasa nyawanya sedang dipertaruhkan. Di hadapannya, tiga alumni senior duduk bersedekap dengan wajah yang siap menerkam.
"Jihan, kamu mengerti tidak konsep win-win solution?" Suara Baskara, alumni yang dikenal paling vokal, bergema di ruangan itu. "Proposal yang kamu buat ini terlalu memihak UMKM. Mana keuntungan buat investornya? Kamu ini Humas atau relawan sosial?" Jihan meremas pulpennya. Keringat dingin mengucur di balik kemeja almamaternya. "Maaf, Kak... maksud saya, dengan penguatan profil UMKM ini, investor akan mendapatkan brand image yang lebih..." "Basi!" potong senior lainnya sambil menggebrak meja. "Kita butuh angka, bukan narasi puitis. Kamu semester berapa sih? Kok begini saja tidak paham?" Mata Jihan memanas. Ia merasa kecil, tidak berguna, dan ingin sekali bumi terbelah saat itu juga. Namun, tepat sebelum air matanya jatuh, pintu ruangan terbuka. Seorang wanita dengan langkah tenang dan kemeja putih yang rapi masuk. Airin Saraswati Adiningrat, mahasiswi tingkat akhir yang prestasinya sudah menjadi buah bibir di seantero kampus. "Maaf saya terlambat, Kakak-kakak," suara Airin begitu lembut namun memiliki otoritas yang tak terbantahkan. Ia menarik kursi di sebelah Jihan, lalu meletakkan sebuah map kulit di meja. "Airin? Kamu kan sedang sibuk skripsi," ucap Baskara, nadanya melunak seketika. Airin tersenyum manis, senyum yang seolah mencairkan suasana tegang di ruangan itu. "Skripsi saya bisa menunggu satu jam, Kak. Tapi perkembangan Jihan tidak bisa menunggu. Ini draf yang saya bantu rapihkan bersama Jihan. Di halaman ketiga, ada proyeksi keuntungan 20% bagi investor melalui skema equity crowdfunding. Silakan dibaca." Jihan terperangah. Airin baru mengenalnya seminggu yang lalu saat mereka tidak sengaja duduk di meja perpustakaan yang sama. Saat itu, Airin hanya bertanya singkat tentang kesulitan Jihan, dan tanpa disangka, Airin bekerja di balik layar untuk melindunginya hari ini. Selama sisa pertemuan, Jihan hanya bisa menatap Airin dengan kagum. Bagaimana cara Airin berbicara, bagaimana cara ia mematahkan argumen senior dengan logika yang tajam namun tetap sopan. Di mata Jihan, Airin bukan sekadar senior; dia adalah pelindung, seorang kakak yang ia impikan. "Terima kasih, Kak Airin," bisik Jihan setelah rapat usai. Ia memeluk Airin dengan erat. "Aku hampir saja menangis tadi." Airin mengusap punggung Jihan dengan sayang. "Ssst, jangan menangis. Kamu punya potensi, Han. Kamu hanya perlu seseorang untuk berdiri di sampingmu sampai kamu cukup kuat untuk berdiri sendiri." **** Dua minggu setelah kejadian itu, sebuah peristiwa terjadi—peristiwa yang akan mengubah hidup Jihan selamanya. Sore itu, langit Jakarta seperti tumpah. Hujan badai turun tanpa ampun saat Jihan sedang menempuh perjalanan pulang dari kampus. Di sebuah jalanan sepi yang diapit pohon-pohon besar, motor bebek tua Jihan mendadak terbatuk dan mati total. Jihan panik. Ia menepi di bawah pohon, berusaha menghidupkan mesinnya berkali-kali namun nihil. Ponselnya mati karena kehabisan daya. Ia berdiri di sana, menggigil kedinginan, dengan air hujan yang meresap hingga ke tulangnya. Tiba-tiba, sebuah sedan hitam mewah berhenti di sampingnya. Pintu pengemudi terbuka, dan seorang pria keluar dengan payung besar berwarna hitam. Pria itu mengenakan kemeja formal dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang kokoh dan mata yang menyorotkan ketenangan. Jihan merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Pria itu tampak seperti keluar dari film-film romantis. "Motor kamu kemasukan air. Jangan dipaksa, nanti mesinnya jebol," ucap pria itu. Suaranya berat dan maskulin, terdengar merdu di antara gemuruh hujan. "Tapi... tapi saya harus pulang, Mas," jawab Jihan gemetar. Pria itu menatap motor Jihan, lalu menatap Jihan yang sudah pucat karena kedinginan. Tanpa bicara banyak, ia membantu mendorong motor Jihan ke sebuah bengkel kecil yang kebetulan sedang tutup namun memiliki teras yang dalam. Setelah mengunci motor itu dengan aman, ia kembali ke arah Jihan. "Masuk ke mobil. Saya antar kamu pulang," perintahnya singkat. Jihan ragu, namun sorot mata pria itu memberikan rasa aman yang aneh. Di dalam mobil yang harum kayu cendana dan kulit, Jihan merasa seperti masuk ke dalam pelukan yang hangat. Pria itu memberikan sebuah jaket cadangan dari kursi belakang. "Pakai. Kamu bisa hipotermia kalau terus basah begitu," ucapnya. Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang terucap. Pria itu fokus menyetir, sesekali melirik Jihan untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. Jihan pun terlalu malu untuk bertanya nama. Yang ia tahu, pria ini adalah pria paling karismatik yang pernah ia temui. Saat sampai di depan kosnya, Jihan hanya bisa mengucap terima kasih. "Sama-sama. Jaga kesehatanmu," ucap pria itu sebelum berlalu. Jihan jatuh cinta malam itu. Ia jatuh cinta pada aroma parfumnya, pada caranya memegang kemudi, dan pada perlindungan singkat yang ia rasakan. Ia menamai pria itu 'Pahlawan Hujan' dalam buku hariannya. **** Satu bulan berlalu. Persahabatan Jihan dan Airin semakin erat. Airin sering membelikan Jihan kopi atau membantunya mengerjakan tugas-tugas Agribisnis yang sulit. Sampai suatu hari, Airin memberikan sebuah undangan cantik berwarna putih mutiara dengan tinta emas. "Datang ya, Jihan. Ini hari paling bahagia dalam hidupku. Aku ingin sahabat terbaikku ada di sana," ucap Airin dengan mata berbinar-binar. Jihan sangat bahagia untuk Airin. Ia tidak sabar melihat siapa pria beruntung yang berhasil memenangkan hati wanita sesempurna Airin. Hari pernikahan pun tiba. Jihan mengenakan kebaya terbaiknya, berdandan dengan cantik, dan membawa kado yang ia siapkan dengan sepenuh hati. Gedung pernikahan itu didekorasi dengan sangat mewah namun elegan, penuh dengan bunga lili putih kesukaan Airin. Saat Jihan memasuki aula utama, musik klasik mengalun lembut. Ia melihat Airin berdiri di atas pelaminan, tampak seperti malaikat dengan kebaya pengantin yang sangat indah. Di sampingnya, berdiri seorang pria dengan setelan tuksedo hitam yang gagah. Pria itu membelakangi Jihan. Jihan melangkah maju, hatinya berdebar ikut bahagia. Namun, saat pria itu berbalik untuk menyalami tamu, dunia Jihan seolah berhenti berputar. Langkahnya membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Pria yang berdiri di pelaminan itu, pria yang sedang menggenggam tangan Airin dengan penuh cinta, adalah dia. Pria dengan payung hitam itu. Pahlawan hujannya. Julian Pratama Adiwangsa. "Jihan! Kamu datang!" Airin berseru girang saat Jihan sampai di depan mereka. Airin memeluk Jihan dengan hangat. "Mas Julian, ini Jihan yang sering aku ceritakan. Mahasiswi pintar itu sekaligus sahabat baru aku." Julian menatap Jihan. Ada kilatan pengenalan di matanya, namun ia tetap bersikap formal dan tenang. Ia mengulurkan tangannya pada Jihan. "Julian. Senang bertemu lagi, Jihan," ucapnya datar, memberikan isyarat bahwa pertemuan mereka di bawah hujan hanyalah masa lalu yang tak berarti baginya. Tangan Jihan gemetar saat menyambut uluran tangan Julian. Rasanya perih, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya saat ia melihat cincin pernikahan yang melingkar di jari manis pria itu—cincin yang sama dengan milik Airin. "Selamat... selamat ya, Kak Airin, Mas Julian," suara Jihan bergetar, hampir hilang. "Terima kasih, Han! Doakan kami cepat punya baby ya!" Airin tertawa renyah, sama sekali tidak menyadari bahwa hati sahabat di depannya baru saja hancur berkeping-keping. Jihan turun dari pelaminan dengan langkah gontai. Di tengah keramaian pesta yang megah, ia merasa sangat kesepian. Ia menoleh sekali lagi ke arah pelaminan, melihat Julian yang sedang berbisik sesuatu ke telinga Airin hingga wanita itu tertawa. Hari itu, Jihan belajar satu hal yang sangat menyakitkan: Cinta pertamanya baru saja resmi menjadi milik sahabat terbaiknya. Dan demi menghargai kebaikan Airin, Jihan bersumpah akan mengubur perasaan itu sedalam mungkin, membiarkannya membusuk di dasar hati, dan tak akan pernah membiarkannya muncul ke permukaan.Lima tahun telah berlalu sejak tangisan bayi kembar memenuhi kediaman Adiwangsa. Waktu seolah berjalan dengan langkah yang anggun, membawa perubahan besar bagi setiap penghuni rumah megah itu. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah: atmosfer cinta yang kental dan hangat. Julian dan Jihan telah membuktikan bahwa pernikahan bukan sekadar tentang tinggal bersama, melainkan tentang komitmen untuk terus belajar. Masalah tentu tetap ada, namun ego bukan lagi kapten di kapal mereka. Setiap kerikil kecil diselesaikan saat itu juga, sebelum sempat menjadi batu sandungan yang besar.Si sulung, Aruna—atau yang kini lebih akrab disapa KakRun oleh kedua adiknya—telah tumbuh menjadi gadis berusia sepuluh tahun yang cantik dan dewasa. Ia bukan lagi anak kecil yang kesulitan mengucapkan huruf "R". Sebaliknya, ia adalah sosok kakak yang sangat bijaksana, mampu menempatkan dirinya sebagai pelindung sekaligus teman bermain yang paling dinanti oleh kedua adik kembarnya, Arvin Shaka Adiwangsa dan Arvan
Sembilan bulan penantian yang penuh dengan persiapan mental dan fisik akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa. Suasana ruang persalinan yang tadinya tegang seketika pecah oleh suara tangisan melengking yang bersahutan. Tidak hanya satu, tapi dua nyawa baru sekaligus hadir melengkapi silsilah keluarga Adiwangsa. Jihan melahirkan bayi kembar laki-laki yang sehat melalui perjuangan yang luar biasa, membuat Julian tak henti-hentinya membisikkan kata terima kasih di telinga istrinya sembari mengecup keningnya berkali-kali.Kini, kediaman Adiwangsa yang biasanya tenang telah berubah menjadi markas besar yang penuh kesibukan. Suara tangisan bayi, aroma minyak telon yang khas, dan derap langkah kaki yang terburu-buru menjadi irama harian yang baru. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, Julian dan Jihan memiliki misi utama: memastikan putri sulung mereka, Aruna, tidak merasa terpinggirkan oleh kehadiran kedua anggota baru tersebut.****Satu bulan setelah persalinan, suasana di kamar utama tamp
Beberapa bulan berlalu setelah badai kecil dalam rumah tangga mereka mereda. Musim berganti, dan kebahagiaan di kediaman Adiwangsa seolah meledak saat sebuah kabar gembira datang. Jihan dinyatakan hamil. Julian, yang biasanya selalu terlihat tenang dan berwibawa sebagai CEO, mendadak berubah menjadi pria paling protektif sekaligus paling ceria sedunia. Senyumnya tidak pernah luntur sejak melihat dua garis biru di alat tes kehamilan istrinya.Namun, ada satu tugas penting yang harus mereka lakukan: memberi tahu Aruna. Aruna, yang sekarang sudah jauh lebih hebat dan sudah lancar mengucapkan huruf "R"—berkat latihan sabar dari Jihan—tampak bingung saat dipanggil ke ruang tengah untuk sebuah pengumuman penting."Aruna sayang, Bunda punya sesuatu untuk Aruna," ucap Jihan sambil membimbing tangan mungil Aruna ke perutnya yang masih tampak rata."Ada apa Bunda? Apa ada cokelat di dalam situ?" tanya Aruna dengan mata bulatnya yang polos.Julian tertawa kecil, ia merangkul bahu istri dan anakn
Malam pertama di rumah besar Adiwangsa tanpa Jihan dan Aruna terasa seperti neraka dunia bagi Julian. Setiap sudut ruangan yang biasanya diisi dengan aroma masakan Jihan atau teriakan ceria Aruna, kini terasa hampa dan menusuk tulang. Julian mencoba memejamkan mata, namun yang terbayang hanya sorot mata Jihan yang terluka saat ia membentaknya di ruang kerja. Ia tidak bisa menunggu seminggu. Bahkan menunggu sampai besok pagi pun ia merasa tidak sanggup. Pukul tujuh malam, Julian menyambar kunci mobilnya. Persetan dengan ego, persetan dengan harga diri seorang CEO. Saat ini, ia hanyalah seorang suami yang merindukan istrinya. Julian melajukan mobilnya menuju daerah pinggiran kota, tempat rumah lama Jihan berada. Rumah itu sederhana, dengan halaman yang dipenuhi tanaman hias yang kini mulai rimbun kembali karena Jihan sering merawatnya di akhir pekan. Saat sampai, ia melihat lampu teras menyala kuning hangat. Melalui jendela, ia bisa melihat bayangan dua orang di da






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.