Mag-log inDua bulan setelah badai yang dibawa Kevin mereda, Jakarta terasa jauh lebih tenang bagi Adrian.
Kasus itu akhirnya benar-benar ditutup dengan pengamanan super ketat di Lapas tingkat tinggi, memastikan Kevin tak lagi punya celah untuk membeli kebebasannya.
Sore itu, hujan rintik membasahi kaca jendela apartemen mereka. Aroma kopi dan kayu manis menyeruak dari dapur, tempat Intan biasanya menyiapkan camilan sore.
Adrian yang baru s
Saat Farah hendak membuka pintu mobil untuk melangkah masuk kembali ke rumah Aurora, tiba-tiba daun pintu utama terbuka.Biru berjalan ke luar dengan langkah tenang. Dilihat dari ekspresi wajahnya yang datar dan tanpa beban, sepertinya pria itu benar-benar tidak tahu apa-apa.Farah seketika mengembuskan napas lega, memegangi dadanya yang sempat berdegup kencang.Ia bersyukur dugaannya keliru. Aurora terbukti setia menjaga rahasia kelam itu.'Maafin aku, Aurora. Aku terlalu sensitif dan berpikiran buruk sama kamu,' batin Farah menyesal dalam hati.Di ambang pintu, Biru sempat melempar senyum tipis yang tampak meyakinkan. Sebuah senyuman sandiwara yang sengaja ia pasang demi menyembunyikan badai amarah yang bergemuruh di dadanya setelah melihat video dari Aurora.Tanpa banyak bicara, Biru membukakan pintu mobil untuk Farah.Tak lama kemudian, mesin mobil menyala dan kendaraan mewah itu pun melaju membelah jalanan menuju rumah.Sepanjang perjalanan, keheningan terasa begitu pekat. Bi
Ting! Ting! Ting!Setelah video klarifikasi itu resmi diunggah di grup angkatan kampus, ponsel di genggaman Farah seolah tidak diberi napas.Notifikasi pesan masuk beruntun tanpa henti, memekakkan telinga di dalam kamar Aurora yang semula hening.Farah dengan tangan gemetar memberanikan diri menggulir layar, membaca satu per satu respons dari teman-teman kuliahnya.Di antara sekian banyak pesan, beberapa memang berisi dukungan dan rasa simpati.Namun, komentar jahat jauh lebih mendominasi. Mereka mencemooh, menghakimi, bahkan menuduh Farah sengaja bertingkah murahan demi mencari perhatian.Ada juga yang membawa-bawa nama baik institusi, menyebut kelakuan Farah semalam telah mencoreng reputasi kampus.Mental Farah kembali runtuh. Air mata yang sempat mengering kini kembali mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat."Sabar, Farah. Yang penting kamu udah berani mengakuinya dan meluruskan semuanya. Kamu hebat karena kamu mau mengakui kesalahan kamu," ucap Aurora, mengusap punggung s
Farah menoleh, menatap profil samping wajah Biru yang tampak kokoh. Yang melintas di otaknya saat ini hanyalah rasa bersalah karena telah egois meninggalkan cowok itu kemarin sore."Soal yang sore itu ... maaf ya, Biru. Gara-gara keegoisanku, kamu jadi panik dan nyariin aku sampai tengah malam. Aku tahu aku salah dan aku terlalu kekanak-kanakan."Biru mengangguk pelan, menerima permintaan maaf itu dengan tulus. "Selain soal minimarket itu, apa kamu ingat sesuatu yang lain? Setelahnya?"Farah menggelengkan kepalanya dengan yakin. "Enggak ada. Aku cuma ingat aku mabuk berat di pesta Megan, terus ... oh iya, kamu semalam pulang ke rumah ya? Pantas aja pas aku sampai rumah jam sepuluh lewat, aku cariin kamu di paviliun belakang ternyata nggak ada."Mendengar penuturan polos itu, Biru hanya bisa menghela napas panjang demi meredam rasa kecewa yang mendadak menyergap dadanya.Ternyata benar, Farah melewatkan bagian paling romantis dalam
"Aku harus ke rumah Aurora sekarang!"Dengan langkah gontai dan kepala yang masih terasa agak pening, Farah memaksakan diri keluar dari kamar.Ia menuruni anak tangga dengan perlahan, lalu melangkah ke area halaman samping tempat biasa mobil-mobil keluarganya diparkir.Dari kejauhan, tampak Biru sedang sibuk membersihkan sisa-sisa busa sabun di bodi mobil sedan dengan selembar kain plas chamois."Biru, antar aku ke rumah Aurora," ucap Farah pelan begitu langkahnya berhenti di dekat pria itu.Biru seketika menghentikan aktivitas. Ia menoleh, menatap Farah yang tampak jauh lebih pucat dari biasanya. Guratan cemas langsung tercetak jelas di wajah tegas pengawal pribadinya itu."Gimana kondisi kamu? Kamu baik-baik saja?" tanya Biru dengan suara rendah yang penuh perhatian. "Wajah kamu keliatan pucat. Kamu sakit, hmmm?"Tanpa ragu, ia melangkah mendekat dan reflek merangkul pinggang Farah dengan lembut, berniat menyangga tubuh gadis itu yang tampak sedikit limbung.Tatapan mata biru mi
"Pokoknya kamu harus tenangin diri dulu. Aku kirim video itu, tapi kamu jangan pingsan ya," ucap Aurora terdengar sangat khawatir dari seberang telepon.Farah menghela napas dalam-dalam, mencoba mempersiapkan mentalnya untuk kemungkinan terburuk. "Iya, cepet kirim video itu, Ra. Aku janji nggak akan pingsan. Tapi sebelumnya, tolong jujur sama aku ... apa di video itu aku nggak pake baju? Aku ... telanjang?" tanya Farah dengan suara bergetar tak beraturan."Untungnya nggak," jawab Aurora cepat, yang seketika membuat Farah mengembuskan napas panjang penuh rasa lega. Beban berat di pundaknya serasa sedikit berkurang."Kamu cuma keliatan mabuk berat dan joget-joget kayak orang gila di pinggir kolam renang. Pokoknya memalukan banget, Ra. Kayaknya kamu dikerjain abis-abisan sama circle Megan di pestanya kemarin malam. Mereka sengaja ngerekam dan nyebarin," lanjut Aurora lagi.Farah terdiam membisu, meremas ujung selimut erat-erat. Ia memejamkan mata, memeras otaknya untuk mengingat kemb
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat celah gorden seketika membuat mata Farah berdenyut nyeri. Ia terbangun dengan rintihan pelan, memegangi kepala yang terasa seperti dihantam benda keras akibat sisa alkohol semalam."Farah, bangun sudah pagi." Suara ketukan pintu terdengar dari luar, membuat Farah panik.Ia tak ingin ibunya tahu jika semalam ia menenggak alkohol sampai mabuk. Dengan cepat ia bangkit dari tidurnya lalu duduk."Farah .... " Febby kembali memanggil."I-iya Mom. Aku udah bangun," seru Farah."Mommy masuk ya."Belum sempat Farah menjawab 'iya' pintu kamar sudah dibuka oleh Febby."Farah, kamu kenapa?" tanya Febby khawatir melihat kondisi putrinya yang pucat dan terus memejamkan mata menahan sambil memegang kepala."Aku nggak apa-apa Mom, cuma sakit kepala, mungkin karena kebanyakan tidur.







