LOGINElina membuang napas kasar. Menatap dengan sorot mata tajam ke arah Intan. Sementara gadis itu hanya diam sambil meringis, memegang perut. "Kamu meminum alkohol? Apa kamu tidak tahu alkohol itu tidak baik untuk janin?" tanyanya dengan nada sinis. "Maaf, aku .... ""Untuk apa meminta maaf padaku? Sekarang yang merasakan sakit itu kamu, bukan aku. Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu tidak tahu bahayanya mengkonsumsi alkohol di saat hamil?"Intan menggeleng. "Aku hanya ingin melupakan masa lalu. Aku tidak sanggup menanggung rindu pada orang yang sudah tidak bisa aku lihat lagi di dunia ini."Mendengar ungkapan hati Intan, Elina hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu betapa tersiksanya hidup dalam bayang-bayang masa lalu dengan orang Tersayang. Menanggung rindu setiap detik sangat menyiksa. Apalagi rindu pada orang yang sudah tiada. Beberapa tahun lalu ia juga merasakan perasaan yang sama seperti Intan, tetapi tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya untuk mengkonsumsi alkohol
Ketika Adrian tiba di depan mansion mewah Prams. Ia terperangah melihat pagar menjulang tinggi di depannya.Matanya mengamati sekitar, mencari cara agar bisa masuk ke dalam tanpa dicurigai. Dari celah-celah pintu pagar, Adrian dapat melihat suasana di dalam. Halaman luas dengan rerumputan hijau membentang dengan jarak ratusan meter. Sementara di sekitar halaman itu, tak ada sedikit pun celah kosong. Terlihat begitu banyak anak buah Marco yang berdiri sambil membawa senjata masing-masing. Adrian berdecak. Pikirannya kalut, tetapi ia harus tetap mencari cara agar bisa masuk ke dalam sana dan membawa Intan pergi.Saat dirinya semakin frustasi, ia mencoba menghubungi Intan. Dan tak lama telepon darinya diterima oleh wanita muda itu. "Aku sudah berada di luar mansion. Tapi aku kesulitan untuk masuk. Penjagaan sangat ketat, dan aku hanya sendiri."Intan diam, hanya terdengar suara napas terengah seperti baru saja berlari keliling lapangan bola.Mata Adrian membulat. "Ada apa? Apa yang t
Intan berdiri dari duduknya, memutar tubuh lalu menyunggingkan senyuman pada Elina. "Hay ....." Gadis muda itu mengulurkan tangan pada Elina. "Perkenalkan nama saya ... Intan." Elina memalingkan wajah ke samping. Senyuman sinis terukir di wajah cantiknya. Ia memegang dada yang berdenyut cepat, rasa sesak merayap, seakan oksigen berhenti mengaliri tubuh. Melihat sikap dingin itu, Intan langsung menurunkan tangan dan menundukkan kepala. Dalam hati, ia ingin secepatnya menyelesaikan semua rencana. Namun, kedatangan wanita dan anak kecil itu membuatnya harus memutar otak untuk memancing Prams. "Mom .... " Edgar mendongak, menatap wajah ibunya yang terlihat penuh amarah. "Why Mom?" Elina mencoba tersenyum, meski hatinya terasa sakit memikirkan hubungan Prams dengan wanita muda di hadapannya. Apa mungkin ia dibohongi? Ternyata Prams sudah memiliki wanita lain, dan wanita itu sedang mengandung. Lalu, untuk apa dia dibawa ke mansion ini? Dengan sekuat tenaga Elina menahan air
Saat suara mesin mobil terdengar, Intan berdiri dari kursi lalu melangkah mendekati jendela dan membuka tirai.Deg!Kedua mata membulat sempurna saat melihat Prams turun dari mobil dan membukakan pintu untuk seseorang.Benar saja apa yang dikatakan Pelayan tadi, Prams datang bersama seorang wanita cantik dan anak laki-laki seusia Regan. Melihat kedatangan sang Mafia, buru-buru Intan menyusun rencana. Ia mengeluarkan botol wiski dari lemari dan mengambil serbuk obat dari balik pakaian dalamnya.Dengan tangan gemetar, ia menuang isi dari dalam botol kecil itu ke dalam minuman keras favorit Prams.Setelah memastikan bubuk itu menyatu dalam minuman, ia meletakkan botol Wiski mahal tersebut ke atas meja.Intan kembali duduk. Ia menelan ludah keras sambil menatap botol wiski yang berada di atas meja makan. Sesaat kemudian, ia berdiri dan memindahkan botol wiski itu kembali ke dalam lemari. Kalau dipikir-pikir, rencananya akan terbongkar jika ia langsung memberikan minuman pada Prams tanp
"Ughh!" Suara desahan panjang terdengar di kamar bernuansa biru muda.Prams mempercepat gerakan tubuhnya saat merasakan cairan kental di dalam sana ingin menyembur ke luar.Elina memekik pelan. Kedua tangan meremas pinggang Prams yang tengah mengungkungnya. "Ahhh! Honey!" Prams merapatkan bagian bawah. Cairan kental menyembur masuk ke dalam sana. Elina mengigit bibir saat merasakan cairan hangat masuk ke dalam rahimnya. "Eumh." Ia menatap wajah Prams yang merah, basah oleh keringat. "Kamu tidak menggunakan pengamanan lagi?"Prams menjatuhkan tubuhnya ke atas Elina. "Hmm, aku tidak memakai pengaman. Kemungkinan kita akan memberikan adik untuk Edgar.""Adik perempuan?" Prams terdiam, mengingat begitu banyak keturunan perempuan di keluarganya. Baginya perempuan itu hanya bisa menyusahkan. Mengingat kakak perempuan yang bernama Anggun mati sia-sia karena cinta. Dan sebentar lagi ia akan memiliki adik perempuan dari Intan. "Kenapa diam?" tanya Elina. "Aku ingin anak laki-laki," jawab
Amerika~"Kita mulai operasinya." Dokter Yohanes memasang sarung di kedua tangannya.Lampu-lampu putih di ruang operasi menyala terang. Di atas ranjang, pasien kecil bernama Dylan sudah berbaring tak sadarkan diri efek obat bius.Menit-menit penuh ketegangan berlalu cepat. Udara dingin di ruangan itu terasa menusuk kulit, kontras dengan keringat yang membanjiri dahi Dokter Yohanes.Tangannya yang cekatan tidak berhenti bergerak, memegang alat bedah dengan ketelitian luar biasa.Mata terpaku pada layar monitor yang menampilkan denyut saraf pasien kecil di atas meja operasi.Hampir satu jam berlalu, ketegangan seperti beban berat menekan dada Yohanes, tetapi dia tidak boleh lengah.Setiap inci jaringan kepala pasien ia teliti dengan sabar, berjuang melawan waktu dan risiko. Perlahan, denyut saraf yang sebelumnya melemah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.Yohanes menarik napas dalam, seolah beban yang lama menempel terangkat perlahan. Raut wajah yang tegang berubah menjadi sedikit







