Share

90 | Berpisah

Author: Strawberry
last update Huling Na-update: 2025-10-25 21:48:47

“Kalau aku bilang… semua ini belum selesai, kamu percaya?”

Kalimat itu terdengar lebih dari sebuah janji untuk Hanna yang merasa saat ini sedang patah hati. Oleh karena itu Hanna menatapnya lebih lama, mencoba mencari jawaban di balik tatapan itu, tapi Liam sudah lebih dulu menunduk, mengecup keningnya cepat—hangat, tapi juga terasa seperti perpisahan.

“Aku harus pergi sekarang,” ucapnya datar, lalu berbalik menuju pintu.

Langkah-langkahnya mantap, tidak menoleh lagi, tapi setiap langkahnya meninggalkan sesuatu yang menggantung di udara, Hanna merasa seperti pesan yang belum selesai diucapkan.

Sebelum benar-benar keluar, Liam berhenti di ambang pintu dan menoleh setengah.

Senyum tipisnya kembali muncul, nyaris tak terlihat.

“Kalau kamu percaya padaku, jangan menyesal nanti,” katanya tenang. “Karena setelah semua ini, kamu akan tahu… kenapa aku harus pergi.”

Pintu laboratorium tertutup perlahan.

Suara kuncinya terdengar halus, tapi di kepala Hanna, bunyi itu seperti gema panjang yang m
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   218 | Kekejaman Negara?

    "Bukan dia. Tapi kita bisa memanfaatkan koneksinya." Liam menoleh padanya. "Saat di rumah, dia mematikan listrik lokal. Di sini, dengan akses langsung ke inti server… kita bisa mengarahkan… dorongan neuralnya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang akan mengacaukan semua sistem pelacakan di Valthera, setidaknya untuk sementara.""Liam, itu terlalu berisiko! Kita tidak tahu batas kemampuannya!" protes Hanna."Kita juga tidak tahu batas ancaman terhadapnya, Hanna!" balas Liam. "Mereka tidak akan berhenti. Sekarang mereka tahu apa yang bisa dia lakukan, mereka akan mengerahkan segala sumber daya untuk mendapatkan kalian berdua. Ini satu-satunya cara untuk memastikan kita punya waktu bernapas."Sebelum Hanna bisa membantah, suara metalik menggema di koridor. Pintu baja tempat mereka masuk tiba-tiba terbuka dengan paksa. Di sana, berdiri Inspektur Mara dengan beberapa orang pasukan khusus, senjata mereka terhunus."Berhenti, O'Hara!" teriak Mara. "Langkah menjauh dari konsol

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   217 | Dalam Pelarian

    Terowongan layanan itu seperti urat nadi yang terlupakan di bawah tubuh Valthera yang berkilau. Dindingnya terbuat dari beton polos, dipenuhi kabel-kabel dan pipa-pipa yang berdesis lembut. Cahaya dari lampu kecil kendaraan mereka menerobos kegelapan, membuat bayangan-bayangan panjang menari-nari dengan liar.Liam mengemudi dengan penuh konsentrasi, nalurinya sebagai seorang yang mengenal tiap inci kota ini membimbingnya. Namun, ketegangan mengeras di pundaknya. Mereka belum aman. Jauh dari itu."Liam," bisik Hanna, suaranya parau. "Dia... dia tenang sekarang. Seperti tertidur.""Kelelahan," gumam Liam. Mengeluarkan energi seperti itu pasti menguras si kecil. Rasa khawatir yang baru menyergapnya—apa konsekuensi dari ledakan kekuatan seperti itu bagi janin yang masih berkembang? Tapi mereka tidak punya waktu untuk memikirkannya sekarang.Tiba-tiba, lampu kecil di dasbor kendaraan berkedip lalu padam. Mesin listrik yang nyaris tanpa suara itu merintih pelan, lalu kehilangan daya. Kendar

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   216 | Perlawanan Liam

    Ruang yang "disiapkan" ternyata adalah sebuah ruang operasi portabel yang lengkap, dipasang dengan cepat di ruang tamu utama. Peralatan berteknologi tinggi berdetak dan berkedip dengan cahaya dingin, mengubah ruang keluarga yang hangat menjadi sebuah laboratorium dingin. Meja pemeriksaan dengan lampu sorot terang menunggu di tengah.Hanna dipandu—lebih tepatnya, diarahkan—untuk berbaring. Perutnya yang membesar terasa berat dan rentan di bawah sorotan. Dr. Aris mendekat, mengenakan sarung tangan steril, sementara seorang asistennya menyiapkan mesin ultrasound yang lebih canggih dari biasanya dan sebuah alat panjang dengan ujung yang sangat tipis dan tajam."Tenang saja, Nona Hanna," ujar Dr. Aris, suaranya datar seperti sedang membaca manual. "Ini hanya prosedur standar amniocentesis. Kami akan mengambil sedikit sampel cairan ketuban untuk analisis. Sangat aman.""Aman untuk siapa?" serak Hanna, tangannya refleks melindungi perutnya."Untuk Anda dan janin, tentu saja," jawabnya, tapi

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   215 | Janin Yang Menolak

    Rasa bersalah dan ketakutan membakar hati Hanna bagai cairan asam. Setiap sesi "latihan" dengan perangkat kecil Liam meninggalkan rasa hampa yang dalam. Dia berbaring di tempat tidur, tangan menempel di perutnya yang membesar, membisikkan permintaan maaf berulang kali pada bayi di dalam kandungan."Maafkan Mama, Sayang. Mama janji, ini untuk kita. Agar kita bebas."Tapi bisikan itu terasa kosong. Apakah ini benar-benar untuk si bayi? Atau untuk ketakutan dirinya sendiri yang tidak ingin kehilangan? Dia mulai meragukan setiap keputusan yang dibuat sejak tahu dirinya hamil. Keputusan impulsif yang awalnya terasa seperti pemberontakan, kini berubah menjadi jerat yang mengikat tiga nyawa—bahkan sebelum yang ketiga sempat melihat dunia.Liam merasakan pergolakan dalam diri Hanna. Dia melihatnya sering melamun, matanya kosong menatap kejauhan. Sentuhannya menjadi lebih berhati-hati, seolah takut Hanna akan pecah."Kita bisa berhenti," ujar Liam suatu malam, memegangi bahu Hanna yang menggig

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   214 | Utopia Impian

    Hanna duduk terdiam di bangku taman, buku terbengkalai di pangkuannya. Udara hangat artifisial tiba-tiba terasa menusuk. Denyut jantungnya, yang dipantau oleh gelang perak di pergelangan tangannya, pasti melonjak. Dia memaksa diri untuk menarik napas panjang dan perlahan, berusaha menenangkan diri.Itu hanya halusinasi, bisiknya pada dirinya sendiri. Stres. Kelelahan.Tapi rasanya begitu nyata. Diagram itu tajam, jelas. Titik-titik merah yang berkedip sesuai dengan posisi patroli keamanan yang biasa dia lihat dari jendela. Titik hijau itu… tepat di lokasi laboratorium Liam.Dia menutup matanya, mencoba memanggil kembali gambaran itu. Tidak ada. Hanya kegelapan di balik kelopak matanya. Namun, ada sisa-sisa sensasi aneh—seperti gema dari koneksi yang terputus, atau saluran yang baru saja dibuka."Sayang, mau minum teh?" suara Lily dari pintu belakang membuyarkan konsentrasinya.Hanna membuka mata, berusaha tersenyum. "Iya, Ma. Aku masuk."Dia berdiri, sedikit limbung. Perutnya bergerak

  • Aduh Tak Tahan, Prof!   213 | Menuntut Kebebasan

    Keputusan Dewan Keamanan bergema melalui saluran-saluran resmi dengan kecepatan dan efisiensi khas Valthera. Dalam waktu dua jam setelah pertemuan Liam, perintah transfer resmi telah dikeluarkan.Namun, seperti segala hal di Valthera, tidak ada yang benar-benar sederhana.Pintu Unit 5-C terbuka, bukan oleh Liam, tetapi oleh Inspektur Mara, didampingi oleh dua petugas medis dan seorang teknisi keamanan.“Nona Hanna, Nyonya Lily,” sapa Mara dengan nada datar profesionalnya yang biasa. “Harap berkemas. Anda akan dipindahkan ke kediaman Profesor O’Hara di Perimeter North.”Hanna dan Lily saling memandang, campur aduk antara kelegaan dan kehati-hatian.“Liam?” tanya Hanna, berharap melihatnya.“Profesor O’Hara sedang mempersiapkan lokasi baru Anda dan akan menyambut di sana,” jawab Mara. Dia memberi isyarat, dan teknisi itu maju dengan perangkat genggam. “Sebelum kepergian, kami perlu memasang monitor lingkungan tambahan. Ini standar.”“Monitor apa?” tanya Lily dengan waspada.“Untuk memas

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status