ログインDemi menyelamatkan nyawa sang ibu, Dewi Astari menandatangani sebuah perjanjian yang berakhir membuatnya terikat pernikahan dengan seorang konglomerat tua yang arogan. Setiap melakukan kesalahan, Dewi akan disiksa, dan diperlakukan lebih buruk dari binatang. Lelaki tua itu juga sangat posesif, sehingga Dewi selalu diawasi. Sehari-hari, dia dijaga ketat oleh bodyguard sewaan. Hingga akhirnya dia ditakdirkan bertemu dengan Bisma Sagara, seorang bodyguard tampan, dan terlibat skandal dengannya.
もっと見る"Sampai kapanpun, kamu tidak akan bisa lepas dariku, Dewi. Sekali lagi kamu berani kabur, aku sendiri yang akan menghabisi nyawa ibumu yang miskin itu!"
Pria tua itu mengancam dengan keras, matanya menatap tajam wanita di hadapannya. Tapi, wanita yang bernama Dewi itu tidak memperlihatkan mimik ketakutan. Saat ibunya sudah disebut untuk mengancamnya, Dewi terpaksa harus menahan diri. Kalau dia terus melawan, bukan tidak mungkin pria kejam itu tidak sungguh-sungguh melakukan ancamannya. Jika saja bukan demi ibunya, sebenarnya tangan Dewi sudah gatal untuk menyerang Heru membabi-buta untuk melampiaskan semua rasa benci, kecewa, dan terhina yang dia rasakan saat ini. Belum lagi, sekarang Dewi merasa tubuhnya seperti remuk. Penampilannya lusuh karena sudah tiga hari dia disekap di gudang. Baju piyama yang dikenakannya di bagian punggung memiliki banyak noda darah yang sudah mengering. Hari ini, Heru baru melepaskannya sejak mengurungnya tiga hari di gudang. Itu adalah hukuman karena berusaha kabur dengan menyuap bodyguard-nya, Bimo. Dewi mencuri sejumlah uang dari brankas Heru untuk menyogok bodyguard-nya itu membantunya kabur dari mansion besar Heru. Sayangnya, Dewi ketahuan. Heru langsung memerintahkan orangnya untuk menyeret Dewi kembali, dan memasukkannya ke dalam gudang. Di sana, dia dicambuk tiga puluh kali sebagai hukuman karena membangkang dari suaminya. Ya, Heru, lelaki yang usianya dua kali lipat itu adalah suaminya. Dari awal, Dewi tidak menginginkan pernikahan itu terjadi. Dia dipaksa. Lebih tepatnya, Heru melakukan cara curang supaya Dewi jatuh ke dalam dekapannya. Satu tahun lalu, ibunya mengalami tabrak lari hingga koma. Dokter menyarankan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawa ibunya, sementara biaya operasi tidaklah sedikit. Dewi panik. Di saat itulah orang Heru menemuinya, dan menawarkan bantuan. Bantuan itu bersyarat. Dewi diberi surat perjanjian yang berisi kesepakatan. Apabila dalam satu tahun dia tidak mampu mengembalikan uang Heru, maka dia harus setuju untuk menikah dengan lelaki tua itu. Memperhitungkan keselamatan ibunya, Dewi langsung setuju. Paling penting ibunya harus segera mendapatkan tindakan. Namun, Dewi tidak berhasil mengembalikan pinjaman saat jatuh tempo, dan terpaksa menjalani pernikahan dengan Heru sesuai kesepakatan. Heru tidak hanya pria tua dengan wajah buruk rupa, tetapi juga monster berwujud manusia. Selama beberapa bulan bersamanya, Dewi kerap kali mendapatkan kekerasan fisik sebagai hukuman atas perilaku yang tidak disukainya. Demi menyelamatkan diri, Dewi sudah beberapa kali mencoba kabur, hingga akhirnya pria itu menempatkan seorang bodyguard khusus untuk mengawasinya. Sampai saat ini belum ada rencananya yang berhasil, dan yang terjadi justru bertambah banyaknya luka di tubuh Dewi. “Aku tidak akan melakukan itu asal kamu mau berubah, Dewi. Berhentilah menjadi pembangkang. Patuhlah padaku sedikit saja.” Heru berjalan mendekati Dewi, dan menatap lapar ke arah wanita itu. Tangannya yang keriput membelai wajahnya. Melihat Dewi yang tidak berdaya setelah mendapat ancaman soal ibunya membuat Heru merasa di atas awan. Dia tahu, itu satu-satunya kelemahan Dewi. “Kamu istriku, Dewi. Sudah seharusnya kamu melayaniku. Kalau kamu berhasil menyenangkan hatiku, aku pastikan ibumu aman,” lanjut Heru. Pria itu sudah sangat ingin menyentuh setiap lekuk tubuh istri mudanya itu, tetapi sampai detik ini, Heru belum juga berhasil melakukannya. Dewi terus memberontak setiap kali dirinya berusaha melakukan itu. Tapi, wanita itu langsung menepis tangannya. "Bermimpi saja kau, Pak Tua! Sekeras apapun kau berusaha, kau tidak akan pernah benar-benar memilikiku. Tanganmu terlalu kotor untuk menyentuh tubuhku!" Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Dewi hingga dia nyaris saja terjungkal. Ini bukan pertama kalinya terjadi, dan Dewi sudah terbiasa dengan perlakuan kasar Heru. Wajah pria tua itu merah padam dengan amarah. "Kamu memang wanita tidak tahu diuntung! Aku sudah berusaha memanjakanmu, tetapi mulutmu itu terus saja berkata kurang ajar!" Meski sudut bibirnya berdarah, Dewi tetap tersenyum mengejek ke arah Heru. Lebih baik dia ditampar dan dipukul berkali-kali, daripada harus berlutut di bawah kaki lelaki itu. “Sudah puas? Kalau belum puas menampar ku, tampar saja lagi! Apa ini yang kamu bilang cinta itu, Pak Tua? Kau terus mengatakan mencintaiku, tetapi perlakuanmu tidak menggambarkan kalau kau memang cinta padaku. Kau bersikap seperti monster!” Heru mengepalkan tangannya. Dia berusaha menekan emosinya supaya tidak melukai Dewi lagi. Dia sudah terlalu sering menyakiti Dewi, dia tidak ingin kecantikan wanita itu rusak di tangannya. Bagaimanapun, dia juga mencintai wanita itu. Seandainya Dewi tidak keras kepala, Heru pasti sudah meluluhkannya dan menjadikannya istri yang sempurna. "Sandara, bawa Dewi ke kamarnya," perintah Heru pada pelayan wanita yang biasa melayani Dewi di rumah itu. "Baik, Tuan." Sandara yang sejak tadi berdiri di belakang Heru sambil menunduk takut segera maju. Ia berusaha menjaga sikap di depan tuan majikannya, namun sorot mata khawatirnya tidak bisa disembunyikan saat merangkul lengan Dewi. "Mari saya bantu, Nyonya." Dewi mengangguk. Dia meninggalkan gudang dengan langkah sedikit diseret. Seperti punggungnya, kedua kakinya juga mendapatkan cambukan hingga meninggalkan bekas luka di beberapa tempat. Itu yang membuat Dewi kesulitan berjalan. "Nyonya, saya sarankan Anda berhenti melawan Tuan Besar. Kalau terus melawan, bisa saja nyawa Nyonya terancam. Saya tidak tega melihat Nyonya terus disiksa seperti ini," ucap Sandara sambil membersihkan luka-luka yang ada di punggung Dewi. Sandara memang ditugaskan Heru untuk melayani Dewi di rumah itu. Alih-alih berpihak pada Heru, Sandara lebih banyak iba ke Dewi. Dia sudah berkali-kali melihat sang nyonya dihukum dengan kejam. Ia berpura-pura patuh di depan Heru supaya tetap bisa berada di sisi sang nyonya. "Kamu tidak perlu khawatir, Sandara. Aku ini kuat. Luka seperti ini sudah biasa aku dapatkan. Sedikitpun aku tidak takut dengan pria tua bangka itu. Lebih baik aku dicambuk, daripada harus melayani nafsu bejatnya." Dewi berucap dengan bersemangat. Sesekali dia meringis saat Sandara mengusap bagian tubuhnya yang terluka. Melihat luka-luka lebam di sekujur kulit Dewi yang seharusnya bersih dan mulus itu, Sandara pun berucap dengan sedih. “Nyonya, bagaimanapun juga, Nyonya harus berhati-hati. Orang arogan seperti Tuan Besar itu sangat berbahaya. Jangan sampai kesabaran beliau habis, lalu mencelakai Nyonya lebih dari ini. Pikirkan Ibu Nyonya. Beliau pasti akan sangat khawatir kalau sampai terjadi sesuatu pada Nyonya.” Bagaimanapun juga, Sandara tidak ingin Dewi menghadapi hukuman yang lebih parah dari ini. “Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, Sandara. Ke depannya, aku akan lebih berhati-hati. Tetapi kalau Tua Bangka itu terus mencari masalah, aku tidak yakin bisa menahan diri.” Dewi menjadikan bantal sebagai tumpuan dagunya. Pikirannya kusut. Dia selalu mencari solusi dari semuanya, tetapi lagi-lagi dia dihadapkan jalan buntu. “Saya pikir dengan Nyonya bersikap sedikit manis, itu justru akan membuat hati Tuan Heru melunak. Dengan begitu, Nyonya bisa lebih leluasa mencari celah,” saran Sandara, sebenarnya hanya ingin Dewi tidak lagi berbuat nekat dan membahayakan diri lagi. Dewi menggeleng cepat. “Tidak bisa. Aku tidak bisa berpura-pura manis pada monster itu, Sandara. Kalau aku bersikap sok manis, dia justru akan berpikir kalau aku sudah menerima dia. Ah, sudahlah, jangan bahas lagi. Sekarang aku ingin tahu, apa saja yang terjadi selama aku dikurung di gudang?” Sandara tidak langsung menjawab. Dia mengambil kain kasa yang akan digunakan untuk membebat luka Dewi, lalu duduk kembali di sisi ranjang. "Tiga hari selama Nyonya dikurung, Tuan Besar uring-uringan. Beliau lebih sering marah-marah. Bimo langsung dipecat, dan saya baru mendapat info dari Jio tadi pagi kalau pengganti Bimo sudah didapatkan." Jio adalah nama salah satu orang kepercayaan Heru yang paling setia. Dewi mengepalkan tangannya dan memukul kasurnya pelan. Heru terus berusaha keras untuk mengikatnya seperti seekor anjing! "Sial! Kalau pengganti Bimo lebih kejam, celahku untuk kabur semakin sempit," umpatnya kesal. "Memangnya Nyonya masih ingin kabur?" tanya Sandara khawatir. "Kamu pikir? Aku tidak sudi terkurung selamanya di sini. Apalagi kalau sampai lelaki bau tanah itu sampai menyentuhku. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding, San," jawab Dewi. "Jangankan Nyonya yang cantik jelita, saya juga tidak berselera kalau diminta melayani laki-laki tua seperti Tuan Besar." Sandara menghela napas pelan. “Tapi, saya tidak mau lagi Nyonya terluka seperti ini. Nyonya harus hati-hati. Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Nyonya selesai dihukum dan merawat luka Anda.” Dewi tersenyum. "Iya, aku akan lebih hati-hati. Kamu selalu merawatku, San. Itu juga sudah lebih dari cukup." Setelah Sandara selesai membebatkan luka di punggung dan kakinya, Dewi memakai kembali bajunya. Sandara mulai membersihkan luka-luka di wajah Dewi dengan telaten. Memastikan darah di sudut bibir wanita itu hilang sepenuhnya. "Lukanya sudah bersih, saya akan ke dapur dulu untuk mencari es batu. Luka lebam Nyonya harus saya kompres," izin Sandara. Dewi mengangguk. Sandara keluar dari kamar itu, dan pergi ke dapur. Selang satu menit, pintu kamar Dewi diketuk oleh seseorang. Biasanya, mansion megah sangat sepi karena hanya berisi pelayan dan orang-orang bawahan Heru yang tidak bisa berkeliaran bebas. Jadi, Dewi tahu pasti orang itu diperintahkan Heru untuk mendatangi kamarnya. Dewi pun merasa siaga. "Masuk," sahut Dewi yang sekarang duduk tegak di pinggiran kasur. Pintu itu terbuka, dan suara ketukan sepatu terdengar mendekat. Seorang pria tegap memakai seragam khas bodyguard berwarna hitam pekat di sana. "Selamat siang, Nyonya. Saya Bisma, bodyguard Anda yang baru," ucap pria itu dengan suara bariton yang entah mengapa menarik indra pendengaran Dewi.Dewi, Bisma, dan Joko sudah berada di depan sebuah rumah makan dengan olahan bebek sebagai menu utamanya. Dewi sering meminta ke sana pada Joko apabila dia tidak diantar oleh Heru. Bagi Dewi, tempat makan itu memiliki kenangan bersama sang ayah. Wanita itu tidak makan sendiri. Seperti biasanya, Dewi mengajak bodyguard dan sopirnya makan bersama. Acara makan selesai, Dewi meminta Joko mengantarnya ke pusat oleh-oleh. Tentu saja ia beralasan untuk membelikan Heru oleh-oleh setelah pergi seharian, tetapi sejatinya dia ingin menyelundupkan sedikit makanan untuk di kamar. Saat keluar dari pusat oleh-oleh, hujan turun. Memang sejak tadi cuaca tidak begitu cerah. Dewi berniat berlari kecil menuju parkiran, sebelum tiba-tiba Bisma menghampirinya, dan menggunakan jasnya untuk melindungi Dewi dari tetesan hujan.Jantung Dewi mendadak berhenti sejenak. Dia menoleh dengan heran ke arah Bisma, sementara bodyguard-nya itu menatap lurus ke depan. Tidak bisa dipungkiri, pesona Bisma tidak kalah da
Dia pun berjalan perlahan ke arah Dewi. Bisma tidak benar-benar sampai ke tempat Dewi berada. Dia memilih berdiri mengawasi di dekat pohon mangga yang letaknya tiga meter dari gundukan tanah itu, dan memberikan Dewi waktu untuk melakukan apa yang dia inginkan. Tujuan utama Dewi pulang memang bukan hanya untuk bertemu ibunya, tetapi juga mengunjungi kuburan sang ayah. Mendiang ayah Dewi memang sengaja dimakamkan di belakang rumah, tidak terlalu jauh dari kamar mandi berada. Makam itu hanya berupa gundukan tanah, sebongkah batu sebagai nisan, dan batu-batu kecil ditata sedemikian rupa mengelilingi gundukan tanah tempat mendiang ayahnya dikubur sebagai penanda. Tadi, saat dia selesai di kamar mandi, dan berdiam diri cukup lama di sana, Dewi memutuskan mengunjungi makam ayahnya, dan duduk di sana. Wanita itu kemudian memeluk gundukan tanah kering itu dengan penuh kasih sayang. Seolah dia sedang benar-benar memeluk sang ayah. "Ayah, maafin Dewi, ya. Dewi belum bisa membahagiakan Ibu se
"Hari ini aku ingin mengunjungi ibuku. Antarkan aku ke sana."Tanpa basa-basi, Dewi langsung menyampaikan apa keinginannya hari itu. Dia sengaja meminta Bisma untuk menemuinya pagi-pagi sekali melalui Sandara. Dia memang diberi izin oleh Heru untuk mengunjungi ibunya kapanpun dia mau. Tentu saja itu bukan kebebasan sepenuhnya, karena dia harus tetap mematuhi aturan yang Heru buat. Heri memberikan izin semata-mata bukan karena dia peduli pada ibu Dewi, tetapi dia ingin orang-orang di sekitar Dewi beranggapan bahwa dirinya merupakan sosok suami yang baik, dan penuh perhatian pada keluarga sang istri. "Apa nyonya sudah izin pada Tuan Heru?" tanya Bisma memastikan. Dewi mengerutkan keningnya. "Terus apa gunanya kamu? Kamu tinggal laporan saja pada Tua Bangka itu, dia tidak akan melarang selama kamu menemaniku. Bodyguard-ku sebelumnya juga melakukan hal yang sama."Untuk sekarang, percuma mengakrabkan diri dengan Bisma. Bodyguard-nya itu sangat kaku, dan hanya mau mendengarkan perintah
Sejenak, Dewi seketika terpukau dengan pesona pemilik suara itu. Membuat Dewi tidak berkedip dalam waktu yang lumayan lama. Lelaki yang mengaku bernama Bisma itu memiliki postur tubuh yang proporsional. Wajahnya sangat tampan, rahangnya tegas, hidungnya mancung, dengan kulit tan yang menambah kesan maskulin.Dari penampilannya, Dewi menebak usianya juga jauh lebih muda dari Bimo maupun Heru. Mungkin masih seumuran Dewi sendiri."Salam kenal. Saya Dewi."Dewi memasang senyum, beranjak dari duduknya, menghampiri Bisma, dan mengulurkan tangannya. "Semoga kedepannya kita bisa bekerjasama dengan baik, Bisma," ucapnya lembut, dengan senyum penuh arti ke arah bodyguard-nya itu. Seperti berurusan dengan Bimo dulu, dia harus cerdik dalam menghadapi bodyguard yang akan mengawasinya setiap saat itu.Bisma tidak membalas jabat tangan Dewi. Lelaki itu justru menatap bos wanitanya itu, melirik dari dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dewi, yang merasa tidak akan mendapat balasan jabat tangan da






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.