Mag-log inBagi Marco Rossi, Gia Valerine hanyalah tawanan kecil yang harus tunduk pada setiap titahnya. Namun bagi Gia, pria berusia 38 tahun itu adalah monster kejam yang telah merenggut segalanya. Terjebak dalam pernikahan paksa dan aturan ketat sang mafia, Gia mencoba melawan. Namun, setiap pemberontakannya justru berujung pada hukuman yang membakar gairah. Di saat pengkhianatan mulai mengepung, Gia menyadari bahwa satu-satunya tempat teraman adalah di dalam dekapan pria yang ia benci. "Panggil aku 'Daddy', atau kau akan tahu bagaimana caraku menghukum anak nakal." Dari kebencian yang mendalam, lahir hasrat yang menggebu. Satu kata kepatuhan adalah harga untuk nyawanya, tapi akankah Gia sanggup menolak saat sentuhan sang monster mulai menjadi candu?
view more“Siapa pun, tolong selamatkan aku.”
Bau amis darah meresap ke dalam serat karpet Persia di ruang kerja itu, bercampur dengan aroma tajam mesiu yang menyengat paru-paru.
Gia Valerine, wanita cantik berusia dua puluh empat tahun itu kini tengah meringkuk di bawah meja jati besar milik ayahnya sambil memeluk lutut dengan tubuh yang bergetar hebat.
Di luar sana, suara tembakan yang tadinya memekakkan telinga kini telah digantikan oleh keheningan yang jauh lebih mengerikan. Keheningan kematian.
Sepasang sepatu bot kulit hitam yang mengilat berhenti tepat di depan tempat persembunyiannya.
Gia menahan napas sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan agar isaknya tidak lolos. Namun, sebuah tangan kekar tiba-tiba menyusup ke bawah meja, mencengkeram rambut panjangnya, dan menariknya keluar tanpa belas kasihan.
“Akh!” Gia menjerit saat kepalanya terbentak pinggiran meja.
Dia terseret di atas lantai yang licin oleh genangan darah. Marco Rossi, bos mafia yang terkenal kejam, salah satu kenalan ayahnya yang merupakan klan mafia juga, kini berdiri tegak di hadapannya, menjulang seperti malaikat maut dengan jas hitam yang terciprat noda merah.
Wajahnya begitu datar, seolah baru saja menyelesaikan tugas administratif biasa, bukan pembantaian massal. “Berdiri,” perintah Marco dingin.
Gia yang sedang berlutut lantas menatap nanar ke arah jenazah ayahnya yang tergeletak tak jauh dari sana dengan mata melotot. “Kau ... kau yang telah membunuh mereka semua, kan? Bajingan!”
Marco tidak bereaksi terhadap makian itu. Dia hanya menatap Gia dengan mata abu-abunya yang tajam.
“Klan Valerius sudah selesai malam ini, Gia. Ayahmu, saudaramu, bahkan anjing penjagamu. Semuanya sudah dikirim ke neraka.”
“Kenapa tidak bunuh aku juga?!” teriak Gia dengan suara serak. “Selesaikan tugasmu sekarang!”
Mendengar teriakan gadis itu, Marco lantas berjongkok, untuk menyetarakan tinggi mereka. Dia lalu mengeluarkan pistol dari sarungnya, sebuah pistol yang larasnya masih mengeluarkan asap tipis dan terasa sangat panas. Tanpa ragu, dia menempelkan logam panas itu ke pipi Gia yang basah oleh air mata.
“Akh! Panas!” pekiknya dengan pelan, merasakan kulitnya nyaris melepuh karena panas laras senjata itu.
“Karena kau punya nilai yang berbeda,” jawab Marco singkat. “Kematianmu tidak akan memberiku apa-apa. Tapi hidupmu? Itu adalah kunci untuk menyatukan sisa aset Valerius di bawah benderaku.”
“Aku tidak akan pernah membantumu,” desis Gia, meski tubuhnya gemetar ketakutan di bawah tatapan predator itu.
“Aku tidak meminta bantuanmu, gadis kecil. Aku memberimu pilihan,” katanya dengan nada datar sembari menekan pistolnya lebih keras ke tulang pipi Gia, dan memaksa gadis itu untuk menatapnya.
“Pilihan pertama: kau akan mati di lantai ini, tepat di samping mayat ayahmu yang menyedihkan itu. Aku akan membiarkan anak buahku melakukan apa pun pada jasadmu sebelum mereka membakarnya.”
Gia menelan ludah, sementara detak jantungnya berpacu liar. “Lalu yang kedua?”
“Pilihan kedua: kau ikut denganku. Kau akan menjadi milikku sepenuhnya. Kau akan hidup, tapi kau tidak akan pernah punya kebebasan lagi. Kau akan bernapas hanya karena aku mengizinkannya.”
Gia lantas menatap mata Marco, tengah mencari sedikit saja sisa kemanusiaan di sana, namun dia hanya menemukan kegelapan yang tak berdasar di dalam pelupuk mata pria berusia tiga puluh delapan tahun itu.
“Kau ingin aku menjadi tawananmu?” desisnya dingin.
“Aku ingin kau menjadi istriku,” koreksi Marco dengan nada yang sangat dingin. “Istri sah yang akan memberikan legitimasi pada setiap wilayah yang aku ambil dari keluargamu.”
“Itu menjijikkan! Aku lebih baik mati daripada harus menjadi istri tawananmu!” pekiknya kemudian.
Mendengar itu, Marco lantas menarik pistolnya sedikit, lalu mengokangnya. Suara klik dari senjata itu terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi.
“Begitukah? Baiklah. Setelah kau mati, sisa dari keluargamu, anak buah ayahmu, pelayan di sini. Semuanya akan mati dalam waktu yang sama!" ucap Marco tanpa ragu sedikit pun.
Dia langsung mengarahkan moncong senjata itu tepat di antara kedua mata Gia. Jari telunjuknya sudah berada di pelatuk, siap untuk menekan tanpa ragu sedikit pun.
Marco sama sekali tidak terlihat sedang menggertak; dia tampak sangat siap untuk mengakhiri hidup Gia detik itu juga jika itu memang keputusannya.
Gia langsung menegang mendengar ucapan Marco barusan, kemudian menoleh ke arah pelayan dan keluarganya yang masih hidup, tengah meringkuk memohon agar Gia menuruti perintah Marco.
Tak ada pilihan lain. Gia tak ingin mati membawa rasa bersalahnya karena membiarkan Marco membunuh sisa keluarga dan pelayan yang lain.
Gia lalu memejamkan matanya dengan erat, lalu berkata, “Tunggu!” teriak Gia spontan saat merasakan hawa kematian menyentuh dahinya.
“Tunggu untuk apa? Kau sudah membuat pilihanmu, bukan?” tanyanya, namun tidak juga menurunkan pistolnya dari tangannya.
“Jika ... jika aku ikut, apa kau benar-benar akan menghentikan pembantaian ini? Anak buah ayahku yang tersisa ... pelayan di sini, keluargaku—"
“Aku hanya tertarik padamu,” potong Marco. “Sisa dari mereka tidak ada artinya bagiku selama mereka tidak mencoba menjadi pahlawan. Tapi keputusannya ada di tanganmu sekarang.”
Gia lantas menunduk dan melihat gaun putihnya yang kini ternoda darah ayahnya. Dia merasa jiwanya baru saja hancur berkeping-keping. “Baik. Aku akan ikut.”
“Aku tidak mendengar kata yang tepat,” tuntut Marco sambil menekan kembali laras pistolnya ke kening Gia, memaksa gadis itu menengadah.
Gia memejamkan matanya merasakan penghinaan yang luar biasa. “Aku ikut denganmu ... Marco.”
“Salah,” desis Marco lalu menarik rambut Gia sekali lagi agar gadis itu menatap langsung ke matanya. “Mulai detik ini, panggil aku Daddy. Itu adalah pengakuan bahwa kau adalah milikku, bahwa kau hanyalah anak kecil yang butuh bimbingan dan perlindungan dariku. Ucapkan.”
Gia menggertakkan giginya. “Kau benar-benar gila!”
Marco perlahan mulai menekan pelatuknya. “Katakan, atau kau akan mati di samping ayahmu!”
“Y-ya … Daddy,” bisik Gia dengan suara yang nyaris tidak terdengar, penuh dengan kebencian dan keputusasaan.
Marco lantas tersenyum tipis, sebuah senyum dingin yang tidak mencapai matanya.
Dia pun menyimpan kembali pistolnya ke dalam sarung jasnya, lalu berdiri dan mengulurkan tangan, bukan untuk membantu Gia berdiri, melainkan untuk mencengkeram rahangnya dengan kuat.
“Anak pintar,” gumam Marco. “Jangan membuatku menyesal karena telah membiarkanmu bernapas malam ini. Sekarang, ikut denganku!”
Di dalam kamar utama menara Rossi yang hangat, aroma obat-obatan dan antiseptik menyeruak tipis mengalahkan bau amis darah dan air sungai yang sempat melekat pada tubuh Marco.Tim medis pribadi klan Rossi baru saja selesai menjahit luka robek di bahu kiri Marco serta membebat tulang rusuknya yang memar parah akibat benturan keras.Marco berbaring bersandar pada tumpukan bantal di atas ranjang king size, tubuh bidangnya yang polos tanpa atasan memperlihatkan balutan perban putih bersih yang membungkus rapi bahu serta dadanya.Gia duduk di sisi tempat tidur, jemari mungilnya menggenggam erat tangan kanan Marco yang dipenuhi bekas goresan luka.Tatapan mata abu-abu sang Alfa tidak pernah lepas dari wajah istrinya, seolah setiap detik yang terlewat tanpa memandang Gia adalah sebuah kerugian besar."Aku benar-benar berpikir kalau aku tidak akan bisa melihat wajahmu lagi selamanya, Gia," bisik Marco dengan suara baritonnya yang masih terdengar parau dan berat.Marco memiringkan kepalanya se
"Nyonya Gia! Anda mau ke mana?! Jangan berjalan sendiri ke arah bukit!" teriak Rio panik dari balik barikade jembatan."Jangan ikuti aku, Rio! Biarkan aku sendiri!" balas Gia melangkah terus tanpa menoleh sedikit pun."Area bukit itu terlalu terjal dan berbahaya untuk kondisi Anda, Nyonya!" tegas Rio berlari kecil berusaha menyusul dari belakang.Waktu terus bergulir hingga senja di hari keempat sejak Marco menghilang ditelan arus sungai.Langit membentang jingga kelabu, memancarkan kepedihan kaku di atas sisa-sisa reruntuhan jembatan yang masih dijaga ketat oleh konvoi Rossi."Tolong tinggalkan aku sendiri sebentar saja, Rio. Aku mohon padamu," desis Gia dengan suara parau yang amat rapuh dan bergetar.Ketika warna jingga keemasan perlahan meredup berganti kegelapan malam, Gia berjalan dengan tatapan kosong seorang diri meninggalkan area jembatan menuju puncak bukit curam di tepi perbatasan.Langkah kaki tertatihnya menapak rumput liar yang basah oleh embun sore, membiarkan gaun lama
"Deru mesin. Jalan raya sudah dekat!" desis Marco dengan napas memburu dan bibir kebiruan."Jangan pingsan sekarang, Rossi! Sedikit lagi!" gerungnya menyemangati kakinya yang kian tak bertenaga."Bertahanlah, Gia. Aku sudah semakin dekat," bisiknya menembus deru angin malam yang menusuk tulang.Menjelang tengah malam, langkah kaki Marco yang tertatih akhirnya membawanya mendekati puncak bukit, di mana samar-samar terdengar deru mesin kendaraan dari arah jalan raya perbatasan.Sorot lampu mobil sesekali menyapu rimbun pepohonan di atas tebing, menjadi penanda bahwa peradaban hanya berjarak beberapa meter lagi."Satu baris jalan raya di depan... Aku harus mengatur napas," ucap Marco dengan pandangan yang mulai memburam.Tubuhnya yang berada di titik nadir kelelahan menuntut istirahat singkat sebelum dia pingsan karena kehilangan banyak darah.Pendarahan dari bahunya yang belum tertangani secara medis membuat tingkat kesadarannya merosot tajam."Sialan... kepalaku mendadak berputar hebat
"Saya hanya menyampaikan fakta medis dan situasi lapangan, Nyonya Gia..." jawab Rio pelan."Aku tidak butuh asumsi burukmu! Suamiku masih bernapas di luar sana!" tegaskannya penuh penekanan.Mendengar penjelasan taktis dari Rio, Gia langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas, menolak mentah-mentah kemungkinan buruk yang disampaikan oleh tangan kanan suaminya itu.Gia meremas jarinya sendiri hingga memutih, menolak membiarkan pikiran negatif merusak harapannya."Marco tidak selemah yang kalian bayangkan, Rio! Pikirkan siapa suamiku!" seru Gia dengan binar mata tajam.Gia masih sangat optimis kalau Marco masih hidup dan berada di suatu tempat di luar sana.Keyakinan itu membakar dadanya, menepis segala skenario terburuk yang baru saja dipaparkan oleh tim taktis."Dia pasti sedang mencari jalan pulang ke menara ini sekarang!" tegas Gia menyuarakan optimismenya.Gia menegaskan bahwa Marco bukan pria yang mudah dikalahkan oleh arus sungai atau luka-luka fisik, dan Marco pasti akan selam
Gia berjalan perlahan, sembari tangannya mencoba menutupi bagian depan tubuhnya secara insting. “Kenapa kau menyuruhku memakai ini? Ini memuakkan.”Marco menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang tampak predatoris. “Kau terlihat cantik dengan warna merah. Warna darah klanmu sangat cocok dengan kulitm
Tok tok!Di malam berikutnya, dengan kaki yang masih berdenyut nyeri akibat luka kemarin malam, Gia dipaksa untuk membuka pintu kamar yang sejak tadi terketuk dari depan.Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pria berjas rapi yang Gia kenali sebagai ajudan kepercayaan Marco.“Selamat malam, Non
Marco membanting pintu kamar utama hingga berdentum, lalu melemparkan Gia ke atas sofa kulit panjang di sudut ruangan.“Duduk di sana. Jangan bergerak sesentimeter pun,” perintah Marco dingin.Gia lantas meringkuk sambil memegang pergelangan kakinya yang basah oleh darah merah pekat. “Sakit, Marco.
“Kau ingin mati, hah?” pekik Marco memarahi anak buahnya yang sudah menggedor pintu kamarnya itu.“Ma-maafkan saya, Tuan. Tapi, ada masalah darurat yang harus Anda tahu! Ada pengkhianat yang membocorkan rahasia penyusupan barang malam ini, sehingga kapal kita tidak bisa jalan!”“Keparat!” Marco lan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore