LOGINMarley and Jeremy have been together since her freshman year of college. He’s the only man she’d ever dated and though he’s abusive to her, she can’t bear to leave him. After a particularly rough night, she runs into a man named Bryce who takes her home in the pouring rain. She finds her father, who has a gambling problem, being held captive by an intruder. As the intruder goes to assault her, Bryce bursts into the house and whisks her away to his home. There, she meets his two brothers, Cody and Jake. There’s something off about these men, but she can’t figure out what. Every time they touch her, sparks fly, and she soon finds herself spending all her extra time with them. Marley is unable to leave her abusive relationship with Jeremy and soon finds herself cheating on him with these three men who make her feel bliss she’d never felt before. Can she move on from Jeremy and have a real relationship with not one, but three men she barely knows? Fast Paced/Contains Cheating Trigger Warnings: DubCon NonCon Sexual Assault Abuse/Assault Language Blood/Blood Play DISTURBING CONTENT
View More"Dafa? Rani, apa yang kalian lakukan?"
Berniat memberikan surprise pada Dafa sang tunangan hingga Maira ke kantor milik Dafa, ternyata yang terjadi justru Maira yang terkejut karena melihat Dafa dan Rani sahabatnya sedang berciuman di ruang kerja milik sang tunangan.Tidak hanya sampai di situ, pakaian keduanya juga sudah tidak karuan padahal mereka sedang ada di tempat kerja dan memang, Rani sahabat Maira bekerja di perusahaan milik Dafa atas rekomendasi Maira karena kasihan dengan sahabatnya itu yang tidak kunjung mendapatkan pekerjaan.Namun, rasa kasihan Maira ternyata dibalas dengan sebuah pukulan oleh Rani yang terobsesi dengan Dafa sejak lama secara diam-diam hingga saat Maira merekomendasikannya untuk bekerja di perusahaan Dafa, perempuan itu memiliki kesempatan untuk menggoda Dafa dan Dafa tergoda!Melihat kedatangan Maira yang tiba-tiba, Dafa buru-buru mendorong Rani dari pangkuannya dan segera membenahi pakaiannya dengan wajah seperti maling ketangkap basah, dan Maira jijik melihatnya."Sejak kapan kalian berkhianat di belakang aku?" tanya Maira dengan suara tersendat.Perempuan itu mundur ketika Dafa mendekatinya sembari mengucapkan kata bahwa ia bisa memberikan penjelasan, namun, Maira tidak peduli dengan kata-kata itu."Sayang, itu tadi tidak seperti yang kamu bayangkan, itu kecelakaan, Rani terpeleset dan aku hanya ingin menyelamatkan dia, tidak lebih."Kembali Dafa berusaha untuk memberikan penjelasan, namun Maira tetap tidak bergeming mendengar penjelasan itu bahkan bibirnya tersenyum kecut pertanda ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sang tunangan.Sementara Rani, gadis itu tidak seperti Dafa yang berusaha untuk menjelaskan pada Maira tentang apa yang sudah mereka lakukan. Bahkan, pakaian atasnya yang terbuka karena ulah Dafa hingga menampakkan separuh dadanya tidak dibenarkan oleh Rani seolah sengaja memperlihatkan tanda merah di bagian atas dada perempuan tersebut pada Maira karena ia juga melangkah mendekati sahabatnya itu dengan wajah yang tidak sepucat Dafa, dan sekarang Maira bisa melihat dengan jelas tanda merah di bagian dada atas milik Rani hingga wanita itu semakin muak dan hancur melihatnya."Terpeleset sampai kamu bisa memberikan tanda kepemilikan di dada Rani, gitu? Udahlah, enggak perlu dijelaskan lagi, semuanya udah jelas, kok! Kalian benar-benar sampah!!"Maira merespon perkataan Dafa dengan ucapan seperti itu hingga Rani tersinggung sudah dikatakan sampah oleh Maira."Siapa yang sampah? Kamu harusnya sadar diri, Maira! Selama kamu jadi pacar Dafa, apakah kamu pernah membuat dia puas, nikmat dan bahagia? Kamu hanya fokus dengan pekerjaan, tidak memperhatikan pacar kamu yang kesepian karena ulahmu itu, sekarang, kalau Dafa tergoda padaku itu bukan salahku, saat kamu menjadi tunangan Dafa, apa pernah kamu membiarkan Dafa menyentuh bagian tubuh intim kamu selain berciuman di bibir?""Apa?""Ya! Dafa itu bukan anak SMA yang cuma bisa pacaran dengan hanya bergandengan tangan dan berciuman doang, Maira, kalian sudah bertunangan apa salahnya memberikan kepuasan lebih? Kalau sudah begini, bagaimana? Kamu mau menyalahkan orang lain?""Benar begitu, Dafa?" tanya Maira pada sang tunangan yang semakin tidak tahu harus bicara apa karena Rani bicara panjang lebar seperti itu pada Maira. Ingin membantah tapi semuanya benar, ia saja yang tidak pernah mengatakan langsung pada Maira karena Maira terlalu tabu untuk membicarakan masalah tersebut dengannya."Jawab aku, Dafa! Kamu benar-benar ingin pacar kamu seperti Rani yang murahan seperti itu?"BRUKK!!Tubuh Maira tersungkur ketika dengan kuat Rani mendorongnya lantaran tersinggung dengan kata murahan yang diucapkan oleh Maira tadi."Yang bodoh itu kamu! Punya tunangan tampan dan mapan tapi kamu sok suci, apa enaknya pacaran sama kamu, asal kamu tahu saja, aku sudah beberapa bulan ini melayani Dafa, sebagai wanita, Maira, jadi apa yang aku lakukan itu bukan murahan, tapi langkah penegasan untuk menjaga sebuah hubungan yang akan ke jenjang lebih serius lagi!"Maira bangkit setelah tadi sempat tersungkur lantaran didorong oleh Rani. Meskipun bokongnya berdenyut tapi gadis itu tidak peduli dengan rasa sakit itu, karena sekarang yang lebih sakit adalah hatinya. Maira sangat sakit sekarang sampai ingin mengeluarkan air mata namun itu ditahannya karena tidak mau terlalu lemah di hadapan Dafa."Maira, aku minta maaf, aku cuma ingin kamu sedikit mesra padaku, apa yang aku lakukan dengan Rani itu kekhilafan, aku tetap lebih mencintai kamu, Sayang!"Kembali Dafa berusaha untuk membuat kemarahan di hati Maira musnah, namun apa yang dikatakan oleh Dafa sangat tidak bisa diterima Rani. Gadis itu semakin maju melangkah ke arah Maira seolah tidak ingin membiarkan Maira dihampiri oleh Dafa."Asal kamu tahu saja, Maira, aku dan Dafa sudah pernah berhubungan intim beberapa kali belakangan ini, dia sudah melihat seluruh tubuhku dan dia puas begitu juga aku, apakah kau pernah memperlihatkan seluruh tubuhmu itu pada Dafa?""Kamu benar-benar rendah, Rani!" teriak Maira dengan wajah yang merah padam karena kemarahannya semakin berkobar mendengar ucapan Rani, dan Dafa tidak membantah sama sekali perkataan kotor Rani padahal hati kecil Maira ingin tunangannya itu membantah agar ia masih memiliki sedikit harapan untuk mempertahankan hubungan mereka tersebut, siapa tahu tunangannya benar-benar khilaf, kan? Begitu pikir Maira. Namun, harapan Maira musnah, karena Dafa justru diam saja.Gadis itu menatap ke arah Dafa berusaha untuk menanti apakah Dafa melakukan bantahan bahwa apa yang dikatakan oleh Rani itu tidak benar atau tidak."Kamu enggak membantah apa yang dikatakan Rani, Dafa?" tanya Maira sarat luka, dan Dafa menghela napas mendengar desakan gadis tersebut."Seharusnya masalah ini bisa kita bicarakan sebagai sarana introspeksi diri, kamu yang seperti itu padaku, dan aku dengan keinginan aku.""Introspeksi diri? Introspeksi diri apa? Aku berusaha menjaga diri agar hubungan kita tidak menjadi fitnah karena kamu adalah pengusaha tapi ternyata kamu yang menghancurkan dirimu sendiri! Apa aku salah? Ingin melakukan hal intim denganmu nanti saja setelah sah? Aku tahu, bagi sebagian orang pemikiran itu kuno, tapi kita ini makhluk beragama, Dafa, aku tahu pacaran juga tidak ada dalam aturan agama Islam, tapi setidaknya kita menjaga diri untuk tidak saling merusak sebelum kita sah!""Maka, pacaran saja kamu dengan pria ingusan! Aku ini sudah dewasa, Maira, aku butuh penyemangat saat aku sibuk di kantor, aku punya tunangan, tapi tidak bisa memuaskan aku, memberikan semangat baru untuk aku, setiap kita ketemu, aku tidak pernah bisa mendapatkan lebih dari sekedar ciuman, ciuman pun kamu tidak mau terlalu agresif, aku bahkan tidak pernah menemukan lidah kamu setiap kali kita berciuman, kau tahu cara berciuman bibir yang baik atau tidak? Kalau tidak, aku bisa mengajarimu, tidak perlu sok suci!""Jadi selama ini otakmu itu hanya dipenuhi dengan keinginan-keinginan kotormu itu setiap kali kita ketemu?"Bryce’s POV“What the fuck did you idiots do?” I leveled Cody and Jake with a vicious glare.“You’re just jealous,” Jake spoke in a bored tone.I pinched the bridge of my nose and took a deep breath, “do you have any idea what will happen when she realizes what you two did? She’ll leave!”Cody shook his head, “she’s not going to leave over a sex dream. Realistic as it may have seemed, it was still only a dream…and I may have fingered her a bit, she’s so tight I’ve got to get her ready for my cock.”“Ha…” I let out a dry laugh.“Let it go, Bryce. We just drank from her, played with her a bit, and influenced her dreams. If we want her to want us, we need her to think of us that way,” Cody reiterated.There was a gasp at the door, and I turned my head quickly to see Marley standing there, shaking, “you did what? How is that even possible? I…what are you three?”“Marley…wait!” I reached a hand towards her, but she shook her head and took off running. I turned to look at my brothers
Jake’s POVI smiled to myself as my woman ran away from me. She was so skittish, and it just made the predator in me more eager to hunt and claim her.I quickly threw on some pants and stalked after her silently and watched as she found her room and slammed the door behind her. I grinned and was about to knock when I could hear soft moans. Oh fuck, someone is horny. I leaned against the hardwood door and could hear what sounded like her playing with herself. So, it seems she’s not as unaffected as she acts.I pulled my cock back out and rubbed myself in time to the squelching noises and all too soon, I heard her loud moans as she reached her climax.Fuuuuck, cum jetted out the tip of my dick and landed on the outside of the door. I was panting heavily and so incredibly turned on, I was tempted to just go into her room and claim her, but instead, I took my cum and drew a heart on her door. I smirked as I put my cock away and turned around to come face to face with Cody.“What are y
Marley’s POV“Baby, Jessica and I were just here talking, what’s up?” Jeremy asked me. I looked at my friend who had a smirk on her face while she fixed her skirt, making a show of it.I took a deep breath before turning to look back at Jeremy, “can we talk in private?”He searched my eyes and then looked over at Jessica, “you can go now.”Jessica scoffed but instantly stood up and grabbed her purse before walking out the front door of the apartment.Jeremy leaned back on the couch and spread his legs, “what’s going on baby?”I turned my head and spoke quietly, “I don’t like you alone with Jessica. She’s trying to break us up.”Jeremy laughed, “she’s your best friend, she wouldn’t do that.”A pit formed in my stomach, I knew he was just oblivious to the situation.“I’d also like it if you stopped screwing me and then screwing her,” I told him with as much courage as I could muster.Jeremy scoffed, “maybe I’d like it if my woman wasn’t loose, but we can’t always get what we wa
Cody’s POVWhat good is being part incubus if I can’t use my abilities with my own mate? I growled as I went to throw some posh, pretentious painting of Bryce’s. As soon as it left my hand, Bryce zoomed into the room and caught it.I rolled my eyes, “what the fuck, man?”Bryce stomped towards me, “don’t what the fuck me. What the hell do you think you were doing with her?”“I was trying to get to know our mate on a deeply personal level,” I told him.Bryce shoved me backwards, “you used your abilities on her.”“I just wanted to make her dream come true. If you’d seen what she dreamt about me, you’d go crazy also,” I tried to explain.“I bet you had something to do with influencing her dream, as well. You’re an asshole,” he poked me in my chest, making my anger rise.“I’m part incubus! What do you expect from me?!” I roared as I punched through one of his precious paintings.Bryce didn’t understand these urges, though we had the same mother, the three of us had different father
Marley’s POV“Yes, yes!” I cried out as Cody pumped into me with a smirk.“You’re so sexy when you choke my cock baby,” Cody licked his lips, and I moaned as his big girth hit every nerve ending inside me.He bent my legs further backwards, tilting his angle and thrusting even harder.“Cody!” I












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.