ログインAir danau yang tenang itu seketika berubah menjadi medan pertempuran yang kacau.Kevin melompat ke dalam air, tetapi dia tidak sekadar berenang melarikan diri.Suara ledakan kecil tadi ternyata bukan hanya untuk memutus dermaga, melainkan sinyal bagi dua unit jetski hitam yang tiba-tiba melesat dari balik rimbunnya pohon bakau di seberang danau."Target di air! Unit air, cegat sekarang!" teriak Adrian melalui radio, suaranya parau namun penuh otoritas.Kevin berhasil menggapai salah satu jetski yang dikendarai anak buahnya. Ia naik ke boncengan, akan tetapi sebelum kendaraan itu sempat memutar gas, sebuah tembakan peringatan dari Bayu menghantam permukaan air tepat di depan moncong jetski."Menyerahlah, Kevin! Kau terkepung!" seru Bayu dari tepian.Kevin tidak menyerah. Ia justru mengeluarkan sebuah pistol otomatis dari balik jaket anti-airnya dan membala
Adrian mengiyakan rencana Dirga yang ingin melibatkan Laila dalam missi kali ini, namun, tanpa sang Detektif ketahui, Dirga memiliki rencana lain."Aku butuh seorang polisi wanita berpengalaman, dan tolong usahakan fisiknya mirip dengan Laila.""Baik, kami akan menyiapkannya sesuai dengan rencana Anda.""Pastikan Laila yang asli aman dan terlindungi. Jangan sampai kita kecolongan!" tambah Dirga dengan nada tegas.***Tiga hari kemudian.Kabut tipis menyelimuti permukaan danau di pinggiran Bogor. Suasana malam itu sangat sunyi, hanya suara jangkrik dan gesekan daun bambu yang tertiup angin pegunungan.Cahaya bulan sabit terpantul di air yang tenang, menciptakan suasana yang indah sekaligus mencekam.Adrian berdiri di balik bayangan sebuah pohon besar, sekitar seratus meter dari dermaga kayu yang menjorok ke tengah danau.Di sana, seorang wanita dengan mantel panjang duduk termenung di ujung dermaga. Dari jauh, siapapun akan yakin itu adalah Laila.Namun, di bawah mantel itu, seoran
Hening menyelimuti sambungan telepon itu selama beberapa saat. Hanya suara rintik hujan yang kian menderu di luar jendela rumah sang Detektif.Dirga menarik napas panjang, suaranya kini terdengar lebih rendah dan penuh penekanan. "Begini Detektif, kalau dia menginginkan pernikahan itu gagal, artinya dia masih terobsesi pada Laila. Dia ingin memiliki apa yang tidak bisa dia dapatkan secara legal. Dan obsesi adalah kelemahannya.""Maksudmu?" tanya Adrian, matanya menatap nanar ke arah tumpukan berkas di meja kerja."Kita gunakan Laila sebagai umpan," jawab Dirga mantap.Adrian tersentak. "Tidak! Itu terlalu berisiko, Dok. Kau tidak melihat sendiri apa yang terjadi di dermaga tadi. Kevin bukan lagi penjahat amatir. Dia licin, dia punya persiapan, dan dia tidak ragu untuk membunuh. Menempatkan Laila di garis depan sama saja dengan menyerahkannya ke mulut harimau.""Iya aku tahu, aku sudah memikirkan itu, dan aku yakin rencana ini berhasil."Adrian terdiam dengan tatapan ragu. Melibatk
"Kau mendengarnya kan? Gagalkan pernikahan itu, atau aku akan terus mengusik hubunganmu dengan kekasihmu. Kau harus bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Clara!"Adrian terdiam sejenak saat mendengar suara dari balik kepulan asap. Sekian detik diam, ia mengatakan, "Bukan aku orang yang menyebabkan Clara kecelakaan!""Hahahaha!"Suara tawa Kevin menggelegar. "Aku sudah memegang kartu AS-mu Detektif. Dan sekarang, aku minta kau mengikuti permainan ini atau kau akan berakhir di dalam penjara!""Sialan!" umpat Adrian.Saat tim kepolisian menghampiri, mesin speedboat melaju cepat membelah sunyi malam, meninggalkan buih putih yang berbeda dengan pekatnya air laut."Ke arah sana!"Bayu dan timnya merangsek maju ke tepian titian besi, moncong senjata mereka mengarah ke kegelapan, namun target mereka sudah melesat jauh."Tembak mesinnya! Jangan biarkan dia keluar dari teluk!" teriak Bayu melalui radio.Beberapa letusan senjata api menyalak, memecah keheningan dermaga. Peluru-peluru
"Berhenti!"Saat dalam perjalanan, Adrian memberi perintah pada seorang supir yang tengah mengendarai mobil. Dua orang polisi bersenjata menoleh ke belakang, salah satunya menatap ke arah laptop yang ditunjukkan oleh Adrian. "Aku mendapatkan sinyal di sekitar pelabuhan," ucap Adrian yakin.Mendengar itu, kedua polisi saling tatap. Lalu, sang supir mengatakan, "Apa kita akan mencoba ke sana?"Adrian mengangguk cepat. "Putar arah, tapi usahakan kedatangan kita tidak mengundang perhatian mereka.""Baik." Salah satu polisi berbicara menggunakan alat komunikasi, menginformasikan arah yang baru.Mobil melaju cepat menuju titik lokasi yang ditemukan oleh Adrian."Sinyalnya memantul di koordinat ini," bisik Adrian, suaranya parau karena ketegangan yang menggunung.Ia menunjukkan sebuah titik merah yang berkedip di peta digital ... sebuah gudang kontainer yang sudah tidak beroperasi selama satu dekade di ujung Pelabuhan Sunda Kelapa Tua.Di belakangnya, dua mobil polisi mengikuti dengan ja
"Sedang apa kau di tempat ini? Kenapa kau berlari saat kami datang? Di mana temanmu yang lain?" tanya Polisi dengan nada tinggi.Seorang laki-laki berpakaian lusuh berhasil diamankan oleh kepolisian. Namun, saat ditangkap, laki-laki itu tidak menunjukkan gelagat mencurigakan.Meski terlihat panik dan ketakutan, tetapi dari cara ia menatap Polisi, dan juga menjawab pertanyaan, laki-laki itu tidak seperti seorang penjahat."S-saya cuma tidur di sana, Pak! Saya nggak punya rumah. Saya lihat pintu terbuka, jadi saya masuk untuk berteduh. Sumpah, Pak! Saya nggak lihat siapa-siapa dari tadi sore!" Pria itu mulai menangis sesenggukan, tubuhnya meringkuk ketakutan."Jangan bohong! Jika kau tidak kooperatif, kau akan langsung kami jebloskan ke dalam penjara!" ancam Polisi yang membuat laki-laki itu semakin ketakutan.Wajahnya pucat pasi dengan tangan dan kaki yang gemetar hebat. "S-saya b
Hari-hari berlalu berlalu dengan cepat. Kini, keluarga besar Febby dan Dirga tidak pernah mendapatkan ancaman lagi. Semenjak Yuliana ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, kehidupan mereka aman sentosa. Meskipun kabar Anggun belum didengar, tetapi mereka meyakini wanita itu j
Suara deringan ponsel dari dalam kamar, terus saja terdengar. Lama-lama Febby terpancing juga. Ia langsung melempar serbet yang berada di tangannya ke atas meja. "Biar aku ambilin hape kamu, Mas," kata Febby, melangkah menuju pintu dapur. Namun, langkah kaki itu langsung dihentikan oleh Dirga,
Ketika sedang duduk melamun di ruang tamu rumahnya, wangi maskulin yang biasa ia hirup dari tubuh sang suami, menguar di udara, memenuhi ruangan itu. Febby tahu siapa yang datang, ia sama sekali tidak berniat menoleh dan melihat wajah yang membuatnya semakin merasakan sesak. Ia ingin Dirga menja
"Kamu mau ngomong apa sama Teteh?" Febby menatap sepupunya yang duduk bersebelahan di samping tempat tidur. Sisca hanya diam, menatap dengan wajah penuh keraguan. Pasalnya, sang suami berpesan untuk tidak memberitahu tentang foto itu pada Febby sebelum semua jelas. Namun, sebagai seorang sepupu







