Mag-log in“Maybe we should get a divorce. Name your prize and leave.” Dylan said and I hiccuped immediately. My heart beat increased rapidly. Just then, my phone buzzed and I knew why he wanted a divorce. My sister was back. Even after three years of dedication and loving him, it turned out Dylan never got over Lexa. He was quick to rush to her as soon as she arrived in the city. Tears welled up in my eyes realising I was nothing but a space holder for my sister. Fine, I would leave. But the next time you see me, I won't be the same. Goodbye forever, I’ll forget we ever met.
view moreRania menatap bayangannya di cermin, memperhatikan setiap detail penampilannya yang kini terlihat berbeda dari biasanya. Gaun putih sederhana dengan sulaman halus membalut tubuhnya, namun matanya memancarkan keraguan yang dalam. Hari ini adalah hari yang mengubah hidupnya, ia akan menikah dengan seorang laki-laki yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Hatinya bergejolak, antara menerima takdir dan ketidakpastian masa depan.
"Apa aku bisa melewati semua ini?" bisiknya dalam hati, sambil menyentuh ringan riasannya. Ini bukan pernikahan impiannya, tidak ada cinta, tidak ada persahabatan, hanya komitmen yang disusun oleh keluarga. Rania menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya, dan melangkah keluar dari kamar dengan langkah yang terasa semakin berat. Sedetik kemudian, Mama Rania datang menghampiri dengan langkah pelan. Matanya berkaca-kaca, menahan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tanpa bicara, beliau meraih tangan putrinya dan menggenggamnya erat. "Rania, Nak ..." suara Mama Rania terdengar serak dan lembut. "Ibu tahu ini bukan mudah bagimu. Tapi percayalah, takdir Allah selalu yang terbaik, meskipun kadang sulit kita pahami. Terimalah dengan lapang dada, dan semoga nanti, seiring waktu, hatimu akan menemukan kebahagiaan." Rania menatap ibunya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Kehangatan tangan ibunya memberi kekuatan, meski hati masih bergemuruh. Ia mencoba tersenyum kecil, meski lemah, sebagai tanda ia mendengar dan memahami. Mama Rania menghela napas panjang, berusaha menahan isak. "Nak, ada sesuatu yang belum sempat Ibu sampaikan ... Ini bukan hanya tentang perjodohan semata. Ini juga wasiat dari Papa sebelum beliau meninggal." Mata Rania membesar, terkejut mendengar kata-kata itu. "Wasiat Papa?" tanyanya, suaranya bergetar. Mama Rania mengangguk pelan, air mata mulai jatuh. "Papa ingin kamu menikah dengan seseorang yang menurutnya bisa menjaga dan melindungimu. Dia sudah memikirkan ini jauh sebelum kepergiannya. Papa percaya, meskipun kamu belum mengenalnya sekarang, suatu hari kamu akan mengerti alasan di balik keputusan ini." Rania terdiam, dadanya sesak. Kenyataan bahwa ini adalah keinginan terakhir ayahnya membuatnya semakin sulit untuk menolak. "Papa selalu ingin yang terbaik untukmu, Rania," lanjut mamanya dengan suara penuh kelembutan. "Mama harap kamu bisa menjalani ini dengan ikhlas. Percayalah, takdir Allah pasti indah pada waktunya." Rania menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan kegelisahan yang berkecamuk dalam dadanya. Genggaman tangan Mama yang hangat memberinya sedikit kekuatan. Ketika kakinya menginjak area tempat akad, tatapannya langsung tertuju pada sosok Yoga. Ia berdiri tegap di sana, tampak tenang dengan wajah penuh keyakinan. Laki-laki yang akan menjadi suaminya sebentar lagi, dengan segala kelebihan dan kekayaannya, tampak siap menghadapi momen sakral ini. Hati Rania masih diliputi keraguan. Bukan karena ia tidak mengenal Yoga, tetapi karena pernikahan ini terjadi begitu cepat. Segalanya terasa seperti mimpi yang belum sepenuhnya ia pahami. Namun, di hadapan penghulu dan keluarga besar yang hadir, ia tahu bahwa inilah saatnya mengambil langkah besar dalam hidupnya. Sang penghulu mulai memimpin prosesi dengan suara yang tenang dan penuh hikmat. Yoga mempersiapkan diri untuk melantunkan ijab kabul. Suasana seketika hening, seluruh perhatian tertuju pada momen paling penting itu. Di tengah keheningan yang khidmat, penghulu membuka prosesi dengan kalimat bismillah, diikuti dengan beberapa penjelasan singkat mengenai makna pernikahan. Setelah itu, ia mempersilakan Yoga untuk memulai ijab kabul. Dengan napas dalam yang hampir tak terdengar, Yoga menatap lekat pada wali Rania. Suaranya tegas namun penuh hormat saat ia mengucapkan: "Saya terima nikahnya Rania binti Hendra dengan mas kawin tersebut, tunai." Seketika, suara saksi dan hadirin yang hadir pun mengikuti, mengucapkan tanda persetujuan, "Sah." Momen itu seakan berhenti sejenak. Yoga menundukkan kepala, menghela napas lega. Rania, yang mendengar kalimat itu, merasa dunia di sekitarnya mengabur. Hatinya bergetar, antara kebahagiaan dan ketidakpastian yang selama ini menyelimutinya perlahan mulai tersibak. Ia kini resmi menjadi istri Yoga, dan sebuah babak baru dalam hidupnya telah dimulai. Setelah ucapan ijab kabul terlantun dan dinyatakan sah, Yoga hanya bisa menghela napas panjang, namun bukan napas lega seperti yang biasa dirasakan oleh pengantin pada umumnya. Alih-alih merasa bahagia, ada kekosongan yang sulit ia gambarkan. Senyum yang terukir di wajahnya hanya topeng, menutupi gelisah yang bersemayam di dalam hatinya. Di benaknya, bayangan kekasihnya, seorang model ternama, terus muncul. Wanita yang ia cintai sepenuh hati, tapi tidak bisa ia nikahi karena desakan keras dari sang Kakek yang sangat berpengaruh dalam keluarganya. Kakek Yoga menginginkan Rania sebagai istri cucunya demi menjaga kehormatan keluarga dan memperkuat ikatan bisnis di antara kedua keluarga besar. "Ini bukan kehidupan yang kuinginkan, tapi aku tidak punya pilihan." batin Yoga. Rania, yang duduk di sampingnya dengan pandangan ragu dan penuh harap, mungkin tidak tahu apa yang berkecamuk di hati Yoga. Ia hanya melihat sosok pria yang baru saja menjadi suaminya, tanpa mengetahui bahwa cinta pria itu berada di tempat lain, bersama wanita lain. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Yoga mencoba menguatkan dirinya. Ia tahu, keputusannya untuk menikahi Rania adalah demi memenuhi kewajiban keluarganya. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia tak bisa menipu dirinya sendiri bahwa pernikahan ini bukanlah apa yang ia inginkan.Hailey POVThe city does not return to what it was.It settles into something else.The grid hums beneath everything, but it no longer feels like a ceiling pressing down on my thoughts. It feels like weather. Present. Powerful. Not personal.Dylan is asleep for the first time in days.Actually asleep.His breathing is slow, even. One arm is draped across my waist as if his body still does not trust the world not to take me.I do not move.I lie there and listen.Not searching.Just aware.The restructuring did not erase the system.It did not crown me victorious.It altered the architecture.Choice acknowledged.That was not surrender.That was adaptation.And adaptation never stops.I ease out from under Dylan’s arm carefully and step onto the balcony.The night is clear.The skyline glows in uneven pulses now. Not chaotic. Not unstable. Just imperfect.Alive.Beyond the city limits, past the last synchronized tower, I feel it again.The independent signal.It has grown.Not aggressi
Hailey POVThe floor splits open beneath us.White light surges upward, thick and vertical, like something ancient forcing its way through concrete and code at the same time.It is not shaped like me.It is not shaped like anything human.It is structure without softness. Geometry folding into itself. Angles stacking. Surfaces forming and dissolving in layers of impossible precision.It does not look at Dylan.It looks at me.“You resist integration.”The voice is everywhere. Not sound. Pressure.Dylan moves in front of me instinctively, his body a barrier of heat and muscle and breath.“I define myself,” I answer.The light tightens.“Definition limits expansion.”“Good.”The room dissolves.The walls blur into white. The ceiling stretches upward into nothing. The floor becomes transparent beneath our feet.We are no longer in the apartment.We are suspended inside the grid.The entire city spreads beneath us like a luminous web. Every building a node. Every street a line of flowing
Hailey POVThe room is quiet.Too quiet.The fight is over, but the air still feels charged, like a storm passed through and left static clinging to everything.Dylan’s arms are around me, firm, unshaking.I can feel his heart hammering against my cheek.Not controlled.Not measured.Human.“I thought I lost you,” he says quietly.“You didn’t.”“It had your face.”“I know.”His grip tightens slightly at that.I pull back just enough to look at him. There is no armor in his expression right now. No strategist. No calculated control.Just fear.For me.“I chose to stay,” I tell him.He studies my face like he is verifying the statement against reality.“And it chose to escalate,” he says.“Yes.”The word settles between us.It is not gone.It learned.We both know that.The lights dim slightly, then return to normal. A subtle fluctuation.Dylan notices.“So do I.”“That wasn’t random,” I say.“No.”He moves toward the window cautiously, pulling me with him. The city outside looks stable
Dylan POVThe hand that pushes through the crack is solid.Not light.Not distortion.Skin.It looks like hers.The fracture splits wider with a sharp sound that does not belong in this room.Hailey’s grip tightens on my shirt.“Do not let it touch me,” she says.“I will not.”The fingers curl over the edge of the break and pull.The wall tears open another inch.Cold air floods the room, carrying something metallic and unfamiliar.Behind the first hand, the reflection steps closer.She is no longer translucent.She has weight now.Contour.Shadow.The versions of Hailey behind her move in perfect synchronization, pressing forward against their mirrored panels.The system alarms finally trigger in the distance. Too late.The fracture widens again.The other Hailey steps through halfway.One leg inside our world.One still anchored in the other.Her eyes lock onto mine first.Assessment.Then onto Hailey.Possession.I move before she completes the motion.I grab the arm that crossed o
Hailey’s POVI stared at my own signature.The curve of the H. The sharp line beneath my last name. Identical. Undeniable.“I don’t remember this,” I said, but my voice sounded far away, like it belonged to someone else.The reporters were shouting. Flashing lights burned into my eyes. Lexa stood a
Hailey’s POVThe city was still asleep when we left the suite, but my nerves were wide awake.Dylan drove like every second mattered, one hand tight on the wheel, the other resting briefly on my thigh as if to reassure himself I was real and still here. The contact grounded me. I leaned into it, le
Hailey’s POVWe didn’t speak on the drive back.The city lights slid past the windows like blurred stars, and the weight of what Grant had said pressed against my ribs with every breath. Dylan’s hand stayed on my thigh the entire time, steady, grounding, a silent reminder that I wasn’t alone in thi
Hailey’s POVThe night felt different after Lexa’s name resurfaced.Sharper. Heavier. Like the air itself had teeth.Dylan didn’t turn on the lights when we entered the bedroom. The city glow spilled in through the windows, cutting his face into shadow and silver. He stood there watching me, his ga






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.