Penjaga Hati Sang Nyonya

Penjaga Hati Sang Nyonya

last updateLast Updated : 2026-09-25
By:  ErumanstoryUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
85Chapters
761views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Demi menyelamatkan nyawa sang ibu, Dewi Astari menandatangani sebuah perjanjian yang berakhir membuatnya terikat pernikahan dengan seorang konglomerat tua yang arogan. Setiap melakukan kesalahan, Dewi akan disiksa, dan diperlakukan lebih buruk dari binatang. Lelaki tua itu juga sangat posesif, sehingga Dewi selalu diawasi. Sehari-hari, dia dijaga ketat oleh bodyguard sewaan. Hingga akhirnya dia ditakdirkan bertemu dengan Bisma Sagara, seorang bodyguard tampan, dan terlibat skandal dengannya.

View More

Chapter 1

Jatuh Dalam Pesona

"Nyonya, saya sarankan Anda berhenti melawan Tuan Besar. Kalau terus melawan, bisa saja nyawa Nyonya terancam. Saya tidak tega melihat Nyonya terus disiksa seperti ini," ucap Sandara sambil membersihkan luka-luka yang ada di punggung Dewi.

Semua luka di punggung Dewi ada akibat cambukan tiga puluh kali yang dia dapatkan dari bawahan Heru, suaminya, saat dia disekap di gudang. Hal itu terjadi karena Dewi ketahuan mencoba kabur dari mansion dengan menyogok Bimo, bodyguard-nya.

Sandara sendiri memang ditugaskan Heru untuk melayani Dewi di rumah itu. Alih-alih berpihak pada Heru, Sandara lebih banyak iba ke Dewi. Dia sudah berkali-kali melihat sang nyonya dihukum dengan kejam. Dia berpura-pura patuh di depan Heru supaya tetap bisa berada di sisi sang nyonya.

Satu tahun lalu, ibu Dewi mengalami tabrak lari hingga koma. Dokter menyarankan tindakan operasi untuk menyelamatkan nyawa ibunya, sementara biaya operasi tidaklah sedikit. Dewi panik. Di saat itulah orang Heru menemuinya, dan menawarkan bantuan.

Bantuan itu bersyarat. Dewi diberi surat perjanjian yang berisi kesepakatan. Apabila dalam satu tahun dia tidak mampu mengembalikan uang Heru, maka dia harus setuju untuk menikah dengan lelaki tua itu.

Memperhitungkan keselamatan ibunya, Dewi langsung setuju. Paling penting ibunya harus segera mendapatkan tindakan. Namun sayang, Dewi tidak berhasil mengembalikan pinjaman saat jatuh tempo, dan terpaksa menjalani pernikahan dengan Heru sesuai kesepakatan.

"Kamu tidak perlu khawatir, Sandara. Aku ini kuat. Luka seperti ini sudah biasa aku dapatkan. Sedikitpun aku tidak takut dengan pria tua bangka itu. Lebih baik aku dicambuk, daripada harus melayani nafsu bejatnya." ucapnya semangat. Sesekali dia meringis saat Sandara mengusap bagian tubuhnya yang terluka.

Dewi memang selalu memanggil Heru dengan sebutan 'Pak Tua', 'Tua Bangka', 'Lelaki Bau Tanah', karena memang usianya terpaut sangat jauh dari lelaki yang berusia lewat lima puluh tahun itu.

Melihat luka-luka bekas cambukan di sekujur kulit Dewi yang seharusnya bersih dan mulus itu, Sandara pun berucap dengan sedih.

“Nyonya, bagaimanapun juga, Nyonya harus berhati-hati. Orang arogan seperti Tuan Besar itu sangat berbahaya. Jangan sampai kesabaran beliau habis, lalu mencelakai Nyonya lebih dari ini. Pikirkan Ibu Nyonya. Beliau pasti akan sangat khawatir kalau sampai terjadi sesuatu pada Nyonya.”

Bagaimanapun juga, Sandara tidak ingin Dewi menghadapi hukuman yang lebih parah dari ini. Tidak ada yang tahu hukuman apa yang Dewi dapatkan kalau sampai kabur lagi.

“Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, Sandara. Ke depannya, aku akan lebih berhati-hati. Tapi kalau Tua Bangka itu terus mencari masalah, aku tidak yakin bisa menahan diri.”

Dewi menjadikan bantal sebagai tumpuan dagunya. Pikirannya kusut. Dia selalu mencari solusi dari semuanya, tetapi lagi-lagi dia dihadapkan jalan buntu.

“Saya pikir dengan Nyonya bersikap sedikit manis, itu justru akan membuat hati Tuan Heru melunak. Dengan begitu, Nyonya bisa lebih leluasa mencari celah,” saran Sandara, sebenarnya hanya ingin Dewi tidak lagi berbuat nekat dan membahayakan diri lagi.

Dewi menggeleng cepat.

“Tidak bisa. Aku tidak bisa berpura-pura manis pada monster itu, Sandara. Kalau aku bersikap sok manis, dia justru akan berpikir kalau aku sudah menerima dia. Ah, sudahlah, jangan bahas lagi. Sekarang aku ingin tahu, apa saja yang terjadi selama aku dikurung di gudang?”

Sandara tidak langsung menjawab. Dia mengambil kain kasa yang akan digunakan untuk membebat luka Dewi, lalu duduk kembali di sisi ranjang.

"Tiga hari selama Nyonya dikurung, Tuan Besar uring-uringan. Beliau lebih sering marah-marah. Bimo langsung dipecat, dan saya baru mendapat info dari Jio tadi pagi kalau pengganti Bimo sudah didapatkan."

Jio adalah nama salah satu orang kepercayaan Heru yang paling setia.

Dewi mengepalkan tangannya dan memukul kasurnya pelan. Heru terus berusaha keras untuk mengikatnya seperti seekor anjing!

"Sial! Kalau pengganti Bimo lebih kejam, celahku untuk kabur semakin sempit," umpatnya kesal.

"Memangnya Nyonya masih ingin kabur?" tanya Sandara khawatir.

"Kamu pikir? Aku tidak sudi terkurung selamanya di sini. Apalagi kalau lelaki bau tanah itu sampai menyentuhku. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding, San," jawab Dewi.

"Jangankan Nyonya yang cantik jelita, saya juga tidak berselera kalau diminta melayani laki-laki tua seperti Tuan Besar." Sandara menghela napas pelan. “Tapi, saya tidak mau lagi Nyonya terluka seperti ini. Nyonya harus hati-hati. Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu Nyonya selesai dihukum dan merawat luka Anda.”

Dewi tersenyum. "Iya, aku akan lebih hati-hati. Siapa bilang kamu tidak berbuat apa-apa? Kamu selalu merawatku, San. Itu juga sudah lebih dari cukup."

Setelah Sandara selesai membebatkan luka di punggung dan kakinya, Dewi mengganti pakaiannya dengan yang sudah disiapkan oleh sang pelayan.

Sandara mulai membersihkan luka-luka di wajah Dewi dengan telaten. Memastikan luka yang terbuka di area sudut bibir Dewi bersih. Selanjutnya, Sandara mengoleskan salep khusus, supaya luka Dewi cepat sembuh, dan terhindar dari infeksi.

"Nyonya, luka-luka Anda sudah saya bersihkan, dan juga diberi obat. Sekarang saya akan ke dapur dulu menyiapkan makan siang untuk Anda," ucap Sandara, beranjak dari tempatnya duduk, dan menyimpan kembali obat-obatan, juga peralatan yang dia gunakan untuk mengobati Dewi ke tempatnya.

Dewi tersenyum tipis, dan mengangguk.

"Terimakasih, San."

Sandara pun meninggalkan kamar Dewi. Selang satu menit, daun pintu kamar wanita itu diketuk oleh seseorang. Dewi menoleh, dan menemukan Jio, berdiri di sana.

"Ada apa, Jio?" tanya Dewi tanpa basa-basi.

"Nyonya, Tuan Besar meminta Anda turun, dan ke ruangan beliau. Ada hal penting yang harus dibicarakan."

Sejujurnya, Dewi enggan bertemu dengan Heru, tetapi kalau dia tidak menuruti kemauan lelaki itu, akan ada insiden lagi. Sementara kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih.

"Baik. Aku segera ke sana."

"Kalau begitu, saya permisi, Nyonya."

Dewi mengiyakan. Tidak lama setelah Jio pergi, wanita itu meninggalkan kamarnya, turun ke lantai bawah untuk menemui Heru.

Saat tiba di ruangannya, Dewi dibuat terpesona. Bukan pada Heru, melainkan pada sesosok laki-laki berseragam bodyguard warna hitam pekat yang berdiri tidak jauh darinya.

Lelaki itu memiliki kulit tan yang membuatnya tampak begitu maskulin. Wajahnya tampan dengan rahang yang tegas. Dia memiliki hidung mancung, juga sepasang mata indah, dengan perpaduan sorot mata teduh dan dominan. Jangan lupakan bibirnya yang seksi. Mungkin kalau itu kekasihnya, Dewi akan menciumnya tanpa rasa bosan setiap ada kesempatan.

Berbanding terbalik dengan wajah Heru yang kulitnya sudah mulai keriput, penuh dengan bopeng. Kumisnya lebar, juga hidung berbentuk menyerupai jambu air. Mengingatkan Dewi pada wajah uncle muthu di sebuah serial kartun. Bahkan kalau dibandingkan, wajah Heru jauh lebih buruk.

"Dewi, ini Bisma, bodyguard baru yang menggantikan Bimo untuk menjagamu, dan Bisma, ini Dewi, istriku." Heru memperkenalkan keduanya.

Dewi tidak langsung menjawab. Dia masih menatap wajah Bisma dengan penuh kekaguman. Sementara sang bodyguard justru melihat dengan seksama dari ujung kaki hingga kepala Dewi dengan tanpa ekspresi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
85 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status