LOGINCelina Camilla, seorang CEO muda yang tangguh dan pragmatis dari abad ke-21, terbangun di tubuh Celina Vivianne Valois, seorang Grand Duchess yang dibenci karena obsesinya yang gila pada suaminya, Grand Duke Lucien Ashford De Valois. Celina yang asli dikenal sebagai "Mawar Berduri Cavendish" yang memalukan; ia mengejar Lucien dengan cara-cara ekstrem yang justru membuat Lucien muak. Namun, setelah jiwa Camilla masuk, Celina berubah total. Ia tidak lagi mengejar cinta; ia mengejar kebebasan dan harta. Perubahan drastis dari wanita yang haus perhatian menjadi wanita yang "barbar", cerdas, dan acuh tak acuh mulai mengusik kewarasan Lucien. Ketika Baron Kael Vancewood muncul memberikan perhatian yang tak pernah Lucien berikan, sang Grand Duke yang dingin mulai kehilangan kendali. Di saat Celina menyodorkan surat cerai, Lucien sadar bahwa ia lebih memilih menghancurkan dunia daripada membiarkan istrinya pergi.
View MoreAroma amonia yang menyengat adalah hal pertama yang menyambut indra penciuman Celina. Kepalanya terasa seolah dihantam oleh palu godam, berdenyut mengikuti detak jantungnya yang tidak beraturan. Pandangannya kabur, hanya menangkap siluet langit-langit tinggi dengan lukisan fresco bergaya Renaisans yang rumit.
"Dia sudah bangun! Cepat panggilkan tabib!" sebuah suara melengking penuh kecemasan terdengar di dekat telinganya. Celina Camilla, seorang CEO wanita yang baru saja memenangkan tender triliunan rupiah sebelum mobilnya dihantam truk kontainer, mencoba menggerakkan jemarinya. Dingin. Kulitnya terasa seperti porselen yang membeku. "Nyonya? Nyonya Vivianne? Anda bisa mendengar saya?" Vivianne? Celina membatin bingung. Nama belakangnya adalah Camilla. Siapa itu Vivianne? Saat matanya berhasil fokus, ia tidak menemukan ruang ICU rumah sakit yang serba putih. Sebaliknya, ia berada di sebuah kamar megah yang luasnya hampir setara dengan penthouse-nya di Jakarta. Tirai beludru merah marun menjuntai dari jendela-jendela besar, dan furnitur kayu ek berukir emas menghiasi setiap sudut. Pintu besar kamar itu terbanting terbuka. Dentuman itu membuat semua pelayan di ruangan itu menunduk ketakutan, tubuh mereka gemetar. Langkah kaki sepatu bot yang berat bergema di lantai marmer. Seorang pria melangkah masuk. Ia mengenakan seragam militer hitam dengan lencana emas berbentuk serigala di bahunya. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya seolah dipahat dari batu marmer yang paling sempurna namun paling dingin. Matanya sebiru es, tajam, dan saat ini, penuh dengan rasa muak. Itu adalah Lucien Ashford De Valois. Grand Duke yang dikenal sebagai "Iblis Medan Perang". "Cukup, Celina," suara Lucien berat dan rendah, membawa aura intimidasi yang menyesakkan napas. "Sandiwara bunuh diri ini adalah tindakan paling menjijikkan yang pernah kau lakukan hanya untuk mendapatkan perhatianku." Celina Camilla mengerutkan kening. Ia mencoba duduk, dibantu oleh seorang pelayan muda yang terisak. Ingatan asing tiba-tiba menghantam otaknya seperti arus listrik. Celina Vivianne Valois. Putri manja dari keluarga Duke Cavendish. Wanita yang terobsesi pada suaminya sendiri hingga rela meminum racun dosis rendah hanya agar suaminya pulang dari perbatasan. Wanita yang dibenci oleh seluruh pelayan karena sifatnya yang arogan dan temperamental. "Sandiwara?" Celina Camilla mengulang kata itu dengan suara serak. Ia menatap telapak tangannya yang pucat. Jadi benar, dia sudah mati dan sekarang terjebak di tubuh wanita menyedihkan ini. Lucien mendengus kasar. Ia berdiri di ujung tempat tidur, menatap istrinya seolah wanita itu adalah kotoran yang menempel di sepatunya. "Kau pikir dengan hampir mati, aku akan merasa bersalah? Kau yang memaksa pernikahan ini terjadi dengan bantuan ayahmu. Jangan harap aku akan memberikan setitik pun rasa kasihan padamu." Celina tidak bergeming. Alih-alih gemetar, dia justru meregangkan otot lehernya yang kaku. Jiwa Camilla di dalam tubuh itu sedang mengalkulasi situasi. Dari memori samar pemilik tubuh asli, pria di depannya ini adalah mesin pembunuh berdarah dingin yang dihormati kekaisaran, sekaligus suami yang tidak pernah menyentuh istrinya sendiri selama dua tahun pernikahan. 'Dua tahun menyia-nyiakan aset secantik ini dan wilayah sekaya Cavendish? Pria ini pasti punya masalah di otaknya,' pikir Celina sinis. Ia menatap balik mata biru Lucien. Tidak ada lagi binar cinta yang memuja atau tangis memohon yang biasanya ditunjukkan oleh Celina yang asli. Matanya kini tenang, jernih, dan penuh perhitungan. "Grand Duke Lucien," ucap Celina dengan nada datar namun tegas. Lucien sedikit tersentak mendengar istrinya memanggilnya dengan gelar formal, bukan dengan rengekan "Suamiku" yang biasa. "Pertama, aku tidak butuh rasa kasihanmu. Kedua, jika kau menganggap ini sandiwara, maka anggaplah ini pertunjukan terakhirku," lanjut Celina. Ia menyingkap selimut sutranya dan mencoba turun dari tempat tidur meski kakinya masih lemas. "Apa yang kau lakukan?" tanya Lucien, alisnya bertaut. Celina berdiri tegak, meski kepalanya masih berputar. Ia menatap langsung ke arah Lucien, tinggi mereka terpaut jauh, tapi aura dominasi Celina tidak kalah. "Aku lapar. Aku hampir mati, dan hal terakhir yang ingin kudengar adalah ocehanmu yang tidak berguna. Jika kau tidak punya hal penting selain menghinaku, silakan keluar. Pintunya ada di sana." Lucien menyipitkan mata, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Kau... berani mengusirku dari rumahku sendiri?" "Rumah ini milik keluarga Valois, dan secara hukum, aku adalah Grand Duchess Valois. Artinya, ini juga rumahku," jawab Celina tenang. Ia beralih pada pelayan muda di sampingnya. "Siapa namamu?" "Ma-Mary, Nyonya," jawab gadis itu gagap. "Mary, bawakan saya menu sarapan terbaik yang bisa disajikan koki kastel ini. Steak daging tenderloin dengan tingkat kematangan medium rare, sup jamur truffle, dan sebotol anggur merah terbaik tahun ini. Kepalaku pening, aku butuh kalori," perintah Celina mutlak. Mary melirik Lucien dengan ketakutan, namun Celina menjentikkan jarinya di depan wajah Mary. "Aku yang memerintahmu. Pergi." Setelah Mary berlari keluar, Celina kembali menatap Lucien yang masih mematung karena terkejut. "Masih di sini, Yang Mulia? Atau Anda ingin bergabung sarapan denganku?" Lucien mendesis, kemarahan berkilat di matanya. "Aku tidak tahu permainan apa lagi yang sedang kau mainkan, Celina. Tapi jangan pikir perubahan sikapmu ini akan mengubah fakta bahwa aku membencimu." "Baguslah," sahut Celina santai sambil berjalan menuju meja rias. "Kebencianmu adalah hal yang paling konsisten dalam pernikahan ini. Aku menghargai kejujuranmu. Sekarang, tolong tutup pintunya dari luar. Suara sepatumu membuat kepalaku makin sakit." Lucien berbalik dengan amarah yang meluap, jubah militernya berkibar saat ia melangkah keluar dengan kasar. Cedric menyusul di belakangnya, namun sebelum pergi, pengawal itu sempat melirik Celina sekali lagi dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Begitu pintu tertutup, Celina Camilla mengembuskan napas lega. Ia duduk di depan cermin besar dan menatap wajah barunya. Wajah ini luar biasa cantik. Rambut hitam yang halus, dan fitur wajah yang aristokrat. Sayangnya, wajah ini sebelumnya dimiliki oleh wanita yang tidak punya harga diri. "Baiklah, Celina Vivianne," gumamnya pada pantulan di cermin. "Kau mungkin menyerah pada hidupmu karena pria dingin itu. Tapi aku? Aku tidak akan membiarkan hidup mewah ini sia-sia. Jika dia ingin perang dingin, aku akan memberinya musim dingin abadi. Tapi sebelum itu... aku butuh uang dan surat cerai." Celina tersenyum miring. Di dunia asalnya, dia adalah pemangsa di dunia bisnis. Di dunia kerajaan ini, dia hanya perlu menyesuaikan beberapa strategi. Tak lama kemudian, Mary kembali membawa nampan berisi makanan. Aroma daging panggang memenuhi ruangan. Celina mulai makan dengan elegan namun rakus. Sambil mengunyah, otaknya bekerja cepat. Ia perlu tahu posisi keuangan keluarga Cavendish, kekuasaan suaminya, dan siapa saja musuhnya di istana ini. "Mary," panggil Celina sambil menyesap anggur merahnya. "Ya, Nyonya?" "Bawakan seluruh buku kas dan laporan keuangan kediaman ini ke mejaku sebelum jam dua siang." Mary tampak bingung. "Tapi Nyonya, biasanya Anda hanya peduli pada anggaran gaun dan perhiasan..." Celina meletakkan gelas anggurnya dengan dentingan pelan yang berwibawa. "Itu kemarin. Mulai hari ini, aku peduli pada segalanya. Dan Mary?" "Ya, Nyonya?" "Jangan pernah panggil aku dengan suara gemetar lagi. Aku tidak memakan pelayanku. Aku hanya memakan orang-orang yang tidak berguna. Pastikan kau termasuk kategori yang berguna." Mary menelan ludah dan membungkuk dalam. "Baik, Nyonya! Saya akan segera menyiapkannya!" Di lorong luar kamar, Lucien berhenti melangkah. Ia masih bisa mendengar suara tegas istrinya dari balik pintu. Ada sesuatu yang berbeda. Nada bicara, tatapan mata, bahkan cara wanita itu bernapas terasa asing. "Cedric," panggil Lucien tanpa menoleh. "Ya, Yang Mulia?" "Awasi dia. Jika dia mulai melakukan hal gila lagi atau mencoba menghubungi ayahnya untuk mengadu, laporkan padaku segera." "Baik, Yang Mulia. Namun..." Cedric ragu sejenak. "Tidakkah Anda merasa sang Grand Duchess tampak... sangat berbeda? Beliau tidak menangis saat Anda menghinanya tadi." Lucien terdiam. Biasanya, Celina akan berlutut, memegang ujung jubahnya, dan menangis tersedu-sedu meminta ampun. Tapi tadi? Wanita itu bahkan tidak berkedip. "Mungkin itu taktik baru agar aku penasaran," gumam Lucien sinis, meski ada sedikit rasa tidak nyaman di hatinya. "Lihat saja berapa lama dia bisa bertahan berpura-pura menjadi orang lain." Lucien melangkah pergi, tidak menyadari bahwa wanita di dalam kamar itu benar-benar bukan lagi wanita yang ia kenal. Dan itu adalah awal dari runtuhnya tembok es yang selama ini ia bangun. ***Raja Lucien menghempaskan tumpukan dokumen laporan dewan menteri ke atas meja kerja mahoni dengan satu gerakan tangan yang cepat, lalu menghela napas panjang sebelum berbalik menghadap Ratu Celina yang baru saja melangkah masuk membawa secangkir teh mawar hangat kesukaannya."Aku resmi mendeklarasikan pensiun permanen dari membaca tumpukan kertas membosankan ini mulai detik ini juga, Celina," ujar Lucien dengan suara bariton seraknya yang khas, tersenyum kecil sambil melangkah lebar mendekati istrinya.Celina menyerahkan cangkir teh tersebut, lalu mendengus geli sembari merapikan kerah kemeja suaminya dengan penuh kelembutan. "Kau berbicara seolah-olah kau adalah pegawai rendahan istana, Baginda Raja. Padahal kau baru saja mangkir dari tiga rapat penting dewan menteri sore ini," tegur Celina lembut penuh canda, matanya berbinar hangat.Lucien menyambar pinggang ramping istrinya dengan kedua tangannya, menarik tubuh Celina rapat-rapat hingga tidak ada celah di antara mereka. "Biarkan p
Raja Lucien menyambar jubah wol tebal berwarna arang dari gantungan dinding kamar dengan satu sentakan tangan yang cepat, lalu melemparkannya ke bahu Ratu Celina untuk melindungi istrinya dari udara dingin subuh istana."Kau yakin ingin ikut naik ke bukit utara bersamaku, Baginda? Padahal kita baru saja berencana tidur seharian penuh di istana," protes Celina lembut dengan nada jenaka, merapikan kancing jubah tersebut di depan cermin besar sementara matanya melirik ke arah suaminya melalui pantulan kaca.Lucien melangkah mendekat, melingkarkan kedua tangannya dari belakang di pinggang ramping istrinya lalu menumpukan dagunya di bahu Celina. "Aku tidak mungkin membiarkan ratu-ku pergi ke luar istana sendirian saat fajar menyingsing, terlebih lagi rencana liburan seharian kita hari ini dimulai dari sana," bisik Lucien parau tepat di telinga Celina, mengecup pelan leher istrinya hingga Celina mendengus geli."Alasanmu selalu saja ada, Raja yang posesif," cibir Celina manja, memutar tubuh
Raja Lucien menghempaskan tubuhnya ke atas sofa beludru panjang di ruang kerja pribadinya, lalu melonggarkan kerah seragam militer hitam yang masih melekat di tubuhnya dengan satu sentakan tangan yang cepat."Kau baru saja tiba dari perbatasan barat dua jam yang lalu, Baginda, dan sekarang kau sudah mengurung diri lagi di ruang kerja penuh tumpukan dokumen?" tegur Ratu Celina lembut sambil membuka pintu ruang kerja perlahan, melangkah masuk dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hitam hangat.Lucien mendongak, menyipitkan mata elangnya lalu mendengus pelan. Ia menepuk sisi sofa yang kosong di sampingnya. "Kemarilah, Celina. Dokumen-dokumen ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa rinduku yang belum tuntas sejak aku kembali ke istana," rayu Lucien parau dengan suara baritonnya yang membuai.Celina tersenyum geli, melangkah mendekat dan meletakkan nampan teh di atas meja mahoni sebelum duduk di samping suaminya. "Kau ini... gombalanmu semakin hari semakin tidak punya batasan," c
Raja Lucien menutup pintu kamar tidur utama dengan satu dorongan kaki yang cepat, lalu langsung mengangkat tubuh Ratu Celina ke dalam dekapannya begitu mereka tiba di balik pintu yang tertutup rapat dari pesta dansa Adipati Sterling.Celina terpekik kecil karena terkejut, namun tawa renyah langsung lolos dari bibirnya saat ia melingkarkan kedua tangannya secara otomatis di leher suaminya. "Lucien! Kau benar-benar tidak sabar, ya? Kita bahkan baru saja turun dari kereta kuda!" protes Celina manja dengan mata berbinar jenaka.Lucien tidak memedulikan protes itu. Ia berjalan cepat membawa istrinya menuju ranjang beludru besar, membaringkan Celina dengan lembut sebelum mengurung tubuh istrinya di antara kedua lengannya. "Aku sudah menahan diri selama dua jam penuh di aula yang penuh dengan para bangsawan sok sokan itu, Celina. Sekarang waktunya bagiku untuk menagih waktu pribadi dengan ratu-ku," bisik Lucien parau dengan suara baritonnya yang membuai.Celina menangkup rahang suaminya deng
Setelah insiden di lapangan latihan, desas-desus tentang "Kegilaan Baru" Grand Duchess menyebar seperti api di antara para pelayan dan ksatria. Namun, Celina tidak peduli. Baginya, status sosial di dunia ini hanyalah modal untuk mencapai satu tujuan: kemandirian finansial. Celina menghabiskan tiga
Kastil Valois berubah menjadi penjara emas yang paling mewah di seluruh kerajaan. Sejak malam pembakaran surat cerai itu, Lucien benar-benar mewujudkan ancamannya. Cedric Lightmore kini bukan lagi sekadar asisten Grand Duke, melainkan "bayangan" Celina yang mengikuti ke mana pun ia pergi—bahkan jika
Malam itu, kastil Valois terasa lebih sunyi dari biasanya, namun ketenangan itu seperti permukaan laut sebelum tsunami. Celina duduk di meja kerjanya, hanya ditemani cahaya lilin yang menari-nari ditiup angin malam. Di tangannya terdapat selembar dokumen yang ditulis dengan tinta hitam pekat—sebuah
Keesokan paginya, kediaman Valois gempar. Bukan karena perilaku histeris sang Grand Duchess, melainkan karena kesibukannya yang luar biasa. Celina tidak mengenakan gaun sutra panjang yang menyapu lantai. Sebaliknya, ia memilih setelan jas wanita yang dimodifikasi dari penjahit istana—berwarna biru t












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews