共有

Bab 95

作者: NACL
last update 最終更新日: 2026-01-05 09:54:39

“Gaun aku kenapa, Mas?” tanya Diana, suaranya tercekat dan tangannya saling meremas di depan dada. Ia bisa menangkap kalau nada bicara Dhava berat. Suasana makin tegang, dan itu pasti tidak baik-baik saja.

“Ini rusak.” Satu kata itu meluncur kaku dari mulut Dhava.

Diana membalik tubuhnya dan mulutnya yang spontan menganga ditutupnya dengan satu tangan. “Hah?” Mata karamelnya bergulir pelan sekali. “Bagaimana bisa … seperti ini?”

Tangannya terulur gemetaran meraih setiap helai kain sutra yang kini berubah menjadi oranye pudar dari yang seharusnya biru kehijauan tua, warnanya benar-benar pudar di beberapa bagian. Ini tidak bisa dijahit, atau dilipat, atau ditambah sulam.

Hancur!

Yang lebih membuat Diana menahan napas, tatkala bagian pinggangnya menggembung dengan sedikit kerutan. Di situ bahannya menjadi kaku, ketika diremas kecil pun menimbulkan suara ‘krak’. Ia geleng-geleng membuat air matanya bercucuran. Entah siapa yang tega merusak jerih payahnya selama berbulan-bulan. Seingatnya
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (2)
goodnovel comment avatar
NACL
yukkk siap kak
goodnovel comment avatar
Titin Dwie
up bab lagi thor
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 112

    “Silakan, Tuan.” Bartender itu menyodorkan gelas kelima ke hadapan Dhava.Dhava mengernyit, lalu pandangannya berpindah pada wajah bartender yang tidak asing, agaknya mirip dengan seseorang. Ia terkikik kecil, sepertinya minuman empat gelas Scotch ini sudah membuatnya hilang akal. Bisa-bisanya ia memiripkan orang di hadapannya ini dengan dua orang paling berharga dalam hidupnya, dunianya, setiap embusan napasnnya ….“Gila!” Dhava mendorong pelan gelas itu. Ia menggeleng lalu mengangkat tangan.Bartender itu terus saja membuat Dhava minum sebanyak mungkin. Namun Dhava menggeleng, dan berjalan sempoyongan menuju keluar.“Tunggu, Tuan. Biar saya antar,” teriak pria itu yang suaranya tenggelam dentuman musik.“Mau ke mana lu?” tanya pria bertato ular, mencegahnya.“Ini Bang.” Pria itu menunjukkan layar ponsel yang memuat kolom chat dari seseorang.“Yaudah, bawa dia! Jangan kelayapan lu, selesai, langsung balik sini!” ancam pria yang dikenal Bang Kobra itu.Dhava yang tadi sempat melangkah

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 111

    “Iya,” jawab Diana. Ia juga melihat Dhava dari jendela kamarnya. “Kamu pergi aja. Temani Renita!”“Kamu turun atau aku naik?!” lantang Dhava yang juga mendongak, menatap ke arah jendela. Setelah semalaman gaga menemukan Diana di ibu kota. Pagi harinya, ia memutuskan ke rumah Diana.“Nggak turun dan nggak naik!” tegas Diana lagi. Pupilnya bergetar melihat Dhava siap mendobrak pagar rumahnya. “Jangan nekat, Mas. Aku bisa benci kamu!”Rasa sesak di dada, membuat Diana akhirnya menghubungi pihak keamanan komplek dan meminta mereka menegur Dhava secara hati-hati.Sungguh Dhava tidak menyangka kekasihnya itu serius mengusirnya, sampai melibatkan dua orang satpam yang menegurnya sopan.Masih dari balik jendela, Diana sesenggukan di tengah dengkuran Rayan. “Maaf, Mas. Maaf udah masuk ke kehidupan kamu lagi.”Ia lantas membalik badan dan menunduk, meratapi kakinya yang terluka.**Sedangkan Dhava, amarah dan frustrasi kini mendidih menjadi tekad berbahaya. Ia melihat jelas air mata dan kerapuh

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 110

    “Diana!!! Nak, kamu pingsan?!” teriakan itu melengking di tengah kesunyian dan hujan yang masih mengguyur menjelang subuh. Rina membelalak, kala keluar kamar dan menyaksikan seorang wanita tergolek tidak berdaya di ujung tangga. Tubuhnya yang lembap itu menjadi tanda apa yang terjadi.Rina tergopoh-gopoh menghampiri, mengamati apakah menantunya itu masih bernapas atau tidak. Jika tidak, maka kemalangan akan membersamainya seumur hidup.“Semoga anak ini nggak mati. Kapan dia pulang, sih? Sama si Rayan?” Rina berjongkok, dan menyentuh leher Diana yang bahkan berkeringat di suhu dingin seperti ini. “Eh, demam. Gawat, kalau Jeng Dewi dan Pak Denver tahu anaknya sakit. Bisa habis aku.”Berharap putranya ada di kamar, ia berteriak, “Rayan!!! Istrimu pingsan, cepat ke sini!!!”Tidak ada sahutan. Rina juga tidak berupaya memindahkan Diana dari lantai. Ia gegas menekan nomor putranya pada pesawat telepon.Tersambung.Hanya saja Rina bergidik saat mendengar suara desahan dari dalam telepon. “Ra

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 109

    Seluruh indra di tubuh Dhava tidak diam saja. Tangan kanannya mengendalikan setir, tangan kirinya sibuk dengan ponsel menghubungi Diana, meskipun sudah berulang kali mencoba tetap sama. Tidak diterima. Sepasang matanya juga fokus ke sekitar jalanan yang dilaluinya.Bahkan langit malam pun bergemuruh, tidak ada bintang atau cahaya bulan yang tampak.Sudah satu jam ia mencari berkeliling dua kali di jalan yang sama, tetap saja keberadaan Diana belum menemukan titik terang.“Apa dia pulang?” gumam Dhava. “Dia kenapa? Apa ini ulah Rayan?!”Tidak diam saja, Dhava mengirim pesan pada Diana. [Kamu di mana, Baby? Sudah pulang?]Tidak hanya sekadar duduk dalam mobil menuggu balasan, ia juga memeriksa sekitar, berharap Diana ada di sini. Kelopak matanya melebar tatkala melihat siluet wanita berpakaian kerja formal, berjalan cepat ke minimarket.Buru-buru ia menepikan mobilnya.Dhava memasuki minimarket itu, ia mencari-cari kekasihnya ke setiap sela gondola ganda. Wanita berpakaian formal tadi

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 108

    Beberapa saat sebelumnya, di kamar rawat Renita.Dhava yang sudah selesai mengeringkan kemejanya walau masih lembap, memasang wajah datar. Ia memeriksa ponselnya, tidak ada pesan masuk dari Diana.‘Aman,’ pikirnya, sambil membayangkan Diana pasti sibuk menikmati tempe goreng di mobil. Mulutnya celemotan dan kepedasan makan cabai rawit.Hanya saja, ia menunggu anak-anaknya kembali. Tak lama kemudian, mereka datang sambil bersorak.Davka berlari mendekati ranjang Renita."Mama, ini enak! Tadi aku cobain, lho," seru Davka sambil menyodorkan salad yang dibelikan Maharani.Kebahagiaan dua bocah kecil itu mengalihkan atensi Dhava dari kemejanya yang basah. Kapan lagi ia bisa melihat putranya tersenyum merekah, dan pandangannya bergerak pada sang istri.Renita menerima kotak mika dari tangan mungil Davka, dan dengan enggan mengelus pipi si sulung. Wanita itu pura-pura makan sedikit demi sedikit, sambil sembunyikan seringai kemenangan di balik gigitan aneka sayuran hijau. Ekor matanya pun mel

  • Aduh, Sayang Jangan Goda Aku Terus   Bab 107

    Telepon genggam Diana bergetar dalam tas tangannya yang ia taruh di pangkuannya. Mungkin itu Dhava, pikirnya. Dengan satu tangan lainnya memegang tempe goreng yang sudah digigit, ia merogoh ke dalam tas. Mulutnya masih mengunyah santai, dan jemarinya menggulir layar dengan cepat.Kolom chat terbuka, dan… detik itu juga pandangannya mengembun, tangannya gemetaran, tempe gorengnya terjatuh ke karpet mobil. Sedangkan ponselnya digenggam erat seiring dengan air mata yang menetes.Setiap kata pada pesan itu begitu menusuknya.“Pelampiasan nafsu?” gumanya, Diana terkekeh getir, menertawakan pilihannya sendiri.Apalagi foto itu sudah jelas menunjukkan bagaimana sikap Dhava sebagai suami sah dari wanita lain, Renita, mantan temannya sendiri. Ternyata inilah rasanya kalah dan mengalah dari temannya sendiri. Andai ia tahu sejak awal bahwa samua akan menjadi sulit, mungkin … dahulu, ia akan mengejar Dhava, mati-matian. Biarlah dianggap gadis murahan yang penting sepupu tampannya itu jadi miliknya

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status